Setahun berlalu, dan cinta Maya dan Eirik tumbuh—pelan, kuat, seperti es yang membeku lapis demi lapis.
Maya lulus dari Tromsø dengan nilai terbaik. Eirik menyelesaikan tesisnya di Oslo. Mereka berdua diterima dalam program pascasarjana yang sama—glasiologi tingkat lanjut, di universitas yang sama.
Untuk pertama kalinya, mereka tinggal di kota yang sama.
Eirik bertemu keluarga Maya di rumah putih, di Bergen, di musim panas. Lara langsung menyukainya—pemuda pendiam yang serius tapi lembut, yang mendengarkan lebih banyak dari berbicara, yang menatap Maya seperti Aksel menatap Lara.
Aksel—sekarang tujuh puluh dua, lebih lambat tapi masih tajam—menguji Eirik dengan caranya sendiri.
"Eirik. Kau peneliti es."
"Iya, Tn. Berg."
"Kenapa es?"
Eirik berpikir, lalu menjawab dengan jujur. "Karena di es, dunia diam, dan aku bisa mendengar pikiranku. Dan—" dia melirik Maya, "—karena es memberiku Maya. Aku tidak akan bertemu dia kalau bukan di gletser."
Aksel menatap pemuda itu lama. Lalu, pelan, dia tersenyum—senyum yang jarang dia berikan.
"Jawaban yang baik. Es memberiku Lara juga. Di Antartika." Aksel mengulurkan tangan tuanya. "Selamat datang, Eirik. Jaga putriku. Es itu keras, dan dunia juga. Tapi cinta—cinta tidak terbatas. Ingat itu."
Eirik menjabat tangan tua itu. "Saya akan ingat, Tn. Berg."
Malam itu, di kebun rumah putih, di bawah lampu-lampu kuning kecil di pohon apple—pohon yang sama tempat Lara dan Aksel duduk di malam pernikahan mereka—Maya dan Eirik duduk berdua.
"Maya," kata Eirik. "Keluargamu... rumah ini... aku mengerti sekarang."
"Mengerti apa?"
"Kenapa kau begitu. Kenapa kau takut kehilangan, tapi juga kenapa kau begitu kuat. Rumah ini penuh cinta dan penuh kehilangan, dua-duanya. Dan entah bagaimana, cinta menang. Lukisan kakakmu masih di koridor. Bintang-bintangnya masih di langit-langit. Buku-buku mamamu di rak. Semua kehilangan, diubah jadi cinta yang bertahan."
Maya menyandarkan kepala di bahu Eirik.
"Itu yang keluargaku percaya, Eirik. Cinta tidak terbatas. Bukan oleh jarak. Bukan oleh perbedaan. Bukan oleh kematian."
"Aku mulai percaya juga," bisik Eirik.
Mereka menatap fjord di kejauhan, di malam musim panas Bergen yang panjang, dengan matahari yang menolak tenggelam.
Dan Maya merasa—untuk pertama kali sejak dia mengerti apa itu kehilangan—bahwa dia berani. Berani mencintai sepenuhnya, dengan semua risikonya.
Karena cinta, dia akhirnya percaya, selalu layak.
(bersambung...)