Mimpi itu tidak pernah hilang dari Maya: Antartika.
Sejak umur dua belas, di museum kecil di Bali, menatap foto ekspedisi orang tuanya—Maya tahu suatu hari dia akan berdiri di tempat mama dan papanya bertemu.
Dan sekarang, di tahun kedua pascasarjananya, kesempatan itu datang. Sebuah ekspedisi penelitian internasional ke Antartika—mempelajari lapisan es yang mencair, pekerjaan paling penting di zaman krisis iklim. Dan mereka mencari peneliti muda.
Maya melamar. Begitu juga Eirik.
Mereka berdua diterima.
"Kita akan ke Antartika," kata Maya pada Eirik, hampir tidak percaya, memegang surat penerimaan. "Bersama. Ke tempat mama dan papaku bertemu."
Eirik tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya. "Maya. Antartika bukan Svalbard. Ini berbulan-bulan. Ini bahaya yang sebenarnya. Crevasse, badai, dingin yang bisa membunuh dalam menit."
"Aku tahu. Papaku hampir kehilangan mamaku di sana."
"Dan itu tidak membuatmu takut?"
Maya menatap kekasihnya. "Membuatku takut. Tapi aku tidak akan biarkan takut mencuri ini dariku. Es memanggil, Eirik. Sejak aku kecil. Aku harus pergi."
Eirik mengangguk pelan. "Kalau begitu kita pergi bersama. Dan kita pulang bersama. Itu janji."
Memberi tahu orang tuanya lebih sulit.
Maya menelepon rumah, dan menceritakannya. Hening lama di ujung telepon.
Lalu suara Aksel—papanya yang mengambil telepon dari Lara.
"Maya."
"Iya, Papa."
"Kau akan ke Antartika."
"Iya, Papa. Akhirnya."
Hening lagi. Maya bisa membayangkan papanya—tujuh puluh dua, jantung lelah, duduk di teras rumah putih, menatap fjord.
"Maya," kata Aksel akhirnya, suaranya bergetar. "Papa takut. Papa tidak akan bohong. Papa hampir kehilangan mama-mu di sana. Pikiran kehilangan kau juga—itu lebih dari yang papa bisa tanggung."
"Papa—"
"Tapi." Aksel menarik napas. "Papa menyerahkan es padamu, ingat? Saat papa sakit. Papa bilang: dengar es untuk papa. Dan sekarang kau akan dengar es di tempat paling agung di dunia—tempat yang memberi papa mama-mu, yang memberi papa kau. Papa tidak bisa, dan tidak akan, menghalangi itu."
Maya menangis di teleponnya.
"Papa akan ajari kau semua yang papa tahu sebelum kau pergi," lanjut Aksel. "Setiap aturan. Setiap bahaya. Setiap cara untuk pulang hidup-hidup. Kita punya tiga bulan sebelum kau berangkat. Pulanglah ke Bergen. Biar papa ajari putrinya cara bertahan di es—seperti papa harap seseorang mengajari mama-mu dulu."
"Iya, Papa. Saya pulang."
(bersambung...)