Hari keberangkatan, seluruh keluarga berkumpul di bandara Bergen.
Lara, Aksel, Karen yang sekarang sudah tua, ibu Lara yang renta tapi masih datang—semua mengantar Maya dan Eirik.
Maya membawa tiga hal khusus, selain perlengkapannya:
Kompas tua papanya.
Foto lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi—yang dia janjikan, sejak umur dua belas di Bali, akan dia bawa ke Antartika.
Dan satu eksemplar buku mamanya, "Cinta di Negeri Salju."
"Mama," kata Maya, memeluk Lara. "Aku bawa bukumu. Aku akan baca di Antartika. Di tempat kau menulisnya."
Lara menangis, memeluk putrinya. "Maya. Saat kau di sana—di gua-gua es, di gletser, di tempat mama hampir mati dan papa menyelamatkan mama—rasakan kami. Seluruh keluarga. Kami ada bersamamu."
"Iya, Mama."
Lara berbisik di telinga Maya: "Dan Maya—kalau es punya sesuatu untuk dikatakan padamu di sana, dengarkan. Es memberi mama hidup mama. Mungkin es punya hadiah untukmu juga."
Aksel memeluk Maya terakhir. Pelukan paling lama. Pria tua dengan jantung lelah, melepas putrinya ke ujung dunia.
"Kompas, Maya. Pulang."
"Saya janji, Papa."
Eirik berpamitan dengan keluarga Maya—sekarang juga keluarganya. Aksel menjabat tangannya.
"Eirik. Kalian berangkat berdua. Kalian pulang berdua. Jaga dia. Dan biarkan dia menjagamu. Di es, kalian saling menjaga, atau kalian mati. Itu kebenaran tertua di kutub."
"Saya akan jaga dia dengan nyawa saya, Tn. Berg."
"Dan biarkan dia jaga kau juga. Itu bagian yang banyak pria lupa."
Maya dan Eirik melewati gerbang keberangkatan, menoleh sekali untuk melambai pada keluarga yang berdiri di belakang kaca—Lara menangis di pelukan Aksel, Karen melambai dengan saputangan, ibu Lara meniupkan ciuman.
Lalu mereka pergi.
Perjalanan panjang: Bergen ke Oslo, Oslo ke Cape Town, lalu kapal penelitian melintasi Samudra Selatan yang ganas, menuju benua es di ujung dunia.
Di kapal, di malam-malam panjang melintasi laut yang dingin, Maya membaca buku mamanya. Tentang seorang perempuan Indonesia yang lari ke Antartika dengan hati patah, dan menemukan cinta.
Dan Maya, dengan Eirik tidur di kabin sebelah, dengan kompas papanya di sakunya dan foto lukisan kakaknya di dadanya, berlayar menuju tempat yang sama—bukan untuk lari dari cinta, tapi membawa cinta bersamanya.
Generasi baru. Es yang sama. Cerita yang berlanjut.
(bersambung...)