Antartika muncul di cakrawala di pagi keenam pelayaran.
Pertama hanya garis putih di antara laut abu-abu dan langit kelabu. Lalu, perlahan, gunung-gunung es—gunung es raksasa mengambang, biru di garis airnya, putih di puncaknya. Lalu benua itu sendiri: dinding es setinggi puluhan meter, membentang sejauh mata memandang, tak berujung.
Maya berdiri di geladak kapal, angin Antartika menampar wajahnya, dan menangis.
"Itu dia," bisiknya. "Negeri salju. Tempat mama dan papa bertemu."
Eirik berdiri di sampingnya, lengannya melingkari Maya. "Indah," katanya pelan.
"Indah yang membuat takut," kata Maya.
Eirik menoleh. "Kau bilang itu di Svalbard juga."
"Mama saya bilang itu pertama. Di Antartika, tiga puluh tahun lalu—saat dia muda, sebelum dia ketemu papa." Maya tersenyum lewat air mata. "Dan papa bilang dia bicara seperti penyair, bukan ilmuwan. Lalu mereka jatuh cinta."
Eirik mengeratkan pelukannya. "Maya. Kau juga bicara seperti penyair, bukan ilmuwan."
Maya menoleh padanya, jantungnya berdebar.
"Dan aku jatuh cinta padamu juga," lanjut Eirik pelan. "Sejak Svalbard."
Mereka berciuman di geladak kapal, dengan Antartika membentang putih di depan mereka, dengan angin dingin dan asin di wajah mereka.
Stasiun penelitian terletak di tepi benua, sekelompok bangunan merah di atas batu dan es. Tim dari berbagai negara—Norwegia, Indonesia (Maya bangga melihat bendera negara mamanya berkibar di antara yang lain), Australia, Chili, Jepang.
Pemimpin ekspedisi, seorang glasiolog Australia bernama Dr. Chen, menyambut tim baru.
"Selamat datang di tempat paling agung dan paling tidak mengampuni di Bumi," katanya. "Di sini, es mengajari kalian kerendahan hati. Hormati dia, dan kalian akan belajar lebih banyak dari di mana pun di dunia. Lalai, dan dia akan mengambil kalian. Kita kehilangan dua peneliti dalam sepuluh tahun terakhir. Jangan jadi yang ketiga."
Malam pertama, Maya tidak bisa tidur. Dia keluar—dengan izin, dengan perlengkapan lengkap, tidak jauh dari stasiun—dan berdiri di es Antartika untuk pertama kalinya.
Es di bawah kakinya. Es yang sama tempat mamanya berdiri tiga puluh tahun lalu. Es yang mempertemukan keluarganya.
Maya berlutut dan meletakkan tangan bersarungnya di permukaan es Antartika.
Dan dia menunggu.
(bersambung...)