Es Antartika berbicara pada Maya.
Berbeda dari Folgefonna. Berbeda dari Svalbard. Lebih dalam, lebih tua, lebih agung. Es yang membentang ribuan kilometer, setebal kilometer, berumur jutaan tahun. Saat Maya menempelkan tangannya, dia merasakan keheningan yang begitu besar sampai seluruh hidupnya terasa seperti satu kedipan.
Air mata membeku di bulu matanya.
"Mama," bisiknya. "Papa. Saya di sini. Di tempat kalian bertemu. Dan es berbicara—seperti kalian bilang."
Dia mengeluarkan dari dalam jaketnya foto lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi. Lukisan Mathias.
"Mas Mathias," katanya pada es Antartika. "Saya janji, dulu, waktu umur dua belas—saya akan bawa kamu ke Antartika. Sekarang saya di sini. Kamu di sini. Bersama saya, di es yang membuat keluarga kita ada."
"Kamu menggambar ini sebelum saya lahir. Tiga orang dan satu bayi. Bayi itu saya. Kamu tahu saya akan datang, walaupun kamu tidak akan ketemu saya. Sekarang—saya bawa kamu ke tempat semuanya dimulai."
Angin Antartika bertiup, dingin dan bersih.
Maya berdiri, memegang foto lukisan itu menghadap benua es yang membentang tak berujung.
"Mas Mathias. Mama Maja. Kalian berdua di awan. Mama Lara, Papa Aksel di Bergen. Dan saya di sini, di es. Seluruh keluarga kita—terhubung lewat es ini."
Suara langkah di salju di belakangnya. Eirik, yang tidak bisa tidur juga, yang mengikutinya keluar.
"Maya," katanya pelan. "Maaf. Aku tidak mau mengganggu. Tapi aku khawatir kau keluar sendirian."
Maya menoleh, tidak marah. Dia mengulurkan tangan. "Tidak mengganggu. Kemari. Rasakan es ini."
Eirik datang, berlutut di sampingnya. Mereka berdua menempelkan tangan di es Antartika—seperti di Svalbard, tapi sekarang di tempat yang paling agung, di benua yang membuat keluarga Maya ada.
Es berbicara untuk mereka berdua.
"Eirik," kata Maya pelan, masih menatap es. "Aku mau cerita sesuatu. Tiga puluh tahun lalu, di es ini, mama saya hampir mati di gua es. Dan papa saya menyelamatkan dia. Dan mereka jatuh cinta. Di sini. Di tempat ini."
"Dan sekarang kita di sini," bisik Eirik.
"Sekarang kita di sini."
Mereka berlutut bersama di es Antartika, tangan di permukaan yang sama, di bawah langit kutub tempat aurora samar mulai menari.
Dan Maya merasakan, dengan keyakinan yang tidak bisa dia jelaskan, bahwa seluruh keluarganya hadir—Lara, Aksel, Mathias, Maja—semua di sana, di es, menyaksikan generasi baru menemukan apa yang mereka temukan.
Es mempertemukan orang-orang yang bergerak ke arah yang sama.
Lintas tiga puluh tahun. Lintas generasi. Di negeri salju yang sama.
(bersambung...)