Ekspedisi berlangsung berbulan-bulan, dan Antartika menguji mereka dengan caranya sendiri.
Hari-hari kerja keras: mengebor inti es untuk mempelajari iklim masa lalu, mengukur laju pencairan, memetakan gletser yang surut. Pekerjaan yang penting—setiap data membantu dunia memahami krisis iklim yang mengancam es itu sendiri.
Tapi Antartika juga keras. Badai katabatik datang—persis seperti yang Aksel ajarkan—dari nol jadi seratus kilometer per jam dalam menit. Suatu kali, Maya dan Eirik terjebak di luar saat badai datang. Dan Maya ingat pelajaran ayahnya.
"Eirik! Jangan coba kembali ke stasiun! Kita gali shelter di sini!"
Mereka menggali ke salju, membuat lubang perlindungan, dan meringkuk bersama saat badai mengamuk di atas mereka selama enam jam. Dingin yang menusuk. Angin yang meraung. Kegelapan total.
"Maya," kata Eirik di tengah badai, suaranya hampir hilang. "Kalau kita... kalau ini..."
"Jangan, Eirik. Kita akan baik. Papa saya ajari ini. Kita diam. Kita tunggu. Kita bertahan."
"Aku cuma mau bilang—kalau ini akhir—aku tidak menyesal. Mencintaimu. Datang ke sini. Tidak ada penyesalan."
Maya menggenggam tangan Eirik di gelap. "Tidak akan ada akhir malam ini. Kita pulang berdua. Itu janji kita."
Dan mereka bertahan. Badai reda di pagi hari. Tim penyelamat menemukan mereka—dingin, lelah, tapi hidup. Karena Maya ingat pelajaran ayahnya. Karena dia tidak coba pulang saat seharusnya dia diam.
Malam itu, di stasiun, setelah dihangatkan dan diperiksa, Maya menelepon rumah lewat sambungan satelit.
"Papa," katanya, saat Aksel mengangkat. "Pelajaran papa menyelamatkan saya hari ini. Badai katabatik. Saya gali shelter, saya diam, saya tunggu. Seperti papa ajari."
Hening di ujung telepon. Lalu suara Aksel, bergetar:
"Maya. Kau pulang. Kau dengar papa. Kau bertahan." Dia menarik napas. "Papa bangga. Lebih dari kata-kata bisa katakan."
"Papa menyelamatkan saya dari Bergen, Papa. Lewat semua yang papa ajari."
"Itu yang ayah lakukan, Maya. Kami menyelamatkan anak-anak kami, bahkan dari jauh. Bahkan dari ujung dunia." Suara Aksel melembut. "Sekarang istirahat. Dan terus dengar es. Tapi pulang. Selalu pulang."
Setelah telepon ditutup, Eirik datang dan duduk di samping Maya.
"Ayahmu menyelamatkan kita berdua hari ini," katanya.
"Iya. Lewat semua yang dia ajari." Maya menyandarkan kepala di bahu Eirik. "Itu cinta, Eirik. Cinta yang menyeberangi ujung dunia, lewat pelajaran yang diajarkan bertahun-tahun lalu. Cinta tidak terbatas—bahkan oleh jarak Antartika ke Bergen."
(bersambung...)