Di malam terakhir mereka di Antartika, sebelum kapal membawa mereka pulang, Eirik membawa Maya keluar.
Aurora menari di langit—lebih megah dari yang pernah Maya lihat. Hijau, ungu, merah samar, membentang dari cakrawala ke cakrawala, memantul di es yang putih tak berujung.
"Maya," kata Eirik, dan suaranya gemetar dengan cara yang Maya belum pernah dengar. "Aku mau bilang sesuatu di sini. Di tempat ini. Sebelum kita pulang."
Maya menatapnya, jantungnya mulai berdebar.
Eirik berlutut di es Antartika, di bawah aurora yang menari.
"Maya Berg. Aku bertemu kau di tepi gletser, memegang pita ukur seperti kau marah padanya. Aku jatuh cinta padamu di es. Aku belajar mendengar es bersamamu. Aku bertahan dari badai bersamamu. Dan aku tidak mau menghabiskan satu hari pun sisa hidupku tanpa kau."
Dia mengeluarkan cincin—cincin sederhana, perak, yang dia bawa diam-diam dari Bergen, melintasi separuh dunia.
"Maya. Maukah kau menikah denganku?"
Maya menangis—air mata yang membeku di bulu matanya di dingin Antartika.
Dia teringat ceritanya. Papa melamar Maja di bawah aurora, di Svalbard. Lalu, bertahun-tahun kemudian, papa menikahi Lara di gereja kecil di Bergen. Eirik melamar Maya di bawah aurora yang sama jenisnya, di es yang bahkan lebih agung.
Lingkaran. Cerita yang berulang, generasi ke generasi. Cinta yang ditemukan di es.
"Iya," bisik Maya. "Iya, Eirik. Aku mau."
Eirik memasangkan cincin di jari Maya—di atas sarung tangan, karena terlalu dingin untuk melepasnya—dan berdiri, dan memeluk Maya, dan mereka berciuman di bawah aurora Antartika, di es yang mempertemukan keluarga Maya tiga puluh tahun lalu.
"Eirik," kata Maya, dahinya di dahi Eirik. "Aku mau telepon mama dan papa. Sekarang. Aku mau mereka jadi yang pertama tahu."
Mereka kembali ke stasiun, dan Maya menelepon Bergen lewat satelit.
"Mama. Papa. Kalian berdua di telepon?"
"Iya, Maya," kata Lara. "Kami berdua di sini. Ada apa, sayang? Kau baik?"
Maya tersenyum, air mata mengalir. "Mama. Papa. Eirik melamar saya. Di es Antartika. Di bawah aurora. Di tempat kalian bertemu."
Hening sejenak. Lalu suara Lara, pecah oleh tangis bahagia: "Maya! Oh, Maya!"
Dan suara Aksel, serak, bergetar: "Di bawah aurora. Di es. Maya... itu... itu persis seperti papa melamar... " Dia tidak bisa menyelesaikan.
"Iya, Papa," kata Maya lembut. "Persis seperti papa. Lingkaran tertutup. Es mempertemukan kami juga."
Di Bergen, Lara dan Aksel berpegangan tangan, menangis bersama di telepon, mendengar putri mereka mengumumkan cinta yang ditemukan di es—es yang sama, lintas tiga puluh tahun.
"Cinta tidak terbatas," bisik Lara ke telepon. "Maya. Kau membuktikannya lagi."
(bersambung...)