Maya dan Eirik pulang dari Antartika dengan cincin di jari mereka.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari perjalanan pergi—mungkin karena hati yang penuh membuat waktu mengalir berbeda. Melintasi Samudra Selatan, ke Cape Town, lalu pulang ke Eropa, ke Bergen.
Di bandara Bergen, seluruh keluarga menunggu. Lara melihat cincin di jari Maya dari kejauhan, dan menangis bahkan sebelum Maya sampai di pelukannya.
"Maya! Eirik! Selamat!"
Tapi yang Maya cari pertama adalah papanya.
Aksel berdiri sedikit di belakang, ditopang tongkat sekarang, lebih rapuh dari tiga bulan lalu—tapi matanya berbinar. Maya berlari ke arahnya, memeluknya hati-hati.
"Papa. Saya pulang. Seperti janji saya."
Aksel memeluk putrinya, tangan tua yang gemetar di punggungnya. "Kau pulang, Maya. Dengan kompas papa. Dan dengan cincin." Dia menarik diri, menatap mata putrinya. "Papa dengar es bicara padamu lewat teleponmu. Papa dengar kau menemukan apa yang papa temukan—di tempat yang sama."
"Iya, Papa. Di es yang sama. Lingkaran tertutup."
Aksel menoleh ke Eirik. "Kau bawa dia pulang. Hidup. Seperti janjimu."
"Kami bawa satu sama lain pulang, Tn. Berg," kata Eirik. "Seperti yang Anda ajarkan. Di es, kami saling menjaga."
Aksel tersenyum—senyum lelah tapi bahagia. "Bagus. Kalian belajar kebenaran tertua di kutub." Dia menepuk bahu Eirik. "Sekarang panggil aku Aksel. Kau akan jadi menantuku. 'Tn. Berg' terlalu kaku untuk keluarga."
Malam itu, di rumah putih, mereka merayakan. Karen memanggang blueberry pie seperti dulu. Ibu Lara—sangat tua sekarang—memasak nasi kuning dengan tangan gemetar tapi penuh cinta. Mereka makan di kebun, di bawah lampu-lampu kuning kecil di pohon apple.
Maya menunjukkan pada keluarga foto-foto Antartika: gletser, aurora, stasiun penelitian, dan—yang membuat Lara menangis lagi—foto Maya berlutut di es, memegang lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi menghadap benua putih.
"Mas Mathias sampai ke Antartika, Mama," kata Maya. "Seperti janji saya."
Lara memeluk putrinya, tidak bisa berkata-kata.
Dan Aksel, menatap foto putrinya di es—es yang memberinya seluruh hidupnya—berbisik pada dirinya sendiri, terlalu pelan untuk didengar yang lain:
"Terima kasih, es. Untuk memberi Maya apa yang kau beri padaku. Cinta. Di tempat paling dingin di dunia."
(bersambung...)