Maya dan Eirik menikah di musim panas berikutnya.
Di gereja tua kecil yang sama—gereja kayu putih di puncak bukit di luar Bergen, tempat Aksel menikahi Maja dulu, lalu Lara. Maya memilihnya tanpa ragu.
"Mama menikah di sini," kata Maya. "Papa dua kali. Saya mau lanjutkan. Cinta keluarga kita dimulai lagi di sini, generasi baru."
Hari pernikahan, matahari musim panas Bergen tidak benar-benar terbenam—cahaya samar bertahan di horizon sampai larut, seperti senja yang menolak pergi, persis seperti di pernikahan Lara dan Aksel.
Maya mengenakan gaun sederhana—sebagian dijahit oleh ibu Lara, neneknya, dengan tangan tua yang gemetar tapi penuh kasih. Di lehernya, kalung kecil dengan liontin: foto mini lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi. Mathias hadir, dengan caranya.
Dan yang mengantar Maya menyusuri lorong gereja adalah Aksel.
Pria tua itu—tujuh puluh empat, ditopang tongkat di satu tangan dan lengan Maya di tangan lain—berjalan pelan, langkah demi langkah, membawa putrinya ke altar tempat Eirik menunggu. Setiap langkah terlihat menguras tenaganya. Tapi dia menolak duduk di kursi roda. "Papa akan mengantar putrinya berjalan," katanya. "Dengan kaki papa sendiri. Sekali ini."
Di altar, sebelum menyerahkan tangan Maya pada Eirik, Aksel berbisik di telinga putrinya:
"Maya. Mama Maja, mama Lara, dan papa menikah di gereja ini. Sekarang kau. Cinta keluarga kita hidup di tembok-tembok ini." Dia menggenggam tangan Maya erat. "Es memberi papa mama-mu. Es memberi kau Eirik. Cinta yang ditemukan di es—sekarang diberkati di gereja ini. Lingkaran, Maya. Lingkaran yang indah."
Maya menangis. Aksel menyerahkan tangannya pada Eirik.
"Jaga dia, Eirik."
"Dengan seluruh hidup saya, Aksel."
Pendeta—muda sekarang, menggantikan Pendeta Solveig yang sudah lama tiada—memberkati pernikahan dalam bahasa Norwegia. Lalu Eirik mengucapkan sumpahnya, dan menambahkan, dengan suara bergetar:
"Maya. Aku bertemu kau di es. Aku akan mencintaimu sampai es terakhir di dunia mencair—dan lebih lama lagi."
Maya tertawa lewat tangisnya. "Itu sangat lama, Eirik."
"Aku tahu. Itu maksudku."
Resepsi di kebun rumah putih, di bawah pohon apple yang sama, dengan lampu-lampu kuning yang sama, dengan campuran makanan Norwegia dan Indonesia—tradisi keluarga.
Aksel duduk di kursi nyaman di tepi kebun, terlalu lelah untuk berdiri lama, tapi tersenyum sepanjang malam. Lara duduk di sampingnya, tangan mereka berpegangan, menatap putri mereka menari dengan suaminya di bawah cahaya musim panas Bergen.
"Aksel," bisik Lara. "Kita berhasil. Maya bahagia. Aman. Dicintai."
Aksel menggenggam tangan istrinya. "Kita berhasil, Lara. Mathias akan bangga. Maja akan bangga." Dia menatap aurora samar yang mulai muncul di langit yang menggelap. "Aku siap, Lara. Kalau waktuku datang—aku siap. Aku sudah melihat putriku bahagia. Apa lagi yang bisa diminta seorang ayah?"
"Jangan bicara begitu, Aksel."
"Hanya jujur, sayang. Hanya jujur."
(bersambung...)