Maya dan Eirik membangun hidup mereka—hidup yang berpusat pada es, seperti keluarga Maya selalu.
Keduanya menjadi peneliti iklim, bekerja untuk memahami dan memperlambat pencairan es kutub. Pekerjaan yang penting di zaman krisis iklim, pekerjaan yang membawa makna pada hari-hari mereka.
Mereka tinggal di Bergen, tidak jauh dari rumah putih—Maya ingin dekat dengan orang tuanya, terutama Aksel yang menua. Mereka membeli rumah kecil dengan pemandangan fjord, dan, tentu saja, Maya menempel bintang-bintang fluoresen di salah satu kamar.
"Untuk siapa bintang itu?" tanya Eirik, melihat Maya menempelnya di kamar kosong.
Maya tersenyum. "Untuk anak kita. Suatu hari."
Eirik memeluknya dari belakang. "Kau sudah memikirkan anak?"
"Selalu, Eirik. Aku tumbuh tahu betapa berharganya satu kehidupan. Mas Mathias, yang pergi terlalu cepat. Aku, yang lahir dari permintaan terakhirnya. Aku mau meneruskan itu—keluarga, cinta, suara di rumah."
Mereka bekerja keras di siang hari, dan pulang ke satu sama lain di malam hari. Maya melanjutkan tradisi keluarga: dia mulai menulis. Bukan buku besar seperti mamanya—belum—tapi jurnal, catatan, cerita-cerita kecil tentang es dan cinta dan keluarga.
Setiap minggu, mereka mengunjungi rumah putih. Maya akan duduk dengan Aksel di teras, mendengar cerita-cerita ekspedisinya yang dia sudah dengar puluhan kali tapi tidak pernah bosan. Eirik akan membantu Aksel di kebun—pria tua mengajari pria muda cara merawat mawar, sama seperti dia dulu belajar dari kebun lain, dari hidup lain.
"Eirik," kata Aksel suatu hari di kebun. "Kau tahu kenapa aku berkebun?"
"Kenapa, Aksel?"
"Karena setelah seumur hidup di es—tempat tidak ada yang tumbuh—aku ingin melihat sesuatu hidup. Tumbuh. Berbunga. Es mengajariku menghargai waktu. Kebun mengajariku menghargai kehidupan."
Eirik mengangguk, menyentuh kelopak mawar dengan hati-hati.
"Aksel. Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Apa kau takut? Sekarang. Dengan jantungmu, dengan usiamu."
Aksel berhenti, menatap mawar-mawarnya, lalu fjord di kejauhan.
"Tidak, Eirik. Aku tidak takut. Aku sudah hidup penuh. Aku mencintai dua perempuan luar biasa—Maja, lalu Lara. Aku membesarkan Mathias, lalu Maya. Aku mendengar es bicara di seluruh dunia. Dan sekarang aku melihat putriku bahagia, denganmu."
Dia menatap Eirik dengan mata biru pucat yang tenang.
"Hidup yang penuh tidak takut akhir, Eirik. Hanya hidup yang kosong yang takut. Dan hidupku—penuh. Sangat penuh."
(bersambung...)