Setahun setelah pernikahan, Maya hamil.
Dia tahu di pagi hari Sabtu—garis kedua di tes kehamilan, persis seperti mamanya bertahun-tahun lalu. Dia menatapnya selama lima menit penuh sebelum berlari ke Eirik.
"Eirik. Lihat."
Eirik menatap tes itu, lalu menatap Maya, lalu tes lagi—seperti seseorang membaca sesuatu yang terlalu indah untuk dipercaya. Lalu dia jatuh ke lutut dan memeluk pinggang Maya, menangis—tangisan syukur, persis seperti Aksel dulu.
"Maya. Kita akan punya anak."
"Iya, Eirik. Kita akan punya anak."
Mereka memberi tahu keluarga di rumah putih, di teras, di hari Minggu sore.
"Mama. Papa. Saya hamil."
Lara menutup mulutnya dengan tangan, mata langsung berair. "Maya! Oh, Maya!"
Tapi reaksi yang Maya tunggu adalah papanya.
Aksel—yang sedang duduk di kursinya, ditopang bantal—menatap putrinya. Dan pelan-pelan, wajah tua itu berubah. Air mata mengalir di garis-garis dalam pipinya. Dan dia mulai tertawa—tawa yang dimulai dari dada, naik ke tenggorokan, keluar sebagai suara yang penuh kebahagiaan.
"Aku akan jadi kakek," bisiknya. "Aku akan jadi kakek."
"Iya, Papa," kata Maya, berlutut di samping kursinya, memegang tangan tuanya. "Kau akan jadi kakek."
Aksel menggenggam tangan putrinya erat. "Maya. Aku... aku berdoa untuk ini. Diam-diam. Aku berdoa aku bisa hidup cukup lama untuk menggendong cucuku. Sekali. Hanya sekali."
"Papa akan, Papa. Papa akan menggendongnya. Saya yakin."
Aksel menatap Maya, lalu Lara, lalu Eirik—seluruh keluarganya, berkumpul di teras rumah putih.
"Lara," katanya pada istrinya. "Ingat surat Mathias? Dia bilang rumah butuh suara baru. Dan kita punya Maya. Dan sekarang—suara baru lagi. Cucu kita."
Lara datang dan berdiri di belakang kursi suaminya, tangan di bahunya. "Iya, Aksel. Suara baru lagi. Mathias akan senang."
Aksel menatap fjord di kejauhan, air mata bahagia di matanya.
"Mathias, sayang," bisiknya pada langit. "Kau benar, dulu. Rumah ini butuh suara. Sekarang akan ada suara lagi—generasi yang bahkan kau tidak bayangkan. Cucu papa. Anak dari adik yang kau minta. Lingkaran yang kau mulai, masih berputar."
Sore itu, untuk pertama kali sejak lama, rumah putih terasa muda lagi—penuh dengan janji kehidupan yang akan datang.
(bersambung...)