Sembilan bulan itu menjadi perlombaan diam-diam—perlombaan antara kehidupan yang tumbuh di rahim Maya dan jantung Aksel yang melemah.
Aksel tahu. Semua orang tahu, walaupun tidak ada yang mengatakannya. Jantungnya semakin lelah setiap bulan. Dia tidur lebih banyak, makan lebih sedikit, berjalan lebih lambat. Tapi dia punya satu tujuan yang membuatnya bertahan: menggendong cucunya.
"Aku akan bertahan sampai bayi itu lahir," katanya pada Lara suatu malam, dengan keyakinan yang tidak ada dokter yang bisa jelaskan. "Tubuhku akan menunggu. Aku tahu."
Dokter Eriksen—yang dulu merawat Mathias dan Maya, sekarang sangat tua tapi masih memantau keluarga sebagai sahabat—memperingatkan dengan lembut: "Aksel, jantungmu... aku tidak bisa janji."
"Aku tidak minta kau janji, kawan lama. Aku hanya memberitahumu—aku akan bertahan. Beberapa hal lebih kuat dari jantung. Cinta untuk cucu yang belum lahir, misalnya."
Maya mengunjungi setiap hari sekarang, perutnya membesar. Dia akan duduk dengan papanya di teras, dan Aksel akan meletakkan tangan tuanya di perut Maya, merasakan bayi itu bergerak.
"Dia kuat," kata Aksel, merasakan tendangan. "Dia akan jadi peneliti es, aku yakin. Tendangannya seperti orang yang memanjat gletser."
Maya tertawa. "Atau dia cuma tidak suka mama-nya makan terlalu banyak sambal."
"Sambal?"
"Eirik bawakan saya sambal dari restoran Indonesia di Oslo. Saya ngidam pedas terus. Mungkin darah Indonesia nenek buyut."
Aksel tersenyum. "Anak ini sudah punya cerita sebelum lahir. Bagus. Keluarga kita keluarga cerita."
Mereka menyiapkan kamar bayi di rumah Maya dan Eirik—kamar dengan bintang-bintang fluoresen yang sudah Maya tempel jauh sebelumnya. Lara membawa lukisan dari koridor rumah putih—bukan yang asli, terlalu berharga, tapi salinan yang dibuat dengan hati-hati—untuk digantung di kamar bayi.
"Supaya cucu kita tahu pamannya," kata Lara. "Mathias, yang menggambar cinta untuk keluarga yang belum dia temui."
Di bulan kesembilan, saat perut Maya sudah sangat besar, Aksel memberinya sesuatu.
Sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya, bintang-bintang fluoresen—yang asli, dari kamar Mathias di rumah putih, beberapa yang dia lepas hati-hati (dan ganti dengan baru, supaya konstelasi Mathias tetap utuh).
"Bintang Mathias," kata Aksel. "Untuk cucuku. Supaya dia tidur di bawah cahaya yang sama yang menjaga Mathias, lalu Maya. Cahaya yang menolak gelap."
Maya menggenggam kotak itu, menangis.
"Papa. Cucu papa akan tidur di bawah bintang Mathias. Saya janji."
(bersambung...)