Aksel hidup satu musim panas lagi setelah Aksel kecil lahir.
Satu musim panas yang penuh—mungkin yang paling penuh dalam hidupnya, walaupun yang paling lambat.
Setiap hari, Maya membawa Aksel kecil ke rumah putih. Dan Aksel sang kakek akan duduk di kursinya di kebun, dengan bayi di pelukannya, di bawah pohon apple yang berbunga.
Dia bercerita pada bayi itu—cerita yang tidak akan diingat bayi, tapi yang Aksel perlu ceritakan.
"Aksel kecil. Kakekmu seorang peneliti es. Kakek pergi ke tempat-tempat paling dingin di dunia. Dan di salah satu tempat itu—Antartika, tempat paling dingin dari semua—kakek bertemu nenekmu, Lara. Dia perempuan Indonesia yang lari ke es dengan hati patah. Dan kakek menyelamatkannya dari gua es, dan kami jatuh cinta."
Bayi itu menggeliat, tertidur.
"Kau tidak akan ingat cerita ini, anak. Tapi tidak apa-apa. Mama-mu, Maya, akan menceritakannya lagi. Dan lagi. Itu cara keluarga kita—kami menceritakan cerita kami, supaya tidak ada yang hilang."
Lara akan duduk di samping mereka, menyulam atau membaca, tapi sebagian besar hanya menyaksikan—suaminya dan cucunya, di kebun, di musim panas terakhir.
"Lara," kata Aksel suatu sore, dengan Aksel kecil tidur di pelukannya. "Aku ingin meminta sesuatu darimu."
"Apa, sayang?"
"Saat aku pergi—dan itu akan segera, aku merasakannya—jangan biarkan kesedihan tinggal terlalu lama. Kita sudah belajar itu, dengan Mathias. Hidup harus dijalani, bukan disimpan dalam duka."
"Aksel—"
"Dengar aku, Lara. Kau punya buku untuk ditulis. Cucu untuk dibesarkan. Hidup untuk dijalani. Aku tidak mau kau berhenti karena aku pergi. Aku mau kau hidup—untuk kita berdua. Seperti aku akan lakukan untukmu, kalau urutannya terbalik."
Lara menggenggam tangan suaminya. "Aksel. Kau bicara seperti mama-ku dulu, sebelum dia pergi. 'Hidup harus dijalani.'"
"Karena itu benar, Lara. Selalu benar." Aksel menatap fjord, lalu istrinya. "Aku tidak takut, Lara. Aku sudah bilang berkali-kali, dan itu benar. Aku takut hanya satu hal—meninggalkanmu sedih. Jadi berjanjilah. Berjanji kau akan hidup."
Lara menangis, lalu mengangguk. "Aku janji, Aksel. Aku akan hidup. Untuk kita berdua."
Aksel tersenyum, lega, dan menatap cucu yang tidur di pelukannya, di kebun, di sore musim panas Bergen yang panjang dan lembut.
"Bagus," bisiknya. "Bagus."
(bersambung...)