Aksel Berg meninggal di musim gugur, di rumah putih, di tempat tidur yang dia bagi dengan Lara selama lebih dari tiga puluh tahun.
Dia pergi dengan tenang, di pagi hari, dengan Lara di sampingnya dan Maya memegang tangannya. Tidak ada rasa sakit. Hanya, perlahan, seperti matahari yang tenggelam di musim dingin Bergen—lembut, pelan, tanpa perlawanan.
Kata-kata terakhirnya, pagi itu, untuk Lara:
"Lara. Terima kasih. Untuk menjawab telepon itu, dulu. Untuk Mathias. Untuk Maya. Untuk tiga puluh tahun. Kau menyelamatkan hidupku—bukan dari gua es, tapi dari hidup tanpa cinta."
"Aksel, jangan—"
"Aku mencintaimu, Lara. Sampai akhir. Seperti yang aku ucapkan di gereja, dalam bahasa Indonesiaku yang kacau. Ingat?"
Lara menangis. "Saya cinta kamu, Lara. Sampai akhir."
"Iya. Itu. Masih benar. Selalu benar." Aksel menatap istrinya, lalu putrinya. "Maya. Dengar es untuk papa. Dan untuk Aksel kecil. Ajari dia mendengar, suatu hari."
"Iya, Papa. Saya janji."
"Aku akan ketemu Maja. Dan Mathias. Mereka menunggu." Aksel tersenyum samar. "Bertiga lagi. Seperti dulu. Seperti di lukisan Mathias, sebelum kau lahir, Maya."
Lalu, pelan, dia menutup mata. Dan napasnya, satu per satu, melambat. Sampai berhenti.
Aksel Berg pergi—pria yang mencintai es, yang menemukan cinta di tempat paling dingin di dunia, yang membesarkan dua anak dan kehilangan satu dan menyaksikan cucunya lahir membawa namanya.
Lara duduk memegang tangan suaminya yang mulai dingin, sampai matahari musim gugur yang lemah masuk ke jendela kamar.
Maya menelepon—Karen, Eirik, Dokter Eriksen. Dan satu per satu, keluarga datang ke rumah putih, untuk berduka, untuk memeluk, untuk duduk bersama dalam diam yang lebih dalam dari kata-kata.
Malam itu, setelah semua urusan selesai, Lara naik ke kamar yang dulu kamar Mathias, sekarang kamar tamu, dengan bintang-bintang fluoresen di langit-langit. Dia berbaring di tempat tidur tua itu dan menatap bintang-bintang.
"Aksel," bisiknya pada gelap. "Aku berjanji aku akan hidup. Aku akan menepati janji itu. Tapi malam ini—malam ini izinkan aku sedih. Hanya malam ini."
Bintang-bintang fluoresen bersinar redup di atasnya—bintang-bintang yang ditempel seorang anak yang takut gelap, yang sekarang menemani neneknya yang berduka.
Dan di luar, salju pertama musim dingin Bergen mulai turun, halus dan tidak berhenti—seperti malam Mathias pergi, bertahun-tahun lalu.
Rumah putih kehilangan satu lagi. Tapi rumah putih, seperti selalu, akan belajar bertahan.
(bersambung...)