Pemakaman Aksel di pemakaman keluarga di pinggir Bergen, di samping Maja dan Mathias.
Cuaca musim dingin—dingin, salju turun halus, langit putih yang menyatu dengan tanah. Persis seperti pemakaman Mathias, bertahun-tahun lalu.
Sekarang tiga makam berderet: Maja (istri pertama Aksel), Mathias (anak), dan Aksel. Dan kelak, Lara tahu, akan ada tempat untuknya juga, di samping suaminya.
Maya memberi pidato.
"Papa saya, Aksel Berg, mencintai es. Seumur hidupnya. Dia pergi ke tempat-tempat paling dingin di dunia, dan di salah satu tempat itu—Antartika—dia menemukan cinta. Dia menemukan mama saya."
"Papa mengajari saya satu hal di atas segalanya: bahwa es itu hidup, dan harus dihormati, dan kalau kau mendengarnya, dia akan mengajarimu kebenaran. Bahwa hidup pendek, dan justru karena itu, setiap cinta berharga."
"Papa kehilangan banyak—istri pertamanya, anak pertamanya. Tapi dia tidak pernah berhenti mencintai. Dia membuka hatinya lagi pada mama saya. Dia membesarkan saya. Dia menyaksikan saya menemukan cinta di es yang sama yang memberinya mama. Dan dia bertahan—dengan jantung yang lelah—cukup lama untuk menggendong cucunya, yang membawa namanya."
Maya menatap Aksel kecil, yang digendong Eirik, terlalu kecil untuk mengerti.
"Aksel kecil. Suatu hari kau akan tahu tentang kakekmu yang namanya kau bawa. Aku akan menceritakannya padamu. Lagi dan lagi. Karena itu cara keluarga kita—kami menceritakan cerita kami, supaya tidak ada yang hilang."
Setelah pemakaman, Maya melakukan sesuatu yang sudah dia rencanakan. Dia mengeluarkan kompas tua—kompas Aksel, yang dia bawa ke Antartika dan kembali dengan, sesuai janjinya.
"Papa," bisiknya di makam. "Kompasmu membawa saya pulang dari Antartika. Seperti janji saya. Sekarang—saya akan simpan. Dan suatu hari, saat Aksel kecil cukup besar untuk pergi ke es, saya akan berikan padanya. Supaya kompasmu menuntun dia pulang juga. Tiga generasi, satu kompas."
Dia menggenggam kompas itu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya.
"Dengar es untuk papa, papa bilang. Saya akan, Papa. Selalu. Dan saya akan ajari Aksel kecil mendengar juga. Warisan papa akan hidup—lewat es, lewat cinta, lewat cerita."
Lara berdiri di samping makam suaminya, memegang tangan Maya. Dia tidak menangis sekarang—dia sudah menangis semalaman, sendirian, di bawah bintang fluoresen. Sekarang dia berdiri tegak, seperti yang dia janjikan pada Aksel.
"Cinta tidak terbatas," bisik Lara pada tiga makam berderet. "Maja. Mathias. Aksel. Kalian semua di sana, bersama lagi. Dan kami di sini, membawa cinta kalian ke depan."
(bersambung...)