Deema dan Aditya pergi ke kampus bersama. Jarak rumah mereka yang hanya lima langkah menjadi alasan mengapa mereka kerap kali pulang, dan pergi kampus bersama. Bagi Aditya bisa direpotkan oleh Deema adalah hal menyenangkan karn dia seperti punya adik perempuan yang harus dia jaga. Karena dia seorang anak tunggal, yang kedua orangnya sibuk dengan pekerjakaannya, bisa dekat dengan Deema seperti memiliki adik perempuan yang bisa dia usili dan kerjain seenak hati. Jarak usia mereka hanya berselisih dua tahun. Deema adalah junior Aditya di kampus, Aditya yanga sekarang semester akhir dan Deema adalah mahasiswi semester 6.
“Deema, aku sebentar lagi lulus. Nanti kalau aku nggak ada, kamu gimana?” Tanya Aditya ditengah mengendaraai motor CB kesayangannya
“Hei, aku bukan anak kecil yang harus kamu jaga. Jika kamu harus lulus pun tak masalah. Justru aku senang karena tidak ada lagi senior tukang tindas.”
“Oh, jadi selama di dekat ku. Kamu merasa tertindas?.”
“Iya,” Jawab Deema lantang.
“Oke, kalau seperti itu.”
“Aditya, kau senior yang baik untuk ku selama ini. Makasih udah selalu mau lindungi aku, bantu aku untuk nggak sedih, bantu aku untuk jadi orang nggak cengeng.”
“Itu sudah jadi keharusan untuk ku.”
Setiba di pekarangan di kampus. Aditya memparkirkan motor CBnya. 10 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Deema segera turun dari boncengannya melepas pengait helemnya.
“Duh, susah banget sih, lepasinnya.” Rengek Deema, tangannya sibuk mencari celah untuk membuka pengait helmnya yang macet.
Selesai melepas helemnya, Aditya mendekati Deema untuk membantunya melepas helm yang masih melekat di kepalanya. Dalam satu kali gerakan, suara klik pengait helem terbuka. Aditya melepaskan helm yang Deema kenakan.
Beberapa saat sang dimensi waktu seolah memperlambat agar mereka bisa berlama-lama di tempat mereka berdiri. Namun, alam sadar mereka kembali saat bel masuk berdering, menggema ke seluruh penjuru kampus.
“Ah, udah bel, kita harus cepet masuk.” Ujar Deema segera berlari menuju kelasnya. Yang langkahnya di ikuti oleh Aditya
□□□
Ini awal mula aku mengetahui jika aku aleregi dengan sebuah air mata. Saat itu Deema menemani Aditya untuk eksul basket. Selesai dengan ekskul basketnya. Aditya mendekati Deema yang tengah duduk di kursi kayu panjang di bawan pohon, sembari membaca novel di tangannya.
“Deema, mana minum aku?”
Dengan mata yang masih terfokus pada novelnya. Deema merogoh tas Aditya yang ada di sampingnya. “Nih?.” Dia menyodorkan tumbler berwarna merah.
Aditya mengambilnya, untuk menegak air mineral, meredakan dahaga di tenggorokannya. “Deema, di bahu kamu ada apa?”
Deema yang sedari tadi asyik dengan novelnya, melihat ke bahu sebelah kirinya ada ulat bulu yang menempel di bajunya. Langsung saja Deema terlonjak, menjerit histeris ketakutan, dengan derai air mata yang keluar dari kedua lensa matanya. Deema terkapar jatuh pingsan. Dengan kebingungan, Aditya mendekati Deema menggoyangkan tubuhnya. Tidak mengerti apa yang membuat Deema jatuh pingsan.
Aditya menggendong Deema, untuk membawanya ke rumah sakit terdekat yang ditemani dengan guru menggunakan mobil. Ini awal membuat Aditya untuk ingin terus menjaga Deema. Dan tak membuat dia kaget dan syok.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dapat di pastikan putri Bapak mengalami phobia terhadap kegelapan dan hewan. Dimana putri Bapak alergi dengan sentuhan air pada hewan. Ini sebuah alergi langka dan kasusnya hanya terlaporkan di literatur kedokteran sejumlah 100 kasus. Putri bapak akan mengalami gatal-gatal begitu kontak dengan hewan, apapun suhunya.” Kata dokter pada Pak Bram.
“Apa itu buruk? Sampai tingkat apa?” Tanya Papah Deema.
“Artinya dia akan syok jika memegang hewan. Akan membahayakan nyawanya jika tidak ditangani secara tepat waktu.”
“Jadi, apakah mulai sekarang dia tidak boleh memegang hewan dok?.”
“Jangan khawatir hal ini. Asalkan ke depannya tidak menyentuh sumber alerginya. Maka, tidak akan ada masalah.”
“Terimakasih, dokter.”
Setelah dokter berbicara dengan Pak Bram. Pak Bram mendekati Aditya yang menunggu di luar ruang inap yang ditempati Deema.
“Aditya, terimakasih kamu telah melindungi Deema kali ini.”
“Deema walau kadang menyebalkan, saat dia dalam masalah aku harus membantunya. Om. Tapi, apa yang terjadi pada Deema. Tari tidak apa-apa, kan?.” Dengan nada ke khawatriannya.
“Dia, alergi dengan hewan. Aditya, kamu lebih tua dua tahun dari Deema. Jadi, kamu adalah kakaknya. Om melihatmu tumbuh dewasa dari kecil diantara semua anak, kamu anak yang pintar. Om ingin meminta satu hal pada kamu, bisakah kamu berjanji padaku?.”
“Silahkan katakan,Om.”
“Mulai sekarang di kampus, tidak peduli apa yang terjadi, kamu harus membantu Om melindungi Deema. Jangan membiarkannya meneteskan air mata dan menangis, oke?.”
“Baik, Om, aku berjanji.”
Aryo mengeluarkan empat lembar uang lima puluh ribu dari dompetnya. “Ini, imbalan buat kamu. Di bumi ini tidak ada yang gratis. Om ingin menghargai kebaikan kamu dengan memberi kamu ini.”
Aditya menerima uang itu dari tangan Pak Bram. “Terimakasih, Om, kalau gitu. Tiap bulan boleh aku menagih imbalan ini?.”
Pak Bram menjawab dengan anggukan kepalanya, tanda kalau dia bersedia menepati janji itu.
***
Deema yang tengah membaca novel romance dengan posisi tengkurap di atas tempat tidurnya yang nyaman, sembari senyum-senyum sendiri membaca setiap kalimat yang romantis untuk dibayangkan menjadi kenyataan. Seketika kenyamanannya di buyarkan dengan datangnya seseorang menarik novelnya dari tanganya.
“Mengangkat dagu, bibir mendekat sedikit demi sedikit...”
“Jangan dibaca lagi, kembalikan padaku, kembalikan.” Rengekan Deema tangannya mencoba menjangkau lebih tinggi untuk merebut novelnya kembali.
Semakin Deema menjangkau tangannya lebih tinggi dengan menjijitkan kakinya. Karena tinggi mereka yang berbeda 23cm. Deema yang hanya 155 cm, sedangkan Aditya 178cm. Membuat Aditya dengan mudahnya mengangkat dengan tinggi-tinggi agar tidak dijangkau oleh tangan Deema.
“Hai, ini waktunya belajar. Aku dengar ujian matematika kamu kemarin jelek. Masih santai, dengan membaca novel romantis. Yang tidak ada gunanya.” Cerca Aditya, menurunkan kembali tangannya.
“Kembalikan buku itu?.” Deema menarik bukunya yang dipegang Aditya.
“Tidak akan, aku akan mengembalikan jika nilai ujian matematika kamu 90.” Aditya kembali menarik bukunya ke arahnya.
Dengan emosi yang sama-sama meluap diantara mereka. Sama-sama tak terima, mereka saling melawan dengan saling tarik-menarik buku itu untuk diperebutkan. Hingga buku itu berbagi menjadi dua.
“Apa kamu gila. Aditya!” Tegas Deema dengan nada kesal. Deema terduduk di kasurnya membelakangi Aditya.
Beberapa saat Aditya bergeming ditempatnya. Tak menyangka dengan apa yang sudah dia lakukan. “Deema, kamu menangis?.”
Deema tak menjawab, hanya berdiam. Namun punggunya bergetar seperti menahan tangisan. “Deema, kamu tidak boleh nangis....Deema...” Aditya menegangkan kepala Deema untuk melihat ke atas. “Deema , jangan nangis dong aku nggak mau kamu sedih. Nih aku kemabikan buku kamu”?
***
Tujuh tahun sudah berlalu, entah maksud tuhan memberikan takdir seperti itu. Bagi Deema dipertemukan kembali dengan seorang Aditya, kembali pada nereka yang selama ini dia sudah bisa hidup dengan tenang. Dia tidak ingin Aditya kembali menjadi cowok tukang tindas. Yang seenak hatinya bisa mengatur dan memberi dia pelajaran yang mengerikan.
Deema memakan es krim stoberi di depannya dengan rakus. Tanda jika amarahnya sedang meluap-luap. Hal yang akan dia lakukan ketika amarah atau di landa rasa senang dia pasti akan memakan es krim stoberi dengan rakus sampai dia kenyang.
“Bagaimana hari pertama kamu masuk kerja?” Tanya Alda yang merupakan teman tempat dia berbagi hal senang atau sedih. Alda merupakan penulis terkenal di aplikasi yang bernama nulis.com. Sudah puluhan cerita yang di unggah disana. Pengikutnya sudah mencapai 200 ratus ribu, sudah ada 10 cerita yang dia buat disana, yang setiap ceritanya mencapai lima puluh juta pembaca, Alda merupakan ratu cerita romance. Setiap cerita yang dibuatnya tak pernah, tak populer.
“Sangat mengerikan.” Ujarnya dengan wajah kusut setelah seharian bekerja, mendapatkan banyak perintah dari Aditya. “Aditya, kakak tukang tidas itu menjadi atasan di tempatku bekerja.” Sambung Deema.
“Apa, Aditya yang dulu tinggal diseberang rumahmu dan di gaji ayahmu untuk melindungimu?” Tanya Alda kembali.
“Dia bukan dewa pelindung. Dia adalah orang jahat. Uang ayahku sudah dikeluarkan secara sia-sia. Demi mendapatkan uang saku dari ayahku, setiap hari dia mengintruksil orang lain untuk menindasku di belakang. Sayangnya waktu itu aku terlalu penakut, tidak berani melawan. Dari mulai SD sampai kuliahl dia selalu menjadi mimpi burukku.”
“Lalu setelah itu?”
“Lalu dia melakukan satu hal yang selamanya tidak dapat kumaafkan, kemudian ayahku bawa aku pindah kampus.”
“Jika begitu, seharusnya dia sangat merasa bersalah padamu. Kau harus meminta dia menebus segala kesalahannya yang dulu pernah dia perbuat.”
“Sayangnya, apakah serigala lapar akan merasa bersalah terhadap domba yang telah dimakannya? Di hari pertama dia memberi aku tugas yang tidak masuk akal. Harus menyusun arsip di gudang dari tahun ke tahun. Yang jumlahnya itu tidak sedikit, aku harus mengerjakannya sendiri.”
Suara ponselnya disebelahnya berdering. Tanda ada w******p yang masuk. Deema meraih ponselnya untuk melihat isi pesannya.
Aditya :
Hai, domba kecil. Aku beri kamu waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu seminggu.
Deema :
Ini siapa?
Aditya :
Berlaga tidak tahu, ini atasanmu yang paling tampan, Aditya.
Mendapat pesan seperti itu, Deema dibuatnya semakin kesal. Deema memutusan untuk memblokir nomor Aditya.
Aditya:
Jika kau menyelesaikannya dengan baik dan benar. Aku akan memberi kamu bonus dan mentraktir kamu makan.
Aditya memelototi layar ponselnya saat melihat pesan yang dikirimnya pending. “Apa-apaan ini, kenapa malah di blokir?” Cercanya kesal
***