Saat bel masuk tanda istirahat berakhir. Deema yang baru membalikkan badannya akan kembali ke kelas. Mendengar suara kucing yang seperti meminta tolong yang berasal dari samping halaman kampus.
“Oh, ya, ampun.” Deema ingin mengambil tubuh mungil kucing berwarna coklat yang terjepit disolokan, belum sempat Deema mengambil kucing itu. “Deema berhenti, kamu jangan pegang kucing itul.”
Aditya yang akan melangkah ke kelasnya. Melihat Deema yang terjongkok di depan solokan menghampirinya, untuk melihat apa yang sedang dia lakukan.
“Deema, kamu lupa yah? Kamu itu punya alergi bersentuhan dengan hewan.”
“Aditya, ada kucing yang terjepit disini. Aku baru menolongnya dari maut.”
Aditya melihat pada kucing yang sedang terjepit. Setelahnya berlalu meninggalkan Deema dan beberapa menit kembali dengan membawa kardus yang dia ambil dari gudang. “Biar aku aja, kamu jangan pegang kucing itu nanti alergi kamu kambuh lagi.”
Deema pun mengganggukkan kepalanya. “kamu bawa kucing itu pulang yah kasian.”
“Gila kamu yah mana bisa aku merawatnya”
“Aku yakin kamu bisa merawatnya dengan baik.”
“Oke, aku bawa pulang. Biar aku yang bawa ke kelas. Udah bel dari tadi, ayo masuk kelas.”
Kucing coklat itu mereka beri nama Nuki. Dengan hadirnya kucing itu ditengah mereka. Deema dan Aditya memiliki mainan baru yang bisa mereka ajak main dan ngobrol, atau setiap sore bermain di taman membeli es krim stoberi mengelilingi komplek dengan Nuki. Mereka merawat Nuki dengan rasa sayang yang ada sesama makhluk hidup, sayangnya Deema Cuma bisa melihat tapi tidak bisa memegang nuki.
***
Hari ini Deema mewakili kampusnya untuk lomba akuntansi antar kampus kota Malang. Setelah melakukan tahap seleksi yang panjang. Pagi ini, Papah Deema ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Sehingga tidak bisa mengantar Deema ke tempat lombanya dan menontonya. Sehingga Aditya yang diberi mandat untuk mengantar dan menemani Deema selama mengikuti lomba Akuntansi berlangsung.
Para dosen sudah mengerti dengan keadaan Deema dan tahu jika Aditya adalah kakak yang diangkat oleh ayah Deema untuk melindunginya setiap saat, dimana ada Deema disana pasti ada Aditya. Yang berjalan dibelakangnya, yang setiap saat setia menjaga keselamatan Deema. Sehingga memberi izin pada Aditya tidak masuk kampus hari ini hanya untuk menemani Deema.
“Aditya, kamu tidak perlu berlebihan. Disana nanti ada dosen dan mahasiswa yang lainnya yang bisa aku minta tolong jika terjadi sesuatu menimpa ku. Kamu sudah semester akhir harusnya itu kamu fokus sama skripsi kami. Kamu tidak boleh bolos kampus hanya untuk mengawasi ku.” Cerca Deema saat Aditya sudah menyiapkan motor CBnya
“Deema, ini mandat dari Papah kamu. Aku harus menjalaninya.”
“Kamu bisa menolaknya, aku bukan anak kecil yang tak tahu apa yang harus dilakukan.” Dengan muka berangnya, Deema berbalik badan siap untuk meninggalkan Aditya.
Baru lima langkah berjalan. Sebelum lebih jauh berlalu, Aditya mencekal pergelangan tangan Deema untuk menghentikan langkahnya. “Aku antar, nggak ada penolakan. Ini perintah!”
Melihat manik mata Aditya yang memperlihatkan keseriusan ucapannya. Keputusan dia yang tidak bisa diganggu gugat. Deema hanya bisa bergeming ditempat berdirinya.
“Ayo, naik. Nanti telat, lagi!” Perintahnya.
Deema memakai helm dari Aditya dan naik di boncengan motor CBnya. “Udah, siap?” Tanya dia sebelum melajukan kemudi motor CBnya.
Deema mengeratkan pegangan di pinggang Aditya. “Udah,”
Aditya memulai menyalakan mesin CBnya membelah jalanan kota Malang pagi hari yang dingin menusuk ke tulang. Anginan menerpa kulit mereka yang membuat pipi mereka bersemu merah. Membuat Deema lebih mengeratkan pegangannya di pinggang Aditya, dan menyederkan kepalanya di bahu Aditya untuk mencari kehangatan.
“Makasih, Dit. Kamu kenapa sih, jadi anak nurut aja, apa yang disuruh Papah aku.”
“Janji tidak bisa diganggu gugat. Aku akan menepati janji ini sampai akhir.”
“Sampai akhir? Kapan akhir itu?.”
“Sampai aku tak ada waktu, dan tak ada kesempatan lagi untuk melindungi kamu.”
Mendengar pernyataan itu dari dari mulut Aditya membuat kedua pipi Deema bersemu merah. Lebih dalam lagi meneggelamkan kepalanya di balik punggung Aditya yang hangat. Di dekatnya, Deema tidak akan pernah khawatir, hanya dia yang bisa menggetarkan sel-sel molokul tubuhnya untuk menerima tanpa kecuali.
***
Dengan langkah gemetar. Deema menaiki untuk bersiap mengikuti lomba akuntansi. Para juri dan mata penonton terpaku hanya pada Deema didepan. Melihat para peserta yang lain ketinggalan saat Deema mengerjakan soal-soal akuntansi dan menjawab semua pertanyaan sangat memukau. Membuat Deema ciut sendiri, merasa sudah kalah sebelum perang.
Satu jam semua peserta menampilkan penampilan terbaiknya dalam menjawab semua soalnya. Semua dewan juri memberi pilihannya siapa yang pantas menyandang pemenang juara 1, 2, 3. Di belakang panggung. Semua peserta dalam duduknya menyimpan harap-harap cemas. Tak kecuali, Deema yang sangat ingin pulang dengan menyandang juara 1 itu.
“Deema, ibu tau kamu pasti grogi saat tadi di atas panggung. Seharusnya kamu bisa menampilkan penampilan yang lebih baik dari itu. Sepertinya sudah tidak ada harapan dari kita untuk bisa menang.” Ujar Bu Irna selaku Dosen akuntansi Deema.
“Maaf, Bu. Saya sudah buat kecewa. Tidak bisa memberikan penampilan yang terbaik.”
Bu Irna hanya menjawab dengan gelengan kepala dengan rasa kecewa yang ada. “Kita lihat saja, nanti.”
Sang MC naik ke atas panggung dengan selembaran kerta. Siap menyebutkan nama-nama untuk sang juara. Pembacaan dimulai dari juara 3 hingga yang ke-1. Tak ada nama Deema yang disebut. Deema harus pulang dengan rasa kecewa yang ada.
“Aku gagal, Dit.”
Melihat lensa mata Deema yang memerah akan mengeluarkan air mata. Aditya mengeratkan pegangan tangannya. “Deema, kamu jangan nangis.”
Deema mengandahkan kepalanya. Menahan bulir air matanya sekuat tenaga. “Aku nggak kuat, aku ingin nangis, Dit.” Sesak di dadanya menahan tangis tak dapat dibendungi. Bulir air mata berhasil keluar dari kedua lensa mata Deema. Deema sangat sedih dengan bulir air mata kecewa.
Aditya menyemangati Deema yang sedih. Aditya menghibur ya agar tidak usah sedih karna Deema sudah memberikan yang terbaik tadi aditya yakin di lomba berikutnya pasti Deema yang akan menang l
Aditya pun, mengajak Deema untuk pulang. Tapi Deema masih memikirkan lombanya dia sangat kecewa karna dosennya sudah berharap banyak Deema agar Deema bisa memang. Namun tanpa sengaja ada anjing yang tiba-tiba menghampiri Deema di halaman, Deema pun yang memliki alergi terhadap hewan pun kaget dan pinsang. Aditya yang tak menyadari ada anjing yang datng ke Deema pun panik melihat Deema jatuh pinsang. Segera Aditya menelfon Ambulance dia khawatir Deema akan kenapa-kenapa
Saat sampai di rumah sakit Aditya pun mengabari orang tua Deema.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa alerginya bisa kambuh?” Cerca Bu Mayang Mamah Deema.
Aditya hanya tertunduk tak berani berkata. Kesal dengan sikap diam Aditya. Bu Mayang berlalu memasuki ruang inap yang di tempati Deema.
“Aditya, apa yang terjadi.” Tanya Pak Bram dengan suara lebih lembut dari sang istrinya barusan.
“Maaf, Om. Aku gagal jaga Deema. Dia kalah lomba, dia kecewa sampai sedih tadi. Tiba-tiba ada anak anjing uang berlari ke Deema dan aku nggak liat om, Aku nggak bisa cegah anjing itu sampai ke Deema om.”
“Saya lihat keadaan Deema dulu.” Ucapnya menepuk pundak Aditya berlalu. Meninggalkannya di ruang tunggu.
“Aku ingin pergi dari kota ini. Aku nggak mau lihat Deema terus-terusan kaya gini. Aku ingin Deema terjaga dari alerginya. Anak laki-laki yang kamu beri mandat itu, untuk jaga Deema tidak bisa kita andalkan.” Sergahnya saat melihat suaminya memasuki ruangan.
“Mah, jangan buat keputusan dengan emosi. Deema sudah ditangani dan dia akan baik-baik saja.” Serganya.
“Pokoknya, aku mau pergi dari sini. Ke tempat yang membuat Deema tenang tidak membuatnya menderita”
“Kamu mau kita bawa Deema ke mana?”
“Bali, mungkin Bali tempat yang tepat untuk dia. Dia anak yang rapuh nggak boleh sedih yang harus kita jaga.”
Pak Bram hanya menggeleng atas permintaan istrinya. Dia merasa punya segalanya dan bisa memberi apapun untuk keluarganya. Tak ada satupun permintaan dari istri dan anaknya yang bisa dia tolak. Bagi dia kebahagian keluarganya. Selama bisa dia lakukan adalah di atas segala-galanya.
***
Aditya tahu, kalau Deema setelah pindah ke Jakarta. Dia belum menemukan tempat tinggal yang pas dengan kantongnya untuk membayar sewa. Aditya memiliki sebuah apartemen mewah yang jaraknya tak jauh dari kantor. Aditya ingin menawarkan satu apatermennya yang dia miliki. Namun gengsinya lebih tinggi. Pada akhirnya, dia meminta bantuan asistennya untuk memasang iklan apartemennya dengan harga sangat murah di situs sewa properti.
“Deema, ini ada apartemen dekat kantor kamu dengan harga murah. Hanya lima juta perbulan. Dan sudah lengkap perabotannya.” Kata Sherina memperlihatkan layar ponselnya.
“Ah, coba kamu hubungi. Jika itu benar, beri janji hari kamis untuk bisa melihat tempatnya.” Jawab Deema dari meja kerjanya yang masih sibuk dengan laptopnya.
“Oke,” Alda melaksanakan apa yang Deema berikan. Dengan mengirim pesan untuk membuat janji dengan pemilik tempat.
Alda :
Hallo, teman ku yang bernama Deema. Sedang mencari apartemen yang dekat dengan tempat kerjanya. Apa benar apartemen ini disewa dengan harga segitu.
***
“Bos, ini ada yang ingin menyewa dengan nama Deema.” Kata Noval selaku asisten Aditya.
“Terima, langsung atur janji untuk dia melihat tempatnya.” Aditya tersenyum puas atas kemenangannya.
“Baik, bos.” Noval selaku pengurus apartemen membalas pesan yang Alda kirim.
Noval :
Benar harga itu sudah pas, kita langsung atur waktu saja untuk melihat tempat. Karena sudah banyak yang merebutkannya.
Alda:
Saya dan teman saya yang akan menyewa. Akan melihat tempatnya hari kamis jam 1.
Noval :
Oke,
“Sudah beres, bos.”
Aditya menjawab dengan acungan jempol.
Noval mendekati Aditya yang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. “Bos, perempuan ini siapa? Sampai bos mau menyewakan apartemen semurah itu. Harga sebenanya, kan 10 juta perbulan. Itu tidak rasional, bos.”
“Aku hanya membantu, seseorang yang harus aku bantu.” Ujarnya dengan tersenyum pasif.
***