Kata perpisahan itu harus terucap dari mulut Deema. Tiga hari lagi ia dan keluarganya akan berangkat ke Bali. Memulai hari baru, tempat baru, tanpa seorang Aditya di hari-harinya. Entah hatinya bisa menerima hari-hari itu nantinya atau justru akan terasa menyulitkan. Ini bukan yang dia inginkan, namun dengan terpaksa harus menerimanya dengan hati dan kaki sebenarnya enggan untuk pergi, dia yang sudah menjadi pahlawan setiap saat ia butuh. Sore itu menjelang senja, jembatan Gelora menjadi saksi tempat mereka mengikrar kata pisah itu.
“Kamu sudah menepati janji itu. Ini akhir dari batas kamu melindungi aku.” Ujar Deema dengan kepala tertunduk dengan suara yang berat. Enggan menyatakan kebenarannya.
Aditya menatapa dalam-dalam ke bola mata Deema. “Apa maksud kamu, Deema?.”
“Cowok tukang tindas, aku harus pergi.”
Aditya menggemgam kedua tangan Deema dengan hangat. “Kamu, mau kemana?”
“Mamah dan Papah mau membawa aku, ke tempat yang tak bisa membuat aku sedih.”
“Kemana, itu?”
“Bali, tiga hari lagi kita akan berangkat.”
“Kenapa tiba-tiba, Deema. Kenapa haru pergi. Disini ada aku yang setiap saat bisa menahan kamu untuk tidak sedih dan terhidar dari alergi kamu Deena.”
“Tidak, kamu selama ini hanya bisa membuat aku menangis. Kamu penyebab aku sedih”
“Deema, kamu tau. Kenapa aku dulu sengaja menyuruh Boy menjambak kamu dari belakang hingga kamu tersungkur, meletakan kecoa di novel kesayangan kamu, semua itu karena aku ingin kamu kuat. Karena kamu berbeda dengan wanita lain. Bisa menangis saat masalah datang, kamu harus tegar perasaan, menahan air mata keluar.”
“Selamat, kamu berhasil. Bodohnya aku, tak memberikan pemberontakan sedikitpun. Pada cowok tukang tindas, seperti dirimu.” Deema membalikan badannya siap untuk berlalu dari hadapan Aditya.
Namun Aditya mencegah Deema untuk pulang sendiri dengan mencekal pergelangan tangannya. “Aku antar pulang.”
Deema menarik cekalan tangan Aditya dari pergelngan tangannya. “Nggak perlu,”
“Deema, aku akan berhenti membuntuti kamu dari belakang untuk memastikan kamu tidak dalam bahaya. Sampai kamu benar-benar pergi, tidak bisa lagi aku jangkau tangan lemah kamu ini.” Aditya memasangkan helamnya di kepala Deema. Motor CBnya membelah kota Malangg dengan langit mulai gelap.
***
Hari ini adalah hari terakhir untuk Deema berada di kota kelahirannya. Hari ini ia hanya ingin di rumah merapikan semua barang yang akan dibawa .
“Dit, aku bakal pergi dari sini. Ketempat jauh, yang katanya. Tempat itu tenang dan indah tak mungkin aku disana menangis.” Ujar Deema sembari mengelus foto Aditya.
Bu mayang menghampiri Deema dengan seulas senyum di bibirnya. “Deema, ada Aditya ingin bertemu dengan kamu.” Ujarnya.
“Ngapain dia kesini, kemaren kita sudah mengatakan perpisahan. Aku rasa itu sudah cukup.” Dengan muka murung tertunduk.
“Deema, dia ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Sebagai hari terakhir kalian, ayo temui dia. Mamah mengerti perasaan kamu. Pasti berat untuk pergi dari sini. Mamah hanya ingin kamu terjaga dari hal yang membahayakan buat kamu.”
“Apa menurut Mamah, selama aku dekat dengan Aditya. Aku dalam bahaya? Dia selama ini yang selalu menjaga aku, Mah.”
“Mamah tau, tapi Mamah dan Papah tidak bisa terus tegantung pada dia. Untuk menjaga kamu. Di Bali kamu jauh lebih tenang, kapan saja kamu bisa pergi ke pantai dan tantangan kampus disana tidak seberat disni.”
“Bagaimana dengan Kak Anggun?.” Anggun adalah sosok kakak yang selalu dia kagumi. Dimana setiap ada acara kumpul keluarga Mamah dan Papahnya selalu memuji prestasi yang dia dapatkan selama di kampus. Namun semenjak dia kuliah ke Amerika. Deema kehilangan sosok kakak itu, bertemu dengan Aditya menggantikan peran kakaknya yang selalu ada disetiap dia minta tolong. Dan sekarang dia harus berpisah dengannya. Entah apa yang akan hatinya terima dengan keadaan yang sekarang kalang-kabut.
“Kakak kamu lagi sibuk skripsi. Setelah kuliahnya selesai dia akan menyusul kita ke Bali dan membantu bisnis Papah kamu.”
Deema menjawab dengan anggukan kepala. Berjalan ke depan teras rumahnya, bertemu dengan Aditya.
“Hai, kamu sudah selesai berkemas?.” Tanyanya dengan seulas senyuman.
Deema hanya menjawab anggukan kepala yang lunglai. “Kamu jaga Nuki, selama aku pergi.” Setelahnya badannya berbalik akan masuk kembali.
“Kamu baik-baik saja? Wajah kamu pucat!”
“Aku hanya kurang tidur. Semalam sibuk berkemas. Aku lelah, ingin istirahat.”
“Deema, ini permintaan terakhir ku. Di hari terakhir kamu disini, izinkan aku ajak kamu sebentar saja berlari dari kenyataan yang ada.”
“Kamu mau apa?.”
Aditya menarik tangan Deema. Membawanya ke suatu tempat di boncengan motor CBnya. Untuk sebentar saja kabur dari kenyataan yang akan menyusul dalam sebuah perpisahan yang sebenarnya hati enggan.
***
Aditya membawa Deema berlari dengan motor CBnya ke tebing yang terletak di puncak, setelah melewati jalanan berbatuan yang terjal. Sesampai di puncak Tebing . Langit sudah menuju jabalnya. Awan-awan berarak berwarna kelabu menjadi latar romantis tempat mereka berdiri. Terhampar hutan tropis. Yang semakin petang dinginnya semakin menusuk ke tulang.
Deema memeluk kedua tanganya kedinginan dengan mendengus, diselingi bersin.
“Dingin?” Aditya melepaskan jaketnya. Memasangkannya pada Deema. “Maaf, tadi aku buru-buru ajak kamu kabur. Sampai nggak izinin kamu siap-siap.” Melihat penampilan Deema hanya menggunakan celana pendek seatas lutut dan kaos tipis, beralaskan sendala jepit.
“Disini indah pemandangannya,”
Aditya mengeluarkan dua roti coklat, dan dua kota buavita Apel dari tas selempang hitamnya yang melekat di bahunya. “Nih, makan dulu.” Aditya membukakan roti sobeknya dan menusukan sedotan Buavita untuk Deema.
“Makasih,” Deema menerima roti dan buavitanya dari tangan Aditya.
“Kamu, beneran mau pergi Deema?.”
Deema mengganggukkan kepalanya. “Kamu harus rajinurus dia menjaga dan merawatnya. Yang ada, setiap aku dengan Nuki. Malah yang di ingat wajah kamu. Kalau gitu caranya, mana bisa pergi.”
“Aku janji, bakalan kirim kamu surat. Kamu juga harus membalas semua surat-suratku.”
Deema menjawab dengan anggukan kepalanya, matanya memerah dengan suasana sedu sedan yang tercipta. “Hemm....kenapa jadi sedu seperti ini keadaannya.” Mengandahkan kepalanya menahan tangis.
Aditya menghadapkan Deema untuk melihat ke bola matanya dalam-dalam, memegang kedua pundaknya dengan hangat. “Jika ada yang menggeretak. Kamu harus membalas dua kali lipat, disana kamu harus menjaga dirimu sendiri.”
“Ini, perpisahan terakhir kita.” Deema mengeluarkan ponselnya dari saku celana. “Sebagai kenangan, kita berfoto.” Ujarnya mengarahkan kamera ponselnya. Satu jepretan di dapat, wajah mereka tersenyum ke arah kamera.
Deema tersenyum melihat foto yang mereka ambil. Aditya yang tak tahan lagi menahan gejolaknya. Menarik tubuh Deema hingga jarak mereka sangat dekat. Setiap detak jantung meraka dan deru napas bisa saling terdengar. Mata meraka saling bertemu, Aditya menatap Deema dengan sedu bercampur marah. Sedang Deema menatapnya heran.
“Deema, kamu mau apa?.”
Perlahan-lahan, Aditya mencondongkan mukanya ke muka Deema. Deru jatung mereka saling berlomba dengan sinyal yang ada.
“Ini...ini... seperti adegan di novel yang aku baca.” Batin Deema.
Tanpa adanya penolakan. Deema memejamkan matanya, Aditya yang semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir merah Deema yang menggoda. Memejamkan matanya juga. Saat sudah mendarat di tujuan. Awalnya mereka saling tertegun. Namun Aditya menuntun dengan lembut membuat Deema terbuka untuk menyambutnya. Itu akan selalu Deema ingat, ciuman pertamanya yang diregut oleh Aditya. Menjadi ciuman perpisahan yang paling indah dia dapatkan. Karena dia memberikannya pada orang yang tepat.
***
Deema merentangkan kedua tanganya. Melihat semua pekerjaanya hari ini sudah selesai. “Ah, akhirnya selesai juga.” Melihat kesekitar sudah mulai sepi.
“Deema aku pulang duluan, yah.” Ujar Susi.
Deema menjawab dengan anggukan kepala.
“Sampai jumpa, besok.” Dia berlalu, tinggalkan Deema seorang diri.
“Ah, aku lupa harus minta tanda tangan si Cowok tukang tindas, itu.” Dengan langkah gusar. Mau tak mau harus masuk ke ruangan Aditya. Setelah mengetuk pintunya. “Ada, yang harus ditanda tangan.” Deema menyodorkan berkas dan pulpen ke hadapannya.
Aditya menerima pulpen dan berkasnya tanpa berkedip sedikitpun. “Ini,” Tanpa mengalihkan pandangannya Aditya mengembalikan berkas dan pulpennya. “Kenapa nomor saya, kamu blokir?.”
“Saya hanya tidak ingin, diganggu dengan orang tukang tindas seperti anda.”
“Oh, kearsipan yang saya minta. Sudah selesai semua?.”
Deema hanya menjawab dengan anggukan yang lunglai.
Aditya berdiri dari kursi nyamannya mendekatkan jaraknya dengan Deema. “Sebagai imbalannya, bagaiman kalau kita makan malam berdua?.”
“Maaf, cowok tukang tindas. Saya sudah cape ingin sekali cepat pulang ke rumah.” Ujarnya berbalik badan.
“Oh, kamu menolak teraktiran makan sushi?.”
Mendengar kata Sushi. Membayangkan ikan tuna yang segar sicelupkan ke saus shoyu membayangkan saja sudah menggiurkan. Membuat perutnya yang lapar semakin keroncongan. Badannya kembali berbalik dengan mata berbinar-binar. “Aku tarik, omongan aku yang tadi.”
Aditya tersenyum menang. Berjalan keluar dari ruangannya. Membawa Deema ke restoran bintang lima yang ada di Jakarta. Yang sudah terkenal dengan chef yang handal dengan sushi yang enak.
“Deema, ini kan, restoran mahal, kita cari aja tempat makan yang murah.”
“Tidak apa, selama seminggu aku lihat kamu lembur menyusun arsip yang berantakan. Ini imbalan yang pantas kamu dapat.”
Deema tersenyum senang atas hadiah yang didapatnya.
“Sulit aku percaya, si cengeng yang aku kenal dulu. Sekarang bisa bekerja tanpa mengeluh sekali, pun.”
“Aku udah bilang, semua orang bisa berubah. Aku bisa sekuat seperti sekarang, karena kamu yang mengajarkannya.”
“Aku?.”
“Iya, jika saja kamu tidak sengaja menindas aku agar bisa tahan banting. Mungkin saat berpisah dengan kamu waktu itu. Aku tidak bisa menerima dan sekuat menghadapi kenyataanya yang harus aku hadapi.”
Obrolan mereka terhenti ketika pelayan menghampiri meja mereka menyajikan makanan yang mereka pesan. “Silahkan dinikmati.” Ujarnya berlalu. Selesai menyajikannya dimeja.
“Terimakasih.” Jawab mereka berdua bersamaan.
“Kamu kenapa, tidak membalas surat aku lagi?”
“Terakhir kali kita berkirim surat. Saat aku sudah lulus dan harus memilih kuliah S2 dimana dan jurusan apa. Saat mau mengirim surat lagi untuk kamu. Aku ngerasa tak ada gunanya menuliskan kata terima kasih dan kata rindu itu. Aku hanya bisa berharap kita bisa bertemu kembali.”
“Dan itu terjadi,” Aditya mencodongkan badannya lebih dekat lagi ke wajah Deema. “Aku ingin dengar langsung kata terima kasih dan rindu itu dari mulut kamu.” Pintanya langsung.
Beberapa detik Deema hanya bisa tergagap di tempatnya. “Terima kasih dan....aku sangat rindu dengan semua perilaku penindasan kamu.” Deema mencubit kedua pipi Aditya dengan gemas.
Aditya menghentikan cubitan tangan Deema dengan memegang kedua tangannya, sedang matanya lekat memandang kedua matanya. Deema mengeluarkan ponselnya dari tasnya. “Maaf, saat itu karena aku kesal dengan semua perintah yang kamu kasih.” Deema membuka blokirnya untuk Aditya. “Aku udah buka blokirannya.”
***