Satu minggu berada di Bali. Lembaran baru yang telah dia mulai tidak semudah dia kira. Untuk Deema seorang introvert. Yang mana, soal urusan bersosialisasi merasa nyaman mengabiskan waktu dengan sedikit teman atau dengan diri sendiri sekedar membaca buku sembari mendengarkan lagu. Selama satu minggu ini Deema belum banyak punya teman, apa lagi mengetahui nama semua teman satu kelasnya. Dan juga lingkungan dan kebiasaan masyarakat disini yang masih terasa asing buat Deema. Satu-satunya hal yang membuat dia merasa ini adalah bukan hal yang buruk untuk dicoba, adalah pantai dan beberapa pemandangan alam yang indah disini.
Malam ini Deema sebelum menaiki tempat tidurnya. Deema menyempatkan untuk menuliskan surat untuk Aditya disana. Deema mengeluarkan selembar kertas dari bindernya dan mengambil pulpen warna pink. Pulpen kesukaanya pemberian dari Aditya. Deema memulai menggoreskan penanya diatas kertas, menghadap meja belajarnya yang jendelanya masih terbuka. Memperlihatkan pemandangan kota Bali di malam hari. Dengan seulas senyum Deema memulai menuliskan suratnya.
Hai, cowok tukang tindas.
Bagaimana kabar kamu seminggu disana tanpa adanya aku?
Kalau aku disini tanpa kamu ternyata seperti kuman dipaksa untuk meninggalkan rumahnya. Hari-hari itu terasa hampa dan kosong. Seminggu tanpa adanya ocehan darimu dan perilaku tindasanmu. Aku meresa seperti masuk ke tempat antah berantah. Aku disini belum punya teman yang baik dan sekeren kamu.
Kabar baiknya, seminggu disini aku sudah berkeliling ke beberapa pantai disini. Setiap aku ingin nangis karena tidak ada yang mengerti aku. Yang hanya bisa aku lakukan adalah berlari ke pantai. Walau hanya bisa memandanginya, bukan untuk menyentuh airnya.
Deema melipatkan kertasnya ke dalam amplop. Memasangkan perangkonya dan menuliskan alamat rumah Aditya. Dia juga memasukan beberapa foto pantai yang pernah ia kunjungi melalui jepretan kamera. Di belakang foto, Deema menuliskan nama pantainya. Besoknya Deema mengirimkan surat itu ke kantor pos.
***
Aditya tersenyum setelah menerima surat pertama yang dikirim Deema melalui tukang pos yang mengantarnya sampai depan rumahnya. Aditya memasuki kamarnya untuk membaca isi dari surat pertama Deema.
“Dasar, anak cengeng. Masih saja, tidak bisa menahan tangisnya.” Gerutunya setelah membaca surat Deema dengan seulas senyum. Setelahnya Aditya berpindah tempat dari kasurnya berjalan ke meja belajarnya untuk menuliskan balasan surat dari Deema.
Si cengeng,
Perkiraanku selalu benar untuk kamu, kalau kamu tidak bisa bertahan hidup atau melawan tangis itu keluar dari lensa matamu. Aku satu-satunya, laki-laki yang bisa melindungimu. Sekarang kamu tidak bisa andalkapn aku, andalkanlah dirimu sendiri. Jangan biar air mata itu keluar hanya karena hal sepele. Kamu harus kuat disana Deema.
Aku pun disini belum terbiasa melewati hari-hari tanpa kamu. Jadwal bimbel ku semakin padat menjelang sidang skripsu. Doa’kan semoga aku lulus dengan peringkat cumlaude.
Setelahnya Aditya memasukan surat balasan yang selesai dia tulis. Ke dalam amplop. Dan menuliskan alamat Deema juga perangko yang ditempelkan.
***
Aditya dan Deema masih terus berkirim surat setiap sebulan sekali. Banyak cerita yang mereka bagikan lewat surat itu. Kini surat-surat itu menjadi pelekat rindu di atas atmosfer tempat mereka menghembuskan napas. Masih dengan mencoba tegar, membawa harapan-harapan bersama, dan entah waktu mereka bisa bertemu kembali.
Cowok tukang tindas,
Di kampus aku merasa di kucilkan, tak ada yang mau berteman dengan ku. Katanya aku aneh karena selalu membawa novel kemana-mana. Padahal kan, novel adalah hal keharusan yang selalu aku bawa kemanapun. Aku nggak tau, harus seperti apa agar mempunyai teman.
Sampai, aku jatuh pingsan karena alergi terhadap hewan. Karena aku ditindas. Karena semua novel-novel ku dirusak dan aku di kerjain di kasi kecoa. Hmmmm......aku ingin kamu datang Aditya. Menengadahkan kepalaku, menutup mataku, menenangkan ku agar air mata itu tak jatuh dengan pelukan darimu.
Deema,
Sudah aku bilang jika ada yang menindas. Kamu harus membalas dua kali lipat. Sekarang teman seperjungan kamu hanyalah diri kamu sendiri. Jangan biarkan orang-orang yang telah menindasmu bisa berbuat seenaknya. Kamu punya harga diri, tak apa tidak punya teman. Yang penting kamu tetap menjadi dirimu yang ternyaman. Hidup bukan perkara disukai dan dibenci. Tapi, bagaimana kita membawa diri agar memberikan banyak manfaat.
Cowok tukang tindas,
Semua yang kamu bilang benar, aku sudah mencoba melawan rasa takutku dan mencoba melawan jika benar. Aku sekarang tak sendiri lagi. Ada satu nama yang sekarang menjadi teman bermainku. Namanya, Alda. Dia selalu ada untukku. Kapanpun dan bagaimanpun keadaan ku. Bagaiman sidang skripsi mu disana? Apa semua berjalan lancar.
Deema,
Aku punya kabar baik untukmu, aku lulus dengan nilai terbaik, dan aku akan lanjut S2 di London. Semua hasil belajarku selama ini membuahkan hasil. Terimakasih Deema kamu selalu mendoakan aku disana. Aku juga selalu mendoakan kamu yang terbaik disini. Deema, apa kau tak ada niatan kembali ke sini. Barangkali sebentar saja, saat libur semester.
Maaf, aku lama tak membalas.
Sepertinya sangat sulit untuk kita bertemu kembali, Aditya. Bisnis Papah disini tidak berjalan lancar. Aku juga sebentar sudah menyusun skripsi, aku ingin fokus belajar dan mempersiapkan diri.Aku cuman bisa berharap disini, Aditya. Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Hari-hari ku tanpa kamu disini masih tetap sama. Hal yang dimungkinkan akan tetap menjadi khayalan jika tuhan tidak menghendakinya.
Sekarang, besok, atau selamanya. Tuhan penentu jalan kita. Kita hanya bisa berencana. Dengan dekat atau jauhnya kita sekarang. Kita tetap sama, Aditya. Kita kakak dan adik yang raganya terpisah namun ikatan cinta kita akan tetap sama sampai kapanpun.
***
Alda membantu merapihkan semua barang Deema ke box. Sebentar lagi meraka akan dijemput oleh grap ke apartemen Deema yang baru.
“Deema, nanti nggak ada lagi deh, yang bawelin aku tutup jendela, kunci pintu pas mau tidur.” Ujar Alda tertunduk lesu.
“Aku udah cukup ngerepotin kamu selama sebulan di apartemen kamu. Rin, aku pasti sering main, ko, kesini.”
“Tapi, aku senang. Akhirnya kamu punya tempat yang bagus untuk kamu tinggalin, dan harganya sesuai sama dompet kamu juga.”
“Makasih juga, udah bantu cariin.”
Percakapan mereka di kamar terhenti karena ada dering telepon dari ponsel Alda. Nomer yang tidak dia kenal. Saat dia angkat ternyata dari grap yang dia pesan. Yang memberitahu kalau dia sudah sampai didepan.
“Itu, grabnya dah datang.” Alda berbalik badan.
“Oh, iya.” Deema segera merapikan barangnya yang tersisa diatas meja ke dalam tas sling bangnya. Dengan gerakan cepat-cepat, sampai satu kotak kecil warna biru terjatuh kelantai yang isinya keluar semua.
“Eh, Deema, itu kotak apa?” Alda terjongkok membantu memungutnya, kertas-kertas yang tercecer.
Buru-buru Deema mengambil kotak itu dari tangan Alda. “Bukan, apa-apa.”
Melihat muka Deema yang gelagapan. Membuat Alda heran, memicingkan matanya. “Kamu, masih simpan surat si cowok tukang tindas, itu?.” Mengingat saat mereka masih di Bali. Satu-satunya hal yang bisa buat Deema tersenyum senang adalah, menerima surat dari tukang pos di depan rumah. Yang sudah pasti dari seorang Aditya. Yang selalu membuat hatinya terbang entah ke langkit yang mana. Yang Alda yakin, Aditya menyimpan setiap detak jatungnya bersama cintanya. Lewat selembar surat yang menguap bersama rindu diantar mereka. Namun saat itu, mereka sama-sama belum sadar akan cinta itu ada, atau mereka sadar namun terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Deema hanya terdiam tak menjawab. Merapihkan penamilannya, mengoleskan lipstik di bibirnya.
“Deema, kamu suka sama cowok tukang tidasmu, itu?”
“Apaan, sih, Al, aku sama Aditya nggak ada apa-apa. Dari dulu cuman sebatas kakak dan adik, itu aja.”
“seriously?” Tanyanya dengan tatapan mata merayu.
“Udah, ah, aku pergi.” Ujarnya berlalu. Menyeret koper, meselampirkan tas sling bag-nya di bahu kananya, dan tangan kananya membawa box berwarna pink.
“Eh, aku ikut, anterin kamu.” Alda berlari mengikuti langkah Deema dari belakang.
***