Lima belas menit yang lalu Kurnia gusar. Menyerbu Aristo dengan berbagai pertanyaan yang setengahnya terselip maki-makian. Merasakan emosinya teraduk—bingung, marah, kesal, pengen-gigit-kepala-si-somplak—semuanya jadi satu.
Lima menit setelahnya Kurnia mulai merasa ingin membakar ice cream shop ini beserta Aristo dkk di dalamnya.
Dan sekarang Kurnia speechless. Matanya hanya bisa terpaku menatap dua pasang muda-mudi di depannya. Beku.
"Susah nggak nemu tempat ini? Soalnya ini tempat baru. Udah ada di map-nya belum?"
"Udah ada kok. Tapi biasalah, macet."
"Bagus deh. Kita dari tadi nungguin lo." Rayan menimpali. Menarik kursi di sebelahnya supaya Yoanna duduk berhadapan dengan Aristo.
Aristo memanggil seorang pelayan yang lewat.
Sementara otak Kurnia sudah meledak-ledak di dalam tengkoraknya.
Tolonglah.
Siapa yang tidak akan kesal kalau acara romantis empat matanya berubah jadi kencan berjamaah? Kenapa tidak sekalian saja si b*****t itu memanggil semua pasangan yang ada di tempat ini supaya merapat ke meja Kurnia?
"Bisa saya catat pesanannya?"
Pelayannya sudah ada di depan meja. Beberapa buku menu langsung disodorkan.
Aristo sibuk membolak-balik menu sambil sesekali mencuri lirik pada Kurnia yang duduk diagonal di sebelah kirinya—masih memasang ekspresi tertekuk.
"Lo nggak mau pesan lagi?"
Kurnia merasakan telapak tangan atasnya diketuk, dan ia langsung menoleh. Mendapati Aristo memberinya kode dengan gerakan mulut; nanti gue yang bayar.
Kurnia menangkap kode itu, tapi ia melengos.
Sebelah alis Aristo terangkat mendapati reaksi itu.
Sial, si bocah ngerajuk.
.
.
Cute.
.
.
.
Curut tae.
.
.
Pada akhirnya Aristo memutuskan memesan sendiri gelato untuk Kurnia. Pemuda itu kemudian beralih pada Yoanna, berniat menanyakan pesanan gadis itu. Tapi ternyata gadis itu sudah mengatakan pesanannya pada pelayan.
Pelayan pergi dan Rayan langsung mengajak ribut satu meja dengan menyelutuk sok akrab, "Kenapa lo mau aja diajak kencan lagi sama Aristo, Yo?"
"Hah?" Yang bereaksi pertama kali malah Farah. Gadis itu heboh menatap penuh tanya pada Aristo yang langsung buang muka. "Maksudnya apa? Lo sama—sorry," Farah melirik Yoanna agak canggung, "nama lo siapa?"
"Yoanna."
"Lo sama Yoanna mantan, ya?"
Aristo hanya menggumam tidak jelas. Si Farah ini tidak tahu saja kalau Aristo bisa bertemu dengan Yoanna juga karena pacarnya—si Rayan b******k bermuka dua itu—yang mengajaknya ikut kencan ganda.
Karena respon Aristo yang mengambang, Farah mengalihkan tatapan penasarannya pada Yoanna. "Beneran?"
Yoanna bingung menjawabnya. "Err—enggak sih. Sebenarnya, sekitar dua minggu yang lalu gue diajak ikut kencan ganda sama teman-teman gue. Salah satu teman gue ada yang kenal sama cowok dari sekolah kalian, yang namanya Dito. Terus Dito ngajakin teman-temannya dan nyuruh teman gue juga ngajakin teman. Iseng-iseng aja, katanya." Yoanna tertawa sebentar. "Terus yah, disitu gue ketemu sama Dito, Aristo, sama ada cowok satu lagi gue lupa namanya, terus juga sama—"
"Farman," potong Aristo, melirik sedikit pada Yoanna yang langsung bungkam. Lalu langsung beralih ke Farah, "Puas lo? Kami kencan empat pasang. Gila emang ide si Dito. Gue heran kenapa dia nggak sekalian aja ngajakin satu sekolahan."
Farah hanya cekikikan melihat wajah sebal Aristo. Kesha yang sejak tadi hanya diam juga tidak bisa menahan senyum.
Sedangkan Aristo menahan diri untuk tidak menyepak kepala Rayan, yang meskipun ekspresinya santai kayak di pantai—Aristo berani bertaruh—batinnya pasti sedang lega luar biasa.
Lo ngutang sama gue untuk ini, Ray.
"Terus kencan yang berempat itu gagal ya?" Farah menyambung pertanyaan.
Yoanna menggeleng. "Dito sukses."
"Dito keong," umpat Farah main-main ketika teringat wajah konyol teman sekelasnya itu. "Terus, terus ... gimana first impression lo waktu lihat Aristo? Gimana sih waktu itu kejadiannya sampe Aristo jadi ngajakin lo kencan lagi?"
Farah tampaknya sangat excited. Hal-hal seperti ini adalah favoritnya.
Yoanna tampak malu-malu. Ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga—sedikit gugup. "Well, sebenarnya kami nggak banyak interaksi waktu itu. Aristo lebih banyak ngelirik handphone-nya. Gue pikir ... dia ini mungkin tipe yang cuek, kalem,"—ansos.
"Salah besar!" Farah langsung menyilangkan kedua lenganya. "Dia ini sableng. Kadang rese. Suka ngelawan guru kalo di kelas. Otak p***o!"
"Enak aja, pacar lo yang gitu kali. Anu-nya nggak pernah tidur."
Farah langsung menghardik Aristo.
"Astaga, To. Jaga mulut lo." Rayan mengelus d**a sok suci. "Kita ini lagi ngumpul bareng cewek."
Aristo menatap balik Rayan penuh cela.
Cih, dasar setan.
Farah tersenyum masam. "Oke, gue akuin Rayan memang mesum."
"Hah? Say, kok gitu—"
"Tapi lo juga sama aja." Farah menuding Aristo tajam. "Lo kira gue nggak pernah mergokin lo ngelihatin cewek-cewek waktu lagi praktek kebugaran jasmani?! Waktu lagi lomba lari pake startjongkok?! Waktu jogging keliling lapangan buat pemanasan?! Lo kira gue nggak tahu lo ngelihatnya ke arah mana."
"Far, gue sebagai cowok normal—argh ... terserahlah."
Lebih baik Aristo mengalah. Tidak ada gunanya mendebat Farah. Energinya bisa habis banyak.
Farah sendiri masih komat-kamit. "Kenapa ya cowok-cowok suka banget melecehkan. Kesha, Kurnia gitu juga nggak?"
Kali ini Aristo mendengarkan.
"Err ... nggak terlalu tahu sih." Kesha menggaruk pelipisnya. Melirik pada Kurnia yang masih tampak tidak tertarik.
Dan begitulah, meja itu tetap dipenuhi obrolan sampai pelayan datang membawa pesanan mereka. Suara Farah mendominasi—cuma itu hal positif yang bisa dilihat Aristo dari Farah; gadis itu mampu menempatkan diri dan membuat orang lain lebih rileks. Sesekali guyonan receh juga dilemparkan Rayan. Kalau masalah obrolan, manusia yang sepasang itu memang klop. Membuat Aristo kadang heran mengapa mata Rayan masih jelalatan ke gadis lain.
Aristo juga mengobrol dengan Yoanna sedikit. Lebih terasa seperti basa-basi. Seterusnya Yoanna lebih banyak berkomunikasi dengan Farah.
Aristo sedang merasa malas berbicara. Lebih ingin mendengarkan saja. Mungkin karena pembicaraan di meja tidak cocok dengannya—beda dengan Rayan yang omnivor, gosip emak-emak tetangga pun masuk saja jadi bahan pembicaraan.
Atau mungkin juga karena ada certain someoneyang sejak tadi hanya membisu sambil mengaduk-aduk gelato-nya. Belum menyuap es krim kental itu sama sekali—barangkali gengsi dengan yang ngebayarin.
Aristo bertemu tatap dengan Kurnia, langsung memberi isyarat; udah cepetan makan aja. Tapi Kurnia tidak menggubris.
Oke, Aristo tidak suka ini. Lebih menyenangkan melihat Kurnia mencak-mencak dengan segala kalimat sarkasmenya daripada mendapati bocah itu tidak mengacuhkannya.
Aristo berdehem, "Lo marah, Kur?" tanyanya pelan.
Tapi volumenya cukup untuk didengar oleh satu meja. Seisi meja langsung menatap mereka.
Kurnia tak henti-henti mengumpati Aristo dalam hati. Sekarang ia jadi pusat perhatian. Ia hanya diam sambil melempar tatapan mematikan. Otaknya mulai mengeplot rencana pembunuhan.
Rayan menghela napas melihatnya. Sudah menduga. "Wajar sih Kurnia marah, si Aristo anjing seenak jidatnya aja tiba-tiba ngebuat kencan mereka jadi triple date.Gue aja baru tahu waktu udah sampe di sini."
Farah mendelik pada Aristo. "Siapa juga yang nggak bakal ngamuk. Kurang ajar lu emang," ucapnya leluasa karena memang mengenal tabiat Aristo. Mereka juga teman sekelas.
Yoanna hanya bisa tertawa canggung.
Aristo menggaruk tengkuknya. "Maaf deh, maaf," ujarnya meski sebenarnya tidak merasa bersalah sama sekali.
———————————————————————
"Maksud lo apa?" Kurnia menatap Aristo dingin ketika yang bersangkutan keluar dari toilet. Ia memang sengaja berdiri di sekitar pintu untuk menunggu pemuda itu keluar.
Aristo diam sejenak, menatap Kurnia dengan seksama. Sebelum kemudian menjawab, "Well, gue kira bakal seru aja sih...." suaranya memelan di ujung.
"Soalnya akhir-akhir ini lo jarang banget bisa nongkrong bareng gue,"—kalimat itu tertahan di ujung tenggorokan si pemuda SMA.
"Nggak lucu, njing. Kalo lo mau becanda, ini kelewatan," tandas Kurnia tajam. "Dasar perusak suasana. Lo pikir seru banget hah, ngerusak momen orang lain? Coba lo pikirin kalo lo lagi berduaan sama cewek lo tadi terus gue datang bawa komplotan dan duduk di tengah-tengah kalian! Nyebelin 'kan?"
Memang.
Aristo juga tidak mengerti kenapa ia ingin sekali membuntuti Kurnia hari ini.
"Lo selalu aja ganggu acara gue sama Kesha. Minggu lalu di food fair. Sekarang di sini. Sinting lu emang." Kurnia mengancungkan jari tengah dengan penuh niat.
"Lo nggak senang gue ada di sana waktu food fair?"
Aristo heran kenapa dia malah bertanya seperti itu.
Kurnia mengernyit heran sebentar. "Ya nggak lah," tandasnya. Ia tiba-tiba gemas sendiri dengan tampang apatis Aristo—jarang-jarang ia melihat pemuda itu berekspresi begitu. Kurnia menahan diri untuk tidak menarik leher baju pemuda itu sambil berteriak mencaci.
"Kalo gue nggak punya otak, mungkin sekarang gue udah jedutin kepala lo ke situ," Kurnia menunjuk cermin wastafel. "Lo memang orang gila. Itu udah kelihatan sejak lo kejar-kejar kakak gue kayak polisi ngejar buronan. Argh ... nggak ngerti gue kenapa bisa tahan ngeladenin lo terus." Kurnia mengacak rambutnya frustrasi. "Sekali lagi lo ulang yang beginian, awas lo!"
Dengan ancaman itu, Kurnia berlalu sambil misuh-misuh.
Aristo menatap punggung itu. Bocah itu kembali ke meja dan Kesha mengatakan sesuatu padanya. Kurnia mengedik lalu Kesha tertawa. Kurnia akhirnya—untuk pertama kali pada hari itu—tersenyum.
Bangke. Giliran sama ceweknya aja dia cekikikan gaje.
Aristo mengerang pelan. Kenapa ya? Ia menatap Kurnia. Lalu menatap Kesha.
Dia menginginkan sesuatu.
Namun ini hal yang tidak biasa.
Tidak biasa rasanya bagi Aristo ingin merebut pacar orang. Dia hampir selalu mendapatkan cewek mana pun yang diinginkannya dengan usahanya sendiri—well, kecuali Diandra.
.
Tapi kali ini, mungkin saja dia memang ingin Kesha—untuk...
.
.
...dirinya?