[Sel, 13 Sep 2016]
Aristo: Hei Yoan 18.04
Aristo: Sorry, gw rasa setelah kencan, gw gk terlalu cocok dgn lo 18.04
Aristo: Jd gw rasa gk perlu dilanjut lg 18.04
Aristo: Maafin gw ya 18.05
Yoanna: Gpp 18.42
Yoanna: Aku jg ga ngerasa kalo kita cocok 18.42
.
"Elah, sok fine. Gue yakin semalam si Yoanna bingung antara pengen meratap pilu atau nampar elo sampe telak." Rayan mendengus kecil. "Lo kurang ajar, sih. Suka banget ngelakuin sesuatu seenak jidat lo."
"Udahlah, Ray." Aristo memutar-mutar pena, tampak tidak tertarik mereka-reka respon gadis yang bersangkutan.
"Lo juga sok minta maaf. Padahal ekspresi menyesal sedikit pun nggak ada."
Rayan mengembalikan ponsel itu.
Aristo hanya mengedik sambil membuka aplikasi game-nya.
Rayan mengernyit. Jarang-jarang b*****h laknat itu bersikap dingin. Oke, mungkin dia tampak sedikit lebih keren jika bersikap apatis seperti itu—tapi Rayan sama sekali tidak menyukainya.
"Lo kenapa sih, To? Nggak seru amat." Rayan menyelutuk sebal. Tiba-tiba langsung menyenggol bahu Aristo ketika guru mereka kembali memasuki kelas.
Aristo mengumpat. Menekan home button lalu langsung melesakkan ponselnya di antara tumpukan buku di laci.
"Lo sih, main game nggak lihat sikon."
Aristo mendengus, memerhatikan evaluasi soal di buku cetak dengan tidak berminat. Ia melihat kanan-kiri. Beberapa siswi tampak sibuk mengerjakan tugas yang baru saja diberikan itu. Mungkin Aristo akan minta sontekan saja nanti dari mereka.
"Lo kayaknya kacau, To," seloroh Rayan sambil sibuk melirik jarum detik arloji. Menunggu-nunggu kapan bel berbunyi.
"Hhmm...." Dengan setengah mengantuk Aristo meletakkan kepalanya ke meja. Matematika di jam terakhir rasanya begitu menyiksa.
"Ray, gue rasa gue suka sama Kesha."
"Keshandra Ayudhiya?" Rayan menaikkan alis, melirik pada buntalan yang duduk di sudut kelas. "Gue baru tahu selera lo berubah."
"Bukan, bego." Aristo menendang kaki Rayan di bawah meja. "Kesha Andyani."
"Andya—njir, pacar Kurnia?"Rayan melotot. "Lo suka banget cari masalah, ya."
Aristo memutar bola mata. "Seolah lo orang paling lurus di dunia aja."
Rayan menyeringai. "Yaa ... gue sih dukung-dukung aja. Tapi resiko ya lo yang tanggung semua."
"Hem. Jadi lo bantu gue?"
"Roger."
——————————————————————
"To, gue mau pulang."
"Lo bilang lo mau bantu gue."
"Iya, tapi nggak langsung hari ini juga, jancuk."
"Lagi ada kesempatan, kenapa enggak?"
Aristo membetulkan posisi ranselnya. Ia mengusap peluh di atas alisnya. Mengibas-ngibaskan leher bajunya, kepanasan. Matanya sesekali menyusuri lapangan sekolah.
Beberapa rekannya di paskibra SMA masih tersisa di lapangan. Sedang dijemur habis-habisan—hukuman plus-plus karena ketahuan membolos latihan. Diawasi langsung oleh senior yang sejak tadi teriak-teriak seperti orang kesetanan.
Salah satu dari mereka membuat wajah mencemooh saat bertemu pandang dengan Aristo—menyapa secara menyebalkan. Aristo balas menjulurkan jari tengah sembunyi-sembunyi.
"Woy! Gue capek, edan," erang Rayan ketika melihat sohibnya itu sibuk sendiri. Ia lalu menendang betis Aristo yang dibalut seragam olahraga.
Tapi Aristo tidak acuh. Tetap berjalan hingga memasuki koridor wilayah SMP. Ia menghentikan langkahnya ketika tiba di depan pintu sebuah kelas yang dilabeli Ruang Kesenian 01. Pemuda itu melirik jendela, dan mendapati kelas itu kosong.
Aristo langsung menoleh pada Rayan, mengernyit. "Lo yakin dia ikut eskul angklung? Tahu dari mana?"
Rayan mengangguk acuh tak acuh. "Farah bilangnya gitu. Mereka lumayan banyak ngobrol di Glace' Glass waktu itu."
"Farah nggak tahu jam eskulnya?"
"Lo kira pacar gue punya bakat jadi stalker sinting kayak lo?" Rayan mendengus malas. "Yang benar aja, To. Buat apa juga Farah nanyain sampai sedetil itu. Dia nggak ada urusan ke situ."
Aristo sedikit melengos. Ia melirik arloji. 15:56 WIB. Dulu Aristo punya pacar yang mengikuti eskul angklung sewaktu SMP. Dan seingatnya, ekstrakurikuler angklung SMP dimulai pukul 14:50 sampai 15:50.
Jadwal satu kali seminggu. Boleh dipilih antara hari Senin sampai Kamis—eh, atau hari Senin sampai Jumat ya? Bodo lah, nggak ingat gue. Gue pacaran sama dia juga cuma dua minggu.
"Pulang aja deh, To. Mungkin jadwal dia bukan hari Rabu."
"Tapi tadi waktu baris, gue lihat dia lewat. Itu sekitar jam tiga-an. Jam belajar reguler SMP bubar pukul dua lewat lima belas."
Rayan mendelik pada Aristo. Giliran begini saja otak temannya itu penuh perhitungan. "Mungkin dia cekikikan sama temannya lima menit, lanjut mesra-mesraan sama Kurnia dua puluh lima menit di kantin, terus sesi curhat lima belas menit sama sahabatnya tentang oh-betapa-romatisnya-pacarku-tadi. Siapa yang tahu?"
Mesra-mesraan sama Kurnia? Aristo mengerang pelan memikirkannya. Berusaha mengabaikan Rayan yang mulai ngelantur.
Ia hampir menyerah dan langsung pulang—kalau saja tidak tiba-tiba melihat sosok gadis yang dicari-carinya keluar dari Ruang Kesenian 02.
Kesha tampak bercengkrama dengan temannya, kemudian temannya berjalan ke arah yang berlawanan. Kesha melambaikan tangan singkat, berjalan menuju tempat Aristo dan Rayan berdiri.
Dahinya mengerut samar melihat kedua orang itu, tapi akhirnya memutuskan untuk menyapa, "Hai; Kak Aristo, Kak Ray. Lagi pada ngapain di sini?"
"O-oh, hai." Aristo mengusap tengkuknya. "Nggak lagi ngapa-ngapain sih. Cuma pengen lewat sini. Di ujung sana itu kelas gue yang lama. Pengen lihat lagi aja sih. Agak rindu."
Sementara Rayan hanya diam. Dalam hati mencibir betapa encernya otak Aristo untuk membual di situasi genting.
"Lo sendiri kok belum pulang?"
"Tadi gue ada eskul angklung, Kak. Udah bubaran sejak delapan menit yang lalu sih, tapi gue ngobrol sebentar sama teman,"jawab Kesha dengan nada ramah. "Kalo gitu, gue pulang dulu—"
"Kurnia mana?"
"Huh? Oh, dia udah pulang lah, Kak. Dia 'kan nggak punya kegiatan hari ini."
"Jadi lo pulang sendiri?"
Kesha mengangguk.
"Naik apa?"
"Bus kota."
"Pulang bareng, yuk. Kebetulan gue nggak bawa motor hari ini. Mungkin kita beda jurusan, tapi paling nggak bisa jalan bareng ke haltenya."
Ragu-ragu, Kesha mengangguk.
"Memangnya rumah Kakak di daerah mana?" gumam Kesha, tapi dengan intonasi kecil.
Aristo pura-pura tidak mendengar itu. Ia hanya tersenyum cerah. Diam-diam menyelipkan kunci motornya ke tangan Rayan yang hanya bisa mengumpat dalam batinnya.
Setansetansetansetansetan—
——————————————————————
"Kurnia nggak ikut eskul apapun?"
"Ikut, Kak. Atletik putra. Tahun ini siswa diwajibin buat ikut minimal satu ekstrakurikuler. Dia ambil jadwal yang hari Jumat." Kesha selesai membuka bungkusan wafer cokelat kemudian menggigitnya. "Itu pun dia sering bolos," omelnya singkat.
Aristo menggumam pelan, berusaha membagi konsentrasi antara obrolannya bersama Kesha dengan jemarinya yang mengetik di atas ponsel.
Aristo: Kasih aja kuncinya sama anak paskib yg dihukum, nnti klo mereka udh pulang
Aristo: Lo tau Tian gk, Ray? Yg orgnya tinggi, kulit item, yg gw jaritengahin td
Aristo: Usahakan sama dia aj, panduin dia bawa tuh motor ke rmh gw
Aristo: Trus kuncinya titipin sama orang rumah
.
"Kurnia nggak nungguin lo kalo eskul? Biar bisa pulang bareng gitu? Setahu gue dia juga naik bus."
"Dia males sih, Kak. Nanti mati kebosanan katanya. Ga mungkin gua paksa juga. Gue kan bisa pulang sendiri."
"Hhmm ... lo pengertian banget."
Ketika mendapat jawaban berupa gumaman lagi, Kesha hanya bisa melirik Aristo yang masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
.
Otakdi burung: Seenak moyang lo aja
Aristo: Lo bilang mau bantu
Aristo: Pokoknya motor gw hrs aman
Aristo: Klo gk gw lapor kebusukan lo ke Farah
Otak di burung: Jgn gtu, To njir
Otak di burung: Nnti aj deh soal motor lu, gw lg ngikutin klian nih di blkng
Aristo: Ha? Dmn lo?
Otak di burung: Semak2
Aristo: Srius, Ray
Otak di burung: Udh elah, lo selo aj. Gw gk bertingkah mencurigakan kok. G ush puter pala lo ke blkg
.
"Ngomong-ngomong, kulit lo putih terus ya, Kak. Padahal sering baris panas-panasan gitu."
Aristo teralihkan dari layar ponselnya. "Huh?" gumamnya agak bingung.
"Kakak ikut paskibra 'kan?"
"Iya. Tahu dari mana?"
"Siapa yang nggak tahu seluk beluk Kakak di sekolah." Daripada pertanyaan, ucapan Kesha itu memang lebih ke pernyataan.
"Wow, gue se-terkenal itu ternyata," ucap Aristo bangga dengan nada main-main. Ia kemudian terkekeh. "Tapi cara lo bilang kulit gue putih itu kayak minta rekomendasi body lotionyang gue pake aja. Dan sekadar informasi, gue nggak pake apa-apa, kok."
"Nggak percaya." Kesha pura-pura menggerutu. "Tapi berat gue akui sih, Kakak emang terkenal. Nih ya, ada teman gue yang naksir—ehm, nge-fans sama Kakak. Kakak boleh bangga nih. Soalnya dia tahu kapan ulang tahun lo, Kak. Tahu kalo lo sebenarnya lebih jago main bulutangkis daripada baris-berbaris. Tahu deretan mantan lo. Tahu beberapa kasus lo di konseling. Tahu kalo lo pernah ditolak cewek mentah-mentah waktu acara perpisahan semester lalu—"
Aristo tersedak angin. Untung ponselnya tidak jatuh. Cepat-cepat ia mengantongi benda itu.
"—itu beneran ya, Kak?"
Aristo menelan ludah. "I-iya sih."
"Waktu gue cerita ke Kurnia, dia dengan bangganya bilang kalo yang nolak lo waktu itu adalah kakaknya. Kak Diandra. Serius tuh?"
Aristo hanya bisa tersenyum masam.
Dasar karet kolor, gerutunya ketika mengingat wajah Kurnia.
Kesha tertawa mendapati ekspresi Aristo. Ia mengalihkan pembicaraan ke topik lain. "Tapi sampe sekarang dia belum tahu alamat rumah lo. Jadi, rumah lo di mana, Kak?"
Aristo setengah bergidik. "Nggak, ah. Lo mau jual data pribadi gua ya? Dibayar berapa lu?"
"Bukan gitu," bantah Kesha dengan ekspresi yang tidak selaras. "Kasih tahu dong, Kak. Pelit banget. Dia nggak bakal ngapelin Kakak tiap hari, kok. Paling sekali seminggu hehe. Ini solidaritas gue buat teman terdekat gue."
Kesha mulai mengguncang-guncang ransel Aristo.
"Memangnya gue peduli," sahut pemuda itu santai. "Lagian gue curiga sih kalo sebenarnya lo yang mau alamat gue."
"Dih, buat apa."
"Buat sesuatu yang tidak diinginkan."
Kesha mendelik, tetap mendesak ringan pemuda itu. "Kasih tahu ... kasih tahu...."
"Nggak mau~"
Mereka sudah sampai. Aristo naik ke halte diikuti Kesha yang masih konsisten minta jawaban. Tapi akhirnya gadis itu berhenti dan menghampiri tempat sampah di dekat mereka untuk membuang bungkus wafernya.
"Ngomong-ngomong lagi, Kak Yoanna pacar lo, Kak? Teman gue sempat ngerajuk waktu gue ceritain ini. Padahal kata dia, Kakak udah sempat ngejomblo sekitar sebulan lebih gitu. Dia pikir dia ada peluang."
"Yoanna bukan pacar gue."
"Wah, kalo gitu pacaran dengan teman gue ini aja, Kak. Dia lumayan, kok."
Aristo menatap Kesha heran. "Sumpah, lo dibayar berapa sih buat promosiin dia?"
Kesha menghela napas. "Well, seharusnya gue nggak boleh bilang ini semua ke lo sih, Kak. Tapi gue capek liat cinta dia yang nggak kesampean itu. Asal kita ngumpul kerjaannya juga nyeritain lo terus, Kak. Bosan gua."
.
.
"Daripada sama dia, mending gue pacaran sama lo."
.
.
"H-huh?"
Kesha terdiam. Tampak berusaha mengoneksikan omongan Aristo ke dalam otaknya.
Aristo melihat hal itu dan kemudian menambahkan, "Gue serius."
.
"Kakak tahu 'kan kalo aku lagi pacaran sama—"
"Gue suka sama lo,"potong Aristo. Menatap lurus-lurus.
Kesha agak bergidik. Alih-alih salah tingkah, tatapan Aristo lebih membuatnya merasa terintimidasi.
"Uh... err—"
Kesha mundur perlahan. Kemudian berbalik dan berlari kecil menuju koridor. Menempelkan kartunya ke palang halte untuk tiket elektronik. Masuk melewati palang lalu mencari rute hingga Aristo tidak melihat punggung gadis itu lagi.
"s**l,"decih Aristo.
.
.
"Ya iya lah, dodol."
.
Aristo berjengit, sontak menoleh. "Sejak kapan lo di sini, Ray?"
"Sejak si Kesha kabur," jawab Rayan. "Kan udah gue bilang kalo gue ngekorin lo di belakang."
"Di belakang? Persis di belakang?!"
"Nggak, sih. Selisih lima langkah lah. Saking serunya kalian ngobrol jadi nggak sadar sama keberadaan gue, huh."
Aristo hanya mengusap wajahnya. "Yuk balik."
"Hah?"
"Kemariin kunci motor gue."
Rayan tanpa banyak omong langsung merogoh kunci itu dari sakunya dan meletakkannya ke tangan Aristo. Ia melirik Aristo datar. "Lo kok nge-gas amat sih, To? Dia jadi ketakutan, b**o. Padahal pendekatan lo tadi udah lumayan halus. Sekarang jadi hancur. Lo memang perlu kursus sama gue."
Aristo mengangkat bahu. "Nggak tahu. Gue cuma pengen ini cepat selesai."
Alis Rayan terangkat. Heran. "Lo kayak terbebani aja."
Aristo tidak menggubris selebihnya. Hanya berjalan dengan Rayan kembali ke sekolah lagi. Ia menuju parkiran dan langsung menaiki sepeda motornya. Mengecek ponselnya sebentar, kemudian tidak sengaja melihat widget reminder kecil di sudut layar.
"Hari ini Diandra ulang tahun," celetuknya tiba-tiba.
Pergerakan tangan Rayan yang mengaitkan tali helm langsung terhenti. Ia menyeringai nista menatap Aristo. "Jadi?"
"Gue mau ngasih hadiah, deh."
"Baru aja lo nembak pacar si X dan lo sekarang udah mau ngegodain kakaknya X. Kasihan si X ini."
"Berisik lo."
Aristo menendang sepeda motor Rayan sampai pemuda itu—yang sedang duduk di atasnya—nyaris jatuh.
"Syaiton," umpat Rayan.
"Gue naik bus apa naik motor aja ya?" Aristo mendecak. Kenapa juga reminder itu baru terlihat oleh matanya sekarang. Padahal ia baru saja dari halte.
"Motor aja. Kenapa memangnya?"
"Jauh sih. Pegel punggung gua." Aristo berpikir sejenak. "Tapi gue perlu nyamperin toko lagi buat beli hadiahnya," gumamnya kecil.
Rayan hanya menatap tak mengerti. "Ha?"
Aristo mengancing jaketnya lalu memasang helm.
"Gue duluan."
Sepeda motor itu langsung melesat, meninggalkan Rayan yang cuma bisa ngisep asap knalpotnya di parkiran.
—————————————————————
Kening Aristo keriting.
Beli apa?
Matanya menatap etalase yang berderet di dalam mal.
Boneka? Kosmetik? Tas? Sepatu? Parfum? Baju? Aksesori handphone? Perhiasan? Bunga? Kue?
Apa salam tempel aja, ya?
Aristo mengusap rambutnya sedikit kasar.
Cokelat? pikir Aristo ketika melihat supermarket. Hm, tapi kalo cokelat mending gue ke toko yang khusus ngejual lolipop, cokelat, sama pernak-pernik nggak guna yang ada di lantai tiga itu.
Aristo bingung sendiri. Mencoba mengingat-ingat karakter Diandra yang mungkin bisa membantunya meraba preferensi gadis itu.
Gadis pintar, bermulut tajam, aura abu-abu, nggak banyak bacot—
Jaket jeans? Blazer? Dasi?
Aristo tertawa sendiri dalam hati, menyanggah idenya. Mungkin sesuatu yang lebih mengarah pada 'konsumsi otak' akan lebih bagus. Seperti—ya, buku.
Novel thriller?
Atau fiksi ilmiah?
Budidaya ikan lele?
Atau—kacang polong?
.
Ngaco.
.
Aristo menggeleng pelan. Langkahnya berhenti di depan toko buku. Memutuskan untuk masuk dan menyusuri sinopsis novel-novel di sana. Mencari cerita yang agaknya bertema cerdas.
——————————————————————
Kurnia sejak tadi menggonta-ganti siaran televisi. Mulutnya mengunyah kacang polong, lambat dan bosan. Di sisi sofa di sampingnya, Diandra sedang sibuk chatting. Barangkali hina-hinaan dengan pacarnya di LINE. Dasar pasangan maso.
Haah, gabut juga nggak ada si b******n itu, pikir Kurnia. Dia mendadak ingin main PS4 sambil minum soda. Mendadak kepikiran dengan beberapa flashdisk di meja belajar Aristo dan penasaran ingin mengecek isinya.
Tapi Kurnia masih dongkol dengan pemuda yang jalan pikirannya tidak jelas itu. Semakin lama tingkahnya semakin tidak wajar saja. Kurnia jadi malas melihat wajah si sinting itu.
Selagi sibuk memaki-maki Aristo dalam hati, bel rumah tiba-tiba berdenting, membuat Kurnia sedikit terlonjak di tempat duduknya.
"Bukain, Din."
"Lo 'kan lagi nggak ada kerjaan," protes Diandra. Ia sedang sibuk berargumen dengan Ardi. Jika terlambat membalas, ia bisa dianggap kalah.
"Gue lagi makan kacang."
Diandra menahan diri agar tidak melempar kepala Kurnia dengan ponselnya.
.
Ting-tong.
.
Diandra menyerah, langsung beranjak. Meletakkan ponselnya di meja kecil di samping sofa.
.
.
Aristo cukup terkejut ketika yang membukakan pintu adalah Diandra.
.
"Lo—ugh, lagi. Gue kira lo udah ... tobat." Diandra tampak sedikit waswas. "Ada perlu apa lo ke sini? Jangan bilang kalo lo masih—"
"Selamat ulang tahun?"
Aristo menyodorkan benda kotak yang dibalut kertas kado berwarna dasar merah muda lembut dengan motif polkadot putih.
Diandra menaikkan alis memandang benda itu. Sebelum kemudian sedikit meringis. "Sebenarnya lo nggak perlu ngasih hadiah segala. Ucapin selamat lewat chat juga udah cukup," ujarnya tidak enak. Ia mengambil hadiah itu. "Tapi makasih banyak deh, Filo."
"Aristo,"koreksi pemuda itu.
Diandra mengangkat bahu tak acuh.
Aristo hanya tersenyum samar. Gadis ini selalu tidak mau akrab dengannya.
"Kurnia ada?"
"Ada. Kenapa? Tumben nyariin adek gue."
Bukannya Diandra ge-er, tapi biasanya Aristo dan Kurnia itu selalu perang kecil-kecilan kalau bertemu. Yah, meskipun belakangan ini mereka terlihat sedikit lebih akur.
"Gue mau ... minta kaos gue."
"Kaos?"
"Dia pinjam kaos gue minggu lalu."
Oke, Diandra tidak tahu kalau Aristo dan Kurnia sudah cukup dekat sampai ke tahap pinjam-meminjam kaos. Tapi gadis itu menangguk saja, langsung menolehkan kepalanya ke dalam rumah. "Kurnia, Filo minta kaosnya dikembaliin."
Tanpa menyahut, Kurnia beranjak dari sofa dan berjalan ke kamarnya. Semenit kemudian anak itu keluar dengan lipatan kaos katun abu-abu yang digulung. Ia berjalan ke arah pintu, berhenti di samping Diandra.
"Ini." Kaos disodorkan. "Udah dicuci. Udah disetrika juga."
Aristo menerimanya. Memandang punggung Kurnia yang langsung berlalu—masuk ke dalam rumah.
Omongan singkat, makian absen—Aristo tentu sadar kalau Kurnia masih marah kerena perkara kemarin lusa. Dia tidak suka diacuhkan begini, tapi apa boleh buat. Itu memang salahnya. Kapan-kapan dia akan coba untuk membuat Kurnia memaafkannya. Tapi untuk sekarang, ia hanya bisa pamitan pada Diandra.
Sementara itu Kurnia menatap layar televisi dengan ekspresi tertekuk. Pikirannya melayang.
Ngambek begini rasanya menjijikkan.
Mungkin ia harus memaafkan Aristo. Pemuda itu sebenarnya tidak buruk-buruk amat, terlepas dari prilakunya yang kadang melenceng.
Kurnia mencoba mengingat hal-hal baik yang pernah dilakukan Aristo.
Yaah....
Pemuda itu mentraktirnya di game center—oke, ini karena memang Aristo sendiri yang menawarkan. Pemuda itu mengizinkannya main PS4—yeah, setelah Kurnia dibabuin, tentu saja. Pemuda itu mentraktirnya gelato—sepertinya yang ini tidak perlu diingat.
Pemuda itu membantunya mencari gaun untuk pertandingan futsal kemerdekaan—
.
Mungkin Kurnia akan mengajak Aristo bermain game ketika dia bertemu lagi dengan pemuda itu.