Belakangan ini gerak-gerik Aristo jelas menunjukkan pendekatan diri pada Kesha.
Gadis itu pusing sendiri. Beberapa teman dekatnya yang melihat kelakuan Aristo itu mulai berkonklusi sendiri dan menggodanya; Aristo aja, Kesh. Lebih macho. Kurnia keren juga sih, tapi belum di puncak kematangan. Maskulinitasnya belum terasa kental.
Sementara salah seorang temannya yang cinta mati pada Aristo mulai meliriknya cemburu, sembunyi-sembunyi. Benar-benar situasi yang tidak mengenakkan.
.
"Aristo bajingan."
.
Kesha hanya bisa tersenyum dengan alis yang tertaut menyedihkan—nyaris seperti ekspresi yang sering ada di meme. Setelah lima hari penuh dimodusin, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menceritakan masalah ini pada pacarnya.
Kurnia masih menggeser layar obrolan di ponsel Kesha dengan tatapan pengen-bunuh-orang. "Kenapa lo baru cerita sekarang, sih?"
"Well... gue takut kalian berdua bakal bentrok."
"Mau kapan aja lo ceritain ini, kami pasti bentrok. Makanya, lebih cepat lebih baik."
"Kalo gitu harusnya gue nggak usah cerita, ya."
Kurnia mendengus. Pacarnya plegmatis sekali—salah satu alasan yang membuat ia tertarik. Tapi itu menjengkelkan di situasi seperti ini. Kurnia sebenarnya juga bukan orang yang panasan, akan tetapi Aristo adalah pengecualian. Kata 'damai' tidak pantas untuk makhluk gila yang satu itu.
"Jadi, udah berapa lama dia ngelakuin ini?"
"Baru lima hari, sih."
"Baru?"ulang Kurnia jengkel. Semakin dongkol ketika melihat gelembung chat berisi; Aristo: Knp g di bales lg? Udh tidur? Aristo: G'nite then, sweet dream
.
.
Sweet dream KEPALA LO SETAN
.
Kurnia menyumpah; amit-amit setengah mati.
"Ini nggak bisa dibiarin, Kesh. Gue nggak mau kalo nanti dia sampe metik gitar bawain serenadebuat lo di bawah jendela."
"Ya, iya. Tapi selesaiin masalahnya jangan anarkis."
Tapi hasrat gue buat ngerajam dia udah nggak tertolong, astaga.
——————————————————————
Aristo sedang duduk di pembatas parkir minimarket—di depan sepeda motornya. Setengah uring-uringan sambil meminum kopi kalengan. Sementara Rayan duduk di meja teras minimarket—khidmat memanfaatkan free wi-fi.
"Kemariin handphone gue."
Aristo beranjak membawa kaleng kopinya. Berjalan menuju tempat Rayan duduk.
"Sebentar, elah," sahut temannya itu.
Ponsel Rayan memang sedang rusak. Layarnya pecah karena terjatuh di tanah berkerikil. Meski prosesornya masih bekerja, tapi tetap saja monitornya tidak bisa memproyeksikan. Jadi, ponsel Rayan gelap—kesannya seolah mati total. Mereka berdua baru saja mengunjungi tempat reparasi ponsel. Dan Rayan memutuskan untuk membeli ponsel yang baru saja nanti.
Aristo menarik kursi. "Lo lihat apaan, sih. Mie lo udah mateng tuh. Udah lewat tiga menit."
Rayan terkekeh sendiri. "Lo receh banget."
Dahi Aristo mengerut. "Huh?"
"Pendekatannya."
"Sialan."Aristo langsung merampas ponselnya. Benar saja, layar menampilkan riwayat obrolannya dengan Kesha.
"Kacang amat, tau nggak," komentar Rayan remeh. "Lo kehabisan ide, ya? Mau gue bantu?"
"Bodo amat, nggak usah."
"Jadi, dia masih ngehindarin lo?"
"Nggak, sih. Tapi dia kayaknya selalu enggan kalau gue dekatin."
"Ya, iyalah. Tampang lo kayak pedo kurang asupan."
Aristo tidak menggubris. Matanya memaku pada layar ponselnya. "Apa gue tembak lagi aja ya?"
Rayan nyaris menyemburkan mie di mulutnya. Dengan sabar ia berusaha mengunyah dan menelan sebelum kemudian berujar, "Baru empat hari yang lalu dia kabur dari lo di halte. Sekarang lo mau gas pol lagi. Langsung nembak-nembak aja—ditembak pacarnya lo baru tahu."
Aristo menyeringai.
"Pake laras panjang."
Si cassanova level tak seberapa itu hanya mengangkat bahu. Jemarinya sudah menari di atas papan ketik.
Rayan menahan niat untuk menyiram temannya itu dengan kuah mie di dalam styrofoam-nya.
Aristo: Kesha, gmn? 15.33
Tidak terduga, balasannya cepat datang.
Kesha Andyani: Apanya? 15.34
Aristo: Pertanyaan gw yg hari Rabu, gmn jwban lo? 15.34
.
"To, lo seriusan nembak ulang?"
"Nggak. Cuma nagih jawaban dari pertanyaan gue di halte kemarin."
"Sama aja, k*****t. Lo gampang amat nembak orang seolah itu bukan apa-apa."
"Berisik. Lo juga sama."
Aristo mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja. Karena sudah tiga menit berlalu dan gadis itu belum membalas juga, akhirnya ia memutuskan untuk memperjelas. Meski ia yakin kalau gadis itu tidak lupa sama sekali.
Aristo: Kesh, gw ulang lg 15.38
Aristo: Lo mau jd pacar gw? 15.39
.
Kesha Andyani: Gk 15.39
.
Aristo: Ok 15.40
Aristo: Gw tau ini mendadak 15.40
Aristo: Gw bakal kasih waktu 1 minggu lg, lo bs mikir2 ulang 15.41
.
Kesha Andyani: Gk bs 15.41
.
Aristo: Knp engga? 15.42
.
Kesha Andyani: Krn ini cowo ny 15.43
.
.
"Mati gue."
——————————————————————
"Bangke. Kurang ajar."
Kurnia seketika merasa ingin menendang meja kantin sampai terbalik.
"Udah ah, Kur," ujar Kesha meski ia tak kuasa untuk menahan tawa sejak ponselnya mendadak bergetar di tangan Kurnia tadi.
"Ini nggak bisa dibiarin," sanggah Kurnia. Jari-jarinya kembali bergerak k**i di papan ketik.
Kesha Andyani: Lo mmg tukang tikung 15.45
Kesha Andyani: Dsr pecudang 15.45
Kesha Andyani: t*i lo 15.45
.
Kesha Andyani: Knp diam?! Balas, oi! Mana lo? 15.46
.
"Stop, Kurnia," pinta Kesha ketika melihat kata-kata kotor mulai bermunculan. "Kan udah gue bilang selesaiin-nya secara baik-baik aja." Tangannya mencegat lengan Kurnia, sementara tangan yang satunya mencoba mengambil kembali ponselnya.
Akan tetapi, Kurnia mengeratkan genggamannya pada ponsel berwarna putih itu.
"Nggak bisa, Kesh. Sedangkan pake cara kasar aja dia nggak mau ngerti, apalagi pake cara baik-baik! Gue udah tau tabiat dia. Gila. Asal lo tau, dia pernah nyium kakak gue. Di bibir. Gue takut lo diapa-apain sama dia."
"A—apa?"
Kesha membatu. Merasa familiar tentang hubungan antara 'Aristo', 'Diandra', dan 'ciuman'.
—oh iya, dan 'perpustakaan'.
"Jadi rumor itu—"
"Yeah," potong Kurnia. Anak itu mengacak rambutnya pelan, merasa menyesal telah kelepasan. "Tapi tolong jangan bilang ke siapa pun. Itu masalah lama. Kakak gue bakal ngamuk kalau tau itu diungkit lagi."—apalagi kalau dia tahu gue biangnya.
Kesha masih memasang ekspresi tidak percaya. "Kok bisa?"
"Yaah ... yang gue dengar dari Diandra, waktu itu mereka disuruh bersih-bersih berdua di perpus."
"Gurunya ninggalin mereka berdua?" pekik Kesha. "Kan bahaya."
"Nggak." Kurnia menahan kekehannya. "Gurunya di situ. Duduk di mejanya. Tapi tidur." Kurnia melanjutkan, "Dan tiba-tiba Aristo buat pengakuan. Dan Diandra nggak percaya. Terus yah—dicipok kakak gue. Tapi kayaknya mereka nggak pake lidah—"
Kesha langsung menoyor kepala Kurnia. Suhu wajah gadis itu terasa naik perlahan.
Kurnia meringis. "Nah, dia sinting 'kan. Makanya lo jauh-jauh dari dia. Kelihatannya aja dia waras. Tampang oke. Mulut manis. Tapi secara tiba-tiba dia bisa ngelakuin hal yang gak lo duga—dalam artian negatif."
Kesha menelan ludah.
"Makanya gue harus kasih dia pelajaran." Kurnia kembali mengambil ancang-ancang untuk mengetik, tetapi Kesha lagi-lagi menahan tangannya.
"Tapi nggak perlu gitu juga, Kur." Kesha membalas tatapan jengkel Kurnia. "Jangan nyelesaiin semuanya pakai otot, deh."
Kurnia menghela napas kasar. Berusaha menenangkan diri. Ia juga sebenarnya bukan orang yang gampang terbawa emosi, dan Aristo sepertinya harus dapat penghargaan karena selalu berhasil memancing emosinya.
"Dengar Kesh, dia bakal terus mentengin lo kalo gue nggak—"
"Gue bakal hindarin dia. Lo tenang aja."
"Ngehindarin dia itu nggak gampang, serius. Gue udah berpengalaman." Kurnia memijit-mijit sekat hidungnya. "Tapi oke, deh. Dengan syarat, kalo dia deketin lo lagi, lo harus lapor sama gue. Satu lagi, blokir dia dari LINE lo. Minta dia supaya nggak ganggu lo lagi."
Kesha mengangguk, menerima ponselnya yang disodorkan Kurnia. Ia mengetik pesan; Kesha Andyani: Hi kak ini Kesha, jgn ganggu gw lg ya
"Tambahin anjing-nya."
Kesha mendelik pada Kurnia. Langsung mengirim pesan itu dan memblokir kontak Aristo.
——————————————————————
Seharusnya Kurnia tidak terkejut.
Matanya memincing. Aristo tampak sedang berbicara dengan Kesha, tidak terlalu jauh dari depan pintu kelas gadis itu. Tangan Aristo sesekali tampak bergerak, seolah sedang menerangkan sesuatu. Sementara Kesha hanya mengangguk-angguk dengan senyum setengah canggung.
Kurnia merasakan amarah mulai naik ke ubun-ubunnya. Alisnya menukik tajam. Tapi ia berusaha menahan diri. Ia akan menunggu.
Ketika bel pulang sekolah bergema, Kurnia sengaja nongkrong dengan komplotannya sedikit lebih lama dari biasanya. Menunggu jam belajar reguler SMA selesai.
Suara bel yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba. Kurnia melirik koridor lantai dua di gedung SMA. Siswa-siswa mulai keluar satu per satu.
"Gue cabut dulu, ya."
Kurnia membetulkan posisi ranselnya. Langsung menaiki tangga menuju lantai dua, menuju kelas Aristo. Ia menunggu beberapa saat di samping pintu, sebelum kemudian Aristo keluar, melangkah beriringan dengan Rayan.
Tanpa aba-aba, Kurnia langsung menarik kerah kemeja Aristo dan menonjok pemuda itu di tempat.
"Bangsat."
Satu pukulan.
Rayan otomatis mundur dari sisi Aristo beberapa langkah.
Aristo sendiri agak terhuyung ke belakang. Ekspresinya terhenyak. Tetapi sebenarnya ia tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Sejujurnya, sejak kemarin ia sudah punya firasat bahwa Kurnia akan meninjunya.
Kurnia kembali menarik kerah Aristo. Berujar dengan suara tertahan—lantaran giginya gemertak rapat. "Mau lo sebenarnya apa? Kalo lo lagi bercanda, ini—sumpah—nggak lucu."
Aristo menatap Kurnia lurus-lurus, lalu menghela napas. Ia langsung menggenggam pergelangan tangan Kurnia yang tampak ingin terayun lagi untuk memukulnya. "Lo boleh mukul gue, tapi jangan di sini. Jangan sekarang," ucapnya sepelan mungkin. Pemuda itu melirik pada beberapa teman sekelasnya yang berdiri di sekeliling mereka—menonton tanpa dosa.
Kurnia mendengus. Anak itu menarik tangannya kasar supaya lepas dari genggaman Aristo. Secara tiba-tiba menghantamkan satu pukulan lagi ke wajah Aristo, mendorong pemuda itu kasar, sebelum kemudian berlalu begitu saja.
Sepeninggal Kurnia, Aristo mengerang pelan sambil mengepalkan tangan erat. Ia lalu memegangi pipinya yang terasa lumayan ngilu sambil berusaha menggerakkan rahangnya. Matanya melirik tajam pada orang-orang yang masih berdiri melongo menatapnya. "Apa lagi? Acaranya udah selesai. Bayar sini."
Dan sukses mendapat sorakan. Beberapa temannya juga mencibir.
"Yang tadi itu adek gebetan lo yang nggak dapet-dapet itu kan."
"Buat kasus aja lo terus."
Aristo tidak menggubris.
Rayan yang sejak tadi juga hanya terdiam, akhirnya mengambil langkah mendekat. Ia meletakkan tangannya di bahu Aristo, tapi temannya itu segera menepisnya.
"Jangan sekarang, Ray. Nanti salah-salah gue jadi nonjok elo."
—karena gue pengen banget nonjok sesuatu sekarang. Atau seseorang.
Rayan hanya mengangkat kedua tangannya di depan d**a—pose buronan yang menyerah pada polisi—kemudian melangkah pergi menjauh. Dia mengerti kalau Aristo sedang perlu ruang.
Aristo menatap punggung Rayan yang mulai menjauh. Beberapa kali matanya juga tak sengaja bertemu tatap dengan siswa-siswa di koridor yang masih penasaran dengan kejadian tadi. Aristo hanya bisa menghela napas dalam.
Namun kemudian otaknya berdenting. Ia teringat kalau ada seseorang yang benar-benar bisa ditonjoknya sekarang.
Pemuda itu melirik kanan-kiri—kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku.
——————————————————————
B u a g h.
.
"Lega."
"Setan lo, To."
.
Ardi mendecih, tak pernah menyangka kalau Aristo akan benar-benar meninjunya—tanpa kira-kira—ketika ia baru saja tiba di hadapan pemuda itu.
Aristo tertawa ringan. "Mau?" Ia menawarkan sekaleng minuman isotonik. Ardi menerimanya meski sedikit heran.
"Jadi lo nyuruh gue ke sini cuma buat jadi samsak lo?"
"Yoi."
Ardi menendang kaki Aristo, tetapi akhirnya ia ikut juga duduk di sisi kosong bangku keramik di samping Aristo. Mengamati suasana lapangan basket yang lumayan dirindukannya.
"Gimana Diandra di sekolah?"
Ardi mengernyit sejenak. "Kayak biasa. Lo tahulah; muka lempeng, apa adanya, omongan nusuk."
Mirip sama adeknya.
"Dia punya teman?"
"Banyak yang segan sama dia. Tapi ada beberapa orang sableng yang tertarik sama kepribadian dia—tertarik buat jadi teman, maksud gue. Yaah ... meski gue nggak mungkirin kalau ada juga beberapa anak cowok yang lirik dia."
"Berarti mantan gebetan gue temanan sama orang sableng?"
Ardi terkekeh. "Mantan gebetan?"
Aristo hanya melirik pemuda di sampingnya. Singkat.
Heh....
"Gue kira lo bakal perjuangin dia sampai titik darah penghabisan," ledek Ardi. "Meski gue yakin lo nggak akan bisa—argh."Ardi tertawa kecil. Ia melanjutkan, "Jadi kenapa lo harus gunakan kesempatan lo buat pukul gue sekarang?"
"Ya, suka-suka gue."
Ardi menahan diri agar tidak menggeplak kepala Aristo. Ia mengubah topik. "Kenapa lo nanyain Diandra?"
"Gue habis ditinju."
Sebelah alis Ardi seketika terangkat. Oh? Oke....
Akhirnya dia mau cerita juga.
"Siapa yang mukul lo?"
"Ada, anak SMP. Gue baru pulang, datang-datang langsung ngebogem. Pengen bogem balik, tapi gue tahu gue yang salah, jadi ... yaah." Aristo mengangkat bahu.
"Jadi lo lampiasin ke gue?"
Cengiran usil bertengger. Aristo meneguk minumannya.
Ardi mendecak jengkel. "Ada masalah apa lo memangnya sama si Anak SMP ini?"
Masalah klise aja sih. Gue dekatin pacarnya—pengen rebut. Kenapa? Karena gue nggak suka lihat mereka berduaan. Kenapa nggak suka? Karena—
"Entah."
"Nggak jelas amat hidup lo."
Aristo menaikkan sebelah kakinya di bangku keramik. "Kalau lo segitu ingin tahunya, well, Anak SMP ini punya pacar. Dan gue nggak suka ngeliat mereka berduaan. Dan gue deketin pacarnya. Menurut lo?"
Ardi langsung mengangguk-angguk. Dasar remaja klise, pikirnya.
"Gue suka sama siapa, coba?"
"Sama kepala sekolah buncit." Ardi ngasal. Yang benar saja, itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Aristo tertawa hambar. "Ngomong-ngomong gue udah lama pengen ngomong ini ke lo; anjing lo Di."
Ardi hanya mendengarkan. Masih menatap lapangan basket.
"Bisa-bisanya lo yang dapetin Diandra sementara gue yang susah-susah ngejar dia. Yang repot-repot ngedekatin dia dengan segala cara."
—yang nyaris tiap minggu datangin rumahnya. Tapi selalu disambut sama gerutuan adek laki-lakinya.
Ardi mengerutkan bibirnya, antara ingin prihatin atau mengejek. Ia berkata, "Diandra sering cerita ini sama gue. Katanya lo neror dia. Padahal dia udah—bahkan selalu—nggak mau nemuin lo tiap lo datang. Selalu ngusir lo. Tapi lo nggak jera juga."
Aristo memutar-mutar kaleng di tangannya. "Sialnya benar."
Sialnya, gue tetap datang aja.
"Bahkan waktu lo udah tahu dia pacaran sama gue, masih aja lo nunjukin batang hidung lo di rumahnya."
Aristo mengedik tak peduli. "Mungkin gue pengen rebut dia dari lo. Keberuntungan lo itu rasanya kurang ajar."
Atau mungkin juga nggak.
Ardi mendengus jengkel. "Tikung aja semua pacar orang. Biar dibacok satu kelurahan lo."
Haah....
Kalau mau jujur—
.
"Tapi serius, To. Waktu lo masih ngejar-ngejar Diandra padahal tahu gue udah pacaran dengan dia, dia selalu cerita hal ini ke gue dengan intensitas kebencian yang mengerikan. Lo nggak tahu sih kalo dia bisa aja ngegorok gue sambil ngebayangin elo."
.
—Aristo tahu kenapa ia masih mendatangi rumah itu meski paham kalau ia tidak punya peluang lagi terhadap Diandra.
Jika ia berhenti membohongi dirinya sendiri. Ia tahu.
Dia datang untuk Kurnia.
Untuk bermain game.
Untuk cekcok.
Untuk cari masalah.
Untuk ledek-ledekan.
Tanpa disadari, selama dua bulan lebih masa-masa ia mengejar Diandra, ia selalu bertemu Kurnia. Yang menggerutu. Yang mengusirnya. Tapi selalu membukakan pintu.
Tanpa disadari, ia terbiasa dengan Kurnia.
Dan sekarang dia sudah di level butuh.
.
"Lo kebanyakan menerawang,"komentar Ardi ketika melirik pemuda di sampingnya. "Badan lo di sini tapi pikiran lo melayang. Gue sih pengen roh lo aja yang melayang."
Aristo bersumpah serapah. "Gue pengen tidur siang." Ia mengubah posisinya menjadi berbaring.
"Nginap aja lo di sini." Ardi bangkit berdiri. "Memang cuma buang-buang waktu aja lo manggil gue ke sini."
Aristo membalas tatapan Ardi dengan apatis. "Kan lo yang pernah menawarkan."
Ardi hanya bergumam malas. "Gue pergi."
"Hem."
Langkah kaki terdengar menjauh.
Aristo memejamkan mata.
.
Pemuda itu juga tahu kenapa ia mendekati Kesha.
.
Mungkin saja ia ingin Kesha—untuk...
... dirinya sendiri?
.
.
Bukan.
.
.
Ia ingin Kesha—untuk...
... menjauhi Kurnia.
.
.
Oke gue ngaku—persetanlah.
Yang gue mau itu Kurnia. Bukan pacarnya. Bukan kakaknya. Bukan Diandra lagi. Gue mau Kurnia Dwiputra.