Kurnia menimang-nimang ponselnya. Mempertimbangkan apakah ia akan menelepon Kesha atau tidak. Layar televisi yang masih memproyeksikan tampilan game diabaikan.
Gimana, ya?
Kurnia tidak ingin membuat Kesha merasa terganggu dan terlalu diawasi—tapi ia benar-benar ingin tahu apa yang dibicarakan Aristo dengan gadis itu kemarin di depan kelasnya.
Kurnia bergelut lama di pikirannya. Denting bel rumah yang mendadak bergema membuat lamunannya buyar.
Kurnia dengan malas-malasan bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu depan. Ia membuka pint—
.
B l a m.
.
.
Kurnia mengunci pintu. Lalu mengumpat.
Kewaspadaannya pasti turun karena b******n itu sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumahnya. Tapi syukurlah refleks Kurnia bagus. Pintu masih terbuka lima senti dan ia langsung bisa mengenali siapa orang dengan seragam putih abu-abu yang berdiri di luar.
.
.
Tok-tok-tok.
.
.
Kurnia menggertakkan gigi. Pasti sebentar lagi ia akan diteriaki dari atas supaya membukakan pintu. Dengan cepat anak itu berjalan menuju kamarnya dan mengunci diri. Dia sedang malas sekali untuk bertemu manusia yang satu itu.
—————————————————————
Aristo langsung mengetuk-ngetuk pintu ketika pintu itu dibanting tertutup kembali—setelah sebelumnya membuka sedikit. Aristo tahu pasti kalau yang tadi itu Kurnia. Tampaknya anak itu bersikeras menghindarinya.
Mungkin sedikit menggemaskan, tapi—Aristo meremas rambutnya—barangkali bocah itu sudah benar-benar muak melihatnya. Ia mengerti itu.
Aristo mencoba menekal bel sekali lagi, lalu menunggu. Tidak ada apapun yang terjadi. Ia memutuskan meraih ponselnya dari saku, dan membuka aplikasi chat.
Satu-satunya opsi kontak baginya saat ini adalah Diandra. Meski Aristo yakin kecil kemungkinannya gadis itu akan menjawab panggilannya, ia tetap mencoba.
.
Dan benar saja, panggilannya ditolak berkali-kali.
Aristo menyeringai kesal. Kali ini ia mencoba menghubungi kakak Kurnia itu lewat ruang obrolan.
.
Aristo: Din 15.47
Aristo: Tolong bukain 15.47
Aristo: Gw janji g ganggu lo 15.47
Aristo: Gw nyari Kurnia kok 15.48
.
Lima menit. Dan teras rumah itu masih sepi. Tak terjadi apa-apa. Aristo berniat melakukan panggilan untuk yang kesekian kalinya pada Diandra, tapi ia mengurungkan niatnya begitu mendengar bunyi kunci dari kenop pintu di depannya.
.
Kreeeek.
.
"Lo mau buat gue gila, ya. Nge-call terus."
Gadis SMA itu muncul dengan raut sebal. Rambutnya yang sudah tumbuh lebih panjang dicepol satu asal-asalan—anak rambutnya banyak yang lolos dari ikatan. Ia memakai kaos oblong hitam polos dan celana cokelat pucat sebatas lutut.
"Ngapain lo nyariin Kurnia?"
Aristo mengusap tengkuknya. "Bisa bujuk Kurnia buat ketemu sama gue, nggak?"
Gadis itu terpaku. Menatap Aristo setengah cengo.
.
"Lo tahu, ini hal yang paling aneh yang pernah gue alamin."
.
"Serius? Gue kira momen paling aneh bagi lo itu waktu gue sosor di perpus."
.
.
.
.
.
.
"Eeh, iya Din. Sorry deh, sorry." Aristo tertawa kecil. "Gue cuma bercanda."
Diandra melirik Aristo tajam sebelum kemudian menghempaskan tangannya dari genggaman pemuda itu. "Lo tunggu di sini."
Aristo mengangguk. Patuh. Nyaris memberi hormat.
Diandra beranjak ke dalam rumahnya. Berbeda dengan kamarnya yang terletak di lantai atas, kamar Kurnia letaknya di lantai dasar. Jadi, dia tidak perlu repot-repot. Beberapa langkah sudah cukup untuk mengantarkannya ke depan pintu kamar anak itu.
Diandra mengetuk. "Kur."
Tok-tok-tok.
"Kurnia!" ulangnya lebih keras.
Tapi tetap tak ada jawaban.
Ia memutar daun pintu, tetapi pintu itu terkunci. Tumben sekali anak itu mengurung diri seperti ini. Gadis itu melirik curiga pada Aristo yang masih berdiri di depan pintu. Apa mereka ada masalah?
"Pintu kamarnya dikunci. Dia nggak nyahut waktu gue panggil." Diandra kembali menghampiri Aristo. "Tapi gue yakin dia ada di dalam. Kalian ... barusan berantem atau gimana?"
Aristo tersenyum ganjil. "Yaah, sedikit."
Alis Diandra naik. "Masalah apa?"
"Err—cewek."
"Nggak tobat-tobat."
Aristo mengangkat bahu. "Boleh gue masuk?"
Gadis itu mengangguk ragu, lalu menyingkir dari kusen pintu. Memberi celah bagi Aristo. Pemuda itu melangkah masuk—mencari ruangan tempat Kurnia dulu pernah menariknya masuk ke dalam hanya untuk dapat tinju mentah. Ia segera menemukannya, dan langsung berjalan ke depan pintu ruangan tersebut.
Aristo mengetuk pelan.
Tidak ada sahutan. Bahkan pergerakan dari dalam pun tidak ada terdengar.
"Kurnia." Aristo mencoba memanggil. Tapi sepertinya anak itu sama sekali tidak menjawab.
Diandra hanya bisa menatap heran. Kurnia rasanya seperti sedang ... ngambek?
Yang benar aja. Setan kayak dia?
Aristo sendiri tampaknya sudah mulai menyerah.
Diandra masih mengamati. Mencoba menghubungkan semua informasi dan mencernanya. Aristo dan Kurnia bermasalah di sekolah gara-gara cewek? Lalu Aristo datang ke sini—untuk apa? Meluruskan masalah?—heh. Dan Kurnia mengunci diri. Menghindari Aristo? Diandra sebenarnya tidak begitu ingin memikirkannya—
—tapi situasi ini bisa jadi ranah balas dendam, pikiran iblis Diandra berdenting. Ia masih begitu ingat bagaimana sukacitanya Kurnia ketika bekerja sama dengan Aristo untuk menjebaknya. Menonton acara Will You Be My Girlfriend?sambil mengunyah kacang polong dengan ekspresi terhibur. Menyebalkan sekali.
Ketika Aristo menunjukkan gelagat ingin permisi dan keluar dari rumah, Diandra langsung mencegahnya.
"Tunggu."
Gadis itu berpikir keras sambil matanya menelusuri sekeliling isi rumah. Pasti ada sesuatu yang bisa digunakan. Pasti ada cara. Dan matanya berhenti pada televisi yang masih menyala dengan tampilan game Call of Duty.
Gadis itu menjentikkan jari senang. Ia berjalan ke arah konsol Kurnia.
"Kurnia pasti datang ke lo demi benda ini."
Aristo menyeringai.
Ia mengambil sepasang dualshock hitam yang disodorkan Diandra.
—————————————————————
Kurnia akan menobatkan kakak perempuannya sebagai orang paling menyebalkan, licik, dan kayak iblis sedunia—serius. Mata anak itu hanya bisa memandang hampa pada colokan game controller yang kosong pada balok konsolnya. Sepuluh menit yang lalu pasca kepergian Aristo, ia langsung teriak-teriak pada Diandra ketika mendapati televisi mati dan stick PS-nya lenyap.
"DIIN LO KOK MATIIN GAME GUAA? STICKGUA KOK ILANG?"
Dengan biadab kakaknya itu hanya berseru dari balkon tangga lantai dua;
"Stick lo dibawa pulang sama Aristo!"
Dan otak si bocah SMP langsung bisa menyimpulkan. Tadi ia mendengar sedikit percakapan antara Diandra dan Aristo saat ia mengunci diri di kamar.
Kurnia meremas rambut, jadi ini maksudnya 'gue pasti datang demi barang itu'? Ia mengerang keras dan membanting diri ke sofa. Ia memang punya firasat buruk saat mendengar dialog Diandra dan Aristo di bagian itu—tapi ia tidak menyangka kalau jadinya akan seburuk ini.
Kurnia menarik napas, berusaha menenangkan diri. Lalu menghibur diri.
Ini cuma konsol butut. Konsol kudet. Game-nya udah pada lama semua. Gue udah bosan mainin semua gamedi konsol ini. Gue nggak perlu main game lagi. Gue nggak perlu stick itu lagi.
.
Gue nggak butuh stick itu lagi.
.
.
Kurnia tidak butuh stick itu lagi.
.
.
Kurnia tidak butuh—
.
.
.
—tapi, s**t, gue sayang.
.
.
.
Kurnia dilema.
Dan setelah dua hari penuh pertimbangan keras, ia akhirnya mengambil keputusan matang. Ia. Akan. Pergi. Mengambil. Stick. Itu.
Kini ia tengah berada di depan kelas Aristo. Bel pulang SMA sudah berdering beberapa detik yang lalu. Siswa-siswi mulai keluar dari kelas, beberapa melirik Kurnia sambil berbisik-bisik; "Dia 'kan yang waktu itu nonjok si Aristo."
Kurnia berusaha mengabaikannya. Berusaha menahan kakinya agar tidak segera beranjak. Dan untunglah Aristo segera muncul—keluar dari kelas.
Dan pemuda SMA itu menyadari keberadaan Kurnia, lantas menaikkan alis.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu," sambar Kurnia langsung. "Stick gue?"
Aristo terkekeh. Memberi isyarat pada Rayan untuk pulang duluan.
"Stick-nya di rumah gue."
"Ya udah, ambil buruan. Terus balik lagi ke sekolah dan kasih ke gue. Gue tunggu di kantin aj—"
"Memangnya siapa lo bisa nyuruh-nyuruh."
Alis Kurnia mengerut sebal ketika merasakan lehernya sedikit tercekik. Rupanya Aristo menarik kerah kemejanya dari belakang ketika ia hendak berbalik.
"Gue yang punya stick."
"Gue yang lagi nawan stick lo," balas Aristo telak.
Ekspresi Kurnia semakin tertekuk. "Pokoknya gue tunggu di kantin."
"Gue pulang aja ah~"
.
"Aa—tunggu!"
.
Aristo tersenyum samar melihat genggaman Kurnia di lengannya. Matanya kemudian naik meniti ekspresi bocah itu; alis tertaut, gigi gemertak, bibir nyaris berkedut. Aristo bisa membayangkan kalau Kurnia tengah mengabsen seisi kebun binatang.
"Balikin stick gue."
Aristo tertawa geli mendengar nada tidak berdaya itu.
"Ya udah, ikut ke rumah gue. Nebeng motor gue aja."
—————————————————————
Ketika tiba di rumah Aristo dan membuka pintu, mereka langsung disambut oleh seorang wanita yang merupakan asisten rumah tangga.
Aristo meminta tolong pada wanita itu supaya membawa Kurnia ke ruang makan. Namun, Kurnia dengan segera mencegat Aristo. "Nggak perlu pakai makan segala. Gue cuma butuh stick-nya."
"Kalau lo butuh stick-nya, berarti lo harus makan."
Bangke.
Kurnia yang sudah mulai lelah hanya bisa mengutuki Aristo di dalam hati. Ia akhirnya menurut. Membiarkan dirinya dituntun ke ruang makan
"Kamu temannya Aristo?" tanya wanita tersebut, sedikit heran lantaran melihat seragam putih biru yang dikenakan Kurnia. Ia memberikan piring pada Kurnia dan mengizinkan anak itu untuk mengambil makanan yang tersedia di balik tudung saji sesuai keinginannya.
"Bukan. Saya datang cuma karena ada urusan," jawab Kurnia singkat. Nadanya terkesan ketus. Tapi wanita itu malah tersenyum sedikit geli.
"Saya kira temannya Aristo itu cuma Rayan."
Kurnia ingin mengatakan sekali lagi kalau ia bukan teman Aristo. Tapi akhirnya ia hanya mendengus. "Dia punya banyak teman di sekolah, kok."
"Tapi jarang ada yang diajak main ke rumah."
Kurnia tidak teralu peduli dengan basa-basi itu. Percakapan mereka kemudian berhenti karena Aristo telah muncul di ruang makan dengan kaos merah marun dan celana pendek abu-abu. Pemuda itu duduk di kursi di salah satu ujung meja yang dekat dengan Kurnia.
Wanita ramah itu segera meninggalkan ruang makan.
Melihat Aristo yang mulai makan, Kurnia akhirnya meraih sendoknya. Mereka tidak mengobrol selama makan. Bukan karena manner atau apa pun. Aristo hanya diam sejak tadi. Dan Kurnia juga merasa tidak masalah karena ia malas membuka percakapan dengan si pengganggu itu.
Tidak perlu waktu lama bagi Kurnia untuk tiba pada suapan terakhirnya. Ia meminum air. Kemudian menoleh pada Aristo—dan ternyata pemuda itu tengah memandangnya. Ia berdehem, "Stick-nya?"
Aristo berkedip beberapa kali—tadi sempat lupa. Mulutnya masih mengunyah. Dasar nggak sabaran, pikirnya gemas. Tiba-tiba merasa ingin mengurung bocah itu di kamarnya—karena ia yakin Kurnia tentu akan langsung pulang setelah menerima benda itu.
Aristo menelan makanan di mulutnya kemudian meraih gelas. "Lo tahu, gue ngajak lo makan supaya kita setidaknya bisa damai."
"Gue nggak mempan disogok."
Aristo menahan senyum geli. "Dengar, gue nggak akan serahin stick-nya kalau lo nggak mau maafin gue."
Ketika mengatakan hal itu, Aristo mau tidak mau teringat pada taktik yang dilakukannya saat mengejar Diandra semasa SMP. Sepertinya kedua kakak-beradik itu sangat mirip sampai-sampai ia tidak sengaja menggunakan cara yang sama.
Sementara itu, Kurnia melotot sampai rasanya bola matanya akan jatuh ke lantai. "Lo mau minta maaf tapi maksa!" semburnya tak terima. Orang gila, makinya dalam hati. Perangai Aristo benar-benar bias. Kurnia akhirnya mengerti mengapa Diandra selalu berusaha keras untuk menghindari Aristo dulu. Ia mulai menyesali sikapnya yang tidak kooperatif terhadap kakaknya.
"Dengar, tabungan kesalahan lo sama gue itu udah banyak. Bukan salah gue kalau gue susah maafin lo," jelas Kurnia berapi-api. "Coba lo pikir apa aja yang udah lo perbuat. Lo ganggu gue nyaris tiap hari karena lo ngejar-nejar Diandra. Lo rebut Anita, pengalihan karena lo ditolak telak sama Diandra. Padahal kakak gue memang udah nolak lo berkali-kali, lo aja yang nggak konek—"
"Oke. Sorry, Kur. Tapi gue udah pernah bilang 'kan kalo dia yang ngajak—"
"—Lo ganggu kencan gue sama Kesha di food fair," lanjut Kurnia tidak peduli. "Lo hancurin kencan gue sama Kesha di Glace' Glass. Dan sekarang lo mau rebut Kesha."
Aristo menggaruk tengkuknya. Bingung bagaimana ingin menjelaskan. "Itu sebenarnya—"
"Dan lo nembak Kesha padahal tahu gue pacaran sama dia. Sekali lagi gue bilang; gue memang nggak bakal nikahin dia—tapi perbuatan lo itu nggak ngehargain gue. Gue jelas tersinggung. Gue udah ingatin lo supaya jangan ganggu dia. Dan lo masih aja datangin cewek gua."
Aristo mengernyit. "Kapan?"
"Dan lo sekarang nggak ingat!" Kurnia merasa ingin membenturkan kepala Aristo ke kaki meja. "Di depan kelas dia! Mungkin sekitar empat hari yang lalu."
Ingatan Aristo langsung bangkit. "Ah, itu. Gue bukan ngedekatin dia," sanggah Aristo. "Waktu itu gue cuma—"
"Cuma apa? Cuma mau bujuk dia buat beralih ke elo untuk yang terakhir kalinya?" desis Kurnia tajam. "Lo pengen banget ya gue putus dari Kesha, b*****h. Lo kira..."
.
"Iya, gue pengen lo putus dari Kesha. Jadi kenapa?"
.
Giliran Aristo yang memotong omongan Kurnia, dengan setengah berseru. Suaranya yang berat menggema di ruang makan. Matanya memandang lurus dan tajam—langsung ke dalam mata Kurnia. Membuat serangkaian sumpah serapah yang siap meluncur dari otak bocah itu berhenti begitu saja. Macet.
Kurnia kini hanya bisa memasang ekspresi tidak percaya. Giginya mengerat di balik bibirnya.
Aristo mengusap rambutnya sedikit kasar. Benar-benar tidak bisa menemukan alasan karangan yang bagus. "Dengar, Kurnia..." Ia menarik napas. "Kalo gue nggak suka lihat lo sama Kesha, hal yang paling masuk akal itu adalah gue suka sama Kesha 'kan?"
Kurnia masih diam.
.
"Tapi nggak, Kur."
.
.
.
"H-hah?" Bocah SMP itu menggumam bingung. Sedikit tidak mengerti arah pembicaraan Aristo. "Lo mau bilang—kalo lo nggak suka sama Kesha, itu berarti yang lo suka itu—"
"Iya," potong Aristo. Suaranya terseret.
"Lo homo?!"
Kurnia bergidik. Jelas tidak percaya. Flamboyan seperti Aristo, yang lebih sering ganti pacar daripada ganti celana dalam—homo, astaga ini penipuan publik.
Kurnia tertawa ironis. "Lo kalo mau cari alasan itu yang meyakinkan dikit, bego."
Aristo membalas tawa itu dengan kekehan. Sama ironisnya. Sejak tadi matanya belum sedetik pun lepas dari Kurnia. "Lo se-nggak percaya itu kalau lo ditaksir sama cowok?"
Ada jeda beberapa detik.
"Lo sinting."
Kurnia bangkit berdiri, sedikit menggebrak meja. Untung saja permukaan meja itu dilapis kaca sehingga suaranya nyaris tidak terdengar. Wanita di ruang sebelah tidak perlu mengetahui hal ini.
"Gue pulang."
Bocah itu berlalu begitu saja. Tanpa peduli benda utama yang menjadi tujuannya belum didapatkannya sama sekali. Aristo hanya bisa memandang punggungnya yang bergerak keluar dari ruang makan.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu mengerang kesal.
"Shit."
Kacau.
Serius, kacau.
Tak tertolong.
Dia tidak pernah merencanakan pengakuan itu kepada orang lain—apalagi kepada orangnya langsung—sebelumnya.
Sial. s**l. s**l. s**l. s**l. s**l. Siaal. Siaaal. Siaaaa—
Yang benar saja, dia bahkan baru berani jujur dengan dirinya sendiri beberapa hari yang lalu. Ini namanya langkah ekstrim. Cari mati.
Sialan.
Ia benar-benar terpojok tadi. Tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Tidak diberi kesempatan untuk berpikir. Sampai imajinasinya benar-benar mogok untuk mencari alasan palsu. Sampai ia benar-benar tidak bisa ngeles.
Sampai ia benar-benar pasrah, memberitahukan kebenaran konyol begitu saja.