/"Dia memang nggak bohong, Kur."/
Dahi Kurnia langsung mengerut. Matanya memandang jauh pada pohon di ujung jalan. "Jadi dia ngapain aja?"
/"Cuma minta maaf. Asli, gue serius. Dia minta maaf karena udah buat gue merasa terganggu. Dia bilang waktu itu dia pengen langsung segera minta maaf lewat chat, cuma gue udah blokir dia duluan. Jadinya dia harus bilang secara langsung deh."/
Kali ini Kurnia terdiam. Perasaannya agak tidak enak. Tubuhnya sudah berbalik membelakangi jendela kamarnya. Punggungnya menyandar di jeruji.
/"Lo pasti udah nyangka yang nggak-nggak."/
Kurnia mendecak. "Bahkan lebih parah, Kesh. Gue udah nuduh dia seenak jidat gue."
/"Gue kan udah bilang jangan kebawa emosi terus."/
.
Gue nggak sering emosian, pikir Kurnia tidak terima. Cuma Aristo yang—tsk.
"Ya udah deh, gue tutup dulu ya, Kesh."
/"Kur."/
"Apa?"
/"Jangan lupa minta maaf."/
Kurnia mendengus. "Iya, iya."
/"Serius, Kur."/
"IYA."
Sambungan terputus.
Kurnia menurunkan ponselnya dan menatap layar yang perlahan meredup. Di sana masih ada nama Kesha dengan durasi panggilan empat belas menit dua puluh detik.
Empat belas menit yang isinya membongkar seluruh tuduhan yang sudah ia susun rapi-rapi selama tiga hari terakhir.
Kurnia mengerang pelan dan menjatuhkan diri ke kasur.
.
Jadi selama ini Aristo cuma minta maaf.
Cuma minta maaf.
Bukan menggoda Kesha, bukan cari celah lewat sahabatnya, bukan modus busuk apa pun yang selama ini dibayangkan Kurnia dengan detail yang sangat tidak perlu.
Cuma. Minta. Maaf.
Dan Kurnia sudah menuduhnya di depan seluruh koridor.
Bagus, Kurnia. Bagus banget.
.
.
Anak itu memutar tubuhnya, menelungkup, lalu menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Masalahnya bukan cuma itu.
Masalahnya adalah apa yang terjadi kemarin sore, di ruang makan rumah Aristo, ketika ia datang hanya untuk mengambil stick PS-nya kembali dan malah pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berat dan jauh lebih tidak bisa dikembalikan.
Lo se-nggak percaya itu kalau lo ditaksir sama cowok?
Kurnia menendang-nendang kasurnya seperti bocah lima tahun.
"AAARGH."
"KURNIA KENAPA TERIAK-TERIAK!" seru Diandra dari lantai atas.
"NGGAK APA-APA!"
"GILA YA LO!"
"IYA!"
Kurnia menarik selimutnya sampai menutupi kepala.
—————————————————————
Butuh dua jam, satu mangkuk mi instan, dan setengah episode acara memasak yang tidak ia mengerti sama sekali sebelum akhirnya Kurnia meraih ponselnya lagi.
Ia membuka daftar kontak yang diblokir.
Satu-satunya nama di sana.
Jempolnya melayang di atas tombol itu cukup lama.
Ini bukan berarti gue minta maaf, batinnya. Ini cuma supaya dia bisa gue omelin lagi.
Kurnia menekan buka blokir.
Tiga detik kemudian ponselnya bergetar.
.
____________________________________
Aristo 17.52
wah
____________________________________
.
Kurnia melotot ke layar.
Cepet amat sih.
.
Aristo: lo unblock gw 17.52
Aristo: knp 17.52
Aristo: kangen ya 17.52
.
Kurnia: Jgn ngelunjak 17.53
Kurnia: Stick gue mana 17.53
.
Aristo: aman kok 17.53
Aristo: gw kasih makan tiap hari 17.53
.
Kurnia: BALIKIN 17.53
.
Kurnia menatap layarnya dengan geram. Lalu jempolnya bergerak lagi, berhenti, mundur, menghapus, mengetik ulang, menghapus lagi.
Butuh tujuh percobaan sebelum ia berhasil mengirim satu kalimat yang paling sederhana di dunia.
.
Kurnia: Gue udah nanya kesha 17.58
Kurnia: Soal yg waktu itu 17.58
.
Tidak ada balasan selama satu menit penuh.
Kurnia menahan napas tanpa sadar.
.
Aristo: terus? 17.59
.
Kurnia: Ya gitu 17.59
.
Aristo: gitu gimana 17.59
.
Kurnia: JANGAN SOK GTAU 17.59
.
Aristo: gw beneran g tau, kur 18.00
Aristo: lo yg mulai 18.00
.
Kurnia meremas rambutnya sendiri dengan satu tangan.
Dasar b******n.
.
Kurnia: Maaf 18.01
.
Kali ini balasannya datang dalam hitungan detik.
.
Aristo: apa 18.01
Aristo: gw g bs baca, tulisannya kekecilan 18.01
.
Kurnia: LO MAU GUE BLOKIR LAGI 18.01
.
Aristo: jangan 18.01
Aristo: iya iya 18.02
Aristo: gw denger kok 18.02
.
Ada jeda beberapa saat.
.
Aristo: makasih ya kur 18.03
.
Dan entah kenapa, tiga kata itu justru membuat Kurnia merasa jauh lebih tidak enak daripada sebelum ia mengetik permintaan maaf tadi.
—————————————————————
Di seberang sana, di kamarnya sendiri, Aristo sedang telentang di lantai dengan ponsel di atas dadanya dan senyum yang tidak bisa ia hilangkan sejak sepuluh menit yang lalu.
Rayan pasti akan mengejeknya habis-habisan kalau melihat ini.
Aristo mengangkat ponselnya lagi.
.
Aristo: kur 18.05
.
Kurnia: Apa 18.05
.
Aristo: soal kemarin 18.05
.
Aristo bisa membayangkan bocah itu langsung menegang di seberang sana. Butuh hampir dua menit sebelum balasannya masuk.
.
Kurnia: Apaan 18.07
.
Aristo: gw g akan tarik omongan gw 18.07
Aristo: tp gw jg g akan maksa lo 18.07
.
Kurnia: Trus lo mau apa 18.08
.
Aristo menarik napas, mengetik, lalu menatap kalimatnya sendiri cukup lama sebelum menekan kirim.
.
Aristo: sekali aja 18.09
.
Kurnia: Hah 18.09
.
Aristo: kasih gw sekali kesempatan 18.09
Aristo: satu hari doang 18.09
Aristo: gw yg atur, lo tinggal dtg 18.10
.
Kurnia: Ngapain 18.10
.
Aristo: kencan 18.10
.
Kurnia: HAH 18.10
Kurnia: SINTING LO 18.10
Kurnia: GUE COWOK 18.10
.
Aristo: iya gw tau 18.11
Aristo: gw jg 18.11
.
Kurnia: .... 18.11
.
Aristo tertawa sendiri di lantai kamarnya.
.
Aristo: gini deh 18.12
Aristo: satu hari. abis itu kalo lo tetep g ngerasa apa2 18.12
Aristo: gw brenti 18.12
.
Kurnia: Brenti gimana 18.13
.
Aristo: brenti ganggu lo 18.13
Aristo: g dtg ke rmh lo lg 18.13
Aristo: g duduk deket lo di kantin 18.13
Aristo: g ngomong sm lo lg kalo lo g mau 18.14
Aristo: bener2 brenti 18.14
.
Kali ini balasannya lama sekali.
Aristo menunggu sambil menatap langit-langit kamarnya, dengan jantung yang berdetak jauh lebih cepat daripada yang pantas untuk sebuah percakapan chat dengan anak SMP.
.
Kurnia: Stick gue? 18.17
.
Aristo mendengus geli.
Tentu saja. Tentu saja itu yang ditanyakan duluan.
.
Aristo: gw balikin 18.17
Aristo: mau lo ngerasa apa2 atau enggak 18.17
.
Kurnia: Serius? 18.18
.
Aristo: serius 18.18
.
Kurnia: Ya udah 18.18
.
Aristo langsung bangkit duduk.
.
Aristo: ya udah apa 18.18
.
Kurnia: YA UDAH GUE MAU 18.18
Kurnia: SATU HARI DOANG YA 18.18
Kurnia: ABIS ITU LO ILANG 18.19
.
Aristo: iya 18.19
.
Kurnia: Janji 18.19
.
Aristo: janji 18.19
.
Kurnia: Kapan 18.20
.
Dan di titik itulah Aristo menyadari bahwa ia sama sekali belum memikirkan bagian tersulitnya.
.
Aristo: nanti gw kabarin 18.21
.
Kurnia: Lo blg lo yg atur 18.21
.
Aristo: iya 18.21
Aristo: makanya gw atur dulu 18.21
.
Kurnia: Payah 18.21
—————————————————————
Kurnia meletakkan ponselnya di atas perutnya dan menatap langit-langit kamarnya selama kurang lebih empat puluh detik tanpa berkedip.
Lalu otaknya menyala.
Kencan.
Dia baru saja menyetujui kencan.
Dengan Aristo.
Yang cowok.
Kurnia bangkit duduk begitu cepat sampai kepalanya pusing sesaat.
"Nggak, nggak, nggak—" Anak itu meraih ponselnya kembali dan langsung membuka ruang obrolan.
Jempolnya sudah mengetik setengah kalimat pembatalan ketika matanya menangkap satu baris di atas layar.
gw balikin.
Stick-nya.
Kurnia menatap dua kata itu lama sekali.
.
Ini demi stick, batinnya. Ini murni demi stick.
Gue nggak punya alasan lain.
Nggak ada.
Sama sekali.
.
Kurnia menghapus kalimat pembatalannya, mengunci ponselnya, lalu melemparnya ke ujung kasur seperti benda yang baru saja menggigitnya.
Ia turun dari kasur, membuka pintu kamarnya, dan berjalan ke dapur dengan langkah yang berusaha terlihat sangat biasa.
Diandra sedang berdiri di depan kulkas dengan sekotak susu di tangannya.
"Din."
"Hm."
"Kalau ... hipotetis ya. Hipotetis." Kurnia menggaruk tengkuknya. "Ada orang minta sesuatu ke lo. Terus lo kasih. Tapi lo kasihnya bukan karena lo mau, tapi karena ada barang lo yang ditahan sama dia. Itu artinya apa?"
Diandra menurunkan kotak susunya.
"Itu artinya lo lagi disandera."
"Bukan—"
"Atau lo lagi cari alasan."
Kurnia terdiam.
Kakaknya menyeringai. Seringai yang sama persis dengan seringai yang muncul tiga hari lalu ketika perempuan itu menyerahkan stick PS-nya kepada Aristo.
"Kur."
"Apa."
"Barangnya stick PS, ya?"
"BUKAN."
"Ya udah kalau bukan."
"Bukan, Din."
"Iya, bukan."
"BUKAN."
Diandra menutup pintu kulkas sambil tertawa kecil dan berjalan santai ke arah tangga.
"Kur," panggilnya dari anak tangga pertama.
"APA LAGI."
"Kalau nanti ketemu orangnya, jangan pakai kaos yang ada bekas sambelnya itu."
Kurnia melempar lap dapur ke arah tangga.
Meleset jauh.
—————————————————————
Aristo menatap layarnya, lalu tertawa pelan sampai bahunya berguncang.
Bocah itu baru saja menyetujui kencan dengan seorang laki-laki, memastikan syaratnya tiga kali, mengancamnya supaya menghilang setelahnya, dan menutup percakapan dengan menyebutnya payah.
Semuanya dalam rentang sebelas menit.
"Lo tuh," gumam Aristo pada layar ponselnya, "beneran nggemesin, ya."
Ia menjatuhkan diri kembali ke lantai, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi di atas wajahnya, dan membaca ulang seluruh percakapan itu dari awal.
Dua kali.
Lalu tiga kali.
Sialan. Dia benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan.