Bocah itu jelas menghindarinya. Menghindari perjanjian. Dasar pengecut, batin Aristo. Ia mendengus geli melihat Kurnia yang tiba-tiba langsung melipir sembunyi ke balik dinding di persimpangan koridor, membuat Kesha yang sejak tadi berjalan bersamanya hanya bisa melongo.
Aristo langsung memutar arah, menuju ujung lorong yang berlawanan dari tempat Kurnia melompat untuk ngumpet tadi. Berniat menyentak punggung bocah itu dari belakang sampai terkejut setengah mampus. Sayangnya ia malah langsung berpapasan dengan Kurnia di balik dinding.
Tampaknya anak itu berusaha kabur dari Aristo ke arah yang berlawanan saat pemuda itu datang. Curut kecil ini.Aristo jengkel.
Pemuda SMA itu segera menarik kerah baju Kurnia. "Mau ke mana lo, hm?" Tangannya yang satu lagi meraih lengan Kurnia dan memaksa anak itu berbalik menghadapnya.
"LEPAS."
"Nggak."
"Aristo—"
"Lo lari terus dari kemarin."
"Gue nggak lari!"
"Barusan lo lompat ke balik tembok."
"Gue ... ngambil sesuatu."
"Ngambil apa?"
"Ngambil ... " Kurnia melirik lantai. "Ada."
Aristo menatapnya datar.
Bocah ini benar-benar tidak punya bakat berbohong sama sekali.
—————————————————————
Aristo menyeret—atau lebih tepatnya menggiring, karena Kurnia berjalan sendiri walau sambil menggerutu sepanjang jalan—anak itu ke tangga darurat di ujung gedung. Tempat paling sepi di seluruh sekolah pada jam istirahat, karena tidak ada yang mau naik turun tiga lantai hanya demi tempat duduk.
Di belakang sana, Kesha masih berdiri di persimpangan koridor dengan wajah bingung yang belum berubah sejak lima belas detik lalu.
Aristo sempat melambaikan tangan padanya.
Kesha membalas dengan lambaian ragu.
"Jangan lambai-lambai ke sahabat gue," sungut Kurnia.
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Nggak boleh aja."
"Cemburu?"
"MATI LO."
Aristo tertawa.
Mereka sampai di bordes tangga lantai dua. Aristo akhirnya melepaskan kerah baju anak itu, lalu bersandar ke pegangan tangga dengan tangan dilipat.
"Jadi."
"Jadi apa."
"Kapan."
Kurnia langsung memalingkan wajah. "Nanti."
"Nanti kapan."
"Nanti ya nanti."
"Kur."
"Gue lagi banyak PR."
"Anak SMP PR-nya apaan sih."
"BANYAK."
Aristo menghela napas dan mengusap wajahnya dengan satu tangan.
Tiga hari. Sudah tiga hari sejak kesepakatan itu dibuat, dan setiap kali Aristo bertanya kapan, jawabannya selalu berupa kata keterangan waktu yang tidak pernah menunjuk pada tanggal mana pun di kalender.
Nanti. Besok deh. Minggu depan aja kali ya. Lihat nanti.
"Lo tahu nggak," ujar Aristo pelan, "kalau lo nggak mau, lo bisa bilang nggak mau. Gue nggak akan maksa."
Kurnia langsung menoleh.
"Siapa yang bilang nggak mau."
"Ya lo, dari sikap lo."
"Gue nggak bilang gitu."
"Terus?"
Kurnia membuka mulutnya. Menutupnya lagi. Membuka lagi.
Lalu anak itu menendang-nendang anak tangga di depannya dengan ujung sepatu.
"Gue cuma ... belum siap aja," gumamnya.
Aristo terdiam.
"Siap buat apa?"
"Ya buat itu."
"Itu apa?"
"YA ITU."
Bocah itu berteriak sambil telinganya memerah sampai ke ujung, dan Aristo harus menahan diri kuat-kuat supaya tidak tertawa, karena ia tahu betul kalau ia tertawa sekarang, Kurnia akan langsung berbalik pulang dan kesepakatan ini akan mundur tiga hari lagi.
"Ya udah," ujar Aristo akhirnya.
Kurnia menoleh curiga. "Ya udah apa?"
"Ya udah, gue tungguin."
"Sampai kapan?"
"Sampai lo siap."
"Kalau gue nggak siap-siap?"
Aristo mengangkat bahu.
"Ya berarti gue nunggu terus."
Kurnia menatapnya seolah pemuda itu baru saja mengaku ingin memakan sepatunya sendiri.
"Lo gila ya."
"Kayaknya iya."
—————————————————————
Bel masuk berbunyi.
Kurnia langsung berdiri, membersihkan celananya, dan menuruni tangga dua anak sekaligus tanpa pamit.
Baru enam langkah, anak itu berhenti.
"Aristo."
"Hm?"
Kurnia tidak berbalik. Ia hanya berdiri di tengah tangga dengan tangan mencengkeram tali tasnya.
"Sabtu."
Aristo mengangkat kepalanya.
"Apa?"
"GUE BILANG SABTU. UDAH, JANGAN NANYA LAGI."
Dan anak itu langsung berlari menuruni sisa anak tangga, meninggalkan gema langkah sepatunya di sepanjang lorong tangga darurat.
Aristo berdiri sendirian di bordes lantai dua.
Butuh tiga detik penuh sebelum senyum itu muncul di wajahnya.
—————————————————————
Rayan pernah bertanya sekali, waktu itu di kantin, dengan mulut penuh dan ekspresi setengah tidak peduli.
"Kenapa dia sih?"
Aristo tidak menjawab hari itu. Sebagian karena ia sendiri tidak tahu jawabannya, sebagian lagi karena ia belum berani menjawabnya bahkan di dalam kepalanya sendiri.
Sekarang pun jawabannya masih belum rapi.
Tapi setidaknya sekarang ia sudah bisa menyebut potongan-potongannya.
.
Kurnia itu anak SMP kelas tiga yang tingginya cuma sedagunya, yang jalannya selalu cepat seperti orang dikejar, dan yang kalau marah suaranya naik satu oktaf penuh.
Kurnia itu satu-satunya orang di dunia ini yang pernah meninju wajah Aristo di depan umum, lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah supaya tetangga tidak melihat, karena—kata bocah itu waktu itu—"gue nggak mau nama baik keluarga gue rusak gara-gara muka lo."
Kurnia itu orang yang menghabiskan tiga bulan penuh menghina Aristo, menjebak Aristo, mengejek selera Aristo, dan menertawakan setiap penolakan yang Aristo terima dari kakaknya sendiri sambil mengunyah kacang polong.
Kurnia itu juga satu-satunya orang yang, ketika Aristo terkapar di depan rumahnya dengan hidung berdarah setelah dipukul kakaknya sendiri, diam-diam keluar membawa es batu yang dibungkus lap dapur, meletakkannya di sebelah Aristo tanpa berkata apa-apa, lalu masuk lagi dan menutup pintu.
.
Aristo mengingat malam itu jauh lebih sering daripada yang ia mau akui.
Bukan es batunya.
Tapi cara anak itu meletakkannya. Kasar, buru-buru, seolah takut ketahuan.
Seolah berbuat baik adalah sesuatu yang memalukan.
.
Dan yang paling parah adalah ini: selama tiga bulan Aristo mengejar Diandra, ia bisa menyebutkan lima hal yang ia suka dari gadis itu, dan kelima-limanya adalah hal yang bisa dilihat siapa pun dari jarak sepuluh meter.
Sedangkan untuk Kurnia, Aristo bisa menyebutkan lima puluh, dan tidak satu pun dari lima puluh hal itu bisa dilihat orang lain.
Itu bukan naksir, pikir Aristo waktu itu.
Itu udah kelewatan.
—————————————————————
Aristo menuruni tangga darurat dengan santai, sepuluh menit setelah bel masuk, sama sekali tidak berniat terburu-buru menuju kelasnya.
Di ujung koridor, Kesha masih berdiri di tempat yang sama.
Gadis itu jelas sengaja menunggunya.
"Aristo."
"Ya?"
Kesha menggeser letak tas selempangnya, tampak agak canggung.
"Boleh nanya nggak?"
"Nanya aja."
"Kalian ... berantem?"
Aristo memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Nggak."
"Terus tadi itu apa?"
"Negosiasi."
"Negosiasi apa?"
Aristo tersenyum.
"Rahasia."
Kesha mengerutkan keningnya, dan untuk sesaat gadis itu tampak ingin bertanya lebih jauh. Namun kemudian ia justru menghela napas dan menggelengkan kepala pelan.
"Aristo."
"Hm?"
"Kurnia itu gampang banget sok galak."
Aristo mengangkat alisnya.
"Tapi dia gampang banget kaget kalau ada yang beneran baik sama dia," lanjut Kesha. "Jadi ... ya. Gitu aja sih."
Gadis itu langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kelasnya, meninggalkan Aristo yang berdiri diam di koridor kosong.
Beberapa detik kemudian pemuda itu tertawa pelan pada dirinya sendiri.
"Gue tahu," gumamnya. "Justru itu masalahnya."
—————————————————————
Malam itu ponsel Aristo bergetar sekali.
.
Kurnia: Sabtu tetep ya 21.34
Kurnia: Tapi jgn aneh2 21.34
Kurnia: Jgn bawa bunga 21.34
Kurnia: Jgn bawa balon 21.35
Kurnia: Jgn nyanyi 21.35
Kurnia: Pokoknya jgn 21.35
.
Aristo membaca keenam pesan itu, satu per satu, dua kali.
Lalu ia meletakkan ponselnya di dada dan menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum lebar seperti orang bodoh.
.
Aristo: iya 21.37
.
Kurnia: Awas lo 21.37
.
Aristo: iya, kurnia 21.37