Meskipun Kurnia mengatakan kalau ia akan membahas mengenai masalah taruhan itu nanti, ia tidak benar-benar ingin membahasnya.
Dan anehnya, Aristo tidak pernah lagi menagih hal itu.
Dengan demikian, Kurnia membiarkannya begitu saja. Toh itu keuntungan baginya.
Tapi jujur saja, Kurnia tidak bisa mengabaikan keanehan Aristo ini. Pemuda gesrek itu tidak pernah mengusiknya lagi di sekolah. Tidak pernah lagi mengambil meja yang dekat dengannya ketika di kantin. Tidak pernah lagi merangkulnya sok akrab dan menawarkannya untuk nebeng ketika pulang sekolah.
Tapi ketukan horor di pintu rumah Kurnia tetap lancar senantiasa, sepertinya.
"Kur, bukain pintu gih. Kamu nggak kasihan sama temanmu? Jangan berantem terus deh, kayak anak kecil aja. Cepat baikan sana."
Mau mengarang cerita se-tragis apapun juga, ibunya tidak akan percaya.
Perempuan itu sudah terlanjur menganggap Aristo sebagai anak baik-baik yang sopan, rajin menyapa, dan—ini bagian yang paling membuat Kurnia ingin melempar diri ke jalan raya—"beda sama teman-temanmu yang lain, Kur."
Kurnia menyeret kakinya ke pintu depan dengan wajah orang yang sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Kreek.
"Sore, Kur."
"Mati sana."
"Sore juga," sahut Aristo santai, lalu melangkah masuk begitu saja seolah rumah itu miliknya sendiri.
"EH SIAPA YANG NYURUH MASUK—"
"Ibu kamu."
"IBU!"
"Iya, Ibu yang nyuruh!" seru ibunya dari dapur. "Suruh masuk, kasih minum, jangan jutek!"
Kurnia menutup pintu dengan tenaga yang berlebihan.
—————————————————————
Beginilah yang terjadi selama seminggu terakhir.
Di sekolah, Aristo berubah menjadi orang asing.
Bukan dalam arti bermusuhan. Pemuda itu tetap mengangguk kalau berpapasan, tetap menyapa Kesha dengan sopan, tetap tersenyum kalau tidak sengaja bertemu mata di kantin.
Tapi tidak lebih dari itu.
Tidak ada lagi tangan yang tiba-tiba merangkul bahu Kurnia dari belakang di tengah koridor. Tidak ada lagi nampan makanan yang diletakkan di meja yang sama tanpa diminta. Tidak ada lagi teriakan "KUR, BARENG YUK" dari parkiran yang membuat separuh angkatan menoleh.
Kurnia seharusnya senang.
Ini persis yang ia minta selama tiga bulan terakhir.
.
Persis.
.
.
Terus kenapa rasanya aneh?
.
.
Kurnia menendang kaki meja tamu dengan pelan.
—————————————————————
Hari Rabu, di kantin, Kesha meletakkan sendoknya dan menatap sahabatnya cukup lama.
"Kur."
"Hm."
"Lo dari tadi ngeliatin ke sana."
"Ke mana?"
"Ke meja pojok."
"Gue nggak ngeliatin apa-apa."
"Lo baru aja nyendok sambel dan lo masukin ke teh lo."
Kurnia menunduk.
Ada segumpal merah mengambang di permukaan gelasnya.
"...Gue emang suka gini."
"Kur."
"Ini varian baru."
"KURNIA."
Anak itu meletakkan sendoknya dengan gerakan menyerah dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
Di meja pojok kantin, Aristo dan Rayan sedang duduk seperti biasa. Aristo sedang tertawa karena sesuatu yang dikatakan Rayan, kepalanya sedikit menengadah, tangannya menepuk meja.
Dan pemuda itu sama sekali tidak menoleh.
Tidak sekali pun sejak masuk kantin dua puluh menit yang lalu.
"Dia beneran nggak ganggu lo lagi ya," ujar Kesha pelan.
"Iya."
"Bagus dong."
"Iya."
"Kur."
"IYA, BAGUS. Emang bagus. Gue seneng banget malah." Kurnia mengaduk tehnya yang sekarang berwarna cokelat kemerahan dengan brutal. "Akhirnya gue bisa makan tenang. Akhirnya nggak ada yang nyolong ayam gue. Akhirnya nggak ada yang ngomong keras-keras sampai satu kantin noleh. Hidup gue tenang, damai, sejahtera."
Kesha menatapnya.
"Terus kenapa lo marah-marah?"
"GUE NGGAK MARAH."
Beberapa anak di meja sebelah menoleh.
Kurnia menunduk dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
.
Di meja pojok sana, Aristo masih tertawa bersama Rayan, dan masih tidak menoleh sama sekali.
.
Yang tidak Kurnia ketahui adalah bahwa sejak dua puluh menit lalu, Rayan sudah tiga kali berkata "lo ngeliatin dia terus, mata lo mau copot" dan tiga kali pula Aristo menjawab "berisik" sambil buru-buru mengalihkan pandangan.
—————————————————————
"Kur."
"Apa, Kesh."
Mereka berjalan pulang bersama sore itu, menyusuri trotoar yang kanan kirinya deretan warung.
"Boleh gue jujur?"
"Kalau lo mau ceramah, jangan."
"Bukan ceramah."
"Ya udah, ngomong."
Kesha menggeser tali tasnya.
"Dulu lo tiap hari ngeluh soal dia," ujarnya. "Tiap. Hari. Kur. Gue sampai hafal."
"Terus?"
"Sekarang dia udah berhenti, dan lo masih ngomongin dia tiap hari."
Kurnia berhenti berjalan.
"Nggak gitu."
"Kur, tadi pagi lo cerita ke gue soal dia tiga kali sebelum jam sembilan."
"Itu ... konteksnya beda."
"Beda gimana?"
"Beda pokoknya."
Kesha menghela napas dan kembali berjalan.
"Ya udah."
"Kesh."
"Hm?"
Kurnia menyusul, berjalan di sebelahnya, sambil menatap trotoar di depan kakinya.
"Menurut lo, kalau ada orang yang tiba-tiba berhenti ganggu lo," ujarnya pelan, "terus lo malah ngerasa ada yang kurang ... itu artinya apa?"
Kesha tidak langsung menjawab.
Gadis itu berjalan beberapa langkah dulu sebelum akhirnya berkata,
"Menurut gue, itu artinya yang selama ini ngeganggu lo bukan orangnya."
Kurnia menoleh.
"Terus apa?"
Kesha tersenyum kecil dan mempercepat langkahnya.
"Nanti juga lo tahu sendiri."
"KESHA."
"Duluan ya, gue lewat gang sini!"
"KESHA JAWAB DULU—"
Gadis itu sudah berbelok dan menghilang di balik tembok, meninggalkan Kurnia berdiri sendirian di trotoar dengan tas di satu bahu dan seribu pertanyaan yang tidak satu pun berani ia jawab sendiri.
—————————————————————
"Lo ngapain sih ke sini terus?"
Aristo yang sedang duduk di sofa dengan segelas teh manis di tangannya—teh yang, sekali lagi, dibuatkan oleh ibu Kurnia sendiri, bukan oleh Kurnia—mengangkat wajahnya.
"Kata siapa gue ke sini terus?"
"Senin, Rabu, Kamis, sekarang Jumat."
Aristo menyeringai.
"Lo ngitungin."
"GUE NGGAK NGITUNGIN."
"Lo hafal harinya."
"ITU BEDA."
Aristo tertawa dan meletakkan gelasnya di atas coaster—dengan rapi, karena pemuda itu tahu betul ibu Kurnia tidak suka bekas gelas di meja kayu.
"Gue nggak ganggu lo di sekolah 'kan?"
Kurnia terdiam.
"Ya ... nggak."
"Nah."
"Tapi ini rumah gue."
"Ini rumah orang tua lo."
"SAMA AJA."
"Beda." Aristo menyandarkan punggungnya. "Yang punya rumah udah ngizinin gue masuk. Lo cuma penghuni."
Kurnia melempar bantal sofa ke wajah pemuda itu.
Aristo menangkapnya sambil tertawa.
—————————————————————
Anehnya, sore itu tidak seburuk yang Kurnia bayangkan.
Mereka tidak melakukan apa-apa yang istimewa. Aristo membantu Kurnia mengerjakan soal matematika yang sejak dua hari lalu tidak selesai-selesai—dan ternyata pemuda itu menjelaskan jauh lebih sabar daripada guru les Kurnia yang dibayar per jam. Setelah itu mereka menonton acara kuis di televisi sambil berdebat tentang jawaban yang keduanya sama-sama tidak tahu.
Pukul setengah tujuh Aristo pamit.
"Bu, saya pulang ya."
"Loh, nggak makan dulu?"
"Nggak usah, Bu. Makasih."
"Ya ampun, ini masih hujan gini."
"Cuma gerimis kok, Bu."
Kurnia berdiri di ambang pintu ruang tamu sambil melipat tangan, memperhatikan ibunya mengantar Aristo sampai teras seolah yang mau pulang itu keponakan kesayangan, bukan pengganggu yang tiga bulan lalu nyaris ia siram air panas.
Pintu tertutup.
Ibunya kembali ke dapur.
Dan Kurnia baru saja hendak kembali ke kamarnya ketika matanya menangkap sesuatu di sofa.
Sebuah dompet kulit hitam.
.
.
.
"YA ELAH."
—————————————————————
Kurnia berdiri di ambang pintu selama dua menit penuh sambil menatap dompet itu seperti menatap bom yang belum meledak.
Opsi pertama: biarkan saja di situ, nanti juga diambil sendiri besok.
Opsi kedua: kasih ke ibunya, biar ibunya yang urus.
Opsi ketiga—
Kurnia mengerang, menyambar dompet itu, lalu duduk di lantai bersandar ke sofa.
Ini cuma buat mastiin nggak ada kartu penting yang ilang, batinnya. Ini demi keamanan dia sendiri.
Alasan yang bahkan tidak bisa meyakinkan pemiliknya sendiri.
.
Isi dompet Aristo ternyata jauh lebih membosankan daripada yang Kurnia duga.
Kartu pelajar. Foto di kartu itu jelek sekali, dan Kurnia menyempatkan diri untuk memotretnya diam-diam demi keperluan masa depan.
Uang lembaran, tidak banyak.
Struk parkir. Tiga lembar.
Kartu member sebuah tempat rental PS yang sudah tutup dua tahun lalu.
Selembar foto keluarga ukuran kecil.
Dan—
Kurnia berhenti.
Di balik kartu pelajarnya, terselip sepotong kertas kecil. Bukan struk. Bukan kartu.
Sobekan bungkus makanan ringan, dilipat empat, sudah kusut dan berubah warna di lipatannya karena terlalu sering dibuka tutup.
Kurnia membukanya.
Dan di sana, dengan tinta pulpen yang sudah memudar, tertulis sebuah nomor telepon.
Dengan tulisan tangannya sendiri.
.
.
Kurnia mengenali angka delapan miliknya yang selalu tidak pernah nyambung di bagian atas.
.
.
.
Ia ingat kertas ini.
Tiga bulan lalu. Di warung depan gang. Ketika Aristo—yang waktu itu masih dalam misi konyolnya mengejar Diandra—meminta nomor Kurnia supaya mereka bisa berkoordinasi menjebak kakaknya. Kurnia menuliskannya di sobekan bungkus keripik karena tidak ada kertas lain, sambil menghina Aristo habis-habisan, sambil berkata, "Simpen di hape, terus buang. Jangan sampe kertas jelek ini ada di dompet lo."
Aristo waktu itu cuma tertawa dan bilang, "iya iya."
.
.
.
Tiga bulan.
.
.
Kurnia melipat kertas itu kembali dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati daripada saat ia membukanya, menyelipkannya ke tempat semula, lalu menutup dompet itu dan meletakkannya di meja.
Anak itu duduk bersandar di sofa dengan lutut ditekuk selama entah berapa lama.
Telinganya panas.
.
Ini nggak berarti apa-apa, batinnya. Dia cuma males buang sampah.
Iya. Dia emang jorok. Dompetnya pasti isinya sampah semua.
.
Argumen itu mungkin akan berhasil kalau saja seluruh isi dompet tadi tidak tersusun serapi itu.
—————————————————————
"Ngapain lo duduk di lantai kayak orang kehilangan arah hidup."
Kurnia mendongak.
Diandra berdiri di ambang pintu ruang tamu dengan sebungkus keripik di tangan, mengunyah, menatap adiknya dengan tatapan yang sangat tidak sopan.
"Nggak ngapa-ngapain."
"Itu dompet siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
"Kur, gue liat dari tadi lo bolak-balik buka tutup dompet orang selama lima belas menit."
"LO NGINTIP?"
"Gue lewat. Dua kali." Diandra masuk dan menjatuhkan diri di sofa. "Dan dua-duanya lo lagi ngeliatin kertas kecil kayak orang mau nangis."
"GUE NGGAK MAU NANGIS."
"Gue nggak bilang lo nangis. Gue bilang kayak."
Kurnia melempar bantal.
Kakaknya menangkapnya dengan satu tangan tanpa berhenti mengunyah.
Hening beberapa saat.
"Din."
"Hm."
"Kenapa sih lo kasih stick gue ke dia waktu itu."
Diandra berhenti mengunyah.
"Karena gue kesel sama lo."
"Cuma gitu?"
"Iya."
"Bohong."
Diandra memutar bungkus keripiknya, melipat ujungnya, lalu meletakkannya di meja.
"Ya udah, nggak cuma gitu," akunya. "Gue juga kepo."
"Kepo apa?"
"Gue pengen tahu lo bakal dateng ke rumah dia atau enggak."
Kurnia mengerutkan kening.
"Ya jelas gue dateng, itu 'kan barang gue."
"Nah, itu masalahnya." Diandra menatap adiknya. "Kur, di kamar lo ada gitar yang udah setahun senarnya putus dan lo nggak pernah benerin. Ada sepatu bola yang lo tinggalin di lapangan tiga hari sampai orang lain yang nganterin balik. Lo itu bukan orang yang ngejar barang."
Kurnia membuka mulutnya.
"Tapi tiga hari abis stick lo diambil," lanjut Diandra, "lo nekat dateng sendirian ke rumah orang yang lo bilang paling lo benci sedunia."
Anak itu tidak menjawab.
"Terus lo pulang dari sana dengan muka kayak abis liat setan, ngunci diri di kamar, dan sejak itu lo aneh terus."
"Gue nggak aneh."
"Kur, tadi sore lo bilang makasih ke dia."
"HAH?"
"Waktu dia benerin PR lo. Lo bilang makasih." Diandra berdiri sambil menepuk-nepuk celananya. "Lima belas tahun gue hidup satu rumah sama lo, dan gue baru denger lo bilang makasih ke orang selain Ibu."
Perempuan itu mengambil kembali bungkus keripiknya dan berjalan menuju tangga.
"Din."
"Apa."
Kurnia masih duduk di lantai, memeluk lututnya, menatap dompet hitam di atas meja.
"...Kalau gue nanya sesuatu, lo janji nggak ketawa?"
Diandra berhenti di anak tangga pertama.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah perempuan itu benar-benar serius.
"Nggak akan," jawabnya.
Kurnia membuka mulutnya.
Menunggu.
Lalu menutupnya lagi.
"Nggak jadi," gumamnya.
Diandra menatap punggung adiknya beberapa detik.
"Ya udah," ujarnya pelan. "Kalau nanti jadi, gue di atas."
Lalu perempuan itu naik tanpa mengejek sekali pun.
—————————————————————
Keesokan harinya Kurnia berdiri di depan pagar rumah Aristo dengan dompet itu di tangan dan wajah paling galak yang bisa ia produksi.
"Nih."
Aristo yang membuka pintu dengan rambut basah dan handuk di leher tampak terkejut sesaat, lalu tersenyum.
"Wah, ketinggalan ya?"
"LO NGGAK SADAR DOMPET LO ILANG SEHARIAN?"
"Sadar kok."
"TERUS KENAPA NGGAK DIAMBIL?"
Aristo mengambil dompet itu dari tangan Kurnia sambil mengedikkan bahu.
"Kan lo pasti anter."
Kurnia menatapnya.
"...Lo ninggalin sengaja."
"Nggak."
"Lo bohong."
"Nggak bohong."
"Muka lo bohong."
"Muka gue emang gini dari lahir."
Kurnia berbalik dan berjalan pergi tanpa pamit, sambil mendengar tawa pemuda itu dari belakang punggungnya.
—————————————————————
Hari Minggu, dompet itu ada lagi di sofa ruang tamu Kurnia.
Kali ini Kurnia bahkan tidak membukanya. Ia hanya menatapnya selama lima detik, lalu memfoto dompet itu dan mengirimkannya ke Aristo.
.
Kurnia: LAGI 16.02
.
Aristo: astaga 16.02
Aristo: gw emang pelupa 16.02
.
Kurnia: LO KE SINI TADI CUMA 20 MENIT 16.03
Kurnia: 20 MENIT DOANG GIMANA CARANYA KETINGGALAN 16.03
.
Aristo: bakat 16.03
.
Kurnia menatap layarnya dengan rahang mengeras.
Lalu sesuatu terlintas di kepalanya.
Sesuatu yang sangat, sangat memuaskan.
.
Kurnia: Ya udah 16.05
Kurnia: Gue tahan 16.05
.
Aristo: hah 16.05
.
Kurnia: Gue tahan dompet lo 16.05
Kurnia: Sampe sabtu 16.05
Kurnia: Sama kayak lo nahan stick gue 16.06
Kurnia: Rasain 16.06
.
Ada jeda beberapa detik.
.
Aristo: ok 16.06
.
Kurnia: HAH 16.06
.
Aristo: gpp 16.06
Aristo: berarti sabtu kita tuker 16.07
Aristo: dompet gw sm stick lo 16.07
.
Kurnia menatap layar ponselnya cukup lama.
Dan pelan-pelan, dengan perasaan seperti orang yang baru menyadari bahwa ia sudah berjalan masuk ke dalam perangkap sambil menutup pintunya sendiri dari dalam, Kurnia sadar.
Dia baru saja memberi Aristo alasan tambahan untuk datang hari Sabtu.
.
.
"S**T."
—————————————————————
Di rumahnya, Aristo meletakkan ponselnya di atas meja belajar dan menyandarkan kepalanya ke kursi.
Rayan pernah bilang bahwa taktik paling bodoh dalam pendekatan adalah pura-pura ceroboh, karena semua orang bisa langsung menebaknya.
Rayan benar. Tentu saja Rayan benar.
Kurnia jelas sudah menebaknya sejak dompet kedua.
Tapi Rayan lupa satu hal.
Kalau orang yang lo taksir tahu lo pura-pura ceroboh dan dia tetap mengantarkan dompetnya sendiri sampai ke pagar rumah lo, dengan wajah galak dan telinga merah, di hari Minggu, sambil masih memakai sandal jepit rumah—
—itu artinya bukan cuma lo yang lagi main.
Aristo menyeringai ke arah langit-langit.
"Sabtu," gumamnya.
Enam hari lagi.