"Bagaimana cara membuat orang yang lo taksir jatuh cinta habis-habisan hanya dalam sekali kencan?"
Rayan terpaku beberapa detik. Hisapannya pada permen tangkai di mulutnya terhenti.
"Ha?"
Aristo segera memampangkan layar ponselnya pada Rayan.
.
[Jum, 07 Okt 2016]
Kurnia: Oi
Kurnia: Gmn kalo hari minggu aja?
Aristo: Apanya hari minggu?
Kurnia: G ush pura2 gtau lu
.
Rayan sedikit mengekeh membacanya.
"Jadi gimana? Lo ada saran?"
Rayan mengedik. Melanjutkan acara mengutak-atik ponsel barunya. Menginstal aplikasi-aplikasi tambahan yang kiranya akan diperlukannya nanti.
"Woy." Aristo menyikut bahu Rayan. "Cuek amat lu."
"Habis pertanyaan lo aneh," sahut Rayan yang tatapannya masih fokus ke ponsel.
"Lo bilang lo mau ngasih kursus ke gue."
"Ya. Dan itu kalau gebetan lo cewek.
"Punya lo cowok, Ris."
"Terus bedanya apa?"
Rayan akhirnya mengangkat wajahnya dari ponsel barunya.
"Bedanya, kalau cewek, lo bisa pakai cara umum. Bunga, cokelat, tempat bagus, foto-foto." Cowok itu mengedikkan bahu. "Kalau cowok, cara umumnya belum ada. Lo yang harus bikin."
Aristo menyandarkan punggungnya ke kursi kantin.
"Berarti lo nggak bisa bantu?"
"Gue nggak bilang gitu."
"Terus?"
Rayan meletakkan ponselnya di meja—suatu peristiwa langka yang membuat Aristo langsung menegakkan badan.
"Ris, gue nanya balik dulu ya."
"Nanya aja."
"Kalau lo bawa dia ke restoran mahal, dia bakal seneng?"
Aristo membayangkannya selama dua detik.
Kurnia. Di restoran dengan taplak putih. Dengan pelayan yang berdiri di samping meja. Dengan menu yang tidak ada gambarnya.
"Dia bakal panik terus pura-pura sibuk liat hape," jawab Aristo.
"Kalau lo bawa dia nonton?"
"Dia bakal tidur."
"Kalau lo ajak jalan ke mall?"
"Dia bakal ngeluh pegel dalam dua puluh menit."
Rayan mengangkat kedua tangannya seolah seluruh kasus sudah terpecahkan.
"Nah."
"Nah apa?"
"Berarti jangan bikin acara."
Aristo mengerutkan kening.
"Maksud lo?"
Rayan mengambil kembali ponselnya, tapi kali ini ia tidak menyalakannya.
"Semua orang, kalau lagi dikencanin, mereka sadar mereka lagi dikencanin," ujarnya. "Terus mereka jadi kaku. Terus mereka nilai lo dari awal sampai akhir kayak juri lomba masak."
"Terus?"
"Bikin dia lupa."
"Lupa gimana?"
"Bikin acaranya sebiasa mungkin sampai dia lupa kalau itu kencan." Rayan menatap sahabatnya. "Terus di detik dia inget lagi, dia bakal sadar dia udah kelewat nyaman."
Aristo terdiam cukup lama.
"...Lo kok pinter banget sih tiba-tiba."
"Gue emang pinter."
"Dari mana lo dapet teori itu?"
"Komentar YouTube."
Aristo melempar tutup botol ke arah sahabatnya.
—————————————————————
Malamnya, Aristo duduk di lantai kamarnya dengan buku tulis di pangkuan.
Bikin dia lupa kalau ini kencan.
Ia menuliskan tiga kata itu di halaman kosong, lalu menatapnya lama sekali.
.
Kurnia paling betah di mana?
Rumah.
Kurnia paling nggak canggung kapan?
Waktu lagi ngerjain sesuatu.
Kurnia paling banyak ngomong kalau lagi apa?
Kalau lagi ngeluh.
.
Aristo menulis satu baris lagi di bawahnya, lalu menggarisbawahinya dua kali.
Masak. Di rumah dia.
Ia menatap kalimat itu, dan langsung menyadari dua masalah besar.
Pertama, Aristo tidak bisa masak.
Kedua, Aristo benar-benar tidak bisa masak.
.
Pemuda itu membuka ponselnya dan mengetik di kolom pencarian: resep masak buat pemula yang gampang tapi kelihatan susah.
Hasil pertama yang muncul adalah sebuah artikel dengan judul yang sangat meyakinkan dan foto yang jauh lebih meyakinkan lagi.
Tortilla isi ayam. Dengan saus.
Aristo membaca daftar bahannya. Sebagian besar ia kenal. Sisanya bisa dibeli.
Ia menyalinnya ke buku tulis dengan rapi, seperti orang mencatat rumus menjelang ujian.
.
Aristo: yan 21.40
Aristo: kalo mau kelihatan effort tp g lebay, gw hrs bawa apa 21.40
.
Rayan: bawa diri lo aja 21.41
.
Aristo: serius 21.41
.
Rayan: beli yg warnanya bagus 21.42
Rayan: apa aja. yg penting warnanya mencolok 21.42
Rayan: biar keliatan niat pas dipajang di meja 21.42
.
Aristo menatap layarnya.
Warna mencolok.
.
Aristo: contohnya 21.43
.
Rayan: mana gw tau 21.43
Rayan: sirup kek 21.43
.
Dan begitulah, tanpa pertimbangan lebih jauh, tanpa membaca ulang resepnya, dan tanpa sedikit pun mempertanyakan apakah sirup rasberi memang cocok dipasangkan dengan tortilla isi ayam, Aristo menuliskan satu baris tambahan di bawah daftar belanjanya.
Sirup rasberi.
—————————————————————
Baru setelah semua daftar itu selesai ditulis, Aristo teringat bahwa ia belum membalas pesan yang tadi siang ia perlihatkan kepada Rayan.
Pemuda itu membuka ruang obrolannya kembali.
Dua pesan terakhir masih menggantung di sana sejak siang tadi, belum dibalas.
.
Kurnia: Gmn kalo hari minggu aja?
Kurnia: G ush pura2 gtau lu
.
Aristo mengetik.
.
Aristo: kur 19.24
.
Kurnia: Lama bgt balesnya 19.24
.
Aristo: sori, td gw di jalan 19.24
Aristo: btw 19.24
Aristo: ini yg keempat kali lo geser 19.25
.
Tidak ada balasan selama satu menit.
.
Kurnia: Ya kan gue yg nentuin jadwal 19.25
.
Aristo: iya 19.25
Aristo: dan lo udah nentuin sabtu 19.25
Aristo: dua kali 19.26
.
Kurnia: .... 19.26
.
Aristo memandangi titik-titik itu sambil tersenyum kecil. Ia bisa membayangkan wajah anak itu sekarang, mendengus, membuang muka, mengetik lalu menghapus lagi.
.
Aristo: sabtu keluarga lo pergi kan 19.27
.
Balasannya datang jauh lebih cepat dari yang sebelumnya.
.
Kurnia: LO TAU DARI MANA 19.27
.
Aristo: ibu lo yg cerita kemarin 19.27
Aristo: katanya sabtu pd ke kolam renang 19.28
Aristo: seharian 19.28
.
Kurnia: .... 19.28
Kurnia: Ibu gue emang bocor 19.28
.
Aristo: jd gimana 19.29
.
Kali ini jedanya lama sekali. Hampir empat menit.
Aristo tidak beranjak dari layarnya sedikit pun.
.
Kurnia: Ya udah sabtu 19.33
Kurnia: Tapi pagi 19.33
Kurnia: Jgn siang2 19.33
.
Aristo: kenapa hrs pagi 19.33
.
Kurnia: Biar cepet kelar 19.34
.
Aristo tertawa pelan sendirian di kamarnya.
Bohong. Jelas bohong.
Kalau anak itu benar-benar ingin cepat selesai, ia tidak akan menggeser jadwal empat kali dalam satu minggu.
.
Aristo: ok 19.35
Aristo: gw dtg jam 8 19.35
.
Kurnia: Jgn bawa bunga 19.35
.
Aristo: iya 19.35
.
Kurnia: Jgn bawa balon 19.35
.
Aristo: iya, kurnia 19.36
.
Kurnia: Sama satu lagi 19.36
.
Aristo: apa 19.36
.
Kurnia: Bawa stick gue 19.36
.
Aristo menatap pesan terakhir itu, lalu menjatuhkan diri ke kasurnya sambil menutup wajahnya dengan satu tangan.
Bocah itu benar-benar akan menagih stick PS-nya bahkan di tengah kencan pertamanya.
"Ya Tuhan," gumam Aristo pada langit-langit kamarnya. "Kenapa harus dia sih."
—————————————————————
Sebelum tidur, Aristo membuka laci meja belajarnya.
Di dalam sana, di antara kabel-kabel charger yang entah milik siapa, tergeletak sebuah stick PlayStation hitam.
Aristo mengeluarkannya.
Benda itu sudah tidak baru. Karet di salah satu tombolnya sedikit terkelupas. Ada bekas stiker yang sudah lama dicopot di bagian belakangnya, meninggalkan jejak lem yang menghitam.
Pemuda itu mengambil tisu, membasahinya sedikit, lalu membersihkan bekas lem itu perlahan-lahan sampai hilang.
Setelah selesai, ia meletakkan stick itu di atas meja belajarnya dan menatapnya cukup lama.
.
Besok benda ini kembali ke pemiliknya.
Dan begitu benda ini kembali, tidak ada lagi alasan bagi anak itu untuk datang ke rumah ini.
Tidak ada lagi dompet yang bisa pura-pura ketinggalan. Tidak ada lagi barang yang ditahan. Tidak ada lagi hutang yang harus ditagih.
Yang tersisa cuma satu hari.
.
Aristo mematikan lampu meja dan berbaring.
Ia sempat berpikir untuk tidak membawa stick itu besok. Menundanya lagi seminggu. Mengarang alasan bahwa kabelnya rusak, atau bahwa ia lupa lagi—toh Kurnia sudah tahu betul bahwa ia pelupa yang sangat konsisten.
Pemuda itu menatap gelap-gelap langit-langit kamarnya cukup lama.
Lalu ia bangkit, meraih stick itu, dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Kalau memang cuma dapat satu hari, batinnya, gue nggak mau satu hari itu dimulai dengan curang.
Pemuda itu tetap tersenyum sampai tertidur.