Aristo mengernyit ketika melihat Kurnia mengeluarkan kunci rumah dari sakunya untuk membuka pintu depan.
"Tadi lo ngunci rumah? Memangnya nggak ada orang ya?"
Kurnia hanya menggumam mengiakan. Mereka kemudian masuk membawa plastik belanjaan dan meletakkannya di konter dapur.
"Seriusan? Dari tadi pagi gue datang lo udah sendiri di rumah?"
"Iyaa," sahut bocah itu malas. "Mereka pergi ke kolam renang sejak pagi tadi. Terus katanya bokap gue mau lanjut lihat pameran entah di mana, gue lupa. Dan pasti mereka bakal makan siang di luar." Kurnia menyayat bungkusan nugget dengan sedikit misuh-misuh. "Benar-benar weekend list. Andai aja gue nggak kejebak sama janji taruhan itu, huh."
"Lo kan bisa undur harinya. Kan lo yang tentukan jadwal."
"Sebenarnya ... gue memang ngincar waktu rumah kosong kok."
Aristo yang sedang mengeluarkan belanjaan dari plastik langsung menghentikan tangannya.
"Hah?"
"Nggak apa-apa."
"Barusan lo bilang apa?"
"NGGAK APA-APA."
"Lo bilang lo ngincar waktu rumah kosong."
"Gue bilang gue ngincar waktu rumah kosong biar nggak ada yang ganggu waktu masak," sahut Kurnia cepat, dengan nada orang yang sudah menyiapkan kalimat itu di kepalanya sejak semalam. "Dapur ini sempit. Kalau ada Diandra di sini, bisa perang dunia."
"Oh."
"Iya, oh."
Aristo mengangguk-angguk sambil kembali mengeluarkan belanjaan.
"Padahal gue kira lo malu ketahuan," gumamnya.
Sebuah bungkusan tortilla melayang ke arah kepalanya.
—————————————————————
Rencana Aristo, kalau ditulis di kertas, sebenarnya sangat masuk akal.
Satu: datang jam delapan.
Dua: ajak belanja ke supermarket dekat rumah, supaya suasananya biasa saja dan Kurnia tidak sempat merasa canggung.
Tiga: masak bersama.
Empat: makan bersama.
Lima: kembalikan stick.
Enam—
Aristo belum pernah benar-benar menyelesaikan poin enam. Setiap kali ia mencoba memikirkannya semalam, otaknya langsung berhenti bekerja.
Sejauh ini, poin satu sampai dua berjalan lancar.
Poin tiga adalah tempat semuanya mulai runtuh.
—————————————————————
Satu setengah jam sebelumnya, di supermarket dekat perumahan.
"Lo bawa daftar?"
"Bawa."
"Mana?"
Aristo mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. Kertas itu sudah dilipat empat dan tulisannya rapi, ditulis dengan pulpen, lengkap dengan garis bawah pada beberapa bagian.
Kurnia membacanya.
Lalu mengangkat wajahnya.
"Lo nyalin resep pakai tangan?"
"Iya."
"Kenapa nggak di-screenshot aja?"
Aristo mengambil kembali kertasnya.
"Nggak apa-apa."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Aristo."
"Gue lagi ngirit kuota."
Bohong. Jelas bohong. Kurnia bisa melihat itu dari cara pemuda itu buru-buru memasukkan kertasnya kembali ke saku.
Kenyataannya, Aristo menulis ulang daftar itu dengan tangan pukul sebelas malam, dua kali, karena yang pertama tulisannya berantakan.
—————————————————————
Supermarket pagi hari itu isinya ibu-ibu.
Ibu-ibu yang mendorong troli sambil menelepon. Ibu-ibu yang berdiri sepuluh menit di depan rak minyak goreng. Ibu-ibu yang menoleh dan tersenyum melihat dua anak laki-laki berdiri kebingungan di depan rak bumbu.
"Paprika itu yang mana ya?"
"Yang warna-warni itu."
"Yang mana?"
"YANG WARNA-WARNI, ARISTO."
"Ini semua warna-warni, Kur."
"YANG BENTUKNYA KOTAK."
"Nggak ada yang kotak, semuanya bulat."
Seorang ibu di sebelah mereka akhirnya mengulurkan tangan, mengambil satu paprika merah dari tumpukan, dan menyerahkannya kepada Aristo.
"Ini, Dek."
"Oh. Makasih, Bu."
"Sama-sama. Masak berdua ya?"
"Iya, Bu."
"Wah, bagus. Anak Ibu boro-boro. Disuruh ngangkat piring aja ngeluh."
Ibu itu berlalu sambil tertawa.
Kurnia berdiri di sebelah troli dengan telinga yang, entah kenapa, kembali terasa hangat.
—————————————————————
Di kasir, Kurnia mengeluarkan dompetnya.
Aristo langsung menahan tangannya.
"Nggak usah."
"Ini di rumah gue, bahan-bahannya kepakai di rumah gue."
"Nggak usah, Kur."
"Berapa sih?"
"Kur."
"BERAPA."
Aristo tetap menyerahkan uangnya kepada kasir tanpa menjawab, dan Kurnia terpaksa berdiri di sebelahnya sambil melipat tangan dengan wajah kesal sepanjang proses pembayaran.
Baru di parkiran anak itu bicara lagi.
"Gue ganti nanti."
"Nggak usah."
"Gue transfer."
"Nggak usah."
"Ris—"
Aristo berhenti berjalan dan menoleh.
"Kur, ini kencan."
Kurnia langsung membeku.
"...Lo nggak usah ngomong gitu keras-keras di parkiran."
"Ini parkiran kosong."
"TETEP AJA."
Aristo tertawa dan melanjutkan langkahnya sambil menenteng dua kantong plastik di satu tangan.
Kurnia berjalan di belakangnya, beberapa langkah tertinggal, sambil menatap punggung pemuda itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia lupa untuk merasa risih.
—————————————————————
"Ini apaan?"
Kurnia mengangkat sebotol cairan merah pekat dari atas konter dan menyipitkan mata membaca labelnya.
"Sirup," jawab Aristo.
"Ya gue tahu ini sirup. Ini buat apa?"
"Buat sausnya."
Kurnia menoleh perlahan.
"Saus tortilla ayam ... pakai sirup rasberi?"
"Iya."
"Lo yakin?"
"Yakin."
"Lo baca resep?"
"Baca."
"Di resepnya ada tulisan sirup rasberi?"
Ada jeda satu detik yang terlalu panjang.
"...Ada versinya," jawab Aristo.
Kurnia meletakkan botol itu kembali dengan pelan, seperti orang yang baru saja menemukan barang bukti di tempat kejadian perkara.
"Lo nggak bisa masak ya."
"Bisa."
"Aristo."
"Gue bisa masak mi instan."
"ITU BUKAN MASAK."
"Itu masak. Ada apinya."
Kurnia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengerang panjang ke arah lantai dapur.
—————————————————————
Pada akhirnya pembagian tugasnya menjadi seperti ini: Kurnia mengerjakan semuanya, dan Aristo diberi izin untuk memegang benda-benda yang tidak berbahaya.
"Lo potong bawang."
"Oke."
"Yang tipis."
"Oke."
Tiga puluh detik kemudian.
"ITU BUKAN TIPIS."
"Ini tipis!"
"ITU SEPEREMPAT BAWANG UTUH, ARISTO."
"Ya kan masih kepotong."
Kurnia merebut pisau dari tangan pemuda itu dengan wajah seorang guru yang sudah menyerah pada muridnya.
"Lo duduk aja sana."
"Gue mau bantu."
"Bantuan lo nambah kerjaan."
"Kur."
"DUDUK."
Aristo duduk di kursi konter sambil tertawa, dan selama sepuluh menit berikutnya pemuda itu tidak melakukan apa pun selain memperhatikan.
Memperhatikan bagaimana anak itu memegang pisau dengan benar—jelas sudah sering disuruh membantu di dapur. Memperhatikan bagaimana ia menyingkirkan rambutnya dari dahi dengan punggung tangan karena tangannya kotor. Memperhatikan bagaimana ia menggerutu pelan pada bawang yang membuat matanya berair, lalu menyalahkan Aristo untuk itu juga.
"Kenapa lo ngeliatin gue terus?"
"Nggak apa-apa."
"Aneh lo."
"Iya."
—————————————————————
Kekacauan pertama terjadi pada menit ke dua puluh tiga.
Aristo, yang akhirnya diberi tugas menjaga wajan, terlalu asyik membaca ulang resep di ponselnya, dan baru menyadari ada yang salah ketika dapur mulai berbau seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam makanan.
"ARISTO."
"HAH?"
"ITU GOSONG."
"MANA?"
"YANG DI DEPAN MUKA LO."
Kurnia melompat dari kursinya, mendorong Aristo ke samping, dan mematikan kompor.
Asap tipis mengepul dari wajan.
Keduanya menatap isinya dalam diam.
"...Masih bisa dimakan," ujar Aristo.
"Itu warnanya item."
"Item itu karamelisasi."
"ITU ARANG."
Detektor asap di langit-langit dapur berbunyi nyaring.
Selama empat puluh detik berikutnya, dapur rumah itu berisi dua remaja laki-laki yang berlarian mencari kursi, mengibas-ngibaskan lap ke langit-langit, dan saling berteriak tentang siapa yang harusnya menjaga wajan.
Ketika suara itu akhirnya berhenti, keduanya berdiri terengah-engah di tengah dapur.
Lalu Kurnia tertawa.
Bukan tawa mengejek. Bukan tawa sinis. Tawa yang benar-benar tawa, sampai anak itu harus memegangi konter supaya tidak jatuh.
Aristo berdiri di sana, dengan lap masih di tangan, dan lupa cara bergerak selama beberapa detik penuh.
—————————————————————
Kekacauan kedua terjadi ketika Kurnia menuangkan sirup rasberi itu ke dalam mangkuk kecil untuk membuktikan betapa bodohnya ide itu.
Ia menuangkannya terlalu banyak.
Sirup itu meluber ke konter, mengalir ke tepi, lalu menetes ke lantai dan mengenai kaos putih Kurnia dalam perjalanannya.
"S**T."
"HAHAHAHA."
"JANGAN KETAWA."
"Lo kayak korban pembunuhan."
"ARISTO."
Aristo mengambil tisu dapur dan mendekat, lalu mulai mengelap bagian depan kaos anak itu sambil masih tertawa.
Kurnia membeku.
Aristo baru menyadari apa yang sedang ia lakukan sekitar dua detik kemudian.
Tangannya berhenti.
Jarak mereka mungkin kurang dari empat puluh sentimeter, di dapur yang masih berbau gosong, dengan sirup merah di mana-mana, dan tidak ada satu pun dari keduanya yang bergerak.
"...Gue lap sendiri," ujar Kurnia akhirnya, suaranya jauh lebih pelan dari biasanya.
"Oh. Iya. Sori."
Aristo menyerahkan tisunya dan mundur satu langkah.
Kurnia langsung berbalik ke wastafel.
Telinganya merah sampai ke pangkal.
—————————————————————
Makan siang itu terdiri dari: tortilla yang bentuknya tidak beraturan, ayam yang sebagian gosong dan sebagian mentah, nugget yang digoreng belakangan sebagai jaring pengaman, dan semangkuk sirup rasberi yang tidak disentuh sama sekali oleh siapa pun.
Mereka makan di lantai ruang tengah, di depan televisi yang menyala tanpa ditonton.
"Ini jelek banget," ujar Kurnia sambil mengunyah.
"Iya."
"Ini makanan paling jelek yang pernah gue makan."
"Iya."
"Gue makan tiga."
Aristo menoleh.
Kurnia buru-buru menunduk ke piringnya.
"Karena laper," tambahnya cepat. "Bukan karena enak."
"Iya."
"Beneran."
"Iya, Kurnia."
—————————————————————
Setelah piring-piring dicuci—oleh Kurnia, karena Aristo dilarang menyentuh apa pun yang bisa pecah—keduanya duduk di sofa.
Televisi masih menyala. Acaranya sudah berganti dua kali dan tidak ada yang menyadarinya.
"Ris."
"Hm?"
"Jam berapa sekarang?"
Aristo melirik ponselnya.
"Setengah tiga."
"Oh."
Hening.
"...Cepet ya," gumam Kurnia.
"Apanya?"
"Nggak. Nggak apa-apa."
Aristo menoleh ke arah anak itu.
Kurnia sedang duduk memeluk bantal sofa dengan dagu bertumpu di atasnya, menatap televisi tanpa benar-benar melihat apa pun.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, Aristo merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Karena Rayan benar.
Selama enam setengah jam terakhir, tidak sekali pun Kurnia terlihat seperti orang yang sedang menjalani kencan dengan terpaksa. Anak itu tertawa. Anak itu mengomel. Anak itu duduk di lantai dan makan tiga potong makanan gosong tanpa satu kali pun melihat jam.
Rayan benar-benar benar.
Dan justru itu yang membuat Aristo takut.
—————————————————————
Pemuda itu membuka tasnya.
"Kur."
"Hm?"
Aristo mengeluarkan stick PlayStation hitam itu dan meletakkannya di meja, di antara mereka berdua.
Kurnia menatapnya.
Beberapa detik berlalu.
"...Lo bawa."
"Gue bilang gue balikin."
"Gue kira lo bakal ngeles."
"Gue sempat kepikiran," aku Aristo. "Semalam."
"Terus?"
"Terus gue mikir, kalau gue cuma dapet satu hari, gue nggak mau ngedapetinnya dengan cara curang."
Kurnia tidak mengambil stick itu.
Anak itu hanya duduk memandanginya, dengan bantal sofa masih dipeluk di depan dadanya.
"Kur?"
"Iya."
"Ambil."
"Iya."
Tapi tangan anak itu tidak bergerak sama sekali.
—————————————————————
Pukul empat lewat, Aristo bangkit berdiri dan menyandang tasnya.
Kurnia mengantarnya sampai ke pintu depan, seperti yang selalu dilakukan ibunya, tanpa sadar bahwa itu bukan hal yang biasa ia lakukan.
Keduanya berdiri di teras.
"Kur."
"Apa."
Aristo menggaruk tengkuknya. Ini bagian yang sudah ia hafal susunannya sejak semalam, tapi ternyata tetap saja tidak ada satu kata pun yang mau keluar dengan benar.
"Sesuai perjanjian," ujarnya akhirnya.
Kurnia menegang.
"...Iya."
"Satu hari udah selesai."
"Iya."
"Jadi." Aristo menarik napas. "Gue nanya sekali, terus gue nggak akan nanya lagi selamanya."
Kurnia menunduk menatap sandal jepitnya.
"Lo ngerasa sesuatu, nggak?"
.
.
Ada angin sore yang lewat di teras itu. Ada suara motor tetangga yang dipanaskan. Ada anak-anak yang berteriak di ujung gang, entah main apa.
Dan di kepala Kurnia, ada satu tumpukan hal yang muncul bersamaan dalam waktu kurang dari tiga detik.
Kertas bungkus keripik yang dilipat empat di balik kartu pelajar.
Cara pemuda ini meletakkan gelas di atas coaster karena tahu ibunya tidak suka bekas air di meja kayu.
Cara pemuda ini duduk diam sepuluh menit hanya untuk memperhatikan orang memotong bawang.
Tiga bulan. Empat hari. Enam setengah jam.
Dan satu pertanyaan yang jawabannya sudah Kurnia ketahui sejak jauh sebelum hari ini.
.
.
.
Lalu ia teringat sesuatu yang lain.
Sekolahnya. Koridor. Bisik-bisik itu 'kan yang waktu itu nonjok si Aristo. Ibunya di dapur. Bapaknya. Diandra.
Dan wajah dirinya sendiri, umur lima belas tahun, harus menjelaskan sesuatu yang bahkan belum bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri.
.
.
"Nggak," jawab Kurnia.
.
.
Suaranya keluar sangat pelan. Nyaris tidak terdengar.
"Gue nggak ngerasa apa-apa."
.
.
.
Aristo berdiri diam di teras itu selama beberapa detik.
Lalu pemuda itu tersenyum.
Senyum yang biasa. Senyum yang sama seperti senyumnya tiga bulan terakhir, yang membuat Kurnia selalu ingin melemparnya dengan sandal.
"Oke."
"...Oke?"
"Iya. Oke." Aristo memperbaiki letak tasnya di bahu. "Gue pegang omongan gue."
"Ris—"
"Makasih ya buat hari ini, Kur."
Pemuda itu berbalik dan berjalan menuju pagar.
Kurnia berdiri di teras dengan mulut setengah terbuka dan satu kalimat yang tersangkut entah di mana.
Di pagar, Aristo berhenti sebentar.
"Oh iya."
Kurnia mengangkat wajahnya terlalu cepat.
"Apa?"
"Stick lo jangan ketinggalan di meja."
.
.
Lalu pemuda itu pergi.
.
.
Kurnia masih berdiri di teras ketika tangannya, tanpa diperintah, masuk ke saku celananya sendiri.
Di dalam sana ada sesuatu yang sudah ia bawa sejak pagi. Sesuatu yang sudah ia siapkan semalam supaya tidak lupa. Sesuatu yang seharusnya ia serahkan hari ini, karena itu bagian dari kesepakatan mereka.
Dompet kulit hitam.
Kurnia menggenggamnya di dalam saku.
Pagar sudah tertutup. Punggung itu sudah berbelok di ujung gang.
Anak itu membuka mulutnya.
Tidak ada suara yang keluar.
.
.
Kurnia masuk ke rumah dan menutup pintu, dengan dompet itu masih di dalam sakunya.
—————————————————————
Malam itu, Kurnia duduk di depan televisi dengan konsol yang menyala dan stick yang sudah kembali di tangannya.
Layar menampilkan menu utama.
Ia tidak menekan apa pun selama empat puluh menit.
.
.
Ini yang gue mau, batinnya.
Ini persis yang gue mau dari awal.
.
.
Kurnia menekan tombol power, mematikan televisi, dan duduk di ruangan yang mendadak gelap dan sangat, sangat sepi.
.
.
Kacau.
Serius, kacau.
Tak tertolong.