Minggu.
Sembilan Oktober.
2016.
12:15 WIB.
Kurnia sudah tiba di depan pagar hitam rumah Aristo. Ia menahan napas melihat jam digital di ponselnya.
Apa gue kecepatan datang?
Tapi akhirnya ia tidak peduli. Ibu jarinya menggesek kunci layar lalu menuju kontak Aristo di LINE. Niatnya ingin memberitahu Aristo bahwa ia sudah tiba di depan rumah.
____________________________________
Aristo (4) 11.45
mungkin sabtu atau minggu dpn aja
____________________________________
Jari Kurnia berhenti di depan preview kontak itu. Dahinya mengeriting. Ia kemudian menyentuhnya.
Aristo sorry kur, kyknya lo g bs dtg ke rmh nnti 11.43
Aristo gw ada urusan mendadak 11.44
Aristo serius, sorry 11.44
Aristo mungkin sabtu atau minggu dpn aja ya 11.45
Genggaman Kurnia pada ponselnya mengerat.
Empat pesan. Semuanya dikirim dalam rentang dua menit. Semuanya sudah masuk tiga puluh menit sebelum ia sampai di sini.
Dan ia baru membacanya sekarang, sambil berdiri di depan pagar hitam itu, dengan dompet kulit di saku celananya dan kaos yang sudah ia ganti tiga kali pagi tadi.
.
Ya udah, batinnya. Ya udah.
Nggak apa-apa. Orang emang bisa ada urusan mendadak.
.
Kurnia menarik napas, memasukkan ponselnya ke saku, dan hendak berbalik.
Lalu matanya menangkap sesuatu di balik pagar.
.
Sebuah motor.
Terparkir di carport, dengan helm tergantung di spionnya.
.
.
Kurnia berdiri diam.
.
.
Mungkin dianter orang, pikirnya. Mungkin motornya rusak. Mungkin dia pergi naik angkot. Mungkin—
Pintu rumah itu terbuka.
Bukan Aristo yang keluar, melainkan seorang perempuan paruh baya dengan daster dan sapu di tangan. Ibunya, kalau dilihat dari wajahnya.
Perempuan itu menyadari ada anak SMP berdiri di depan pagarnya.
"Eh, Dek. Cari siapa?"
Kurnia membuka mulutnya.
"...Anu, Bu. Nggak. Salah alamat."
"Cari Aristo ya?"
"Nggak, Bu."
"Aristo ada kok di dalam. Sebentar Ibu panggilin—"
"NGGAK USAH, BU."
Suaranya keluar terlalu keras. Perempuan itu terkejut.
Kurnia langsung menunduk.
"Maaf, Bu. Beneran salah alamat. Maaf."
Anak itu berbalik dan berjalan cepat menjauh dari pagar hitam itu, tanpa menoleh sekali pun, dengan telinga yang berdengung dan langkah yang semakin lama semakin cepat sampai akhirnya menjadi setengah berlari.
—————————————————————
Dari balik gorden kamarnya di lantai dua, Aristo melihat seluruhnya.
Ia sudah berdiri di situ sejak pukul dua belas kurang lima, karena ia tahu betul anak itu akan tetap datang. Kurnia bukan tipe yang membaca chat sebelum berangkat.
Ia melihat anak itu berhenti di depan pagar.
Ia melihat anak itu mengeluarkan ponsel, membaca, lalu berdiri diam terlalu lama.
Ia melihat anak itu menoleh ke arah carport.
.
.
Ambil motornya, Ris. Sembunyiin.
.
Terlambat.
.
Lalu ibunya keluar membawa sapu, dan Aristo hampir menjatuhkan gorden dari relnya.
Ia bisa mendengar suara ibunya dari bawah. Ia bisa mendengar suara anak itu yang menyahut terlalu keras. Ia bisa mendengar kata maaf yang diulang dua kali, lalu suara langkah yang semakin cepat, lalu tidak ada apa-apa lagi.
Aristo berdiri di balik gorden itu dengan kedua tangan mencengkeram kain sampai buku jarinya memutih.
.
Turun.
Buka pintu.
Kejar.
Tiga puluh detik dan lo masih bisa nyusul dia di ujung gang.
.
.
Aristo tidak turun.
Pemuda itu berdiri di situ sampai punggung kecil berkaos putih itu hilang di tikungan, lalu duduk di lantai kamarnya dan menyandarkan kepalanya ke dinding.
Ponselnya bergetar sekali. Rayan mengirim meme yang biasanya akan membuatnya tertawa.
Aristo tidak membukanya.
"Bu," panggilnya beberapa menit kemudian, setengah berteriak dari lantai atas.
"Apa?"
"Tadi ada anak SMP ya?"
"Iya. Katanya salah alamat."
Aristo memejamkan matanya.
"Kenapa emang?" tanya ibunya dari bawah.
"Nggak," jawabnya. "Nggak apa-apa, Bu."
—————————————————————
Kurnia berjalan pulang siang itu, di bawah matahari jam dua belas lewat, sejauh dua koma empat kilometer.
Ia bisa saja naik angkot.
Ia tidak naik angkot.
.
Sepanjang jalan, otaknya bekerja seperti mesin yang tidak bisa dimatikan.
Aristo ada di rumah.
Aristo ada di rumah, dan Aristo mengirim pesan bahwa ia ada urusan mendadak, tiga puluh menit sebelum Kurnia sampai.
Artinya bukan mendadak.
Artinya direncanakan.
Artinya pemuda itu duduk di kamarnya, memandangi layar ponselnya, dan memutuskan untuk berbohong.
.
.
Kenapa?
.
Kurnia berhenti di trotoar, di depan sebuah warung yang menjual es kelapa.
Dan jawabannya datang begitu saja, tanpa diundang, dengan kejelasan yang menyakitkan.
.
Karena gue bilang gue nggak ngerasa apa-apa.
Karena kalau dia ketemu gue lagi, dia bakal ngelanggar janjinya sendiri.
Karena dia lebih milih gue mikir dia orang yang nggak nepatin janji, daripada gue mikir dia orang yang nggak nepatin omongan.
.
.
Kurnia berdiri di trotoar itu selama entah berapa lama.
Lalu ia mengeluarkan dompet hitam dari sakunya, menatapnya, dan memasukkannya kembali.
—————————————————————
Itu hari Minggu.
Sekarang hari Kamis.
Empat hari berlalu, dan dompet itu masih ada di laci meja belajar Kurnia.
.
Ada satu hal yang Kurnia sadari selama empat hari itu, dan hal itu jauh lebih memalukan daripada semua yang sudah terjadi sebelumnya.
Yaitu bahwa ia hafal.
.
Kurnia hafal bahwa Aristo selalu memakai jam tangan di tangan kanan, bukan kiri, karena—katanya waktu itu—"biar keliatan beda dikit."
Kurnia hafal bahwa kalau Aristo tertawa benar-benar lepas, kepalanya menengadah dan tangannya menepuk apa pun yang ada di dekatnya, biasanya meja, kadang bahu orang, sekali pernah kepala Kurnia sendiri.
Kurnia hafal bahwa pemuda itu tidak pernah minum langsung dari gelas orang lain walaupun sedang haus setengah mati, tapi tidak keberatan sama sekali kalau gelasnya diminum orang.
Kurnia hafal bahwa Aristo meletakkan gelas di atas coaster.
Kurnia hafal bahwa kalau Aristo berbohong, ia menjawab terlalu cepat.
Kurnia hafal bahwa pemuda itu menyimpan sobekan bungkus keripik berumur tiga bulan di balik kartu pelajarnya, dan bahwa lipatannya sudah memutih karena terlalu sering dibuka.
.
.
Dan Kurnia tidak pernah, sekali pun, sengaja menghafal satu pun dari semua itu.
.
.
Itu bagian terburuknya.
—————————————————————
"Kur, lo dipanggil Bu Ratna."
"Hah?"
"Dari tadi. Tiga kali."
Kurnia mengangkat wajahnya dari buku yang sejak dua puluh menit lalu terbuka di halaman yang sama.
Seluruh kelas sedang menatapnya.
"Kurnia," ujar guru di depan kelas dengan sabar yang jelas sudah menipis. "Sejak awal jam pelajaran, kamu ke mana?"
"Di sini, Bu."
"Badannya iya."
Kelas tertawa.
Kurnia menunduk dan pura-pura mencatat sesuatu di bukunya.
Yang ia tulis, ketika ia melihatnya lagi lima menit kemudian, ternyata bukan catatan pelajaran sama sekali.
Itu satu kata, ditulis kecil-kecil di pojok halaman, lalu dicoret, lalu ditulis lagi.
.
.
Aristo.
.
.
Kurnia merobek halaman itu, meremasnya, dan memasukkannya ke saku celana karena tidak ada tempat sampah di dekat bangkunya.
Nanti sore, ketika ia mengeluarkan isi sakunya sebelum mandi, ia akan menemukan remasan kertas itu lagi.
Dan ia tidak akan membuangnya juga.
—————————————————————
Sore itu Kesha menahan langkah sahabatnya di depan gerbang.
"Kur."
"Apa."
"Gue mau ngomong satu hal, terus gue nggak akan bahas lagi selamanya."
Kurnia menoleh.
Kesha jarang sekali bicara dengan nada seperti ini.
"Ngomong."
Gadis itu menarik napas.
"Lo inget nggak, dulu gue pernah cerita kenapa gue nggak pernah ikut lomba puisi lagi?"
Kurnia mengerutkan kening. "Karena lo kalah?"
"Bukan. Karena gue takut kalah."
"Sama aja."
"Beda jauh, Kur." Kesha menatapnya. "Kalau gue ikut terus kalah, gue cuma kalah. Tapi kalau gue nggak ikut, gue nggak perlu tahu gue sebenernya bisa apa nggak. Dan itu lebih nyaman."
Kurnia terdiam.
"Gue nyaman selama tiga tahun, Kur. Dan sekarang gue nyesel," lanjut Kesha. "Bukan karena gue nggak jadi juara. Tapi karena gue nggak pernah tahu."
Gadis itu memperbaiki letak tasnya.
"Udah, gitu aja. Gue duluan ya."
"Kesh."
"Hm?"
Kurnia berdiri di depan gerbang dengan tangan menggenggam tali tasnya.
"...Lo tahu ya?"
Kesha tersenyum.
"Kur, gue duduk sebelah lo tiga tahun."
Lalu gadis itu pergi.
—————————————————————
Malam itu Kurnia duduk di lantai kamarnya, bersandar ke sisi tempat tidur, dengan laci meja belajar yang sudah terbuka dan dompet hitam itu di tangannya.
Ia membukanya.
Ia mengeluarkan sobekan bungkus keripik itu, membuka lipatannya, dan menatap nomor teleponnya sendiri yang ditulis dengan tangannya sendiri tiga bulan lalu.
.
.
Simpen di hape, terus buang.
Iya iya.
.
.
Kurnia menutup matanya.
.
Ada satu hal yang sudah ia pikirkan berulang-ulang sejak hari Minggu, dan yang setiap kali ia dorong menjauh karena terlalu menakutkan untuk dilihat langsung.
Yaitu bahwa pemuda itu tidak pernah sekali pun memaksanya.
Tiga bulan mengganggu, iya. Tiga bulan berisik, iya. Tiga bulan membuat hidup Kurnia berantakan, jelas.
Tapi tidak pernah sekali pun memaksa.
Waktu Kurnia bilang jangan di sekolah, pemuda itu berhenti di sekolah.
Waktu Kurnia bilang jangan bawa bunga, pemuda itu tidak membawa bunga.
Waktu Kurnia bilang berhenti, pemuda itu berhenti.
Bahkan waktu Kurnia berbohong, pemuda itu tetap mempercayai kebohongan itu, dan memilih menanggung sendiri akibatnya.
.
.
Dan Kurnia, yang selama tiga bulan ini menyebut pemuda itu pemuda gila, pemuda gesrek, dan segala macam sebutan lain yang bahkan tidak pantas ditulis—
—akhirnya harus mengakui satu hal.
.
.
Dari mereka berdua, yang pengecut bukan Aristo.
.
.
.
Kurnia membuka matanya.
Ia melipat kembali sobekan kertas itu, memasukkannya ke tempat semula, dan menggenggam dompet itu erat-erat di tangannya.
Lalu ia melirik jam dinding kamarnya.
Sembilan lewat empat puluh.
Hari Kamis.
.
.
Sabtu masih lusa.
Minggu masih tiga hari lagi.
.
.
Kurnia berdiri.