Kurnia tidak bisa menunggu sampai hari Sabtu. Apalagi hari Minggu.
Bocah itu sudah lelah berpura-pura tidak sadar.
Ini terasa salah, tapi—tsk.
Persetan, persetan.
Kurnia tidak tahu kalau sedari tadi Kesha menperhatikan tingkahnya yang meremas-remas jemari sendiri.
"Kur, lo ingin bilang sesuatu?"
Kurnia mengangkat wajahnya untuk menatap Kesha sejenak. Terdiam.
Lihat 'kan. Gadis itu bahkan bisa tahu isi pikirannya hanya dengan melihat tingkahnya. Jadi kenapa Kurnia tidak fokus untuk menyukai gadis ini saja?
Kesha manis, bijak, tidak suka andil dalam keributan, kalem, adem, dan tidak suka menuntut. Tipikal idaman, jelas.
Jadi, kenapa gue nggak waras, sih? sungut Kurnia dalam hati.
Ini tidak benar.
Kurnia menghembuskan napas. Ia mengangguk kecil. Ya, ia ingin bilang sesuatu.
Ia ingin bilang banyak sekali hal, sebenarnya.
"Kesh."
"Iya?"
Kurnia membuka mulutnya.
.
.
.
"...Sambel lo abis nggak?"
Kesha menatapnya selama tiga detik penuh.
Lalu gadis itu mendorong wadah sambal ke arah sahabatnya tanpa berkata apa-apa, dengan ekspresi orang yang sudah sangat, sangat lelah.
"Makasih."
"Sama-sama, Kur."
"Kesh."
"Apa lagi."
"...Kalau gue bolos jam terakhir, lo mau bilangin ke Bu Ratna nggak?"
Kesha mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak seminggu terakhir, ada sesuatu di wajah sahabatnya yang bukan kebingungan.
"Bilangin apa?"
"Apa kek. Sakit perut."
"Kur, lo baru aja minta sambel."
"YA MAKANYA SAKIT PERUT."
Kesha tertawa.
Lalu gadis itu mengangguk.
"Iya, gue bilangin."
"Makasih."
"Kur."
Kurnia sudah setengah berdiri.
"Apa?"
Kesha menopang dagunya dengan satu tangan.
"Kalau nanti hasilnya jelek, lo tetep boleh cerita ke gue."
Kurnia berdiri terpaku sesaat.
Lalu ia menyambar tasnya.
"Berisik," gumamnya.
Dan anak itu berjalan cepat keluar kantin, dengan telinga yang merah sampai ke ujung.
—————————————————————
Perjalanan dari sekolah ke rumah Aristo memakan waktu tiga puluh menit dengan angkot dan satu kali jalan kaki.
Kurnia menghitung setiap menitnya.
Di dalam angkot, tangannya tidak berhenti meremas tali tas. Di dalam tasnya ada dompet kulit hitam, sebuah stick PlayStation, dan buku tulis yang halaman pojoknya sudah robek.
Ia sempat berpikir untuk turun tiga kali.
Ia tidak turun.
.
Pagar hitam itu terlihat dari jarak tiga puluh meter.
Kurnia berhenti di seberang jalan.
Motor itu ada di carport. Sama seperti hari Minggu.
.
Kalau gue balik sekarang, nggak ada yang tahu.
Nggak ada yang tahu gue pernah sampai sini.
.
.
Kurnia menyeberang.
—————————————————————
Ketukan pertama tidak dijawab.
Ketukan kedua juga tidak.
Baru di ketukan ketiga—yang jauh lebih keras dari yang Kurnia rencanakan, karena tangannya sudah tidak sepenuhnya ia kendalikan—pintu itu terbuka.
Dan di sana, dengan kaos oblong dan rambut yang jelas belum disisir sejak bangun tidur, berdiri Aristo.
Pemuda itu membeku.
"...Kur?"
Kurnia langsung mengeluarkan dompet dari tasnya dan menyodorkannya ke depan dengan kedua tangan, seperti orang yang sedang menyerahkan surat penting kepada pejabat.
"NIH."
"Hah?"
"DOMPET LO."
Aristo menatap benda hitam itu.
"...Oh."
"Iya, oh."
"Gue kira udah ilang."
"LO NGGAK NYARI SAMA SEKALI?"
"Nggak."
"KENAPA?"
Aristo menggaruk tengkuknya, dan untuk pertama kalinya sejak Kurnia mengenalnya, pemuda itu terlihat benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
"Karena nyariin dompet artinya gue harus ke rumah lo," jawabnya akhirnya.
Kurnia menurunkan tangannya.
Hening.
Angin sore lewat di antara mereka. Dari dalam rumah terdengar suara televisi.
"Ambil," ujar Kurnia.
Aristo mengambilnya.
"Makasih ya."
"Iya."
.
.
Dan kemudian tidak ada apa-apa lagi yang bisa dikatakan.
Transaksi selesai. Barang sudah kembali ke pemiliknya. Tidak ada lagi hutang, tidak ada lagi sandera, tidak ada lagi satu pun alasan yang tersisa di dunia ini bagi seorang anak SMP untuk berdiri di depan pintu rumah anak SMA pada jam dua siang di hari Jumat.
"Ya udah," ujar Aristo pelan. "Hati-hati di jalan."
Pemuda itu mundur setengah langkah dan mulai menutup pintu.
.
.
.
"ARISTO."
Pintu berhenti.
Kurnia berdiri di teras itu dengan kedua tangan mengepal di samping badannya, menatap lantai, dengan seluruh isi kepalanya kosong kecuali satu kalimat yang sudah ia susun ulang tiga puluh menit di dalam angkot dan yang sekarang, tentu saja, hilang seluruhnya.
"...Lo punya FIFA nggak?"
.
.
Aristo mengerjap.
"Hah?"
"FIFA. Gue nanya lo punya apa nggak."
"...Punya."
"Ya udah."
"Ya udah apa?"
Kurnia akhirnya mengangkat wajahnya. Merah dari pipi sampai telinga, dengan rahang yang dikatupkan seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.
"YA UDAH GUE MAU MAIN."
—————————————————————
Kamar Aristo berantakan.
Kurnia sempat mengomentari itu selama empat menit penuh sambil berdiri di ambang pintu, sebelum akhirnya duduk di lantai dan mulai menyambungkan stick yang ia bawa sendiri dari rumah ke konsol milik pemuda itu.
"Lo bawa stick sendiri?"
"Punya lo jelek."
"Lo bahkan belum lihat punya gue."
"Gue tahu aja."
Aristo tertawa dan duduk di sebelahnya, dengan jarak yang sangat sopan, sekitar satu meter.
Kurnia meliriknya.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, menggeser dirinya sendiri sekitar dua puluh sentimeter lebih dekat, seolah hanya sedang mencari posisi duduk yang lebih nyaman.
Aristo tidak berkomentar.
Tapi pemuda itu tersenyum ke arah televisi selama hampir satu menit penuh tanpa alasan yang jelas.
—————————————————————
Skor babak pertama: 2-0.
Kurnia yang unggul.
"Lo nggak niat main ya."
"Niat kok."
"Kiper lo diem aja."
"Gue lagi mikirin sesuatu."
"MIKIRIN APA."
"Nggak."
Kurnia menekan tombol pause.
Layar berhenti di tengah lapangan.
Keduanya duduk di lantai dengan stick di tangan masing-masing, menatap layar yang tidak bergerak.
.
"Ris."
"Hm?"
"Hari Minggu itu."
Aristo menegang.
"...Kenapa?"
"Motor lo ada di rumah."
.
.
Hening.
.
.
"Gue tahu," lanjut Kurnia, masih menatap layar. "Gue liat. Terus ibu lo keluar terus bilang lo ada di dalam."
Aristo menunduk menatap stick di tangannya.
"Maaf."
"Kenapa lo bohong?"
"Karena kalau gue buka pintu hari itu, gue nggak akan bisa nutup lagi."
Kurnia menggenggam sticknya lebih erat.
"Kenapa lo nggak nyusul gue aja sih."
"Karena lo bilang nggak."
"GUE BOHONG."
.
.
.
Suara itu keluar begitu saja, terlalu keras di kamar yang sempit itu, dan langsung diikuti oleh keheningan yang jauh lebih keras lagi.
Kurnia menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan.
Aristo tidak bergerak sama sekali.
.
"...Kur."
"Jangan ngomong dulu."
"Kur—"
"GUE BILANG JANGAN NGOMONG DULU."
Anak itu menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lututnya, dengan telinga yang merah menyala dan bahu yang naik turun terlalu cepat.
"Gue bohong," ulangnya, kali ini pelan sekali. "Di teras waktu itu. Gue bohong."
"Kenapa?"
"KARENA GUE TAKUT, BEGO."
Aristo meletakkan sticknya.
"Takut apa?"
Kurnia menggeleng-geleng dengan wajah masih tertunduk.
"Semuanya. Sekolah. Nyokap gue. Diandra. Muka gue sendiri di kaca." Suaranya bergetar. "Terus gue mikir, kalau gue bilang enggak, semuanya beres. Lo pergi, gue balik normal, hidup gue kayak dulu lagi."
"Terus?"
"TERUS TERNYATA ENGGAK."
Anak itu akhirnya mengangkat wajahnya, dan matanya basah, dan ia jelas sangat marah pada dirinya sendiri karena itu.
"Lo beneran pergi, Ris," ujarnya. "Seminggu. Lo beneran nggak dateng. Lo bahkan nggak noleh di koridor kemarin."
"Gue janji."
"GUE TAHU LO JANJI."
Kurnia mengusap matanya dengan lengan seragamnya, kasar, buru-buru, seperti orang yang malu ketahuan.
"Gue tahu lo janji," ulangnya lebih pelan. "Itu masalahnya."
.
.
Aristo duduk diam di sebelahnya.
Layar televisi masih menampilkan lapangan yang membeku, dengan dua puluh dua pemain yang berdiri di posisi masing-masing, menunggu seseorang menekan tombol.
"Kur."
"Apa."
"Gue nanya sekali lagi ya."
Kurnia menegang.
"...Lo bilang lo cuma nanya sekali seumur hidup."
"Iya. Ini yang terakhir." Aristo menoleh. "Terus abis ini, jawaban lo yang gue pegang. Apa pun."
Kurnia menunduk menatap stick di tangannya.
Karet di salah satu tombolnya sedikit terkelupas. Bekas lem di bagian belakangnya sudah hilang, dibersihkan seseorang, entah kapan.
"...Tanya."
Aristo menarik napas.
"Lo ngerasa sesuatu, nggak?"
.
.
.
Kurnia memejamkan matanya.
Tiga bulan. Empat hari. Enam setengah jam. Satu minggu tanpa suara ketukan di pintu depan.
Satu sobekan bungkus keripik yang dilipat empat dan sudah memutih di lipatannya.
.
.
"Iya," jawabnya.
.
.
Sangat pelan. Nyaris tidak terdengar.
Tapi terdengar.
.
.
.
Kurnia langsung menekan tombol resume sebelum pemuda itu sempat mengatakan apa pun, dan berteriak "AWAS BOLA" dengan suara yang jauh lebih keras dari yang diperlukan.
Aristo tertawa—tawa yang menengadah, yang tangannya menepuk lantai, yang sudah tidak ia keluarkan selama satu minggu penuh.
Dan gol yang masuk tiga puluh detik kemudian tidak dirayakan oleh siapa pun, karena keduanya sedang sibuk pura-pura fokus pada layar sambil menahan senyum masing-masing.
.
.
Skor akhir: 4-1.
Kurnia menang telak.
Aristo, kalau ditanya, akan bersikeras bahwa ia sama sekali tidak mengalah.
.
.
Dia berbohong, tentu saja.
—————————————————————
Pukul lima lewat, Aristo mengantar anak itu sampai ke depan pagar.
"Gue anter pulang aja."
"Nggak usah."
"Kur, ini udah sore."
"Gue naik angkot."
"Kur."
"Nanti kalau lo anter, nyokap gue liat, terus nanya, terus—"
Kurnia berhenti sendiri.
Aristo tidak memaksa.
"Ya udah," ujar pemuda itu.
Dan justru karena Aristo tidak memaksa, Kurnia jadi merasa jauh lebih tidak enak daripada kalau dipaksa.
Anak itu berdiri di depan pagar hitam itu sambil menendang-nendang kerikil kecil di aspal.
"Ris."
"Hm?"
"Gue ... butuh waktu."
"Iya."
"Gue belum bisa yang gimana-gimana."
"Iya."
"Gue belum bisa cerita ke siapa-siapa."
"Iya, Kur."
Kurnia mengangkat wajahnya.
"Lo nggak nanya kenapa?"
Aristo menyandarkan bahunya ke pagar.
"Nggak perlu," jawabnya. "Gue udah nunggu tiga bulan buat satu kata tadi. Gue bisa nunggu sisanya."
Kurnia menatapnya beberapa detik, lalu buru-buru memalingkan wajah.
"...Nggak usah ngomong kayak sinetron."
"Gue serius."
"BERISIK."
Anak itu berbalik dan berjalan cepat menuju ujung gang, dengan tas di satu bahu dan langkah yang jelas terlalu cepat untuk orang yang sedang santai.
"KUR!" seru Aristo dari pagar.
Kurnia berhenti tapi tidak menoleh.
"APA."
"Besok gue ke rumah lo ya!"
.
.
Tiga detik.
.
.
"...TERSERAH."
Dan anak itu langsung berlari.
—————————————————————
Malam itu ponsel Aristo bergetar.
.
Rayan: gimana 20.14
.
Aristo: gimana apanya 20.14
.
Rayan: muka lo di kelas td sore aneh bgt 20.15
Rayan: lo senyum2 sendiri pas ngambil tas 20.15
.
Aristo menatap layar itu, lalu mengetik.
.
Aristo: yan 20.16
.
Rayan: apa 20.16
.
Aristo: teori komentar youtube lo bener 20.16
.
Rayan: yg mana 20.16
.
Aristo: yg bikin dia lupa itu kencan 20.17
.
Rayan: oh 20.17
Rayan: brarti berhasil? 20.17
.
Aristo menoleh ke arah meja belajarnya.
Di sana, di antara buku-buku, tergeletak sebuah stick PlayStation yang tertinggal—lagi—karena pemiliknya buru-buru pulang tadi sore.
Kali ini bukan Aristo yang meninggalkannya dengan sengaja.
Setidaknya, begitulah yang akan dikatakan Kurnia besok kalau ditanya.
.
Aristo: blm 20.19
Aristo: tp dia bakal balik lagi besok 20.19
.
Rayan: kok tau 20.19
.
Aristo tersenyum pada layar ponselnya.
.
Aristo: ada barang dia ketinggalan di sini 20.20