Rey berdiri didepan sebuah ruangan diujung lorong yang jarang digunakan, menatap plang yang bertuliskan 'Ruang Musik' di bagian atas pintu. Ruangan ini memang jarang digunakan karena letaknya yang juga jauh dari gedung pembelajaran dan juga kabarnya ruangan ini ada penghuninya. Rey juga pernah kok mendengarnya sendiri.
Dulu, waktu masih kelas 10 yang mana sedang dalam MPLS. Rey sempat tersesat saat ingin pulang karena sebelumnya ia berpamitan ke toilet, dan ketika ingin kembali sialnya dia malah lupa melewati jalan yang mana dan berakhir mengelilingi gedung sekolah yang sepi lantaran sudah sore, kebetulan dia melewati sebuah ruangan yang diceritakan oleh kakak kelasnya itu jika ruangan tersebut berpenghuni bahkan si kakak kelasnya juga memperagakannya dengan kedua tangannya seolah membentuk tanda kutip. Tentu saja salahkan seluruh ruangan didaerah gedung sekolah itu terlihat sama, dan kata Raka setelah mendengar ceritanya malah mengatai jika otak kecilnya—Rey tidak suka disebut seperti itu meskipun nilainya pas-pas an— bahwa dirinya yang bodoh karena remaja manis itu mengomel tentang pihak sekolah yang tidak mengecat dengan warna yang berbeda agar lebih mudah diingat.
"Dikira tong sampah warna-warni!" Rey ingat dengan jelas Raka mengucapkan kalimat itu sembari menggeplak kepalanya. Jika dipikir-pikir memang tidak ada sekolah yang seperti demikian, jikapun iya itu pasti hanya taman kanak-kanak. Sudahlah, Rey tidak ingin memikirkannya.
Dan Rey kini tahu siapa pemilik nama Gavin alias Gajah Kavvin itu. Ia lebih suka menyebutnya begitu, tidak peduli komentar teman sebangkunya kenapa ia memanggilnya demikian. Mengatai dirinya terlalu tijel dan receh, itu bahasa gaul yang mudah dimengerti sepertinya.
Awal mula ia mengetahui siapa Gavin itu adalah dengan cara ia mendesak Raka untuk mengetahuinya. Yang berakhir mendapat protesan kembali, mengatainya kuno dan tidak tahu siapa Gajah Kavvin itu. Rey bingung kenapa Raka tidak menjadi komentator di acara audisi saja, dari pada mengomelinya dengan ucapan tidak bergunanya tersebut.
Saat itu juga, Rey membalas bahwa ia itu sudah sangat up to date tentang kabar sekolahnya. Kemudian lagi-lagi Raka protes dan menanyai kenapa dirinya tidak mengetahui siapa itu Gavin padahal Rey mengaku bahwa ia adalah orang ter up to date dari seluruh siswa di sekolah mereka. Well, sepertinya Rey juga harus mengalah saat 2 hari yang lalu karena Rey sangat ingin tahu siapa itu dan bagaimana rupa si Gavin-gavin itu sampai-sampai membeli langganan es kelapanya hingga ludes.
Rey juga tidak mengerti kenapa dia sangat ingin tahu, biasanya Rey tidak terlalu peduli. Tetapi jika ini menyangkut buah yang konon dapat membuat seseorang kerawitan Rey akan turun tangan. Sangat tidak etis memang hanya karena sebuah es kelapa ia semarah ini dan berniat membalas dendam. Sepertinya kata itu perlu dicoret karena balas dendam apa yang memberitahu rencananya saat ini pada musuhnya.
"Oh, lo yang namanya Gavin si Gajah Kavvin ya, lihat aja gue kempesin ban motor lo karena udah nyuri es kelapa gue. Masalah idup lo apa sih?! Makan es kok segentong, gak hamil tuh perut?!"
Cerocos Rey membabi-buta setelah menggebrak pintu ruangan musik dengan keras. Ia tidak peduli tentang mitos yang beredar, yang Rey tahu dari Raka kalau kakak kelasnya yang bernama Gavin itu sering berada diruang musik setiap hari rabu. Rey sebenarnya tidak sudi menyebutnya kakak kelas kepada seorang pencuri Es Kelapanya. Dan untuk soal Raka yang seolah mmengetahui seluruh tentang Gavin adalah karena cowok cabe itu merupakan fansnya, Rey bingung apa yang disukai dari si tukang maling tersebut. Raka memang cowok cabe ngomong-ngomong karena Rey melihat Raka selalu membawa liptint kemana-mana disaku celana sekolahnya diam-diam, saat ia ingin meminta tidak deperbolehkan. Dasar pelit!
Gavin yang tengah memangku gitar menoleh melihat seseorang yang masuk memgangetkannya, bahkan gitarnya yang sudah ia setel dan hampir selesai kembali berantakan karena bagian tuner-nya tersenggol oleh sikunya tidak sengaja. Saat ingin mencaci-maki siapa yang sudah menganggunya, malahan ia yang mendapat cercaan bertubi-tubi.
Dan lengkungan senyum tercipta saat melihat siapa orang itu, amarah yang tadi ingin meluap kembali meredup. Apalagi saat melihat sosok remaja cowok manis yang berkeringat menambah kesan seksi baginya, pikiran kotor liarnya bekerja dengan sangat cepat. Membayangkan desahan dan teriakan remaja yang ia ketahui namanya Rey ini menyebut namanya. Jemari-jemari ramping yang akan mencengkram punggung nya dengan kuat kala miliknya menerob—
"Woy, kok diem?! Mati?"
Gavin mendatarkan wajahnya kembali, sepertinya ia harus ekstra sabar jika ingin menggaet lelaki manis ini.
"Lo siapa?" Gavin harus berakting, jika tidak ingin orang ini bertambah menanyainya dengan suaranya yang menggelegar itu. Ia merasa jika ruangan musik ini sudah seperti ruangan konser, menggema karena suara.
Rey yang dibalik tanya mengerutkan keningnya, sepertinya si Gajah Kavvin itu memang belum belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia bertanya harusnya dijawab bukan malah bertanya balik. Rey sangat yakin jika disekolah dasar si pencuri Es Kelapanya ini hanya menggambar gunung dibelakang bukunya dan tidak menulis materi yang diberikan guru.
Jadi Rey diam saja tidak berniat membalas.
"Lo bisu?"
Seketika pertanyaan kedua Gavin memunculkan segi-segi imaginer di sekitar Rey. Ia tampak sangat tidak terima, apa-apaan itu? Ah, ia tidak bisa mengontrol mulutnya until diam jika orang didepannya ini memancing keributan.
"Ah, bacot! Awas aja gue bocorin tuh ban motor!" ancam Rey kemudian berlalu. Baru beberapa menit berada di dekat kakak kelasnya itu sudah membuatnya emosi, bagaimana jika itu lebih lama. Mungkin Rey bisa membeli bensin didepan sekolah dan membakar sekolah ini. Itu cukup berlebihan dan sangat hiperbola.
Gavin yang melihat punggung Rey menjauh hanya tersenyum. Sepertinya akan sangat menyenangkan untuk beberapa saat kedepan.

Rey sedang berjongkok saat ini, dengan jarum pentul yang tadi Rey minta dari Gladis yang merupakan siswi sekelasnya. Dan ia berencana untuk menggunakan alat ini sekarang. Seringai evil sudah ia tampilkan, lingkungan sekolah sepi. Setidaknya informasi Raka itu berguna kalau si Gajah Kavvin itu sering pulang terlambat di hari rabu. Rey tidak ingin tahu kenapa, penjelasan tersebut sidah membuatnya puas.
Rey melongokkan kepalanya ke kanan-kiri memastikan, dirasa aman ia menjalankan aksinya. Tusukan pertama sangat keras dan tidak berdampak apapun, "please elah, lama banget nanti si Gavin tau," ucapnya agak gugup diselingi keringat yang merembes melewati pelipisnya. Kalimat Raka yang menyatakan bahwa Rey ini otak kecil memang benar sepertinya, apa Rey lupa tadi ia memberitahukan rencananya pada Gavin? Kenapa sekarang takut ketahuan.
Tetap tidak berhasil yang ada jarum itu bengkok, Rey bangkit lalu menendang ban motor berwarna hitam itu dengan kesal "sialan," ujar Rey yang mana ia sekarang terkena batunya sendiri karena kakinya terasa sakit dan berdenyut dibagian ujung.
"Gak orangnya, gak motornya ngeselin!" umpatnya tidak terima.
"Ngapain lo disini?" Gavin baru saja tiba dan berniat pulang malah melihat Rey yang tengah memegangi satu kakinya yang diangkat, bahkan pria manis itu lompat-lompat saat ini. Gavin tebak pasti Rey sedang kesakitan entah karena apa.
"Oh, senam hehe" Rey menjawab dengan cengengesan.
Gavin hanya menggeleng kemudian berjongkok, tangannya terulur memegang permukaan ban motor-nya dan menekan beberapa tempat dan tidak ada yang salah. Kemudian matanya beralih ke bawah, menemukan sebuat benda tipis mengkilat. Gavin terkekeh pelan, lalu mengambil benda itu dan segera berdiri menghadap Rey.
"Lo g****k apa t***l mau kempesin ban pake jarpen?" Gavin bertanya sambil menunjukkan jarum yang ada ditangannya.
"Kok lo tau?" Rey kini bertanya kembali dengan mata memincing, tidak sadarkah Rey tadi mengatai Gavin today belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar jika dirinya pun sebelas-dua belas.
"Ini ada jarum, lo kesakitan kakinya gegara nendang ban gue," ujarnya menjeda sebentar. "Dan lo juga di ruang musik udah bilang, lo bego ya?"
Rey mikir, bener juga. Rey yang lupa, kini ia merutuki dirinya yang pelupa. Tapi kan gak usah ngatain ia bego,g****k, dan t***l. Ketiga kata itu mememiliki huruf yang berbeda namun memiliki makna yang menjurus sama. Sudah dibilang Rey tidak suka dikatai otak kecil dan kini ia dikatai seperti begitu.
"Oh, ya udah gue balik bye!" Rey berlalu lantaran kesal, kalau si Gajah Kavvin itu sudah tau ya sudah besok ia akan menjalankan misi balas dendamnya kembali sampai terbalas.
Namun Gavin gesit dan menahan lengan Rey, "Lo kudu tanggung jawab."
"Buat apa? Kan lo gak hamil."
"Ntar gue hamilin lo."
"Stress gue cowok."
"Ya udah kalo gitu, Ayo ikut gue."
"Gak! Apaansih" Rey menepis tangan Gavin dengan kasar. Dan kemudian berlalu pergi menjauhi Gavin.
"Padahal gue mau ganti rugi." Rey tetap diam dan tak menghiraukan.
"Eskrim kelapa, macaron kelapa, cake taburan kelapa terus apa lagi hm...?"
Sontak perkataan Gavin membuatnya diam dan segera berlari kembali ke arah Gavin. "L-lo serius?" Rey speechless sekarang, seumur-umur belum diperbolehkan memakan semua itu dalam satu waktu. Dan yang pasti ia tidak mengeluarkan budget jadi aman uangnya.
"Ya, lo mau?"
"Mau, ayo." Balas Rey menarik lengan Gavin cepat menuju motornya.
Lagi-lagi Raka memang benar, Rey berotak kecil sampai-sampai di sogok begitu saja dengan mudahnya mau, apalagi itu berbau buah kelapa. Dia tidak akan pernah menolak, dan Raka yakin mungkin jika Rey disogok om-om jahat dengan itu akan mau. Rey kan si maniak kelapa, ia kurang yakin jika Rey akan menolak.
Tbc
Give me vote and big comments guys!