Gavin menatap remaja manis yang sedang duduk didepannya ini. Melihat bagaimana cara pria itu makan dengan lahapnya seakan takut jika makanan itu akan diminta oleh orang lain. Mulutnya menggembung mengunyah cake rasa kelapa kesukaannya, sedangkan tangannya menggenggam gelas berisi es kelapa.
Bahkan didepannya kini beberapa jenis makanan telah ia habiskan, Gavin hanya bingung orang yang makan segitu banyaknya badannya tetap kurus. Apa cowok itu memakai jimat pengurus? Gavin sempat berpikir seperti itu tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, sepertinya itu tidak mungkin.
Rey yang merasa ditatapi oleh Gavin menatap balik remaja yang berjenis kelamin sama dengannya ini dan juga sedikit lebih tinggi darinya dengan tatapan melotot. Gavin seolah dapat merasakan jika tatapan Rey seperti mengatakan "Apa liat-liat?!". Kenapa Gavin bisa tahu? Tentu saja, lihat tatapan tidak santai dan nyolotnya. Seperti mengajak dirinya ribut dan baku hantam saat ini. Gavin dengan senang hati jika itu ribut dalam artian tanda petik. Tidak usah sok polos, kalian semua tahu wahai kaum m***m!
"Udah?" Gavin bertanya saat melihat segala jenis makanan berbau kelapa diatas meja itu habis dan tinggal menyisakan bungkus dan tempatnya.
"Menurut lo?!" Rey membalas bertanya tidak kalah ketus dari tatapan sebelum nya.
Gavin terkejut? Tentu saja, ia mengira Rey adalah remaja yang manis dilihat dari perawakannya dan tingkah bodohnya ingin membalas dendam padanya dengan sebuah jarum pentul. Dan lagi bocah manis itu terlihat sangat gampang diajak hanya dengan diiming-imingi sebuah hal yang berbau kelapa.
Gavin mungkin akan berfikir jika Rey sangat mudah untuk di kelabuhi. Namun, itu bukan urusannya. Ia mendekatinya hanya untuk memastikan dan Gavin cukup tertarik. Tentang rasa dan status? Remaja berperawakan tinggi itu tidak terlalu peduli. Menurutnya itu tidak terlalu penting, kecuali untuk pamer dengan temannya. Tetapi untuk statusnya dengan Rey mungkin akan ia pikirkan seiring berjalannya waktu. Gavin tidak ingin terlalu memusingkan nya sekarang.
"Gue mau balik!" ucapan Rey terdengar memerintah dan sangat bossy, lelaki berperawakan manis itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Ia akan menggunakan hal ini untuk misi balas dendamnya yang gagal.
Diam-diam Rey terkikik saat melihat wajah terkejut remaja pria yang didepannya ini cukup tampan. Ya, Rey akui si Gajah Kavvin memang cukup tampan. Bukan tampan, cukup tampan yang ia masuk berada di antara tengah-tengah tampan dan jelek. Ah tidak-tidak , seharusnya ia tidak boleh berkomenta tentang fisik, itu akan sangat menyinggung orang. Tapi itu pengecualian untuk manusia pencuri Es Kelapanya itu.
Rey sudah berdiri, namun si lawan bicara tetap duduk diam sambil memandanginya. Berdecak malas, lalu kedua tangannya ia lipat didepan d**a.
"Lo mau nganterin gue pulang kagak? Gak tanggung jawab banget!"
Gavin hanya tersenyum merespon, kemudian beranjak dari duduknya dan melewati Rey tanpa kata. Rey yang melihat itu melotot tidak terima, seharusnya ia yang didepan , apa-apaan ini?
Rey mengikuti Gavin dari belakang, membututi remaja tinggi itu seperti anak ayam. Sesekali merengut tidak terima, apa si Gajah Kavvin itu tidak mau mengantarnya? Jadi tadi hanya sebatas balas ganti, setelahnya selesai. Ya, seharusnya juga Rey tidak bertingkah bossy dan sok akrab. Mungkin orang itu muak, Rey mencoba tidak peduli. Lagipula mereka tidak saling mengenal.
Langkah kakinya berhenti kemudian mengambil arah yang berbeda dengan remaja yang sudah berjalan agak jauh didepannya. Tersenyum miris, Rey tidak terbiasa sendiri dan ditinggal. Rasanya aneh saja, itulah mengapa Rey jarang mau pergi keluar. Ia akan lebih suka memesan secara online untuk membeli barang yang dirinya inginkan.
Rey duduk tepat di halte, menunggu angkot lewat. Ia ingin cepat sampai rumah, ingin bergelung dengan kasur empuknya serta bermalas-malasan. Jika bukan karena kelapa sialan itu, Rey tidak akan ikut dengan si pencuri tersebut. Ah, sepertinya ia harus berhenti memanggilnya pencuri. Semuanya sudah selesai dan clear, tidak ada lagi balas dendam. Rey juga tidak akan mengusik kakak kelasnya itu lagi.
Saat sebuah kendaraan mobil biru itu mendekat, Rey berdiri dari duduknya. Melangkah masuk, namun sebuah suara yang ia kenal meneriaki namanya. Alhasil ia tidak jadi menaikinya, Rey hanya berdiri didepan pintu angkutan kota itu.
Mata coklat madunya melihat kearah belakang angkot, disana seorang yang tadi menghabiskan uang untuk membelikan makanan kesukaannya itu melepas helm nya dan berjalan mendekat ke arah Rey.
"Lo ngapain disini? Gue nyariin lo kemana-mana malah disini! Kenapa ga ngikutin gue tadi?"
Gavin memberikan pertanyaan beruntung padanya, apa yang ramaja itu katakan tadi? Kenapa tidak membututinya? Jelas saja Rey tidak mengikuti, Gavin berjalan melewati dan jauh didepannya tanpa mengucapkan kata. Jadi , Rey tidak salah.
"Neng, jadi naik gak?"
Ray menoleh ke supir angkot itu, telinga Rey tidak salah mendengar. Supir itu baru saja memanggilnya dengan sebutan 'neng' yang mana diperuntukkan untuk wanita. Hei, dia ini pria. Apa perlu Rey menunjukkan kejantanannya, ia selalu kesal jika ada saja orang yang mengiranya perempuan. Rey sadar, secara fisik dirinya terlihat menggemaskan, tapi ia tidak suka disebut wanita. Rey itu sangat tampan tahu, remaja manis itu sangat yakin malah lebih dari seribu persen.
Saat hendak mengomel dan protes pada supir angkot tersebut, suara kakak kelasnya itu lebih dahulu menyahuti dan menyela dirinya yang hendak marah-marah.
"Nggak mang, nggak jadi."
"Yeu bocah, ngomong dari tadi. Gue disini kayak penonton bayaran jadinya."
Gavin tersenyum maklum, siapapun pasti akan kesal. Jadi ia hanya balas tersenyum sebagai permintaan maaf.
Rey yang melihat angkot itu melaju menjauhi mereka, kemudian matanya menatap sinis orang didepannya.
"Apa-apaan sih lo, angkotnya kabur! Gue mau pulang pake apa b*****t?!"
Rey ngegas, sudah tidak tahan dia. Manusia didepannya ini sangat membuatnya kesal. Siapa dia bisa bertindak seenaknya?
"Brisik deh, cantik-cantik ngegas mulu. Lo pulang bareng gue , Ayo!" Gavin menarik tangan kanan Rey menuju ke motornya.
"Gue cowok ya, cantik-cantik mata lo! Mau liat burung gue?"
Gavin tersenyum menantang, kemudian tubuhnya yang lebih besar itu maju mengikis jarak diantara keduanya. Bibirnya ia posisikan tepat didepan telinga Rey, dan kemudian berbisik.
"Boleh, jangan disini tapi. Nanti di kamar lo aja." Ucapan Gavin itu membuat Rey merinding.
Rey mendorong tubuh Gavin menjauh, jika diperhatikan posisi mereka ini sangat dekat dan ambigu. Apa yang akan orang pikirkan jika kedua anak laki-laki seumurannya berdiri ditangah jalan dengan jarak yang begitu dekat? Ia tidak ingin diakatai orang c***l. Rey tidak bisa mambayangkan jika wajahnya terpampang di koran serta di artikel berita online.
Rey hanya takut jika ada paparazi,meskipun dia bukan seorang publik figur. Namun, tidak menutup kemungkinan jika dilihat warga di negaranya ini cukup sensitif tentang masalah tersebut.
Rey canggung sungguh, ia hanya diam berdiri di hadapan Gavin. Bingung ingin mengatakan apa, jadi ia berniat memegah suasana canggung ini dengan apapun itu.
"Lo jadi nganterin gue balik kagak?!" Rey berteriak kesal, biarkan saja dengan Gavin. Ia tidak peduli pendapat kakak kelasnya itu.
Sedangkan Gavin hanya bingung kenapa ia bisa salah mengartikan sifat Rey ini. Remaja manis itu sangat pedas dan suka sekali berteriak. Sepertinya ia salah target, tidak-tidak, Gavin tidak salah. Hanya saja ini sudah jalannya.
Gavin tidak menyesal, setidaknya kemungkinan hari-harinya akan berubah dengan kehadiran bocah pedas manis didepannya ini.
TBC
Sorry for late update, sebenarnya udah lama nulis sebagian tapi males buat ngetik lanjutannya. Aku harap nggak ngebosenin. Haha XD Aku nggak begitu jago dalam hal kek gini.