Kala itu aku masih teringat, di kota Jakarta pertengahan bulan September, ditemani oleh hujan dan angin yang menari-nari. Aku duduk santai di depan halte dengan perasaan hati agak jengkel. Jam tanganku menunjukkan waktu pukul 5 sore namun orang yang ditunggu tak kunjung ada. Jalanan pun sudah terasa sepi, ketakutan ini tiba-tiba datang menghantui.
Tak lama dari tatapan lekat pada jam tangan, orang itu datang tanpa senyuman.
“Angga, kamu lama banget, sih?” cetusku pada seorang leleki yang berada di atas motor tua.
“Maaf, motorku mogok lagi,” jawabnya datar.
“Tapi, kan setidaknya kamu bisa w******p aku, atau juga telepon.”
“Iya, maaf. Ayo! Mau pulang, kan?”
"Iya, dong. Sini! mana helmnya?"
"Nih!"
"Pakain, dong! Kamu nggak peka banget, sih!" cetusku dengan nada tinggi.
Tanpa aba-aba pun aku sudah naik ke atas motor Angga, meski dengan raut wajah yang kecut namun hatiku merasa gembira, dia benar bersungguh-sungguh menepati janjinya untuk menjemputku walau agak telat 2 jam.
Sepanjang perjalanan itu, aku banyak bercerita mengenai pengalamanku di hari ini. Hari setelah satu minggu bekerja sebagai seorang Dokter di salasatu rumah sakit yang sejak lama aku mimpikan. Entah kedengaran atau tidak, responnya hanya diam saja, paling juga bisanya mengangguk-angguk sambil bilang 'oh','iya'.
Kalian bertanya-tanya nggak Angga itu siapa? Kalau jawabannya 'iya' aku ceritain, ya.
Putar waktu sekitar 17 tahun yang lalu, saat itu aku masih berusia sangat kecil. Aku yang masih duduk di sekolah dasar dengan sifat yang masih kekanak-kanakan sering merasa jengkel dengan anak-anak seusiaku yang berkelakuan nakal, dan tak jarang aku memarahi mereka bahkan sampai memukuli mereka.
Galak banget, ya?
Itulah aku, dari sikapku yang seperti monster terkadang membuatku jauh dari seorang atau bahkan banyak teman. Mereka menjauhiku karena takut.
Hingga terpaksa aku merengek pada ayah dan ibu untuk ingin berhenti sekolah. Respon mereka sama-sama mengerikan, dan pantas jika keinginanku telah membuat mereka bertengkar.
“Kamu ini nggak bisa mendidik anak, ya?” kata ayahku kepada ibu.
“Lho, kok, jadi aku yang disalahkan? Alisa seperti itu mungkin karena turunan sifat dari kamu,” jawab ibu memberontak.
Aku hanya bisa diam dan menangis, bingung entah harus ikut menyalahkan siapa, dan meminta tolong kepada siapa. Sebab, dikeluarga ini aku hanya anak tunggal, tak ada saudara yang bisa kuajak bercerita. Kini yang ada dipikiranku, hanyalah aku takut terhadap kemarahan mereka berdua.
Keesokan harinya aku benar-benar tidak masuk sekolah, hanya mengurung diri di dalam kamar. Ibu dan ayah mencoba beberapa kali membujukku dengan berbagai cara. Membujuk dengan cara pergi liburan, bermain ke taman, hingga beli es krim ke warung langganan pun telah mereka coba. Namun nihil, semua itu tak membuatku tergoda.
“Ya, sudahlah, Yah, mau bagaimana lagi? Anaknya memang benar-benar nggak mau, kita turuti saja kemauannya dulu!” ucap ibu.
Satu minggu telah berlalu, aku masih menutup diri di dalam rumah, rasanya sangat nyaman tak ada anak-anak yang mengganggu. Namun, ternyata membosankan juga.
Dari balik jendela kamar aku mendengar keramaian tepat di depan rumah, aku sangat penasaran dan langsung melihatnya.
Sepertinya ada orang yang baru pindahan. Kuperhatikan lebih lama, orang asing itu membawa seorang anak laki-laki yang sebelumnya aku tidak tahu siapa namanya. Aku merasa senang karena nantinya aku pasti akan memiliki teman baru.
Makan malam telah tiba, seperti biasa ibu selalu menghidangkan menu istimewa untuk kami santap. Di tengah makan malam itu, aku merasa tertarik dengan cerita ibu.
“Ayah, tau tidak kalau kita sekarang punya tetangga baru? Tetangga kita namanya Nenek Dita, dia pindahan dari Bandung.”
“Wah, bagus, dong, dengan siapa dia pindahan?”
“Dia pindah dengan Cucu semata wayangnya, Yah. Tapi, ada yang aneh, lho, dari Cucunya itu. Ketika disapa banyak orang dia malah terdiam, nggak ada sopan-sopannya. Pokoknya anaknya nggak menyenangkan, deh."
“Syut! Ibu ini kalau bicara hati-hati, jangan kayak gitu,” ucapku.
“Benar kata Alisa, Bu, nggak baik. Mungkin anak itu pemalu," ucap ayah menambahkan.
“Iya, iya, maaf.”
Di keesokan harinya, rasa ingin tahuku mulai muncul, ingin mencoba memastikan apakah yang dikatakan ibu itu benar atau hanya sebatas salah sangka. Ketika masuk ke pintu pagar rumah tetangga baruku, aku melihat anak bocah itu sedang bermain sendiri dengan rubik kecilnya. Kuperhatikan tangannya begitu tapis memainkan rubik, mataku terkagum dengan anak seusianya yang sangat pintar.
“Hai, nama kamu siapa?” tanyaku kepadanya.
Dia tak menjawab sama sekali. Padahal, aku sudah beberapa kali mengulang pertanyaan itu.
Disaat aku tak sengaja menyentuh mainannya, betapa terkagetnya diri ini dikala ia melarangku sambil membentak.
"Jangan sentuh mainanku!" bentaknya.
"Nggak, kok."
Tak sengaja aku reflek dan langsung membentaknya kembali. Rasanya sangat geram, sifat pemarahku hampir saja keluar. Suara kami mungkin terdengar sangat keras hingga nenek dari anak itu tiba-tiba datang menghampiri kami.
“Adik cantik, mau apa kemari?”
“Aku ke sini mau main, Nek,” jawabku dengan nada gemetar.
“Mau main sama Cucu Nenek, ya?" tanya si nenek.
“Iya, Nek, tapi anak ini malah memarahi aku, katanya nggak boleh pegang mainanny." jawabku.
"Oh, begitu. Kalau boleh Nenek tahu, nama Adik siapa?"
"Nama saya Alisa, Nek. Kalau Nenek sendiri, namanya siapa?” jawabku.
“Nama Nenek, Nenek Dita. Kamu panggil Omah saja, ya! Angga juga panggilnya Omah.”
“Iya, Omah,“ seru Alisa, "Jadi, nama Cucu Omah itu Angga, ya?”
“Iya, Nak, namanya Angga. Dia ini Cucu Omah satu-satunya. Maaf, ya! dari tadi kamu panggil tapi dia sama sekali tidak merespon.”
“Iya, Omah, tidak apa-apa. Angga ini orangnya sombong, ya?”
“Tidak, Nak, Angga orangnya tidak sombong, dia ini anak yang baik, Omah bisa menjamin itu. Sebab, dari kecil Angga sudah dirawat oleh Omah.”
“Memangnya, orang tuanya kemana Omah?”
Sepertinya aku salah ucap, lontaran pertanyaan itu seketika membuat omah Dita menjadi terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi sedih, seperti ada luka yang tersembunyi di dalam hatinya.
“Sejak lahir orang tua Angga sudah meninggal dunia, dan mau tidak mau Omahlah yang bersedia merawatnya hingga tumbuh besar seperti ini. Inilah alasan mengapa dia sangat cuek kepada orang lain, dia selalu terbiasa menyendiri, dan sangat jarang berinteraksi dengan orang lain. Jadi, mohon dimengerti, ya!” jelas omah Dita.
Aku yang mendengar cerita itu sangat merasa kasihan dengan keadaan yang di alami Angga, diusianya yang masih sangat kecil ia harus kehilangan kebahagiaan yang semestinya ia dapatkan. Aku juga kagum pada omah Dita yang sangat sabar dan ikhlas merawat Angga dengan baik.
“Kalau begitu, aku mau jadi teman Angga, Omah. Dan berjanji akan selalu menemani dia.”
“Terima kasih, Alisa,” ucap omah lirih.
“Sama-sama, Omah.”
Di hari pertama berkenalan rasanya bingung mau kuajak main apa, kebiasaan diajak main sama anak lain, kini aku harus membiasakan diri mengajak orang bermain.
Rasanya monoton. Telah berjam-jam kudampingi dia, tapi belum ada sedikitpun respon darinya untukku, bermainpun ia malah asik sendiri. Baru kali ini kutemukan anak seperti Angga bisa berada tepat di depan mataku, rasanya seperti mimpi.
Dalam benak hatiku, “Kok, aku bisa tetanggaan sama orang semacan dia, ya?”
Setelah beberapa hari kemudian, sedikit-sedikit aku mulai belajar mengenal Angga, Angga yang awalnya sangat bertingkah dingin kini mulai banyak perubahan, ia mulai banyak bersuara.
Aku sangat terkaget ketika aku tak sengaja melakukan hal konyol, ia langsung tertawa sangat keras, betapa senangnya bisa membuat orang lain bahagia.
Aku langsung bercerita kepada ibu dan ayah, kalau sekarang Angga adalah teman baikku. Kuceritakan semuanya kepada mereka bahwa dia itu anak baik, dan layak untukku jadikan seorang teman.
Dan dari waktu itulah keluarga kami menjadi sangat hangat.