Setelah aku dan Angga sudah mulai akrab, aku meminta pada ibu dan ayah untuk kembali sekolah dengan syarat ‘sekolah bareng Angga’.
"Kok, tumben kamu ingin minta sekolah lagi? Waktu Ibu dan Ayah coba bujuk kamu, kata kamu nggak mau," tanya ibuku.
"Iya, ada apa ini? Jangan-jangan ada sesuatu yang kamu sembunyikan, ya?" tambah ayah.
"Nggak, kok. Siapa juga yang rahasia-rahasiaan? Aku ingin kembali sekolah karena sekarang aku kan punya teman. Jadi, nanti kalau di sekolah aku nggak akan lagi takut sendirian. Begitu, Yah, Bu."
"Oh, kalau begitu, sih, Ayah senang mendengarnya."
"Tapi, apakah kamu yakin si Angga bisa jadi teman yang baik buat kamu? Dia itukan agak aneh, nanti kamu malah di olok-olok sama anak-anak yang lain," ucap ibu kembali bertanya.
"Aku yakin, kok. Dia pasti akan menjadi teman yang baik untuk aku."
Walau sempat diperdebatkan, namun mereka ternyata menyetujui itu. Orang tuaku sangat gembira dan mereka sangat berterima kasih kepada Angga, menganggap karena dialah aku bisa semangat kembali sekolah.
Di hari pertama sekolah, Angga masih sangat terlihat tegang, dia takut dengan lingkungan baru yang tak pernah ia hadapi sebelumnya, biasanya dia hanya ekolah virtual di rumah, belajar sendiri dan juga bermain sendiri. Kini dia tidak akan lagi seperti itu, ia akan berubah menjalankan hari normal seperti anak-anak yang lain.
“Alisa, Omah titip Angga, ya! Dia anak rumahan, belum pernah ia merasakan lingkungan bebas seperti itu.”
Itu adalah pesan pertama yang omah sampaikan kepadaku, dia sangat khawatir terhadap cucunya yang akan mulai melangkah pada lngkungan yang baru.
“Iya, Omah. Pasti akan saya jaga,” ucapku mencoba meyakinkan.
"Terima kasih, ya!"
Luar biasa, Angga ini orang hebat. Baru beberapa minggu di sekolah saja dia sudah meraih berbagai bidang prestasi, seperti Lomba Menulis Puisi, Cerpen, bahkan Melukis pun ia dapat juara. Aku sangat bangga memiliki teman seperti dia.
Namun disetiap kelebihan pasti selalu ada kekurangan, Angga yang berkelakuan cupu menjadi daya tarik anak-anak nakal yang ingin menjailinya. Aku tak terima sahabatku diperlakukan tak baik oleh mereka, hingga terkadang aku sering dipanggil guru BK untuk mempertanggung jawabkan tentang ulahku. Dan terkadang pula orang tuaku harus terkena imbasnya.
“Maaf, Pak, Bu, maksud dari saya telah mengundang Bapak dan Ibu ke sekolah, tiada lain ingin menyampaikan bahwa Alisa telah melakukan kericuhan bersama siswa lain di lingkungan sekolah. Dan ini adalah yang kesekian kalinya Pak, Bu.”
“Maaf, Pak. Kalau boleh kami tahu anak saya telah melakukan kesalahan apa, ya?” tanya ayahku.
Aku hanya bisa berdiam diri di belakang ayah dan ibu yang sedang duduk di atas kursi, hanya bisa pasrah jika akan disalahkan.
“Anak Bapak telah melakukan perkelahian bersama siswa laki-laki, dan menurut saya itu sangatlah tidak pantas seorang anak perempuan berperilaku kasar seperti itu, takutnya terbawa dewasa Pak, Bu. Jadi, saya sarankan jika di rumah tolong berikan bimbingan yang terbaik untuk Alisa,” jelas Pak Bambang, selaku guru BK.
“Ya ampun, Alisa!” rintih ibu.
“Baik, Pak, kami akan lebih tegas membimbing Alisa agar menjadi anak yang lebih baik kedepannya. Dan saya jamin kejadian ini tidak akan terulang kembali. Sekali lagi, maafkan atas perbuatan anak kami yang telah membuat kegaduhan, Pak!” ucap ayah.
Ketika di sekolah ayah dan ibu mungkin masih bisa menahan amarahnya secara tersembunyi. Namun, setelah di rumah ibu dan ayahku seketika berubah seperti singa yang terinjak ekornya.
“Kamu ini anak perempuan, tapi bisa-bisanya berkelahi dengan anak laki-laki, mau jadi apa kamu nantinya, Sa? Mau jadi petinju wanita, heh?” bentak ibu.
“Ayah benar-benar malu punya anak perempuan brutal kayak kamu. Padahal, Ayah ini bukan preman, lho. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu cara berkelahi,” tambah ayah.
“Ini semua pasti gara-gara anak Autis itu, ya?” kata ibu.
“Bukan, Bu. dalam masalah ini Angga tidak salah, yang salah adalah anak-anak itu yang telah mengganggu Angga. Tega banget, kalau aku hanya diam di saat teman dekatku yang tak bisa apa-apa diganggu sama anak-anak nakal seperti mereka. Bukankah kita harus saling tolong-menolong?” tegasku pada ibu dan ayah.
Dari ucapanku itu mereka langsung terdiam tak berkutik. Aku sadar, mungkin aku terlalu agresif terhadap orang-orang yang sengaja menjaili Angga sampai lupa terhadap permasalahan yang akan timbul. Tapi aku juga tak seutuhnya berbuat salah, aku melakuakan hal itu hanya karena ingin menolong.
Dan untuk keesokan harinya aku masih menjalankan hari seperti biasa, pergi sekolah bersama Angga, belajar di sekolah bersamanya, dan pulang pun kami masih tetap bersama-sama.
Namun sepertinya ibuku belum bisa melupakan kejadian kamarin, ia sepertinya mulai tidak menyukai Angga, tatapannya begitu sinis di saat kami sedang bersamaan.
(Di rumah yang sepi)
“Alisa, ibu minta kamu jaga jarak sama Angga, ya!” tegas ibu.
“Lho, kenapa Bu? Kok, tiba-tiba Ibu menyuruhku berbuat seperti itu?”
“Kamu sadar nggak, sih? Anak itu telah membawa pengaruh buruk sama kamu, Ibu itu takut kamu hanya akan jadi alat pelindung buat dia.”
“Tapi, Angga itu benar-benar anak baik, Bu. Aku yakin dia nggak punya niat buruk seperti itu. Aku janji, aku tidak akan melakukan perbuatan serupa seperti hari kemarin.” ucapku mencoba meyakinkan. Namun, ibu tetap terdiam.
“Bu, Alisa mohon! Tolong beri Alisa kesempatan untuk berteman dengan Angga.”
“Baiklah, Ibu pegang janji kamu. Kalau kamu berulah lagi, Ibu tidak akan memberimu ampun!” ancam ibu.
Hatiku merasa lega. namun, aku tetap merasa terbebani dengan ucapan ibu, setiap harinya aku menjadi sangat berhati-hati untuk tidak melakukan ulah, baik di sekolah ataupun di lingkungan sekitar.
Dan akhirnya aku berhasil. Dari waktu itu hingga sampai masuk SMA, aku bisa membuktikan janjiku kepada ibu beserta ayah, bahwa aku benar-benar bisa memegang janji. Aku dan Angga bekerja sama saling menjaga dan belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar agar bisa menghindar dari permasalah.
Sebelumnya Angga tahu bahwa ibu tidak suka kami berteman, hingga sempat ia memutuskan pergi menjauh dariku hanya hal seperti itu. Aku membantah keras dengan keputusan Angga. Ia sahabatku, sudah kuanggap dia belahan dari anggota keluarga. Sepertinya tak akan mudah melupakan seseorang yang telah membuat hatiku nyaman.
Dan akhirnya permasalahan awal telah selesai.
Semakin dewasa, tak terasa persahabatan kami telah begitu lama, kami semakin dekat layaknya adik dan kakak yang sulit untuk dipisahkan. Jika diingat kembali pada masa-masa kecil yang lalu, ternyata suka dibikin lucu.
Namun, ternyata ibuku masih sangat merasa risih dan takut. Kini ketakutannya menjadi berbeda.
Ia sangat khawatir kedekatan kami bisa menimbulkan perasaan yang lebih dari seorang teman, dalam hatinya diam-diam dia masih tidak menyukai Angga. Sebab, Angga itu orang yang sangat cuek, sikapnya selalu dingin dan kurang memberi perhatian. Jadi, tak ada gunanya pula untuk bisa diharapkan.
Berbeda dengan ayah, jikalau benar aku menyukai Angga dia tetap menyetujui. Kata ayah, beliau juga pernah mengalami masa muda, pernah merasakan rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan pada siapapun itu, hal tersebut sangatlah normal. Karena setiap orang pasti memiliki pilihan hidupnya masing-masing, hanya perlu berhati-hati dalam menebak pilihan. Jadi menurutnya tidak menjadi masalah.