Huft..
Jadi galau deh, jadinya. Jujur, aku memang memiliki perasaan yang khusus kepada Angga, dan itu sudah lama. Namun, menurutku cukup dalam diam saja.
Entahlah, sepertinya hanya angan-angan. Lagi pula, aku juga masih bingung dengan alasan 'mengapa perasaan ini bisa ada?' Aku tidak ingi merusak hubungan baikku yang telah lama kubangun menjadi roboh akibat sebuah perasaan yang tak seharusnya ada.
Maka dari itu, sepertinya lebih baik kulupakan!
Keesokan harinya, di suasana pagi yang begitu cerah. Seperti biasa aku dan Angga berangkat sekolah bersama, saat ia tersenyum padaku, entah mengapa jantungku bisa berdebar begitu kencang. Padahal, aku sedang tidak ikut lari marathon.
Bisa terbayangkan oleh kalian, senyumannya yang begitu manis, dengan sedikit lesung pipi yang begitu menawan membuatku lupa bagaimana caranya berkedip.
“Sa, ayo!”
“Alisa, hai! Angga dari tadi bicara sama kamu, lho,” ucap omah Dita, telah berhasil membuyarkan isi lamunanku.
“Oh, iya, ayo!”
Sepertinya terhitung 15 detik aku terbawa arus khayalan. Pagi-pagi sudah salah fokus. Jadi malu deh, kebayang banget pipi kecilku tiba-tiba berubah menjadi memerah kayak wayang si Cepot.
Pov Angga:
Di sekolah seperti biasa, khusus di hari Senin para siswa dan siswi di haruskan melaksanakan Upacara Bendera Merah Putih yang digelar sebelum pembelajaran kami dimulai. Pagi itu cuaca sangat panas, tak sedikit siswa dan siswi yang pingsan akibat lelah, aku saja tak kuasa menahan terik matahari yang sangat menyengat. Alisa yang bertugas sebagai PMR siap siaga membantu anak-anak yang sakit. Ia terlihat sangat anggun dan gesit, dari balik hati yang terdalam aku terpesona kepadanya.
Kira-kira ini perasaan apa, ya?
Singkat cerita, waktu pembelajaran hari ini telah selesai. Aku dan Alisa tidak bisa pulang cepat karena sama-sama memiliki jadwal belajar tambahan yaitu les musik. Awalnya aku tidak mau, namun Alisa memaksaku untuk ikut, dia tahu aku adalah sosok pecinta seni musik dan sangat tapis memainkan alat piano. Jadi, akan lebih baik jika bakatku dikembangkan. Dia juga punya bakat menyanyi, selain cerewet dia juga berisik kalau sedang bernyanyi. Jadi, kalau seharian sama dia ibarat kayak lagi membawa radio yang berbunyi.
Walau menyebalkan, ternyata lama-lama aku nyaman dengannya. Dia tipe orang yang sangat tulus, dari kecil hingga sekarang tak pernah merasa bosan menemani hari-hariku yang monoton, dia adalah pelengkap dari kekuranganku.
“Ga, Kamu melamun?”
Ya ampun, aku khilaf karena telah melamun sambil menatap Alisa.
“E..nggak, kok. Aku hanya sedang berfikir,” ngeles.
“Mikirin apa?”
“Rahasia.”
Maaf, sa, rasanya aku telah diam-diam menyukaimu. Perasaan ini membuatku ragu untuk mengungkapkannya. Aku harap, kamu memiliki perasaan yang sama.
Pov Alisa:
Wajahku tiba-tiba tersipu malu, jantungku pun berdebar tak karuan dikala tersadar bahwa Angga tengah mentapku sangat lekat, dan rasanya sangat senang. Ya ampun, kok jadi baper begini, ya.
"Oke, untuk kelas musik hari ini Bapak akan membagi tugas kelompok untuk kalian, setiap kelompok terdiri dari 2 orang. Setiap kelompok harus mempersembahkan lagu dengan judul yang berbeda. Dari 2 orang tersebut, 1 orang sebagai penyanyi dan 1 orangnya lagi sebagai pengiring musik. Kalian paham?" ucap Pak Anwar, pembimbing les musik.
"Paham, Pak!" ucap para siswa serentak.
"Kalau begitu, Bapak serahkan kepada kalian semua untuk segera membagi kelompok, dan ingat! Jangan berebutan, ya! Terutama kamu Alisa, Angga. Bapak ingin kalian pisah kelompok, ya! Jangan barengan terus. Bapak bosan, tahu? Setiap ada tugas kelompok kalian selalu saja bersama-sama. Jadi, Bapak ingin di bagian tugas kali ini kalian berpisah, supaya kalian bisa berinteraksi dengan teman kalian yang lain. Mengerti?" jelas pak Anwar.
"Tapi, Pak?"
"Tapi apa, Alisa?" sahut beliau, "Kamu tidak terima dengan keputusan Bapak ini, heh?"
Tiba-tiba orang di sebelahku berkata, "Tidak apa-apa, Pak. Saya terima," ucap Angga.
Ya ampun, menyebalkan sekali Angga. Begitu gampangnya dia mengikuti perintah pak Anwar tanpa adanya komentar. Bisa dibayangkan oleh kalian ekspresiku di saat itu, cemberut sudah pasti, melotot tanda kesal sudah kulakukan.
Tapi, ya sudahlah. Semoga ini hanya sekali.
Pov Angga:
Di perjalanan menuju pulang suasana begitu hening, rasanya seperti ada yang tertinggal. Namun, tak lama kemudian.
"Ga, kamu kok tega sih, menyetujui perintahnya Pak Anwar?" ucap Alisa.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku sempat tersenyum. Ternyata ini, yang telah membuatnya tiba-tiba terdiam. Aku kira dia sedang kena sariawan, ataupun sakit gigi.
"Ya, mau bagaimana lagi?"
"Setidaknya kamu kan bisa berkomentar, cari alasan lain atau apa gih?"
"Ya, nggak bisa dong Sa. Yang punya wewenang kan bukan aku, memangnya kenapa sih, kalau kita jauhan? Apakah ada yang salah?"
"Tunggu! Maksud kamu, kamu sudah bosan, ya sahabatan sama aku?" tambahnya lagi.
"Nggak, Sa, bukan seperti itu. Cuma, ucapan Pak Anwar itu ada benarnya juga, lho. Udah deh, intinya kita nggak boleh egois. Begitu, sih menurut aku,"
Sepertinya, Alisa tetap tidak menerima dengan kalimat yang telah kuucapkan. Dari pembicaraan kami ini ia langsung pergi dan meninggalkanku di tempat. Menurutku, wajar jika ia benar-benar kesal. Sebab, aku juga sebenarnya memiliki kekesalan yang sama. Hanya saja, aku mencoba belajar bijak dalam menerimanya.
Di malam gelap ini, dengan sedikit bintang kecil di langit. Aku masih menunggu kabar dari Alisa, biasanya sebelum tidur ia selalu membuka jendela dan memberiku surat kecil yang digantung di atas benang yang kami buat agar bisa saling berkabar.
Kok bisa?
Gambarannya, rumah kami ini saling berhadapan, termasuk dengan jendela kamar. Aku dan Alisa berinisiatif membuat bentangan benang panjang yang sengaja dipasang menghubungkan antara kamarku dan juga kamarnya.
Tujuannya, sih hanya satu. Kami tetap ingin berkomunikasi walau berada di tempat yang berbeda. Karena di kala itu kami masih jauh dari alat telekomunikasi. Jadi, menurut kami ini adalah cara yang terbaik.
Kutunggu hampir 2 jam, ia tak kunjung memberiku surat kabar. Mungkinkah ia masih merasa marah?
Dari benak hatiku, mengapa tak kucoba memberinya surat duluan?
Kucoba mengirim satu surat, namun tak ada balasan. Kucoba dengan surat kedua, namun tetap sama. Dan terakhir, kucoba lagi dengan surat ketiga, suratku malah dikembalikan. Benar, ia ternyata masih merasa kesal. Aku heran, mengapa wanita sangat sulit untuk dimengerti?
Di keesokan harinya.
Jam tanganku menunjuk pada pukul 7 pagi, namun Alisa tak kunjung keluar. Aku terus menatap pintu rumahnya, berharap ada seseorang yang keluar. Dan tak perlu menunggu lama, seseorang tengah membukakan pintu.
Dan ternyata, bukan Alisa yang keluar melainkan ayahnya. Dari kejauhan dia memanggiku.
"Angga, kamu pasti sedang menunggu Alisa, ya?" tanya beliau padaku.
"Iya, Om."
"Maaf, ya! Alisa sudah berangkat duluan, dia suruh Om buat bilangin sama kamu katanya ada tugas yang belum sempat ia kerjakan. Jadi, dia ke sekolahnya terpaksa duluan."
"Oh, iya, Om. Nggak apa-apa, kalau begitu saya juga berangkat, ya, Om, permisi!"
"Iya, Ga. Hati-hati, ya!"
Aku tahu Alisa sedang berbohong kepadaku dan juga kepada ayahnya, sebenarnya hari ini sama sekali tidak ada tugas. Aku tak habis pikir, karena kesal ia tega berbohong kepadaku dan juga ayahnya sendiri.
Kutancapkan gas motor tuaku agar secepatnya sampai di sekolah. Tak sabar, rasanya ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan Alisa, memastikan apakah perasaannya masih seperti kemarin?