"Ke kantin nggak, Naz?” tanya Alina setelah merapikan alat tulisnya.
Nazwa menoleh sekilas, lalu mengangguk. Setelah menyimpan semua alat tulisnya ke dalam tas, Nazwa menghampiri Alina yang
lebih dulu berlalu menunggu di ambang pintu.
Banyak tatapan yang menunjukkan kekaguman dan pujian kepada Nazwa dan Alina. Tak heran karena Nazwa dan Alina termasuk jajaran mostwanted cewek populer di SMA Starlight. Rata-rata murid Starlight mengenal seorang Nazwa Delvira sebagai Ratu Primadona yang sifatnya dingin.
Nazwa dan Alina duduk di bangku tengah kantin, membuat keduanya mudah tersorot oleh murid-murid lain.
“Naz, ngomong apa kek, biar nggak sepi banget,” ujar Alina.
Nazwa mendengkus pelan. “Rame tuh!” ujarnya sembari menunjuk sekeliling.
Alina mengerucutkan bibirnya kesal. Sebesar apa pun perjuangannya untuk membuat Nazwa kembali seperti dulu akan berakhir sama, gagal. Tidak ada yang bisa mengubah Nazwa
kecuali diri Nazwa sendiri. Terlalu susah untuk merobohkan dinding dingin dalam dirinya. Sesulit itu memang, tapi Alina harap ada seseorang yang hadir untuk merobohkan dinding itu dan mengubah Nazwa menjadi diri Nazwa sebelumnya atau lebih baik.
"Yaudah, pesen apa?" tanya Alina, mengalihkan topik pembicaraan.
"Biasa."
Alina mengangguk, lalu beranjak ke stand makanan.
Pekikan histeris kembali hadir mengusik ketenangannya, ketika Nazwa baru saja menikmati tenangnya duduk sendiri. Nazwa mendongak, lalu menatap keempat orang yang baru saja memasuki kantin. Mereka adalah keempat lelaki yang selalu dipuja oleh siswi-siswi karena ketampanan mereka masuk ke dalam jajaran mostwanted cowok populer SMA Starlight.
"Selamat makan Ratu Dingin!" ujar Alina terkikik geli dengan ucapannya sendiri ketika meletakkan sebuah nampan berisi bakso dan es jeruk di hadapan Nazwa.
Nazwa mendengkus kesal, lalu menerimanya. Bakso tanpa sayuran dan mi kuning yang ditambah saus, sambal, dan kecap menjadi makanan favoritnya selama ini. Nazwa pun mulai menyantap makanannya.
***
"Woy! Ngeliatin apa sih?"
Kelvin tersentak kaget saat Riyan menyentuh pundaknya. Dia mendengkus pelan, lalu memalingkan muka, setelah sebelumnya menatap seorang gadis—yang sedang memakan bakso bersama satu temannya—tanpa sengaja.
Kelvin Alingga Renzi, seorang mostwanted tampan yang selalu menjadi rebutan para gadis. Sang badboy SMA Starlight yang banyak memiliki kekuasaan di sekolahnya. Kelvin sering bolos, bandel di sekolah, dan tukang rusuh bersama tiga temannya—Riyan, Dio, dan Zafi. Namun guru-guru tidak mampu mengeluarkan Kelvin begitu saja, karena ayah Kelvin adalah pemilik yayasan sekolah dan orang tua ketiga temannya adalah donatur besar di SMA Starlight.
Walaupun terkesan bandel dan sering membuat rusuh, Kelvin sebenarnya memiliki kepintaran di atas rata-rata. Namun hal itu tidak ada yang mengetahuinya karena Kelvin terkenal nakal, kecuali guru-guru yang saat ulangan menjadi pengawas dan pengoreksi ujian.
"Lo tadi lihatin Nazwa ‘kan Vin?" tanya Riyan membuat Kelvin tanpa sadar menoleh dengan cepat.
"Nggak!" sangkalnya.
"Lo suka Nazwa Vin?" sahut Dio dengan ekspresi terkejutnya. "Astaga Ratu Es yang cantik itu? Buset Vin mau gue gebet tahu."
"Gue nggak suka!" sangkal Kelvin.
"Ah yang bener! Ngaku aja kali Vin, gue dukung kok," lanjut Riyan, terkekeh pelan membuat Kelvin berdecak.
"Serah lo Yan!"
"Gengsi lo tinggi Vin," ujar Zafi.
Kelvin menoleh. "Gue nggak gengsi, itu kenyataan."
"Biarin aja nanti juga ngaku sendiri," ujar Dio.
Kelvin mendengkus pelan. Bukankah memerhatikan seseorang agak lama adalah hal yang wajar? Mungkin saja, memerhatikan seseorang karena tertarik pada hal yang sedang dilakukan seseorang itu.
"Duduk di mana nih? Semua bangku penuh! Lo sih Zaf, tadi lama banget!" gerutu Dio sembari melihat bangku sekelilingnya yang sudah dipenuhi para murid.
Sebenarnya ada beberapa kursi yang kosong di dekat cewek-cewek alay yang akan berjingkrak senang jika mereka duduk di sana, tapi sayangnya mereka tidak minat. Cewek-cewek itu terlalu rusuh dan pasti akan terus mencari perhatian mereka dengan membenarkan tatanan rambut, make-up, dan segalanya yang menonjol untuk dilihat.
"Ada bangku kosong tuh, tapi gabung sama Nazwa dan Alina."
"Jangan dong!" ujar Kelvin.
"Lo kenapa sih?" tanya Riyan heran.
"Terus mau duduk di mana Kelvin?" tanya Dio kesal.
"Di kursi yang lain aja dong, jangan gabung sama mereka!"
"Nggak apa-apa dong Vin, daripada lo makan sambil berdiri. Nggak lucu! Nanti jadi gini: mostwanted tampan bernama Kelvin makan sambil berdiri seperti kuda."
"s****n!" umpat Kelvin.
Riyan tertawa keras, sementara Zafi menoyor kening Dio.
"Udah deh gabung aja, gue cape berdiri mulu!" keluh Riyan. "Kalo Kelvin nggak mau, tinggalin aja!"
"Nggak gitu juga kali," sahut Kelvin. Dia setuju pada ucapan Dio. Sebagai seseorang yang selalu menjadi sorotan, makan sambil berdiri sepertinya akan membuat citra dirinya buruk.
Akhirnya Kelvin mengangguk setuju. "Oke gue ikut!"
"Gitu dong dari tadi! Ngabisin waktu aja lo!" teriak Dio emosi, membuat beberapa pengunjung kantin menoleh ke arah mereka.
"Nggak usah teriak juga!" ujar Kelvin memiting kepala Dio.
"Ya maaf, esmosi gue!"
"Emosi!"
Mereka pun bergegas menuju bangku Nazwa dan Alina. Seiring langkah mereka, aroma parfum menebar ke setiap penjuru kantin, membuat beberapa siswi bersorak di tempatnya masing-masing.
Namun, berbeda dengan Alina yang bergerak gelisah ketika menyadari mereka berjalan ke arahnya. Alina melirik mereka sekilas, lalu menatap Nazwa. Notifikasi pesan masuk membuat Alina segera mengalihkan tatapannya ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan dari Riyan. Dia mengatakan mau bergabung di meja Alina dan Nazwa. Alina tak melarang pacar dan teman-temannya itu untuk bergabung, tetapi Alina takut Nazwa tidak nyaman.
"Naz," panggil Alina sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Hem."
"Alin!"
Alina merutuk dalam hati, matanya terpejam sejenak sebelum kembali terbuka dan langsung menoleh ke belakang, tepat menatap Riyan. "Eh, hai Beb!"
Alina dan Riyan sudah menjalin hubungan seminggu yang lalu. Hubungan mereka berdua pun langsung tersebar luas seantero sekolah, hingga disebut sebagai couple goals. Pada hari pertama jadian, Alina langsung memberitahukan hubungannya kepada Nazwa. Nazwa pun memberi tanggapan positif serta mengucapkan selamat, membuat Alina sangat bahagia.
"Boleh gabung?"
Alina mengangguk kaku dan tersenyum simpul. Dia melirik Nazwa yang masih fokus pada ponselnya. Rupanya belum sadar. Alina menggeser duduk ke samping, memberi ruang agar Riyan dan Dio duduk di sebelahnya, sedangkan Kelvin dan Zafi yang duduk di sebelah Nazwa.
Nazwa mendongak, ketika mendengar kursi berderit. Dia menatap Kelvin dan Zafi bergantian, lalu menatap Alina.
"Ikut gabung Naz, nggak ada kursi lagi soalnya, kasihan," ujar Alina.
"Gue ke kelas," ujar Nazwa datar. Ia berdiri, menatap Kelvin dan Zafi sekilas, lalu pergi.
"Buset dinginnya!" Dio menggeleng pelan.
"Gue pergi deh ya," ujar Alina. "Bye Sayang!" ucapnya pada Riyan, kemudian pergi menyusul Nazwa.
"Tahan banget pacar lo, Yan, hebat!" celetuk Dio sembari menatap Alina yang pergi menjauh.
"Kan sahabatnya, gimana sih lo?"
“Iya, ya.”
Riyan mendengkus, lalu menatap Kelvin. "Vin? Lo kenapa diam mulu?"
Kelvin diam sejenak, lalu memandang Riyan lama. "Nazwa emang dingin banget Yan?" tanyanya pelan.
Seolah salah dengar, Riyan mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap Kelvin intens sembari menahan tawanya. "Hah kenapa? Lo bilang apa?"
Kelvin berdecak. "Nggak jadi!"
"Ye ngambek," celetuk Dio.
Riyan terkekeh geli sambil membetulkan posisi duduknya. "Kenapa? Lo suka?" tanyanya dengan mata memicing.
Kelvin menggeleng cepat. "Mau tahu aja."
***
Sebenarnya kamu sudah tertarik masuk ke dalam pesonaku. Tanpa aku melakukan apa pun untuk menarikmu.