Nazwa menginjakkan kakinya tepat di depan pintu utama rumahnya—rumah yang selalu sepi, rumah yang selalu menjadikan Nazwa seperti tidak hidup di dunia. Tak lama, seorang paruh baya berbaju daster dengan celemek di bahu kirinya tersenyum lembut sambil membuka pintu.
"Masuk, Non!" ujar Bi Yuni, asisten rumah tangga keluarganya yang mengasuh Nazwa sejak kecil.
Nazwa menatap Bi Yuni agak lama. "Papa sama Mama udah pulang?" tanya Nazwa.
Bi Yuni menggeleng kaku, lalu tersenyum canggung dan menatap Nazwa prihatin. "Belum Non."
Nazwa menghela napas, lalu mengangguk, kemudian masuk ke rumah meninggalkan Bi Yuni yang masih memerhatikan Nazwa berjalan menuju kamarnya.
Kehidupan Nazwa mulai berubah, sejak kejadian dulu -saat kedua orang tuanya membawa Kakaknya pergi dan kurangnya kasih sayang semenjak kedua orang tuanya sibuk bekerja- Nazwa mulai tidak mengenal jati dirinya sendiri. Bahkan orang di sekitarnya pun sadar kalau Nazwa sudah berubah. Sangat sulit untuk dimengerti.
Tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi. Bahkan Bi Yuni pun merasa sangat prihatin pada keadaan Nazwa. Dia yang merawat Nazwa sedari kecil, dia yang menjaga Nazwa, dia yang selalu menemani Nazwa ketika merasa kesepian. Nazwa yang dulu manja dan periang sekarang menjadi gadis dingin.
Tatapan Bi Yuni beralih sendu ketika Nazwa menghilang dari pandangannya. Nazwa sudah masuk kamar, mengurung diri seperti hari-hari sebelumnya. Bi Yuni hanya bisa berdoa, semoga keadaan majikannya cepat membaik dan kembali seperti dulu lagi.
***
Nazwa menghempaskan tubuhnya di sofa. Bahunya merosot turun dan punggungnya tersandar pada sofa. Wajahnya menengadah ke atas, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos dengan pandangan kosong.
Memiliki keluarga yang harmonis pasti sangatlah bahagia. Nazwa ingin merasakan itu sekarang. Nazwa ingin menceritakan banyak hal pada orang tuanya, mulai dari kehidupan sekolah hingga masalah pribadinya. Nazwa ingin merasakan berkumpul, bercanda, dan makan bersama orang tuanya.
Nazwa terpejam, meluruhkan keinginannya dalam harapan dan doa. Hanya semoga. Namun, harapan-harapan itu terkadang hanya membuat Nazwa merasakan kerapuhan dirinya. Merasakan kesepian yang lebih dalam.
Tak lama pintu terketuk, membuat Nazwa membuka mata, lalu menoleh. “Masuk,” ucapnya.
“Makan dulu, Non!” ujar Bi Yuni sambil menaruh sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk di atas meja.
Bi Yuni tersenyum melihat anggukan Nazwa. Dia merasa lega, karena Nazwa masih mau makan, meskipun kondisinya selalu murung. "Bibi tinggal dulu, Non," ujarnya sebelum keluar.
Nazwa melirik makanannya sekilas, belum ada gairah untuk makan. Dia menghela napasnya, lalu beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan tubuh sembari berendam di air dingin lebih menggiurkan untuk menenangkan pikirannya.
Setelah mandi dan makan, Nazwa berdiri di balkon sembari menatap langit yang diselimuti gumpalan awan mendung. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Gemericiknya, seperti melodi yang mengiris perasaan dan ingatan Nazwa. Dia tersenyum pedih, merasa semesta sedang menemani kepedihannya.
Memori itu. Nazwa selalu ingin menyalahkan kenangan yang selalu diingatnya. Kenangan canda tawa keharmonisan keluarganya dulu. Apa kelanjutannya akan terus seperti ini? batin Nazwa sambil terisak.
***
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menyelesaikan masalahnya.