Kelvin mendorong pintu minimarket, lalu menghampiri teman-temannya. Kelvin membuka kemasan kacang asin, Riyan meneguk kopi, Dio menyeruput teh, dan Zafi mengaduk-aduk mi instan. Kebiasaan. Berkumpul bersama malam-malam, di mana saja.
"Gue masih bingung sama diamnya Kelvin tadi siang." ujar Dio tiba-tiba membuat Kelvin yang tengah memakan kacang asin, tersedak.
"Pelan-pelan aja Vin kayak mau ditinggal pergi aja lo," omel Riyan sambil memberikan kopinya.
Kelvin berdehem, lalu menaruh kopi di atas meja setelah dia meminumnya. Pandangan tak lepas dari Dio. "Kenapa nanya gitu?" tanya Kelvin bingung.
"Ya tumben aja gitu. Biasanya lo banyak omong."
Kelvin mengangguk ragu. Sebenarnya, dia juga tidak paham, mengapa seharian ini lebih banyak diam dan suka melamun tanpa disadari.
"Kan ngelamun lagi. Kenapa si lo? Mikirin sesuatu ya?" tanya Dio.
"Mikirin Nazwa kali," celetuk Riyan membuat Kelvin refleks menoleh.
"Mana ada!"
"Bisa aja ‘kan?" Riyan menaikkan dua alisnya.
"Lo suka Nazwa, ya?" tanya Zafi.
"Nggak!"
"Nggak salah lagi," cibir Dio.
Kelvin mendengkus, lalu membuang muka ke arah jalan yang tampak lengang. Genangan air setelah hujan tampak berkilauan terkena lampu jalan. Aroma tanah dan aspal setelah hujan, menyeruak di penciuman. Sambil menikmati itu, Kelvin terdiam memikirkan perkataan teman-temannya. Apakah benar dia menyukai Nazwa? Jelas tidak mungkin. Bahkan Kelvin tidak merasakan apa-apa ketika berada di dekat gadis itu. Tadi siang dia hanya ingin tahu, tidak lebih dari itu.
Kelvin tersontak kaget, ketika melihat Nazwa dan Alina sedang berada di tepi jalan, melawan dua orang lelaki yang tampak sedang mengganggu mereka. Kelvin pun berdiri—empati pada mereka—lalu hendak melangkah, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Riyan.
"Mau ke mana lo? Gitu aja marah Vin. Bercanda doang," ujar Riyan.
"Bukan itu, Yan! Pacar lo dan sahabatnya lagi digangguin tuh!” tegas Kelvin seraya menunjuk ke tepi jalan.
"Ngomong dong dari tadi," ujar Riyan, lalu bergegas menghampiri Alina, disusul oleh Kelvin, Dio, dan Zafi.
"Minggir nggak lo!" teriak Alina pada dua orang lelaki yang menghalangi jalan.
"Nanti dulu, Cantik! Kita harus kenalan," kata lelaki yang berjaket biru.
"Minggir lo!" tegas Nazwa.
Mereka terkekeh. "Nah gitu dong bicara dari tadi," ujar si jaket hitam.
Kelvin yang diam-diam mendengarkan merasakan hawa di sekitarnya mulai panas. Perasaan tidak suka menggerogoti hati Kelvin. Begitu keempatnya sampai di dekat mereka, Riyan langsung menerobos ke tengah mereka, membuat kedua lelaki tak dikenal itu tersentak kaget dengan pandangan tidak suka.
"Woi, siapa lo?" tanya lelaki yang berjaket hitam.
"Pacarnya!" jawab Riyan tegas.
"Nggak usah ngaku-ngaku, lo!"
"Pergi atau gue teriak, biar lo babak belur digebukin warga?" tegas Kelvin.
"Awas lo!" ujar lelaki berjaket biru, lalu pergi.
Riyan berbalik, menatap Alina dari atas sampai bawah. "Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit nggak?" tanya Riyan.
"Nggak apa-apa kok," jawab Alina. "Kan ada kamu pahlawannya," lanjut gadis itu.
"Lo, nggak apa-apa?" tanya Kelvin pada Nazwa membuat Alina dan ketiga temannya langsung menoleh. Mereka saling pandang kemudian memalingkan wajahnya masing-masing.
Kelvin menatap satu persatu temannya yang terlihat aneh. "Kalian kenapa sih?"
"Lo masih sehat ‘kan Vin?" tanya Dio seraya menyentuh kening Kelvin.
"Sehat banget!" Kelvin menepis tangan Dio.
"Aneh lo," ujar Riyan memandang Kelvin aneh.
Mereka terheran-heran pada sikap Kelvin yang terlihat sangat perhatian pada Nazwa. Setahu mereka, Kelvin tidak pernah tertarik pada seorang gadis. Setiap kali mereka membahas gadis-gadis cantik, Kelvin selalu mengganti topik obrolan. Katanya, perempuan itu ribet dan dia enggan mengurusi mereka.
Alina memicingkan matanya ke arah Kelvin. "Lo suka sahabat gue ya, Vin?" tanya Alina sambil menutup mulut. "OMG!"
"Al!" tegur Nazwa tajam.
"Nggak, Naz. Btw, Lo nggak ada niatan buat suka sama dia gitu? Kelvin lho, Naz!"
Nazwa hanya menggeleng.
Respon Nazwa langsung membuat Dio tertawa sambil menepuk bahu Kelvin. "Belum maju udah ditolak, Vin. Sabar ya!"
"Apaan sih!" Kelvin mendelik tajam.
"Ke sini jalan kaki?" tanya Riyan pada Alina.
"Iya jalan kaki, kan deket."
"Yaudah yuk aku anter pulang."
Alina tersentak. "Eh, bentar!" ucapnya lalu menatap Nazwa. "Naz," ujarnya sembari mengedipkan mata beberapa kali.
Seolah mengerti maksud Alina, Nazwa mendengkus lalu mengangguk malas.
Alina tersenyum riang. "Gue pulang sama Riyan ya. Lo bisa milih salah satu dari mereka, tapi jangan semua!" ujar Alina menunjuk Kelvin, Dio, dan Zafi.
"Ya jelas Nazwa milih Kelvin dong Al. Mana mau dia milih remahan rempeyek gini," ketus Dio membuat mereka tertawa, kecuali Nazwa yang diam tanpa ekspresi.
"Gue duluan," ujar Nazwa pelan.
"Tunggu! Gue anter," kata Kelvin sembari menahan Nazwa. "Udah malem, bahaya pulang sendirian."
Nazwa membisu, tak sanggup mengatakan apa pun. Sesaat dia tersadar, lalu menarik tangannya dari cekalan Kelvin. Gadis itu mengangguk membuat Kelvin tersenyum tipis.
Di sepanjang jalan, mereka diam. Di sepanjang jalan itupun Kelvin selalu mencari kesempatan untuk menatap Nazwa lebih dekat. Memperhatikan setiap inci wajah cantik itu dari samping. Nazwa jelas menyadarinya, tetapi dia tetap berusaha tenang, walaupun dirinya merasa risih ditatap oleh seorang lelaki selekat itu. Jalan yang seharusnya cepat untuk Nazwa lewati bahkan terasa lambat. Seakan waktu mendukung untuk keduanya lebih lama berdua.
"Gue tau lo dingin kayak gini karena sesuatu ‘kan?" ujar Kelvin tiba-tiba, membuat Nazwa tersentak.
***
Tanpa kita minta pun Tuhan sudah mempertemukan kita secara tidak sengaja.