Kelvin yang tengah men-dribble bola basket di tengah lapangan mendadak berhenti saat tak sengaja melihat Nazwa dan Alina sedang berjalan di koridor sembari membawa tumpukan buku.
"Vin, awas!" Kelvin tersentak kaget. Dia menoleh ke sumber suara dengan mata melebar sempurna. Bola basket melayang ke arahnya. Kelvin pun langsung menghindar.
Namun, sedetik kemudian Kelvin mematung di tempat. Pandangannya tak lepas dari bola basket yang melayang, kemudian jatuh tepat mengenai kepala Nazwa. Gadis itu oleng hingga terjatuh, membuat tumpukan bukunya berserakan dan Alina berteriak panik.
"Tolongin, Vin! Malah diem!" ujar Riyan lalu berlari menuju koridor.
Kelvin mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menyusul Riyan untuk menghampiri Nazwa dan Alina.
"Eh, Kelvin mau ke mana? Ini aku bawa minuman buat kamu!" teriak Malika Angelina—seseorang yang terobsesi untuk mendapatkan cinta Kelvin—yang baru sampai di lapangan bersama Dista Faranita.
"Kenapa sih mereka?" tanya Dista sambil menggaruk tengkuk lehernya.
***
Nazwa mengerjapkan matanya pelan. Menyesuaikan sinar lampu yang sedikit demi sedikit menelusup masuk ke dalam Indra penglihatannya. Dia meringis ketika memegang kepalanya yang terasa pusing.
Nazwa menoleh pada Kelvin yang berjalan menghampirinya sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Kelvin menatap lekat Nazwa ketika sudah meletakkan nampan di atas nakas. "Masih sakit?" tanya Kelvin lembut.
Nazwa menggeleng pelan, tetapi tanpa sadar dia meringis ketika pusing di kepalanya kembali terasa. Kelvin tersenyum, lalu menggeleng. Jelas, Kelvin tahu Nazwa berbohong padanya. Apalagi wajah Nazwa masih terlihat sangat pucat.
"Kalau sakit bilang aja, jangan ditahan," ujar Kelvin, lalu mengambil obat pereda nyeri dari kotak P3K. "Mau makan?" tawar Kelvin.
"Nggak," jawab Nazwa singkat.
Kelvin menaikan dua alisnya. "Lo tadi udah sarapan? Kalo mau minum obat harus makan dulu."
"Gue nggak mau makan!" tolaknya mentah-mentah.
"Lo nggak mau sembuh?"
"Ya—"
"Makanya makan dulu biar cepet sembuh!" Kelvin menyodorkan sesendok nasi ke mulut Nazwa.
Nazwa menatap Kelvin malas. Dengan terpaksa, dia pun melahapnya, lalu menelannya cepat. Saat Kelvin kembali akan menyuapinya Nazwa menutup mulut menggunakan tangan.
"Nggak mau!"
"Makan!" tegas Kelvin.
"Gue nggak mau makan!" ucap Nazwa tampak seperti gumaman sebab mulutnya tertutup oleh tangannya sendiri.
"Baru satu sendok Naz, biar lo nggak lemes," ujar Kelvin menghela napas.
"Gue nggak mau! Jangan maksa!"
Kelvin menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Ya udah, kamu minum obat aja.”
Nazwa melirik obat itu sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya. Kelvin berdecak kesal. "Mau nolak lagi? Biar sakit terus, gitu?" tanya Kelvin.
Perkataan Kelvin berhasil membuat Nazwa kembali terdiam. Bukan hanya sekadar kesal dan marah yang Nazwa dengar, melainkan ada nada khawatir dan harapan agar Nazwa cepat sembuh.
Akhirnya, Nazwa pun mengambil obatnya lalu meminumnya, membuat Kelvin tersenyum tipis.
"Udah ‘kan? Gue mau pulang," ujar Nazwa datar, bersiap turun dari kasur. Namun, suara dobrakan pintu disusul teriakan seseorang membuatnya berhenti.
"Kelvin, kamu ke mana aja? Aku cariin dari tadi!" teriak Malika sembari menggandeng tangan Kelvin.
"Apaan sih lo?" ujar Kelvin menepis tangan Malika.
Malika cemberut kesal. Apalagi ketika melihat Nazwa yang duduk di hadapan Kelvin. Malika menatap Nazwa tak suka. Dia menarik tangannya, lalu bersedekap di d**a.
"Jadi cewek jangan ganjen dong! Kelvin pacar gue!"
Kelvin menoleh spontan. "Nggak usah ngomong sembarangan! Gue nggak pernah mau jadi pacar lo!"
"Kenapa? Gue kurang cantik dari Nazwa?" timpal Malika. "Dan lo ...." Jari telunjuknya tepat di depan wajah Nazwa. "Jangan pernah sekali pun godain atau cari perhatian Kelvin atau lo berurusan sama gue!" ujar Malika dengan sorot mata serius.
Nazwa menaikan dua alisnya. Terheran-heran dan tidak peduli. Sejak awal, Nazwa tidak pernah menggoda atau mencari perhatian dari Kelvin. Justru Kelvin-lah yang selalu menghampirinya. "Terserah!" tegas Nazwa, lalu bergegas keluar meninggalkan mereka.
Kelvin memandang Malika dengan tatapan marah. "Nggak usah ganggu gue lagi!"
***
Percaya semua ada hikmahnya. Jangan menyerah sebelum kata lelah itu ada.