Nazwa masih terbaring di
rumah sakit. Hari-harinya
selama di rumah sakit hanyalah
berbaring, duduk, atau terdiam
menunggu seseorang datang, entah
itu orang tuanya, Veno, atau Alina.
Sore ini, Nazwa sedang duduk
terdiam seraya memijat-mijat jari
tangannya. Dia sendirian. Veno pergi entah ke mana, sedangkan orang tuanya pulang untuk mengambil baju ganti Nazwa.
Tak lama, Nazwa terkaget-kaget ketika pintu terbuka dan Kelvin muncul dari baliknya. Dia mengenakan pakaian santai, mirip ketika Nazwa bertemu dengannya ketika di dekat
minimarket. Kelvin mendekat seraya tersenyum. “Gimana? Udah
mendingan?” Dia meletakkan parsel buah-buahan di atas nakas.
Nazwa hanya mengangguk seraya menatapnya.
“Mau keluar nggak?” tawar Kelvin, “atau mau makan buah?”
“Emang boleh keluar?”
“Boleh, kok!”
“Kata siapa?”
“Kata Kak Veno tadi di depan.”
Nazwa mengangguk tersenyum, kemudian turun dari ranjangnya dibantu oleh Kelvin. Kelvin memegang cairan infus Nazwa seraya menuntun Nazwa berjalan perlahan, menyusuri koridor, melewati puluhan ruangan rawat inap, hingga sampai di halaman samping rumah sakit.
Sepanjang jalan, ada sesuatu yang bergejolak dalam hati Kelvin. Meski sering berada di dekat Nazwa, tapi perasaannya
selalu sama seperti ketika pertama kali bertemu. Deg-degan. Pikirannya pun selalu mengingat wajah cantik Nazwa dan
bagaimana sikap dinginnya.
“Naz, ke taman aja, ya!”
Nazwa hanya mengangguk samar, membuat Kelvin mengembuskan napasnya berat. Harus ekstra sabar memang jika
menaklukan hati es gadis di sampingnya ini. Walaupun Kelvin tahu hati gadis itu sudah sedikit mencair.
Mereka duduk di salah satu kursi taman. Kelvin bersandar, sedangkan Nazwa duduk menunduk. Mereka terdiam dengan
pikiran dan perasaan masing-masing. Seperti dulu, ketika mereka duduk di taman malam-malam.
Beberapa menit kemudian, Nazwa menatap Kelvin. “Vin?”
panggilnya memberanikan diri. Memanggil Kelvin untuk pertama
kalinya, membuat Kelvin sontak salah tingkah.
“Iya, kenapa? Ada yang sakit? Atau butuh sesuatu?”
Nazwa tersenyum tipis mendengar pertanyaan Kelvin. “Gue …
hmm … lo nggak haus, Vin?” Nazwa menggigit bibir bawahnya dengan resah. Dia malu sekali. Juga sedikit heran pada sifat dinginnya yang tiba-tiba pergi sedikit demi sedikit.
Kelvin menatap Nazwa seraya mengerutkan keningnya, sesekali menggerakkan kedua alisnya, kemudian mencondongkan tubuhnya lebih dekat menatap Nazwa. “Haus nih, beliin minum,
dong, Naz!” kekehnya.
Nazwa masih menunduk, tapi kali ini tersenyum merona.
“Gue … haus, Vin.”
Kelvin tertawa renyah sembari menggelengkan kepala, membuat Nazwa berdecak. “Lo haus? Kalau haus ngomong, dong.”
Nazwa menatapnya tajam, sedangkan Kelvin tersenyum lebar sembari mengangkat dua jarinya membentuk huruf v. “Ya udah lo
tunggu sini, gue beliin dulu.”
Nazwa memandang punggung tegap Kelvin yang pergi menjauh. Tubuh tinggi itu memiliki pesona yang tidak dimiliki
oleh orang lain. Kali ini, Nazwa merasa Kelvin tampak lebih keren dari belakang. Kali ini juga, Nazwa mengakui bahwa Kelvin
memang tampan, bahkan sangat tampan.
Setelah lama menunggu, Kelvin datang membawa kantong kresek berisi minuman. Kelvin melangkah mendekat, tetapi ketika
dia merogoh ponsel dari saku celana, ada kartu yang ikut jatuh ke bawah.
Nazwa bangkit, kemudian melangkah mendekat ke arah Kelvin yang juga berjalan ke arahnya sambil memegang ponsel. Dia terus memandang kartu ATM kelvin yang masih tergeletak di atas tanah, memastikan agar tak ada orang lain yang lebih dulu
mengambilnya.
Nazwa mempercepat langkahnya, sementara Kelvin berjalan santai sambil memainkan ponselnya. Mereka bertubrukan, bahu
Kelvin menyenggol bahu Nazwa sampai gadis itu oleng. Kelvin tersentak, dengan sigap dia menarik tangan Nazwa agar tidak terjatuh. Kelvin berhasil menahan Nazwa dengan menggenggam tangannya dan merangkul pinggangnya. Mereka hanyut dalam
tatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Kelvin menatapnya dalam, seraya merasakan irama jatungnya yang berdetak cepat. Rasa itu kembali bergejolak. Menatap Nazwa
dari dekat, melihat suatu kelembutan di balik tatapannya yang selalu tajam. Ketika itu, Kelvin mengakui dirinya jatuh cinta.
Pun Nazwa yang merasakan darahnya berdesir dan jantungnya berdebar-debar ketika tangannya digenggam, pinggangnya dirangkul, dan ditatap kekat oleh Kelvin. Nazwa pun
mengakui ada sesuatu yang bergejolak dalam perasaannya.
Setelah sekitar lima menit, Kelvin tersadar. Dia gelagapan seraya membantu Nazwa untuk kembali berdiri. Dia berdehem,
kemudian mengambil kantong kreseknya yang sempat terjatuh.
“Sorry,” ujar Kelvin, “ini minumannya, lo minum air bening aja. Lebih sehat.”
Nazwa menerima minumannya. “ATM lo jatuh,” ujarnya sambil menunjuk ATM Kelvin yang belum sempat dia ambil.
Kelvin tersenyum, kemudian mengambilnya.
Mereka kembali duduk. Meneguk minuman masing-masing. Sesekali mereka mengembuskan napas berat, lalu meneguk
kembali minumannya. Mungkin berusaha menenangkan diri.
Tak lama kemudian …. “Vin.”
“Hm?”
“Gue … lapar.”
“Mau makan buah?”
Nazwa menggeleng cepat. “Mau bakso.”
Untuk keduakalinya, Kelvin tertawa renyah. Ada perasaan yang semakin bergejolak. Rasa senang ketika ada di dekat Nazwa
dan selalu bisa membantunya. Kelvin pun bergegas menuju kantin, membeli bakso untuk Nazwa.
***
Kelvin berdiri di balkon kamar. Tangannya terlipat di atas pembatas balkon, sementara matanya memandang langit yang
bertaburkan bintang-bintang.
Deru mobil terdengar memasuki halaman rumah setelah satpam membuka pintu gerbang tinggi berwarna hitam. Kelvin
sudah menduga, itu mamanya yang baru pulang setelah menginap di rumah Neneknya beberapa hari lalu.
“Kelvin, Mama kangen banget!” seru Lisa—Mama Kelvin—
ketika melihat Kelvin berjalan menghampirinya.
“Kelvin juga kangen,” ucap Kelvin, kemudian memeluk mamanya. “Gimana di sana?”
“Mama seneng banget. Pokoknya seru!” jawabnya antusias. Walaupun umurnya tak lagi muda, tetapi wajahnya masih terlihat
sangat segar. Dia tipikal wanita yang selalu antusias dan heboh. Hanya pada acara tertentu dia bersikap kalem, misalnya pada
acara kantor suaminya.
“Papa nggak ikut pulang?”
“Papa sebenernya mau pulang, tapi mendadak ada bisnis di luar kota. Jadi, sekalian aja berangkat kerja.”
Kelvin hanya mengangguk, kemudian menuntun mamanya untuk duduk di sofa.
“Jadi, selama Mama tinggal di rumah Nenek, kamu udah punya pacar belum?”
Kelvin diam beberapa saat. “Belum,” jawabnya sedikit ragu. Meskipun dia sedang dekat dengan Nazwa, tetapi dia belum siap
untuk bercerita pada mamanya.
Lisa cerberut kesal. Pasalnya putranya itu belum pernah mengajak cewek main ke rumah. Sekadar kerja kelompok juga
tidak. Hanya ketiga sahabatnya yang sering Kelvin ajak ke rumahnya.
“Gimana, sih, Vin? Mama tuh ingin lihat tipe-tipe cewek kamu. Apa perlu Mama pilihkan cewek buat kamu? Jodohin aja,
deh, sama anak temen Mama!”
“Nggak mau! Kelvin udah punya cewek pilihan sendiri.”
Senyum Lisa mengembang sempurna.
***
Pagi ini Nazwa sudah diperbolehkan pulang. Dia bernapas lega tentunya, tidak perlu repot-repot lagi makan makanan yang tidak
enak itu apalagi tidurnya yang kurang nyaman. Untungnya lagi hari ini adalah hari Minggu. Hari libur yang Nazwa tunggu-tunggu
sejak beberapa hari yang lalu.
Nazwa turun dari dalam mobil. Di sebelahnya ada mamanya yang menuntunnya berjalan. Sementara Veno dan papanya
mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil.
Pintu utama terbuka setelah Nazwa dan mamanya menginjakkan kaki di teras rumah. Di sana ada Bi Yuni dan Alina tengah berdiri menyambut kepulangan Nazwa. Alina tersenyum, lantas berlari menghampiri Nazwa dan memeluknya erat.
“Naz, sumpah gue kangen banget. Sehari nggak ketemu lo rasanya beda banget,” cerocos Alina. “Jadi untuk hari ini gue bakal
nginep lagi di rumah lo. Melepas kangen!” seru Alina antusias.
Nazwa tersenyum. “Beneran? Nanti dicariin Tante Maya lho,”
ujar Nazwa sembari terkekeh kecil.
“Mama sama Papa lagi pergi, Naz!” Alina berganti menatap Dinda. “Tante, aku boleh nginep di sini kan? Pasti Mama udah
bilang ke Tante,” ujarnya yang dibalas senyuman dan anggukan, membuat Alina berjingkrak senang.
“Asal jangan ngajak beli camilan malam-malam aja, deh!”
sambung Nazwa sambil terkekeh.
Alina tertawa, kemudian bergeming sambil menatap Nazwa dari bawah hingga berhenti di matanya. Dia merasa ada yang aneh
dari Nazwa. Dahi Alina mengernyit, Sedetik kemudian tersadar bahwa memang ada yang beda dari respon Nazwa padanya.
“Naz, ini lo kan? Sumpah gue seneng banget lo udah nggak dingin lagi sama gue,” ujar Alina dengan mata berbinar.
Nazwa tersenyum. Ternyata ada hal positif yang dia rasakan setelah mengungkapkan kekecewaannya, menerima kenyataan,
dan memaafkan kedua orang tuanya. Dinding es dalam hatinya
seolah perlahan hancur karena kehangatan keluarganya.
Alina memeluk Nazwa erat seraya tersenyum, kemudian tertawa. Alina rindu sikap hangat Nazwa. Alina rindu bercanda
dengan Nazwa. Kali ini, rasa rindu itu sedikit terobati.
Nazwa menggandeng Alina ke kamar, hendak bercerita banyak hal, membiarkan keluarga dan tasnya menyaksikan dari ruang tamu. Nazwa menyalakan lampu, kemudian melompat ke tempat tidur disusul Alina. Mereka bercerita, mulai dari kekhawatiran Alina hingga kehangatan keluarga Nazwa. Cerita
tentang Kelvin, tentu tak terlewatkan.
Tak lama, pintu terketuk membuat mereka terdiam. Keduanya saling menoleh sebelum Nazwa berucap, “masuk!” Alina menatap
Nazwa dengan alis bertautan, sementara Nazwa mengendikkan bahunya.
Dinda muncul dari balik pintu membawa tiga gelas jus jeruk dan satu toples camilan.
“Kok tiga?” tanya Nazwa heran.
Pertanyaannya terjawab beberapa detik kemudian, ketika suara langkah kaki seseorang membuat dia dan Alina ternganga
tak percaya. Seseorang itu tersenyum kemudian berbaring di atas ranjang, di dekat Nazwa.
“Hai! Gimana surprise-nya?”
“Helen!” ujar Nazwa dan Alina bersamaan.
Helen tersenyum lebar, lalu duduk, menatap Nazwa dan Alina bergantian, kemudian memeluk mereka berdua . “Yes! I miss you!”
ucapnya lembut.
“Jadi apa yang membuat lo pulang ke sini?” tanya Alina yang memang juga kenal dekat dengan Helen. Sejak kecil mereka bertiga sering main bersama, tak heran jika Alina mengetahui kehidupan Helen.
“Satu! Di sana bosen. Dua! Pingin ketemu kalian. Tiga! Ingin cari cogan di indonesia,” jawab Helen seolah tanpa beban
membuat Alina dan Nazwa melebarkan matanya. “Santuy, dong!” kekeh Helen. “Gue bosen di sana dan ingin lanjut sekolah di sini
lagi.”
Nazwa menggeleng tak percaya. Sedikit ragu atas jawaban yang Helen berikan. Nazwa tahu, Helen bukan orang yang
gampang bosan.
“Bohong!” Nazwa menatap tajam Helen. “Jadi, apa masalahnya?”
Helen mengembuskan napasnya pasrah. Dia tidak bisa berbohong jika ada Nazwa yang tentu saja tahu sekali sifat dirinya.
Gadis itu menaruh kepalanya di atas lipatan tangan, mendongak, menatap Nazwa yang duduk di seberangnya. “Gue dijodohin,”
ungkap Helen, kemudian menegakkan duduknya seperti semula. Tangan kanannya mengaduk jus apel yang tinggal setengah dengan sedotan hingga jus tersebut memutar dalam gelas. Sementara satu
tangannya lagi menopang pipi.
Kedua alis Nazwa bertautan. “Dijodohin?” Helen mengangguk lemah.
“Sumpah gila! Zaman udah modern kali, Hel, ngapain jodohjodohan?” ujar Alina dengan nada keterkejutannya.
“Ya makanya gue nggak mau. Kayak gue nggak laku aja.”
“Terus lo mau tinggal di mana?” tanya Alina.
“Di rumah Nazwa, lah! Besok gue bakal sekolah sama kalian.”
“Emang udah pindah sekolah?” tanya Nazwa.
“Kemarin Tante Dinda yang ngurusin semuanya. Gue juga minta tolong Tante Dinda buat bilang ke Nyokap. Jadi, ya
dibolehin,” jelas Helen. “Besok berangkat bareng, ya!” Helen menatap keduanya yang dibalas dengan anggukan.
***
Kelvin, Riyan, Dio, dan Zafi berjalan memasuki lobi sekolah. Di persimpangan koridor mereka berempat bertemu Nazwa, Alina,
dan seseorang yang tidak mereka kenali.
Helen berdecih ketika melihat Alina menggandeng lengan Riyan seraya tersenyum manja. Tatapannya berganti pada Kelvin
yang sesekali tersenyum menatap Nazwa. Helen tak berkedip beberapa saat, terpesona pada paras Kelvin.
Alina mencubit Helen membuat Helen meringis kesakitan.
“Hel, jangan yang itu, dia punya Nazwa!” seru Alina membuat Nazwa menatapnya tajam.
Helen memandang Nazwa, lalu menyikut lengan gadis itu.
“Pinter banget, sih, milihnya!” godanya.
Tak disangka, Dio ternyata diam-diam memerhatikan Helen. Setelah tatapan mereka beradu beberapa detik tanpa sengaja, Dio
melihat sesuatu yang beda dari paras dan aura Helen. Dia Cantik.
Helen yang merasa diperhatikan mengendikkan bahunya tak acuh. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menatap
Alina. “Al, ayo! Katanya mau anterin gue,” ujar Helen.
Alina tersenyum lebar sembari melepaskan tangannya dari lengan Riyan, lalu menggandeng Helen.
Kelvin berdehem mengalihkan perhatian teman-temannya. Dilihatnya jam di pergelangan tangan, masih ada beberapa menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Kelvin mendekati Nazwa. “Gue pinjem Nazwa bentar,” ujar Kelvin pada Alina dan Helen.
“Lo kira dia barang? Main pinjem aja!” sembur Alina, tetapi tak segan mengangguki ucapan Kelvin. Sementara Helen hanya mengangguk setuju karena belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
“Ayo, Helen! Katanya mau ke ruang kepala sekolah,” ujar Alina sembari menarik lengan Helen, meninggalkan Riyan, Dio,
dan Zafi.
Dio menatap mereka yang semakin menjauh. Zafi menyikut Riyan dan keduanya saling tatap dengan pandangan bingung. Ada
yang aneh dari Dio pagi ini. Apalagi tatapannya yang berbinar ketika menatap murid baru itu.
“Dia suka sama cewek itu?” bisik Zafi yang diangguki mantap oleh Riyan.
“Yo?” panggil Riyan.
Dio tersadar kemudian mengerjap beberapa kali sebelum melihat sahabatnya dengan wajah yang lugu. “Eh?”
“Halah, kepincut kan lo sama cewek itu!” kompor Zafi yang membuat Dio merah padam. Antara malu dan marah karena Zafi
mengungkapkannya secara blak-blakkan. “Siapa namanya? Hel? Rahel?”
“Helen!” koreksi Dio.
“Udah tahu namanya,” sembur Riyan membuat Dio tersenyum lebar.
***
Kelvin membawa Nazwa ke kantin sekolah. Mereka duduk di bangku paling belakang sembari meminum minumannya yang Kelvin beli sebelum mereka duduk.
Kelvin meneguk minumannya, menyimpannya kembali di atas
meja, kemudian menatap Nazwa. “Jadi gimana? Udah baikan?”
tanya Kelvin seraya tersenyum.
Nazwa mengangguk. “Kenapa?” tanyanya, “emang lo tahu masalah gue?”
Kelvin tersenyum, lalu mencondongkan badannya ke depan hingga wajahnya lebih dekat dengan Nazwa. “Gue tahu, Naz. Jangan sakit lagi, lo bikin gue khawatir kemarin.” Kelvin mengusap puncak kepala Nazwa.
Sentuhan itu memberi efek yang tak biasa bagi Nazwa.
Rasanya asing, tetapi entah mengapa dia malah suka dengan rasa asing itu. Jantungnya berdebar kencang, tatapan teduh Kelvin
sangat dalam menatapnya.
“Gombalan lo nggak mempan, Vin!” ujar Nazwa. Walaupun Nazwa kemarin sudah mendengar kalimat yang sama, tetapi dia
tidak mau salah mengartikan sikap Kelvin. Ada sedikit rasa waspada dan juga trauma ketika menghadapi laki-laki yang sudah sering memerhatikan dan memedulikannya. Nazwa takut dikhianati lagi. Nazwa belum siap jika ujungnya harus sakit lagi.
Kelvin mengeleng. Raut wajahnya terlihat serius. “Gue nggak lagi gombal, Naz. Gue serius!” Kelvin menatap Nazwa lekat. “Gue
sayang sama lo,” ungkapnya.
Tubuh Nazwa kaku, ini keduakalinya dia merasakan rasa asing muncul kembali setelah bersama Dimas dulu. Rasanya itu aneh
dan sulit ditebak. Namun di sisi lain, ada rasa senang yang melingkupi hatinya. Apakah Kelvin berhasil mencairkan sisi bekunya?
Nazwa terpejam senejak, menghela napas perlahan. “Gue nggak mudah jatuh cinta lagi setelah gue dikhianati,” ungkap Nazwa.
“Gue tahu, tapi coba dulu buka hati lo buat gue yang udah nunggu lo dari lama. Gue nggak bakal nyakitin lo, Naz.”
Nazwa menunduk. “Nggak semudah itu, Vin!”
“Tatap gue, Naz!” pinta Kelvin membuat Nazwa mendongak perlahan. “Ada rasa asing di diri lo saat sama gue nggak?”
Seolah tersihir Nazwa mengangguk.
“Deg-degan?”
Nazwa mengangguk lagi.
“Seneng nggak?”
“Iya,” cicit Nazwa pelan.
“Nah itu yang gue rasain.” Kelvin menarik tangannya sendiri lalu melipatnya di atas meja. “Aneh kan? Tapi seneng. Gue juga
gitu, kok.”
“Jadi maksudnya gimana?” tanya Nazwa menautkan kedua alisnya.
Kelvin memalingkan wajahnya ke samping, tampak salah tingkah. Dia membasahi bibir bawahnya sebelum berucap dan menatap Nazwa kembali. “Maunya jadian sekaranag, tapi kayaknya lo belum siap. Gue nunggu lo aja.”
***
Kabar adanya murid baru di Starlight menggemparkan seluruh
warga sekolah. Apalagi murid baru tersebut sangat cantik dan datang bersama Nazwa dan Alina, Sang Primadona sekolah.
Mereka berbondong-bondong ingin melihat wajah Helen. Seperti di kelas contohnya, mereka bergerombol membentuk lingkaran hanya karena ingin berkenalan dengan Helen. Untungnya Helen satu kelas dengan Nazwa. Jadi, dia lebih tenang karena ada Alina yang siap jadi tameng.
“Berisik banget, sih!” Alina berdecak kesal sebab dari tadi banyak yang memperbincangkan mereka. “Jadi, tadi pagi lo dibawa ke mana?” tanya Alina pada Nazwa. Nazwa menghentikan kunyahannya seraya menatap Alina bingung.
“Jadi, Kelvin tadi pagi ngajak lo ke mana?” tanya Alina sekali lagi.
“Kantin.”
“Ngomongin apa?” Alina merapat pada Nazwa diikuti Helen.
Nazwa meletakan sendoknya kemudian meminum es jeruknya sebelum menjawab pertanyaan Alina. “Perasaan,” jawabnya blakblakan.
Alina tersenyum lebar. “Gue mencium bau-bau jadian.”
Helen memutar bola matanya menatap Alina. “Terus perasaan lo gimana?” tanya Helen.
Nazwa mengendikkan bahu membuat kedua sahabatnya saling menatap bingung.
“Ya ampun, Naz! Lo jadian aja sama Kelvin.” Nazwa tak merespon. Dia fokus memakan baksonya.
Tak lama, salah satu ponsel di atas meja bergetar. Alina menegakkan tubuhnya memeriksa ponsel mereka. “Naz, ponsel lo
getar,” ucap Alina.
Nazwa meletakkan sendoknya, kemudian mengambil
ponselnya, memeriksa satu pesan masuk.
Kelvin
Nanti malem keluar bareng gue ya, mau nggak?
***
Nazwa
Iya.
“Udah di bales nih.” Kelvin menunjukkan balasan pesan Nazwa pada ketiga sahabatnya.
“Nah bagus! Tinggal atur aja nanti malam,” ujar Riyan yang
diangguki Zafi dan Dio.
Kelvin menimang-nimang ponselnya, pikirannya tengah berkecamuk tak beres. “Gue deg-degan.”
“Santuy aja kali, Vin.” Zafi menepuk bahu Kelvin.
“Cuma pergi aja lebay banget!” cibir Dio.
“Maklum, ini pertama kali seorang Kelvin ngajak cewek kencan.” Riyan menaikturunkan alisnya. “Ya kan? Berdua doang
kan?”
Kelvin mengibaskan tangannya. “Udah pernah, sorry.”
“Gaya lo!” cibir Zafi.
Kelvin terkekeh. “Yan, lo juga ikut kan?”
“Ya ikut, gue bareng Dio sama Zafi.”
“Alina?”
“Sama Helen katanya. Lo tenang aja, Vin.”
“Gue deg-degan, sumpah.”
“Cuma jalan doang, Kelvin! Gue juga nanti pergi sama Alina.”
Kelvin mencibir pelan. “Iya iya yang pacaran!” Kelvin berdiri kemudian mengambil tasnya.
“Lah! Lo mau ke mana?” tanya Riyan bingung, bersiap turun dari meja.
“Ke Nazwa, terus pulang.” Kelvin melangkah menuju ruang kelas Nazwa diikuti Riyan, Dio, dan Zafi.
Sesampainya di ambang pintu, Kelvin segera masuk menghampiri Nazwa, sedangkan Riyan, Dio, dan Zafi berdiri di sana memerhatikan Alina yang menatap Riyan tajam sembari
berkacak pinggang.
“Mau ke mana?” tanya Alina tajam.
Riyan terkekeh. “Pulang.”
“Ini belum bel pulang, Riyan!” Alina berdecak melepaskan tas Riyan dari bahunya, lalu diletakan di atas meja.
Kelvin duduk di sebelah Nazwa yang masih fokus menulis. Entah menulis apa. Sesekali Kelvin tersenyum menatapnya seraya, lalu melipat tangannya di atas meja. Namun, Nazwa masih belum sadar bahwa Kelvin di sampingnya.
Akhirnya Kelvin pun berdehem membuat Nazwa tersentak kaget.
“Nggak usah ngagetin bisa nggak, sih?” Nazwa menutup buku tulisnya. Menatap Kelvin tajam.
Kelvin terkekeh melihat ekspresi Nazwa yang menggemaskan. Kemudian menepuk puncak kepala Nazwa dua kali. “Ya udah, gih nulis lagi!”
“Males.”
Kelvin kembali terkekeh. “Nanti malem tunggu gue jemput,
ya!” ujar Kelvin.
Nazwa bergeming menatap bukunya. Ada sekelebat pikitan mengenai mamanya. Respon Mama gimana ya? Apa dia akan mengizinkan gue pergi sama Kelvin?
“Naz, gimana?” tanya Kelvin memastikan.
Nazwa mengangguk ragu.
“Dandan yang cantik, ya! Eh, jangan, deh! Lo kan udah cantik, kalau tambah cantik nanti diculik jadi ribet.”
“Kan lo penculiknya!” balas Nazwa membuat Kelvin tertawa renyah, lalu mengusap kepala Nazwa, kemudian pergi.
***
Perasaan itu tidak bisa dipaksakan.
Seperti perasaanku yang tiba-tiba menyukaimu.