Sebelum pukul enam sore, Kelvin sudah berada di depan rumah Nazwa. Telapak tangannya dingin, ada rasa gugup dalam dirinya. Apalagi setelah mamanya Nazwa
membukakan pintu untuknya.
“Jadi, kamu mau ketemu siapa? Veno atau Nazwa?” tanya Dinda.
Kelvin tersenyum canggung. “Mau ketemu Nazwa, Tante,”
jawab Kelvin.
Dinda mengangguk. “Kamu temannya Nazwa?”
“Iya, Tante.”
Dinda berpikir sejenak, mengingat pertemuan mereka sebelumnya karena wajah Kelvin tidak asing bagi Dinda. “Oh, kamu yang dulu datang ke rumah sakit?”
“Iya, Tante.”
“Nama kamu siapa?”
“Kelvin.”
“Tante panggilin Nazwa dulu,” Dinda tersenyum seraya berdiri.
“Tante!”
Dinda menoleh. “Ada lagi?”
“Aku mau bicara sebentar, boleh?” tanya Kelvin yang dibalas anggukan oleh Dinda.
Kelvin membisikkan sesuatu pada Dinda. Entah apa yang dibicarakan hingga mampu membuat Dinda tersenyum, kemudian menepuk bahu Kelvin dua kali.
“Iya, jaga Nazwa, ya!”
“Siap, Tante!” ujar Kelvin mantap. “Bisa dibantu kan?”
“Beres.” Dinda mengangkat jempolnya kemudian pergi menuju kamar Nazwa.
Kelvin tersenyum lebar. Usaha awalnya sudah direncanakan. Tinggal waktu malam nanti. Kelvin mengambil ponselnya di dalam saku celana, mengetik sesuatu di atas layar, kemudian menutupnya kembali.
***
Nazwa terkejut sekaligus terheran-heran ketika mamanya mengetuk pintu, kemudian masuk kamar sambil tersenyum.
“Ada apa, Ma? Kok senyum-senyum gitu?”
“Cie, yang mau kencan!” ledek Dinda seraya mencubit gemas pipi gadisnya. “Kenapa belum siap-siap? Kelvin udah di bawah lho.”
Mata Nazwa melebar sempurna, kemudian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam sore. “Ini masih sore, Ma, janjinya kan jam tujuh.”
Dinda tersenyum, mendorong Nazwa masuk ke kamar mandi.
“Udah sana mandi dulu! Mama siapkan bajumu nanti.” Nazwa
hanya mampu mendesah pelan menuruti permintaan mamanya.
Dinda membuka lemari pakaian Nazwa. Tatapannya jatuh pada sebuah dress berwarna peach dengan model sabrina, bagus dan simpel. Diambilnya dress itu, kemudian diletakkan di atas ranjang, sementara dia pergi ke kemarnya untuk mengambil beberapa alat make-up.
“Waw, cantik seperti bidadari!” seru Dinda ketika melihat Nazwa sudah memakai baju yang dipilih olehnya.
“Apaan, sih, Mama?” Pipi Nazwa merona.
“Ayo, duduk!” Dinda menarik tangan Nazwa, kemudian mendudukkannya di kursi menghadap ke meja rias.
“Mau diapain, Ma?”
“Didandanin! Kamu diam aja!”
Dinda mengeringkan rambut Nazwa, lalu diikat di belakang. Dinda memegang pundak Nazwa kemudian membalikkan badan Nazwa untuk memulai mendandaninya.
Empat puluh menit kemudian, Dinda berdiri dan tersenyum pada putrinya. “Kamu sangat cantik, Nazwa!” Dia merapikan
rambut Nazwa sembari membiarkan Nazwa bercermin sepuasnya.
“Ma, ini kayak bukan aku,” ujar Nazwa seraya meraba wajahnya sendiri.
“Ini kamu, Sayang! Nazwa cantik yang akan bertemu dengan Kelvin ganteng,” rayu Dinda.
“Ih, Mamaaa!”
“Nah, selesai!” seru Dinda dengan wajah bangganya. “Nggak nyangka kamu secantik ini, Sayang.”
“Mama, aku emang cantik!” tukas Nazwa.
Dinda tertawa. “Ayo, turun! Udah mau jam tujuh,” ajak Dinda, kemudian keluar dahulu membiarkan Nazwa mengambil dan memakai sepatunya.
Nazwa tersenyum sekali lagi ketika bercermin. Dia mengakui bahwa dirinya sangat cantik malam ini. Dia pun keluar kamar, lalu berjalan menuruni tangga. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Lampu rumahnya tiba-tiba padam ketika dia berada di tengah-tengah tangga.
“Mama!” teriaknya, “Kak Veno!”
Nazwa semakin takut ketika tak ada yang merespon teriakannya. Dia melafalkan doa seraya berjalan pelan menuruni tangga.
“Aw!” Nazwa meringis memegangi kakinya yang terbentur pada kursi. Mengusap-usapnya sebentar, lalu pandangannya
teralihkan pada sebuah lampu menyala memenuhi satu ruangan menuju taman belakang. Bukan lampu rumahnya melainkan lampu tmblr yang sudah terpasang di sekeliling dinding ruangan
itu. Dahi Nazwa mengernyit bingung, padahal ia ataupun kakaknya tidak pernah memasang lampu itu.
Kaki Nazwa bergerak mendekati ruangan itu. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh sebuah kertas yang menempel di dinding.
Taman belakang.
Nazwa memandang ke arah taman belakang yang hanya dibatasi oleh kaca tebal. Sepi dan gelap. Bulu kuduknya meremang, tapi dia penasaran apa yang terjadi di sana.
Akhirnya Nazwa berjalan sangat pelan seraya membawa kertas itu. Hingga ketika dia membuka pintu belakang, seluruh lampu rumahnya menyala dan alunan musik terdengar sangat merdu. Nazwa mematung seraya mengedarkan pandangannya dan dirinya terkejut ketika Kelvin duduk di atas panggung berukuran 2 x 1 meter dengan tinggi sekitar 70 sentimeter.
Kelvin tersenyum menatapnya, tangannya memetik senar gitar dan mulai bernyanyi.
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Judika - Cinta karena cinta.
Nazwa bergeming merasakan gejolak dalam tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, merasakan energi bahagia; telapak tangannya dingin, gugup; dan wajahnya terasa panas menahan malu, bahkan sudah merah merona.
Kelvin pun menghampirinya, lalu berdiri di hadapannya seraya tersenyum menatapnya dari atas hingga bawah. “Lo sangat
cantik,” pujinya membuat Nazwa tersipu malu.
“Naz, gue mau ngomong.” ujar Kelvin, lalu mengulurkan tangannya, mengajak Nazwa untuk berjalan mengikutinya.
Mereka berada di atas panggung, berhadapan saling menatap. Kelvin memegang kedua tangan Nazwa. Sesekali berdehem untuk menutup rasa gugupnya, sedangkan Nazwa jatuh dalam tatapan lekat itu, meski dia juga sangat gugup dan malu.
“Nazwa,” panggil Kelvin lembut. Nazwa semakin menatapnya.
“Naz, gue sayang sama lo,” ungkap Kelvin dalam satu tarikan napas. “Gue mau jaga lo. Gue ingin jadi sandaran lo saat lo sedih
dan senang. Gue ingin jadi tempat cerita buat lo. Lo sangat berarti buat gue, Naz.” Kelvin mengeratkan genggamnan tangannya. “Biarkan gue jadi orang terakhir buat lo. Gue akan berusaha buat lo bahagia. Gue yang akan bantu lo buat bangkit lagi seperti dulu
dan ngelupain masa lalu lo.”
“Vin,” lirih Nazwa.
Kelvin memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napasnya dalam. “Lo mau jadi pacar gue?”
Nazwa meneguk ludahnya susah payah. Jantungnya kembali berdegup kencang dan wajahnya memanas. Gugup, malu, dan
bahagia. Sekelebat perasaan asing menyeruak. “Kalau nggak?”
“Kan gue nanyanya mau, bukan mau nggak!” sergah Kelvin dengan kedua alis terangkat.
“Ya udah.” Nazwa mengangguk.
Kelvin tersenyum. “Ya udah apa?”
“Ya itu!”
“Itu apa?” Kelvin terkekeh, seraya menggerakkan alisnya naik turun.
“Mau jadi pacar lo,” jawab Nazwa lirih, bahkan seperti bisikan.
Tawa Kelvin pecah, sedangkan Nazwa mencubit lengan Kelvin seraya mengerucutkan bibirnya. “Apaan, sih?”
“Ih, masa pacarnya dicubit! Nazwa cantik kok nyubit pacarnya yang ganteng, sih?” goda Kelvin membuat wajah Nazwa semakin merah.
“Jadi kita pacaran?” tanya Nazwa polos, seolah tak percaya bahwa dirinya menerima Kelvin dalam hatinya.
“Ya iya, dong!” Kelvin menyentil ujung hidung Nazwa, kemudian menarik Nazwa ke dalam pelukannya. “Makasih udah nerima gue, Naz.”
Nazwa hanya mengangguk, membalas pelukan Kelvin.
Dan ….
“Cieee!”
“Cie, yang udah jadian!”
“Besok ditraktir nih!”
Nazwa mengedarkan pandangannya, terkaget-kaget ketika teman-teman dekatnya dan orangtuanya serta Veno berada di sana.
“Vin, malu banget,” ujar Nazwa.
Kelvin terkekeh. “Udah nggak apa-apa. Yuk, kita gabung!”
Kelvin menuntun Nazwa turun dari panggung kemudian berjalan bergandengan.
“Nazwa!” panggil Dinda.
“Mama!” Nazwa menghampirinya, lantas memeluknya erat.
“Iya, Sayang. Mama bolehin kamu sama Kelvin asal jangan melebihi batas ya pacarannya. Kalau kamu seneng Mama juga seneng.” Dinda mengusap punggung Nazwa yang tertutupi oleh rambut panjangnya.
“Makasih ya, Ma.” Nazwa menguraikan pelukannya. Mencium pipi kanan kiri Dinda. Ia berganti menghadap Papanya. “Papa bolehin nggak?” tanyanya.
“Boleh, kok. Pesan Papa sama kayak Mama aja.” Dino memeluk putrinya sejenak, mencium kening Nazwa, kemudian menatap Kelvin. “Jaga Nazwa, ya!”
“Pasti, Om,” ucap Kelvin yakin membuat Dino mengangguk.
“Jaga adik gue, ya, Vin!” ucap Veno menepuk bahu Kelvin.
“Pasti, Kak, tenang aja,” ucap Kelvin.
Kelvin mendekati Nazwa yang tengah tersenyum tipis menatapnya. Dia merogoh kalung berwarna silver dengan bandul berbentuk hati dari saku celananya. “Pake ya.”
Nazwa hanya mengangguk mempersilakan Kelvin memakaikan kalung itu di lehernya.
“Vin, kalau nanti Malika tahu gimana? Dia kan suka banget sama lo,” ujar Nazwa sedikit takut.
“Gue sukanya sama lo, bukan Malika. Gimana, dong?”
Nazwa memukul lengan Kelvin membuat cowok itu tertawa pelan. “Makasih ya, Vin,” ujar Nazwa, lalu memegang kalung cantik di lehernya.
Kelvin menangangguk sembari tersenyum. Dia memegang tangan Nazwa membawanya mendekat ke arah teman-temannya.
“Cie, yang udah nggak jomlo lagi!” Alina berlari dan langsung memeluk sahabatnya erat. “Lo cantik banget sumpah.”
“Selamat Naz. Asli gue nggak nyangka bakal gini jadinya,” ujar Helen memeluk Nazwa sejenak.
“Makasih ya,” ujar Nazwa.
“Cie, yang udah pensiun dari kejomloan yang mengenaskan,”
goda Dio tertawa. “Gue mau nyusul, Vin.”
“Lo aja kali yang mengenaskan,” timpal Zafi.
“Susul aja langsung, Yo!”
“Calonnya?” tanya Dio.
Zafi menepuk bahu Dio, menunjuk Helen yang tengah tertawa bersama Alina dan Nazwa. “Tuh!”
“Dia jomlo?” tanya Dio pada ketiga temannya.
Riyan menyentil dahi Dio. “Ya tanya sendiri, lah!”
“Lah!” Dio melongo.
***
Malam ini Nazwa, Alina, dan Helen bergabung dengan Kelvin, Riyan, Dio, dan Zafi untuk berkumpul di sebuah kafe. Mereka hanya berbincang, tertawa, seraya menikmati kopi, teh, atau s**u, serta camilan lainnya.
Suasana kafe cukup ramai, meskipun bukan malam Minggu. Sama seperti pikiran Nazwa yang memikirkan pilihannya. Dia memilih untuk jatuh cinta lagi dan menjalin hubungan asmara dengan Kelvin.
Bagi Nazwa, memilih jatuh cinta tentu juga menyiapkan hati yang kuat untuk menerima luka yang bisa kapan saja datang. Nazwa berharap kali ini dia bisa lebih dewasa menghadapi kisah cintanya yang baru. Lebih sering meredam egois misalnya.
Nazwa menoleh ke samping, membalas tatapan Kelvin. Mereka berbalas tersenyum. Kemudian, Kelvin menyandarkan
kepala Nazwa pada bahunya.
“Romantis banget nih yang baru jadian,” ledek Riyan.
“Biasa, Yan. Pacaran masih anget-angetnya,” tambah Dio menatap Kelvin sinis.
“Biasa aja, situ sirik amat!” Kelvin tersenyum miring. Tangannya mengelus pelan kepala Nazwa yang bersandar di
bahunya.
“Hilih! Siapa juga yang sirik?” Dengan kesal Dio menggigit kentang gorengnya, lalu melahapnya dengan cepat membuat teman-temannya terbahak-bahak.
“Udah ngode belum, Yo?” tanya Alina di sisa tawanya. Dia melirik Helen yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Udah, Al!” jawab Dio. “Dia-nya aja yang nggak peka. Padahal pagi, siang, sore, dan malem gue kode terus.”
“Oh, berarti ada yang kurang, Yo!” Alina meninggikan suaranya, berharap Helen mendengarnya dengan jelas.
“Hel!” panggil Alina, Helen menoleh. “Lo merasa ada yang kode lo nggak?”
Helen menautkan kedua alisnya, keningnya berkerut. Dia
menggeleng. “Nggak. Emang ada?” tanya Helen balik.
Alina menggeleng, lalu menatap Dio yang wajahnya tampak tidak karuan.
“Mukanya biasa aja kali, Yo! Gue tahu lo kesel banget,” ujar Kelvin.
“Ngakunya sih udah pro masalah kode,” timpal Riyan.
“Emang lo ngodenya gimana?” tanya Zafi ikut nimbrung.
“Ada, deh!” jawab Dio.
“Halah, cuma ngucapin met pagi, siang, sore, sama malem,
ya?” Zafi terkekeh, lalu menatap Alina. “Tanyain, Al!”
“Helen!” panggil Alina lagi.
Helen menoleh. “Apa lagi?”
“Taro dulu handphone-nya.”
Dengan muka kesal Helen menaruh ponselnya di atas meja. “Udah nih!”
“Lo lihat nih.” Alina menunjuk satu persatu teman cowoknya. Termasuk Riyan pacarnya sendiri. “Siapa di antara mereka yang sering chat lo? Kirim pesan atau telepon gitu. Ada nggak?” tanya Alina.
Helen tampak berpikir, kemudian mengangguk. “Ada.”
“Siapa?”
“Dio,” jawab Helen singkat dan jelas membuat Dio panas dingin di tempatnya.
“Dia sering nge-chat lo gimana? Suka ngode nggak?”
Kening Helen makin berkerut dalam. “Ngode gimana? Orang paling chat aja dia tanya 'lagi apa'.”
Semuanya tertawa, sedangkan Dio merasa ingin pingsan saat itu juga.
***
“Kok ke sini?” tanya Nazwa bingung ketika Kelvin menghentikan motornya di tepi pantai. Begitu pun teman-temannya, bahkan mereka sudah turun dari motor masing-masing.
Kelvin memundurkan kepalanya, kemudian menoleh ke menatap Nazwa. “Emang maunya ke mana?” tangannya menaruh helm di atas motor sebagai tumpuan tangan.
Nazwa mengerucutkan bibirnya seraya mengendikkan bahunya. Sikap dingin itu kembali terlihat jelas. Bahkan Kelvin
melihat rasa tidak suka dari tatapan Nazwa.
Kelvin mengelus tangan Nazwa yang berada di dalam saku jaketnya. “Mau di sini terus? Nggak mau turun gitu? Betah amat.”
Nazwa mendengkus. “Iya, gue turun!”
Kelvin tekekeh pelan, lalu turun dan menggandeng gadis itu menuju teman-temannya yang sudah berjalan lebih dulu.
“Ceweknya cantik, tapi sayang udah ada yang gandeng,”
celetukan yang diiringi kekehan itu membuat Kelvin menoleh ke asal suara. Tak jauh darinya, dua orang laki-laki yang mungkin seumurannya dengannya tengah menatap Nazwa kagum. Kelvin mendelik kesal, lalu merangkul pinggang Nazwa dan
merapatkannya ke tubuhnya.
“Kenapa?” tanya Nazwa heran.
Kelvin tak merespon. Dia masih menatap dua orang itu. Ketika tatapannya beradu dengan salah satu laki-laki itu, Kelvin menatapnya dengan tajam. Laki-laki yang ditatap berbisik pada temannya hingga temannya itu menoleh ke arah Kelvin. Keduanya memalingkan wajah, kemudian berjalan menjauh.
“Heh!” sentuhan Nazwa membuat Kelvin langsung tersadar.
“Kenapa, Vin?”
Kelvin menggeleng pelan. “Enggak apa-apa. Ayo, kita udah ketinggalan jauh nih.” Dia membawa Nazwa berjalan cepat ke arah teman-temannya sampai gadis itu harus bisa menyeimbangi langkah kaki Kelvin.
“Vin, pulang,” ujar Nazwa seraya menghentikan langkahnya.
“Capek ya?”
Nazwa mengangguk.
“Mau gendong?”
Nazwa menggeleng, dia cukup tahu diri dan mengerti bahwa Kelvin juga pasti lelah seharian ini. Apalagi acara tadi dirancang
Kelvin sendirian.
“Katanya capek? Digendong nggak mau.” protes Kelvin.
“Maunya apa?”
“Pulang.”
“Di depan ada pasar malem. Nggak mau mampir emang?”
“Emang ada?”
“Emang aku bilang nggak ada?” tanya balik Kelvin.
“Ish!” desis Nazwa. Tersadar ada yang beda dengan ucapan Kelvin tadi. Tiba-tiba wajahnya merona. “Aku?”
Kelvin tertawa. “Iya, aku dan kamu.”
Nazwa semakin merona. Jantungnya kembali berdegup kencang, hingga dia takut Kelvin mendengar degup jantungnya.
Nazwa hanya tersenyum menatap Kelvin yang juga menatapnya lekat.
“Udah deh daripada kamu capek, aku gendong aja ya?” Alihalih memaksa, Kelvin akan berjongkok, tapi Nazwa menahannya.
“Nggak mau! Malu.”
Kelvin menatap Nazwa, lalu mengacak rambutnya gemas. “Terus maunya apa?”
“Maunya … kamu.” Nazwa tersenyum tipis.
Kelvin tersenyum. Dia berdehem pelan, menyembunyikan salah tingkahnya. Dia kembali menatap Nazwa lekat, lalu mencubit
gemas pipinya membuat Nazwa meringis, sementara Kelvin tertawa. Tampaknya dia akan mimpi indah malam ini.
***
Jangan egois dia juga berhak menentukan dengan siapa dia bahagia.