Setelah melalui malam yang mengesankan bagi Kelvin dan Nazwa, pagi ini mereka berangkat bersama ke sekolah. Mereka turun dari mobil yang sama, saling berbalas senyum, kemudian berjalan berdampingan.
Siswa-siswi SMA Starlight tentu tercengang melihat Nazwa dan Kelvin turun dari mobil yang sama, apalagi mereka berjalan berdampingan. Desas-desus mengenai hubungan mereka mulai terdengar di setiap penjuru sekolah, diiringi suara kamera ponsel yang memotret mereka ketika berjalan.
Kabar tentang hubungan mereka sampai ke telinga Malika. Seketika amarahnya bergejolak membuat mukanya terlihat memerah. Meski dia sempat tahu diri karena dia tidak seperti Nazwa, tapi melihat Nazwa berhasil diluluhkan Kelvin, membuat Malika merasa tidak rela.
Malika berlari mencari Kelvin untuk mengetahui kebenaran desas-desus tersebut. Namun, dia hanya bertemu Riya dan Dio. Amarahnya semakin bergejolak. Akhirnya, dia pergi ke toilet, kemudian kembali ke kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi.
***
“Vin, lo dicariin Malika tadi.”
Nazwa sontak menatap Riyan. “Malika?” Kelvin menggeleng kemudian mengusap kedua bahu Nazwa.
“Tenang aja, dia nggak bakal ngapa-ngapain kita.”
Nazwa hanya mengangguk seraya menunduk. Mengingat hubungannya dengan Kelvin baru satu hari, dia tidak bisa menahan cemasnya yang membuncah. Dia juga takut. Bagaimana kalau Malika menghancurkan hubungan mereka?
Alina mencubit pelan pipi Nazwa, membuat Nazwa menoleh padanya. “Nggak usah takut, Naz. Lo nggak sendirian. Ada gue, Helen, Kelvin, Riyan, Dio, dan Zafi. Lo juga nggak boleh kalah sama Malika kalau dia nyalahin lo.”
Nazwa mengangguk tersenyum. “Tenang aja, Kelvin nggak bakal milih Malika yang ngeselin level tak terhingga, Naz!” ujar Dio membuat mereka tertawa.
“Naz!” Kelvin menggenggam tangan Nazwa, mengalirkan ketenangan melalui jari-jarinya.
“Kamu cantik dan kamu cewek yang kuat,” ungkap Kelvin.
Nazwa balas menatap Kelvin, menyunggingkan senyum tipisnya. “Beneran?”
“Kamu kira a—”
“Kelvin!” seru Malika memotong ucapan Kelvin. Dia kemudian berdiri di samping Kelvin.
Kelvin berdecak kesal. “Apa?”
“Vin, lo nggak pacaran sama Nazwa „kan? Mana mungkin lo pacaran sama cewek dingin kayak dia!” ujar Malika sembari menunjuk Nazwa.
Kelvin tersenyum miring, kemudian menunjukkan tangannya yang menggenggam erat tangan Nazwa.
“Jadi, beneran?”
“Lo nggak buta kan? Jelas-jelas udah gandengan tangan dan duduk deket-deketan, masih ngeyakinin bahwa Kelvin belum jadian? b**o!” tegas Alina seraya berdiri.
Malika menatap Alina tajam, kemudian berganti menatap Kelvin. “Vin, kenapa lo lebih milih Nazwa? Kurang gue apa, Vin?” tanya Malika lirih.
“Karena cinta. Lo nggak kurang, gue aja yang nggak suka,” jawab Kelvin santai.
“Kelvin, gue sayang sama lo dari dulu. Bahkan sebelum lo kenal sama Nazwa.” Malika berkedip, meluruhkan air matanya.
“Tapi gue nggak, Mal. Gue cinta sama Nazwa, bukan sama lo. Jadi, tolong jangan ganggu gue dan Nazwa!”
Hatinya tersentil. Tangis Malika makin luruh, menghadapi kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. “Naz, gue cinta sama Kelvin. Lo bisa kan tinggalin Kelvin?”
Sontak Alina menggebrak meja. Matanya melotot sempurna.
“Lo nggak tahu diri banget ya, Mal? Seenaknya aja nyuruh sahabat gue buat tinggalin Kelvin. Mending lo yang pergi! Pergi!” teriak Malika, tetapi Malika hanya menoleh sebentar.
“Sorry, Mal. Apa pun yang udah jadi milik gue nggak akan bisa gue bagi,” ujar Nazwa, membuat Kelvin tersenyum dan semakin menggenggam erat tangan Nazwa.
Mendengar jawaban Nazwa, emosinya bergejolak lagi. Dia mengusap air matanya kasar. “Naz, lo nggak sadar? Lo itu udah rebut milik gue!” teriaknya.
“Bukannya lo yang mau rebut Kelvin dari gue? Sebelumnya lo belum ada status sama Kelvin kan? Wajar, dong, kita jadian!” ucap Nazwa santai.
“Pergi, Mal, sebelum gue bertindak kasar sama lo,” pinta Kelvin.
Malika menggeleng. “Nggak! Nazwa udah rebut lo dari gue! Dia harus gue kasih pelajaran!” teriaknya, kemudian melayangkan
tangan untuk menampar Nazwa, tetapi Kelvin lebih dulu menarik Nazwa ke belakang tubuhnya.
Kelvin menatap Malika tajam. “Don't touch her! Atau lo akan berurusan sama gue!”
“Aaargh!” teriak Malika seraya memalingkan muka, menatap Dista yang menghampirinya.
“Mal, malu dilihatin orang. Ayo, kita pergi aja!” ajak Dista seraya menarik tangan Malika. Malika menepis tangan Dista. “Enggak bisa! Dia udah rebut Kelvin dari gue, Dis!”
“Lo belum jadian sama Kelvin, Mal. Ayo!” Dista menarik paksa tangan Malika.
“Awas lo!” seru Malika seraya menunjuk Nazwa, kemudian pergi bersama Dista.
“b******k tuh cewek!” umpat Alina.
“Naz, kamu nggak apa-apa?” tanya Kelvin seraya menatapnya lekat.
“Naz, kok malah melamun? Kenapa?” Nazwa menoleh, lalu menggeleng.
Kelvin tersenyum. “Mau ke kelas?” tanya Kelvin seraya merangkul pundak Nazwa, kemudian dibalas anggukan oleh Nazwa.
Selama mereka berjalan, mereka merasakan tatapan-tatapan, bisikan-bisikan, serta beberapa kali suara potretan kamera ponsel dari siswa-siswi. Nazwa dan Kelvin yang sudah biasa mengalami hal tersebut tidak merespon apa-apa.
Tepat di depan koridor kelas sepuluh, langkah mereka terhenti ketika seorang siswi menyodorkan dua batang cokelat. “Ini buat Kakak. Aku udah tahu berita tadi. Kakak tenang aja mereka nggak ngomongin Kakak, tapi ngomongin Kak Malika. Terima ya,” ujarnya seraya tersenyum.
Kelvin menerima coklat itu lalu memberikannya pada Nazwa. “Makasih,” ujar Kelvin.
Nazwa tersenyum tipis dan ini pertama kalinya dia tersneyum pada orang yang tidak dia kenal. “Makasih.”
Siswi tersebut berteriak, membuat teman-temannya bertanyatanya. “Kak Nazwa senyum. Iya sih tipis, tapi bikin diabetes!”
serunya heboh.
Kelvin hanya terkekeh, sedangkan Nazwa melihatnya bingung. Mereka pun kembali berjalan setelah Kelvin pamit pada mereka.
***
Langkah Kelvin terhenti di depan pintu ketika dia mendengar perbincangan yang diakhiri gelak tawa. Kelvin berbalik, ternyata ada satu mobil terparkir di sana. Tanpa ragu, Kelvin pun masuk.
Seketika dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di ruang tamu.
“Eh, Sayangku sudah pulang. Sini duduk!” ajak Lisa.
Kelvin tersenyum hormat. Menyalimi mamanya, perempuan yang terlihat seusia mamanya, dan seorang gadis yang duduk di
sampingnya.
“Vin, ini Tante Nia dan itu anaknya—Karen.” Lisa memperkenalkan mereka yang di balas Kelvin dengan anggukan.
“Masih inget mereka nggak?” Kelvin menggeleng.
“Oh, ini Kelvin? Makin ganteng aja,” puji Nia, kemudian menoleh pada Karen. “Kalau cari pacar harus yang ganteng kayak Kelvin, dong, Ren!“
“Apaan, sih, Mi?” wajah gadis itu bersemu.
“Mama, aku ke kamar dulu.” Kelvin berdiri, tetapi tangannya dicekal lebih dulu oleh Lisa.
“Itu katanya Karen mau ketemu kamu. Temenin gih bentar. Mama mau masak dulu sama Tante Nia.”
“Eh, Tante!” seru Karen malu-malu.
“Nggak apa-apa, Ren. Ayo, Jeng kita ke dapur!” Lisa dan Nia meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Kelvin mengembuskan napasnya, lalu duduk kembali di tempat semula. Ada rasa malas dan tidak suka ketika harus berhadapan dengan gadis yang tidak dia kenal. Namun, karena
mamanya yang meminta, dia tidak bisa menolak. Padahal, niatnya dia akan menelepon Nazwa ketika dia sudah sampai rumah.
“Lo mau ngomong apa?” tanya Kelvin dengan nada cuek.
Karen mendongak, kemudian menatap Kelvin. Ada rasa gugup dan bahagia ketika dia menatap Kelvin dari dekat. Seperti sebuah ketertarikan.
Kelvin mendengkus. “Lo mau ngomong apa sama gue?” tanya Kelvin sekali lagi.
“Eh … oh … nggak,” jawab Karen gugup.
“Kata Mama, lo mau ketemu gue. Ada apa?” Kelvin memasang wajah datarnya.
“Nggak ada apa-apa,” jawab Karen. Keinginannya menanyakan sesuatu pada Kelvin menguap begitu saja melihat reaksi Kelvin padanya. Mungkin Kelvin memang sudah lupa padanya.
Tak lama kemudian, hujan mulai turun. Sedikit demi sedikit menjadi deras. Memantulkan bunyi yang semakin keras di atas atap seiring turunnya hujan yang semakin lebat. Hingga petir bergemuruh dan menyambar membuat mereka kadang terkaget-kaget.
“Vin, lo beneran nggak inget gue?”
Sekali lagi petir menyambar dan kali ini lebih keras. Saat itu juga ponsel Kelvin bergetar. Namun, Kelvin tidak mendengarnya karena ponselnya berada di dalam tas ranselnya. Bahkan ucapan Karen pun tidak begitu jelas di pendengarannya.
“Lo ngomong apa tadi?” tanya Kelvin.
Karen terdiam di ambang bingung. Dia terlalu gugup untuk mengulangi pertanyaannya. Pada akhirnya, Karen menggeleng, melepaskan pertanyaannya begitu saja tanpa jawaban yang ingin ia dapatkan.
***
Nazwa sontak menjatuhkan ponselnya, lalu berlari ke arah pintu ketika suara petir menggelegar di tengah hujan. Napas Nazwa terengah-engah. Seluruh badannya melemas di balik pintu. Tangannya gemetar, tetapi dia masih berusaha meraih kembali ponselnya untuk menghubungi Kelvin.
Nada tersambung mulai terdengar, tetapi tidak ada tandatanda Kelvin mengangkat teleponnya. Sedetik kemudian, petir menyambar-nyambar lagi, kali ini lebih keras membuat Nazwa bergetar hebat, hingga tubuhnya luruh ke lantai.
“Kelvin angkat! Aku takut,” lirih Nazwa seraya menitikkan air matanya. Dia hanya bisa memeluk lututnya sendiri sembari menangis. Ditatapnya ponsel di depannya yang sudah
menampilkan layar hitam. Nazwa terisak.
Kelvin tidak mengangkat teleponnya.
Nazwa sendirian—Bi Yuni izin pulang kampung karena rindu anak-anaknya, kedua orang tuanya belum pulang, dan Veno sedang mengerjakan tugas kuliah di rumah temannya. Nazwa ingin meminta Kelvin menjemputnya, lalu pergi ke tempat yang agak ramai, misalnya kafe. Namun, Kelvin entah ke mana.
Nazwa menutup telinganya ketika mendengar petir menyambar-nyambar. Matanya terpejam. Dia pun segera beranjak ke tempat tidur, lalu bersembunyi di bawah selimut. Melafalkan doa-doa, meminta perlindungan. Hingga akhirnya dia tenang dan tertidur.
Ketika hujan sudah agak reda, meskipun petir masih menyambar-nyambar, Veno segera pulang untuk memastikan keadaan adiknya. Dia tahu bahwa Nazwa akan ketakutan ketika
mendengar petir.
Veno sempat terkaget-kaget ketika dia tidak mendengar suara Nazwa. Akhirnya, dia masuk ke kamar Nazwa dan mendapati Nazwa meringkuk di bawah selimut. Perlahan dia membuka selimutnya, ternyata Nazwa tertidur. Dia bernapas lega, lantas keluar menuju kamar mandi.
***
“Kakak! Baru pulang, ya?” tanya Nazwa ketika dia turun ke ruang tengah dan melihat Veno duduk di sana.
“Idih, Kakak pulang ketika kamu udah tidur.”
Nazwa tersenyum. “Pasti takut Nazwa kenapa-napa.”
“Iya!” seru Veno dengan nada kesal. “Tadi sore pulang sama siapa?”
“Kelvin, kenapa?”
Veno menggeleng. “Enggak. Kamu nggak nelepon Kelvin waktu ketakutan?”
Nazwa diam. Merasa tertohok dengan pertanyaan kakaknya. Dia menelepon Kelvin, tetapi Kelvin tidak menjawab panggilannya.
Nazwa mencari ponselnya, berharap ada kabar dari Kelvin. Namun, sampai sekarang Kelvin tidak memberikan kabar padanya.
Veno yang sebenarnya sempat mengecek ponsel Nazwa, sudah tahu kalau Kelvin tidak menjawab teleponnya. Veno mengembuskan napasnya, lalu tersenyum. “Jalan-jalan, yuk!”
“Ke mana?”
“Mal aja.”
“Oke!”
Mereka lantas pergi mengendarai mobil. Di jalan, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Sempat, Nazwa mengirimkan pesan pada Kelvin, memberi tahu jika dia pergi ke Mal bersama Veno.
“Kita makan dulu, ya. Abis itu jalan-jalan,” ujar Veno.
“Tahu aja adiknya lagi laper.”
“Iya, lah!”
Mereka memasuki salah satu restoran makanan cepat saji, kemudian duduk di salah satu bangku dekat jendela. Veno membuka buku menu, kemudian memilih salah satu menu, sedangkan Nazwa kembali membuka ponselnya.
“Naz, mau pesen apa?”
Nazwa terdiam sejenak, menuntaskan rasa khawatir yang terus menggerogoti perasaannya. “Samain aja,” jawabnya pelan.
“Naz, Kakak mau pesan makanan terus ke toilet bentar, ya. Kamu jangan keluyuran!”
Nazwa mendengkus. “Iya, Kakak Veno!” seru Nazwa, membuat Veno terkekeh, kemudian pergi meninggalkan Nazwa sendiri.
Nazwa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jenuh dan bosan. Saat pandangannya mengarah ke pintu utama restoran, tatapannya terpaku pada dua orang yang akan keluar melewati pintu. Nazwa sontak berdiri, seraya memandang dua orang itu lekat-lekat.
Punggung tegap lelaki itu, juga potongan rambutnya, serta jaket yang dikenakannya mengingatkan Nazwa pada Kelvin. Lelaki itu sangat mirip dengan Kelvin. Namun, pikirannya menolak hal itu karena di sebelah lelaki itu berdiri seorang gadis. Kelvin tidak mungkin selingkuh dari gue. Kelvin tidak mungkin
melakukannya. Tidak! Kedua telapak tangan Nazwa terkepal erat, menahan gejolak di dadanya.
“Naz, kenapa berdiri?” tanya Veno membuat Nazwa menoleh, lalu menggeleng, kemudian duduk lagi.
Nazwa kembali menatap ke arah pintu, tetapi dua orang itu sudah tidak ada di sana. Mungkin sudah pergi.
Nazwa mengambil ponselnya, lalu mencoba menelepon Kelvin untuk memastikan bahwa lelaki yang tadi bersama seorang gadis bukanlah Kelvin. Sialnya, Kelvin tidak mengangkat teleponnya.
***
“Vin, ini Karen. Kamu beneran nggak inget dia siapa?” tanya Lisa.
Kelvin menggeleng. Dia sudah bosan duduk di ruang tamu untuk menemani Karen. Kalau bukan perintah mamanya, Kelvin mungkin lebih memilih bersantai di kamar sembari menelepon Nazwa.
“Dulu mereka yang nempatin rumah depan kita, Vin. Kamupadahal sering main bareng lho sama Karen. Ya kan Karen?”
“Iya, Tante,” jawab Karen tersenyum manis.
“Oh,” jawab Kelvin sekenanya.
“Ah kamu, Vin. Maklum, Ren, baru pertama ketemu masih malu-malu.” Lisa terkekeh begitu pun Tante Nia. Tangan Lisa tak tinggal diam. Merasa malu akibat balasan singkat Kelvin, Lisa menyubit pinggang Kelvin membuat Kelvin meringis kecil.
"Nggak apa-apa, kok, Tante!” Karen tersenyum menatap Lisa, lalu berganti menatap Kelvin.
“Ma, aku ke kamar dulu!” ujar Kelvin hendak beranjak.
“Kelvin! Karen nggak ada temennya. Dia pengen jalan-jalan ke mal. Kamu temenin, ya!” ujar Lisa.
“Hah? Ke mal? Berdua?”
“Kamu ganti baju dulu. Lima menit aja!”Kelvin mengembuskan napasnya berat, lalu beranjak ke kamarnya sembari menggerutu dalam hati. Dia tidak bisa menolak permintaan mamanya. Dia hanya bisa menahan emosinya.
***
“Cepet makannya!” ujar Kelvin datar.
“Lo nggak makan?” tanya Karen seraya menatap makanan Kelvin yang masih utuh.
“Kenyang,” ujarnya cuek.
Karen mengangguk, lalu melanjutkan makannya. Mereka berdua kini sedang berada di sebuah restoran makanan cepat saji yang berada di dalam mal. Kelvin memang sering makan di restoran itu, tetapi kali ini dia tidak berselera makan karena bersama Karen. Apalagi, ponselnya ketinggalan di kamar karena dia buru-buru tadi.
“Cepet, gue ada perlu!” tegas Kelvin.
“Mau ngapain, sih, Vin?”
“Bukan urusan lo!”
Setelah Karen menyimpan sendok dan garpunya di atas piring yang kosong, Kelvin lekas berdiri, lalu berjalan lebih dulu. Karen yang tidak mau ketinggalan, langsung beranjak menyusul setelah meletakkan uang dua ratus ribu di atas meja.
Karen menahan tangan Kelvin, meminta dia berhenti. “Anterin gue ke toko baju dulu, ya,” pinta Karen seraya menatap Kelvin lembut.
“Sendiri aja sana! Gue mau balik!” ujar Kelvin sembari melepaskan tangannya dari cekalan Karen, lalu pergi.
Karen berdecak. Kelvin susah sekali diluluhkan. Harga dirinya seperti tergores di hadapan Kelvin. Padahal lelaki lain selalu mencari perhatian dirinya, tetapi giliran dia yang mencari perhatian Kelvin selalu saja tak diacuhkan.
***
“Naz, semalem lo pergi sama Kelvin?”
Nazwa yang tengah mengaduk baksonya berhenti. Menatap Helen dengan kedua alis terangkat. “Nggak.”
Sejak semalem Kelvin sama sekali belum menghubunginya, meskipun pagi ini Kelvin tetap menjemput dirinya untuk berangkat sekolah.
“Terus yang gue lihat semalem siapa, dong?” tanya Helen.
Nazwa menggeleng. “Emang lo lihat di mana?”
Alina menatap Helen heran, sementara tangannya sibuk menuangkan saus ke dalam mangkuk.
Nazwa memukul tangan Alina. “Jangan banyak-banyak!” Alina tersenyum, lalu menaruh kembali botol saus di tengah-tengah meja.
“Di mal. Gue lihat Kelvin sama cewek. Kirain Nazwa, ternyata bukan,” jawab Helen.
Mata Alina menyipit. “Jangan ngarang deh, Hel!”
“Gue nggak ngarang!”
“Terus, cewek itu siapa?” sentak Alina.
Helen mengendikan bahunya. “Mana gue tahu! Nggak kelihatan mukanya.”
“Udah!” Nazwa mendengkus. “Lo ke mal sama siapa?”
Helen tersenyum lebar, lalu menunduk malu-malu. Kedua tangannya bertautan dibawah meja.
“Sok-sokan malu-malu!” ujar Alina sinis. “Siapa?”
Helen mendongak menatap Alina sengit. “Lo emosian banget, deh, Al!”
“Iya makanya siapa?”
“Sumpah gue malu.”
“Ngapain malu? Kan lo biasa curhat.”
Helen mendongak menatap Nazwa dan Alina, kemudian mencondongkan wajahnya ke depan. “Dio,” bisiknya.
Sontak Alina menutup mulutnya menahan tawa, Nazwa tersenyum sambil menggelengkan kepala, sedangkan Helen mendengkus kesal.
“Demi apa? Mau lo sama dia?” tanya Alina dengan wajah menyebalkan.
Helen memberengut. “Ish! Gitu-gitu juga dia baik sama gue!” ujarnya tak terima.
“Gue sih setuju,” Nazwa menyahut membuat Helen meleletkan lidahnya pada Alina yang membuat wajah Alina menekuk.
“Eh, ada Kelvin,” bisik Helen memberi tahu.
“Sini!” seru Alina sembari melambaikan tangan pada mereka.
“Alina, ish!” desis Helen sembari menunduk. Nazwa mendengkus. Padahal tadi Nazwa sengaja tidak menoleh setelah Helen memberi tahu. Tujuannya agar Kelvin tidak tahu dirinya ada di kantin. Rupanya Alina menoleh dan memanggil mereka.
“Udah lama, Sayang?” tanya Riyan sembari mengelus puncak kepala Alina singkat, lalu duduk di sampingnya.
Alina mengangguk tersenyum. “Udah.”
“Helen!” panggil Dio melihat Helen yang tengah menunduk.
Helen mengembuskan napasnya pelan, lalu menoleh Dio. Mereka berbalas senyum. Helen merasakan kedua pipinya panas. Gejolak di dalam hatinya seakan berteriak meminta Helen agar mengutarakan kebahagiaannya. Bahkan, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kok diem? Kenapa?”
Pertanyaan Kelvin pada Nazwa mengalihkan seluruh pandangan teman-temannya.
“Nggak,” jawab Nazwa singkat. Melihat wajah Kelvin membuat Nazwa semakin merasa kecewa.
“Kenapa?” tanya Kelvin lembut. “Cerita sama aku!” Satu tangannya merangkul bahu Nazwa.
Alina meletakan sendoknya lalu berdehem pelan. Dia menatap Nazwa, kemudian berganti menatap Kelvin. “Vin!”
“Hm?”
“Lo semalem jalan sama cewek?”
Nazwa menatap Alina tajam, Helen memejamkan matanya rapat-rapat, Riyan menatap Alina bingung, sementara Dio dan Zafi memandang Kelvin kaget.
Kelvin menepuk dahi kemudian meringis. Baru ingat sejak kemarin dia belum bercerita pada Nazwa yang mungkin membuat gadis itu khawatir semalaman. “Iya. Dia—”
Sebelum Kelvin melanjutkan ucapannya, Nazwa sudah terlebih dahulu berdiri, lalu pergi meninggalkan mereka.
“Nazwa!” teriak Kelvin, lantas mengejarnya.
“Nazwa!” Kelvin berteriak lagi, kemudian berhasil menahan Nazwa hingga mereka berhenti.
“Kamu kenapa tiba-tiba lari gini? Marah sama aku?” tanya Kelvin bingung. Dia sadar akan salahnya kemarin, tetapi dia tidak tahu kenapa Nazwa menghindar seperti ini.
“Kamu yang kenapa?” Nazwa melepaskan cekalan tangan Kelvin. Dia juga memalingkan muka ke arah lain.
“Aku nggak apa-apa. Kamu marah gara-gara kemarin aku nggak hubungi kamu? Atau gimana? Bilang Naz, jangan buat aku bingung.”
“Pikir aja sendiri!”
“Naz, bilang! Aku nggak tahu salah aku apa kalau kamu nggak ngasih tahu.”
Nazwa bersedekap, menatap Kelvin. “Pacar mana yang nggak khawatir saat cowoknya nggak ngasih kabar semaleman? Ditelepon nggak diangkat, di-chat juga nggak dibalas.”
“Handphone-ku mati dan ketinggalan waktu aku pergi. Jadi aku nggak tahu waktu kamu telepon,” jawab Kelvin jujur.
“Pergi sama cewek lain maksudnya?” Nazwa terkekeh pelan. Kelvin menatap Nazwa dalam dan mengunci tatapan gadis itu.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
“Waktu hujan dan ada petir?”
“Handphone-ku ada di tas, nggak kedengeran kamu nelepon. Abis itu mati, lalu aku cas dan ketinggalan di kamar.”
Dari tatapan Kelvin, Nazwa melihat tulusnya Kelvin mencintai dirinya. Tidak ada kebohongan dalam ketulusan cintanya. Nazwa tahu itu, tetapi rasanya sulit sekali untuk percaya setelah dikecewakan.
“Tapi kamu jalan sama cewek lain,” ujar Nazwa dingin.
“Iya ... aku jalan sama cewek, tapi tidak seburuk yang kamu kira!”
“Minggir!” Nazwa tidak peduli lagi. Kekecewaannya bertambah. Gadis itu menepis tangan Kelvin, tetapi Kelvin langsung menahannya.
“Dengerin aku dulu bisa nggak?” ujar Kelvin lembut seraya menatap lekat Nazwa.
Nazwa memejamkan matanya, lalu menggeleng.
***
Jangan paksa seseorang untuk mencintaimu, walaupun kamu sangat mencintainya.