Suasana XII IPA 3 tampak ramai karena jam pelajaran mereka kosong. Kelvin yang biasanya segera pergi ke kantin bersama teman-temannya, kini memilih tetap duduk di kursinya.
"Lo kenapa sih Vin? Akhir-akhir ini lo sering banget diem," ujar Riyan.
"Nggak apa-apa," jawab Kelvin malas.
Pikiran Kelvin tentang laki-laki yang merangkul Nazwa tadi pagi membuatnya tidak b*******h untuk melakukan apa pun, termasuk berbincang dengan ketiga temannya. Ada perasaan tidak suka ketika melihat keakraban dan kedekatan mereka yang sepertinya sangat spesial. Juga ada perasaan iri yang bersarang dalam hatinya, karena laki-laki itu berhasil mendekati Nazwa, bahkan membuat Nazwa yang dingin, tersenyum.
"Tuh kan melamun lagi. Kenapa sih, lo? Kayak perawan yang ditinggal pacarnya aja," cibir Dio membuat Kelvin tersentak lalu mendengkus pelan. "Kalo ada apa-apa itu, bilang! Jangan melamun kayak anak kambing minta minum."
"Sembarangan lo!" kata Kelvin tak suka.
"Emang anak kambing kalo melamun, minta minum ya?" tanya Riyan polos.
"Ya Nggak tahu!"
"Bisa-bisanya lo percaya sama omongan Dio!" Zafi berdecak sembari bersandar.
"Ya, makanya tadi nanya. Otak lemot kayak Dio mana bisa bener."
"Gini-gini, gue juga pinter!" seru Dio tidak terima.
"Pinter nyontek!" timpal Zafi membuat Dio tertawa keras.
"Itu tahu!"
Kelvin melirik ketiga temannya sekali lagi, kemudian bergegas pergi. Kali ini, dia merasa risih dengan obrolan mereka yang penuh bercanda itu. Kali ini, Kelvin merasa butuh waktu untuk sendiri.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara teriakan dan suara samar isak tangis dari kelas XII IPA I. Kelvin yang menyadari itu adalah kelasnya Nazwa langsung masuk disusul Riyan, Dio dan Zafi, yang mengikuti Kelvin dari belakang diam-diam.
Benar saja, Alina sedang menangis ketakutan seraya menepuk-nepuk pipi Nazwa. "Naz, Naz bangun!" Alina berseru ketakutan, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Tolongin dong, jangan pada diem aja!" gertak Alina.
"Nazwa kenapa Lin?" tanya Kelvin ketika baru saja menghampiri merka.
"Nazwa pingsan Vin, tolongin!" jawab Alina dengan suara serak.
Kelvin berjongkok, lalu menggendong Nazwa, membawanya menuju mobilnya.
"Vin kok nggak ke UKS?" tanya Alina bingung.
"UKS tutup. Nggak ada yang jaga," jawab Kelvin.
Setelah Dio dan Zafi berhasil mendapatkan izin dari guru untuk membawa Nazwa ke rumah sakit, mereka pun langsung bergegas pergi.
Suasana di dalam mobil semakin terasa genting ketika Alina terus menangis sambil memeluk Nazwa sepanjang jalan.
"Udah Al jangan nangis terus. Berdoa aja."
Alina menoleh ke arah Riyan. "Lo liat dong! Nazwa nggak sadar-sadar, Yan!" jawab Alina kesal dan tidak ditanggapi lagi oleh Riyan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Riyan dan Kelvin masuk dan meminta pertolongan suster untuk membawa Nazwa ke ruang ICU menggunakan brankar.
"Kenapa bisa kaya gini Al?" tanya Kelvin ketika mereka duduk di kursi, menunggu Nazwa yang sedang diperiksa di ruang ICU.
Alina menggeleng pelan, lalu memberikan ponsel Nazwa pada Kelvin. "Setelah membaca pesan itu Nazwa langsung pingsan. Gue nggak tahu dari siapa, tapi kayaknya menyangkut masa lalu Nazwa."
Kelvin mengambil ponsel itu dengan dahi menyerit bingung, kemudian membaca pesan masuk yang berada paling atas.
Unknown :
I Miss You Nazwa.
Tunggu aku di Indonesia. Aku merindukanmu.
I love you.
"Ini siapa Lin?" tanya Kelvin penasaran.
"Gue nggak tahu. Mungkin itu ... dia," tebak Alina membuat dahi Kelvin semakin mengerut dalam.
"Siapa?"
"Lo nggak perlu tahu."
Pembicaraan mereka terputus ketika Veno datang dengan tergesa-gesa disusul oleh Zafi dan Dio di belakangnya.
"Di mana Nazwa?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Masih diperiksa dokter, Kak," jawab Alina cepat.
"Oh kakaknya Nazwa. Gue kira pacarnya," bisik Riyan pada Kelvin.
"Kenapa bisa kayak gini?"
Alina memberikan ponsel Nazwa. "Baca sendiri aja, Kak," pinta Alina, seperti yang dia lakukan pada Kelvin. Veno pun mengangguk.
"Ini siapa?" tanya Veno setelah membaca pesan tersebut.
"Itu—"
"Keluarga pasien?" perkataan dokter memotong ucapan Alina.
"Saya kakaknya, Dok," jawab Veno seraya.
"Mari ikut saya sebentar," ajak dokter pada Veno.
Veno mengangguk lalu mengikutinya ke sebuah ruangan yang agak luas dan nyaman. Sepertinya ruangan dokter tersebut.
"Kenapa adik saya Dok?" tanya Veno dengan jantung berdebar. Ketakutan menderanya saat ini.
"Adik Anda menderita gangguan bipolar."
Mata Veno membulat sempurna. Panik, terkejut, tak percaya, khawatir, segala macam perasaan bercampur aduk. Dia bahkan tak berkata apa-apa lagi. Lidahnya terasa kelu dan dia memang tidak tahu harus merespon apa. Dia hanya mengusap gusar wajahnya sambil mendengarkan penjelasan dokter.
***
Tidak pernah terpikir sedikit pun oleh Veno, jika adiknya mengindap penyakit gangguan bipolar. Memang, Nazwa sering melamun, mood gadis itu pun sering naik turun. Namun, Veno mengira kondisi Nazwa tidak akan sampai seburuk itu.
Veno tidak mengerti jelas apa itu gangguan bipolar. Namun dokter mengatakan kalau gangguan bipolar adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, mulai dari posisi terendah/depresif/tertekan ke tertinggi/manik. Penyebab pasti gangguan bipolar ini tidak di ketahui. Namun kombinasi genetika, lingkungan, serta struktur dan senyawa kimia pada otak yang berubah mungkin berperan atas terjadinya gangguan.
Veno memandang Nazwa sendu. Gadis itu sedang tertidur dengan lelapnya. Tangan Veno bergerak mengusap puncak kepala Nazwa lalu menunduk sedikit untuk mengecup keningnya. Setelah sadar dari pingsannya, Nazwa langsung memilih pulang. Dia mengatakan tidak apa-apa, walaupun dokter menyarankan untuk dirawat inap saja. Nazwa jelas menolak karena gadis itu tidak suka bau obat-obatan apalagi yang berhubungan dengan rumah sakit. Alhasil berkat beberapa alasan yang mendukung dan janji Veno untuk memantau perkembangan adiknya, dokter pun akhirnya mengalah.
"Gimana, Kak? Masih tidur?" tanya Alina sembari meletakkan sebuah nampan berisi bubur dan air putih di atas nakas.
Veno mengangguk pelan. "Gue nggak pernah kepikiran kalau Nazwa mengindap penyakit bipolar. Gue tahu dia emang tertekan sama keadaan, tapi nggak pernah kepikiran sampai sana!" ujar Veno parau.
"Alin tahu, mungkin ini berat buat Kakak. Alin juga nggak menyangka Nazwa mengidap penyakit yang serius, tapi Alin bakal berusaha bikin Nazwa kembali kayak dulu lagi," ujar Alina meyakinkan.
"Iya, makasih Al."
Alina mengangguk dan tersenyum simpul.
***
Ketika aku sudah berhasil menghapus kenangan masa lalu, kenapa kamu datang dan mengacaukan segalanya?