Suara derap langkah terdengar jelas saat Kelvin memasuki rumahnya yang begitu besar. Satu demi satu undakan tangga Kelvin lewati hingga dia sampai di kamarnya.
Kelvin melepaskan tas ransel hitamnya, lalu dia lemparkan ke sofa yang berada di sudut kamar. Dia merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi terlentang dan kaki yang menjuntai ke bawah.
Kelvin menatap langit-langit kamarnya. Keduanya tangannya ia gunakan sebagai bantalan kepala. Seketika dia tersenyum mengingat Nazwa. Tak lama senyuman itu hilang ketika Kelvin sadar bahwa sebenarnya Nazwa berbeda. Gadis itu memiliki banyak rahasia dalam hidupnya yang tidak diketahui oleh siapa pun. Namun, entah kenapa perbedaan itu yang mampu menarik perhatian Kelvin, bahkan dia terpesona.
Tak lama, ponselnya berdering. Beberapa pesan masuk dari Riyan yang mengajak Kelvin ke supermarket untuk membeli camilan.
Kali ini, Kelvin tidak bisa menolak. Dia menghela napas, lalu beranjak dari tempat tidurnya untuk bersiap.
***
"Keluar yuk Naz." ajak Alina. Merasa bosan karena dari tadi mereka berdua hanya menonton televisi, sedangkan Veno sedang pergi ke rumah temannya.
Malam ini, Alina akan menginap di rumah Nazwa sebab orang tuanya ada urusan bisnis di luar kota. Alina anak tunggal. Meskipun ada asisten rumah tangganya, dia masih sering kesepian jika orang tuanya pergi ke luar kota. Beruntung, ada Nazwa yang selalu berbaik hati menemaninya.
"Ke mana?" tanya Nazwa.
"Supermaket, beli camilan sekalian jalan-jalan."
"Jauh Lin."
"Naik mobil dong!"
Nazwa mendengkus pelan. Dia malas keluar rumah, apalagi jarak supermaket agak jauh dari rumahnya. Membutuhkan kurang lebih dua puluh menit untuk sampai di sana.
"Ayolah, Naz! " Alina mengedipkan matanya beberapa kali, merayu Nazwa.
Nazwa melirik Alina, lalu mengangguk membuat Alina berjingkrak senang seraya beranjak menuju kamar Nazwa untuk mengambil kunci mobil.
"Udah Naz?" tanya Alina.
Nazwa menunduk, melihat pakaian yang dia kenakan. Hoodie putih dan hot pants. "Gue pake ginian?" tanya Nazwa menatap Alina yang tampaknya biasa saja. Bukannya apa-apa, tetapi Veno berpesan kalau mau keluar harus memakai pakaian tertutup. Entah kenapa kakaknya bilang seperti itu. Biasanya Veno tampak biasa saja.
"Udah ayo. Bentaran doang kok."
Nazwa menghela napas, lalu berjalan mengikuti Alina, memasuki mobil, kemudian berangkat.
"Naz, Naz!" Alin menepuk bahu Nazwa beberapa kali, begitu sampai didepan supermaket, sementara matanya terus memerhatikan sepeda motor yang dia kenali.
Nazwa menoleh dengan kening berkerut, menurunkan tangan Alina dari bahunya. "Apa?"
"Itu, itu motornya Riyan," ujarnya seraya menunjuk motor Riyan yang sudah terparkir.
"Kenapa?"
Alina berdecak kesal. "Ah, lo nggak peka banget. Kalau ada Riyan pasti ada yang lain juga, Kelvin tentunya."
Nazwa mengangguk singkat. "Ya terus? Mau balik lagi?"
"Ya nggaklah, udah jauh-jauh juga." Alina mendengkus. "Lo nggak apa-apa kalau ada Kelvin?"
"Nggak."
Alina bernapas lega mendengar jawaban Nazwa. Mereka pun lekas masuk melalui pintu samping supermarket. Alina terkejut ketika dirinya hampir saja menabrak seseorang di pintu masuk.
“Lho, Lin, kamu nagapain di sini?"
Alina mendongak, seseorang itu ternyata Riyan. Alina menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan ribuan rasa gugup dan merasa bersalah pada Riyan karena dia menolak Riyan yang mengajaknya bertemu tadi sore.
"Iya, mau beli cemilan," cicit Alina pelan. Tak biasanya Alina berbohong pada Riyan. Kali ini, dia takut Riyan marah padanya.
"Udah boleh keluar?" tanya Riyan lembut.
Alina menunduk. "Maaf."
Riyan tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap puncak kepala Alina. "Udah nggak apa-apa."
Alina mendongak, menatap Riyan dengan wajah sesalnya. "Yan," ucap Alina lirih. "Besok aku jelasin."
Riyan hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Panas nih," celetuk Dio.
"Hilih, jomlo menderita lo!" Zafi menoyor dahi Dio membuat Dio memundurkan wajahnya.
"Alah, kayak lo nggak jomlo aja!" cibir Dio tak mau kalah.
"Lin jadi nggak? Keburu malem nih." tanya Nazwa membuat mereka menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut. Bahkan Zafi dan Dio pun sontak terdiam ketika mendengar Nazwa berkata cukup panjang dari biasanya.
Kelvin menatap Dio dan Zafi yang tiba-tiba terdiam, lalu menatap Nazwa yang tak sengaja menatapnya. Dua detik tatapan mereka terkunci, hingga Nazwa memalingkan wajahnya lebih dulu.
"Jadi dong! Ayo!" seru Alina sambil menggandeng Nazwa. “Kami duluan ya,” ujarnya pada Riyan dan teman-temannya.
"Lebih cantik kalo lagi ngomong yah si Nazwa," bisik Dio ke Zafi. "Nazwa, lo mau nggak jadi gebetan gue?" ujar Dio polos sambil tersenyum-senyum.
"Awas aja!" Kelvin menatap Dio tajam. Dia tak sadar apa yang diucapkannya barusan.
"Cie, udah mulai cinta ya?" goda Dio membuat Kelvin salah tingkah.
"Ya … ya nggak gitu,"
Riyan terkekeh ."Halah, nggak usah ngeles lagi."
"Nazwa makin cantik ya kalo kayak tadi," sahut Zafi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Kelvin. "Santai Vin!" ujarnya menenangkan.
***
"Lho, kok gerbangnya terbuka?" tanya Alina, menghentikan mobilnya sejenak. "Tadi ditutup nggak sih Naz?" Alina menoleh ke arah Nazwa.
"Ditutup satpam kok," dahi Nazwa menyerit bingung.
“Lin, gue turun di sini!” ujar Nazwa, kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Alin hanya diam terheran-heran. Nazwa entah kenapa. Namun, Alin baru sadar dan langsung menebak jika terjadi sesuatu di rumahnya setelah melihat sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah Nazwa.
Alina berhenti satu meter di belakang Nazwa yang berdiri mematung sembari menatap tiga orang yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ngapain?" tanya Nazwa dingin.
Alina melangkah menghampiri Nazwa. Takutnya gadis itu kelepasan dan berakhir pingsan lagi.
"Naz, duduk dulu," ujar Veno.
"Ke—kenapa kalian di sini? Mau bawa Kak Veno pergi lagi?" suara Nazwa bergetar, matanya berkaca-kaca menahan air mata. Gadis itu membekap mulutnya sendiri. Sekelebat bayangan masa lalunya tiba-tiba muncul begitu saja. Potongan demi potongan cerita masa lalu tersusun seperti puzzle yang membuat kepala Nazwa terasa ingin pecah. Tangisan anak perempuan kecil terus terngiang dan membuatnya semakin tak karuan.
Alina mengelus punggung Nazwa sejenak, lalu beralih menggenggam tangan Nazwa yang dingin.
"Nazwa si—"
"Diam!" potong Nazwa sambil menatapnya tajam membuat Veno terdiam.
"Kapan sih Mama sama Papa berubah? Ke sini mau bawa Kak Veno pergi lagi ‘kan? Iya ‘kan?" teriak Nazwa dengan napas memburu. Gadis itu menunduk menahan rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
Melihat sikap Nazwa yang sudah tidak terkendali, Veno bergegas mengambil obat penenang dan segelas air bening, lalu menyuruh Alina membantu Nazwa untuk meminumnya.
Kedua orang tuanya hanya diam memerhatikan dengan penasaran obat apa yang diberikan Veno pada Nazwa. Mereka memang belum tahu perihal penyakit Nazwa saat ini.
"Naz udah ya." Alina mengelus-elus punggung Nazwa.
"Gue takut … mereka … Kak Veno—" Nazwa jatuh terkulai ke lantai.
"Nazwa!"
"Al, mereka ...." Nazwa mendongak dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Alina mengangguk pelan, menghapus air mata Nazwa di pipinya sebelum memeluk gadis itu hingga tangisan Nazwa pecah di dekapan Alina.
Veno yang duduk di sana pun tidak tenang melihat Nazwa seperti itu. Ingin rasanya dia berdiri, menghampiri Nazwa dan memelukanya. Namun, kali ini bukan waktu yang tepat karena Veno harus menjelaskan sesuatu pada orang tuanya.
"Naz, Mama sama Papa ke sini—"
Ucapan ibunya Nazwa terhenti saat Nazwa menatapnya tajam dan dingin. Namun hanya sebentar, pandangan itu melunak dengan sayu.
"Kalian ... jahat!" Nazwa berdiri kemudian berlari keluar rumah. Mengabaikan panggilan Alina dan tiga orang di dalam yang terus berteriak memanggil namanya.
Dia berharap, kesedihan tertinggal di setiap jejak kakinya.
Dia terus berlari tanpa memerhatikan jalanan, hingga suara klakson mobil terdengar keras membuat Nazwa seketika tersadar lalu menoleh dengan raut wajah terkejut. Dia berteriak seraya menutup wajahnya. Detik itu juga badannya terasa seperti tertarik kasar lalu jatuh menghantam aspal jalan. Sakit.
Nazwa membuka matanya. Napasnya memburu dengan jantung berdegup kencang. Dia berusaha untuk duduk dan menenangkan dirinya. Kecelakaan? Hampir? Betapa gegabahnya dirinya.
Melihat Nazwa yang sudah duduk, Kelvin bangkit berdiri seraya menepuk bagian celananya yang tampak kotor, lalu mengulurkan tangannya pada Nazwa.
Nazwa mendongak, memandang uluran tangan Kelvin di udara. Sedikit Ragu, akhirnya Nazwa menerima uluran tangan Kelvin. "Thanks," ucap Nazwa.
"Lo nggak apa-apa?
"Nggak."
Kelvin tersenyum. "Di sini sepi. Lo mau pulang? Biar gue anter," tawar Kelvin menatap Nazwa dengan alis terangkat.
"Gue nggak mau pulang." Nazwa menggeleng membuat Kelvin menyerit bingung.
"Kenapa?"
Nazwa bergeming. Pikirannya mempertimbangkan banyak hal jika dia memilih pulang saat itu juga. Dia tidak memiliki cukup banyak energi untuk menghadapi orang tuanya. Sejak kejadian itu, nazwa sudah enggan lagi berbicara dengan orang tuanya. Bukan benci, melainkan kecewa karena mereka menghabiskan waktu untuk bekerja dan mereka juga memisahkan Nazwa dengan Veno.
"Ya udah, ke taman aja gimana?" saran Kelvin yang dibalas dengan anggukan samar oleh Nazwa.
Mereka duduk bersebelahan. Tidak ada topik obrolan antara mereka berdua. Hanya ada senandika topik obrolan dengan pikiran mereka masing-masing. Bergulat dengan masalah yang menyesakkan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Setidaknya, kesunyian membuat mereka sedikit tenang.
Di belakang mereka, Alina berdiri dengan napas tersenggal-senggal karena berlari menyusul Nazwa. Kekhawatirannya luruh setelah melihat Nazwa bersama Kelvin. Alina percaya, Kelvin akan menjaga Nazwa dan mengantarkannya pulang.
Alina tersenyum melihat mereka duduk bersebelahan. Bahkan, dia melihat Kelvin sesekali menatap Nazwa. Alina tak ingin mengganggu. Dia berbalik, beregegas pulang.
"Lo kenapa? Terjadi sesuatu? Nggak biasanya lo kayak gini," tanya Kelvin penasaran.
Nazwa menoleh, menatap Kelvin beberapa detik. "Nggak usah kepo," jawabnya jutek.
Kelvin mendengkus, lalu tersenyum. "Gue beli minum dulu. Jangan ke mana-mana!"
"Nggak perlu! Lo temenin gue aja."
Mendengar itu, Kelvin kikuk di tempatnya. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam tubuhnya ketika Nazwa meminta untuk ditemani. Nazwa benar-benar gadis yang unik, pikirnya.
***
Rasa cinta itu hadir begitu saja tanpa aku minta. Dua kali kita bertemu, apakah bisa kita bersatu?