"Jika ada yang membuatku bahagia itu senyummu. jika ada yang membuatku tersiksa itu tangisanmu"
-Arzan Leonardo -
Harin menghela nafas Menatap pintu rumah berwarna coklat di depannya, dengan tatapan menerawang. Gadis cantik itu berkali-kali mendesa berat sebelum membuka pintu dan memasuki rumah yang cukup besar itu dengan perasaan malas.
Harin semakin melangkah masuk ke dalam rumah yang nampak sepi seperti tak berpenghuni itu. Ia menghampiri dua orang cowok yang sedang sibuk dengan stik gamennya, di atas sofa. Mereka tidak sadar akan keberadaan Arin.
"Bentar lagi menang Huuu!" heboh cowok memakai kaus lengan panjang hitam, dengan celana pendek jeansnya.
"Gue yang bakal menang!" seru cowok yang kelihatan pendek dari cowok di sebelahnya wajahnya terlihat lebih tampan dari pada cowok tinggi di sebelahnya. Mereka memang sama-sama tampan namun banyak yang bilang jika harus memilih maka mereka akan memilih adik di bandingkan kakaknya.
Sang adik, memliki wajah yang putih sedikit bulat, mata sendu berwarna biru, hidung mancung, dan bibir bawah yang sedikit terbelah,
Sedangkan sang kakak, memiliki wajah yang tampan juga, kulit sawo matang, memiliki tubuh yang tinggi, rahang yang tajam, mata teduh berwarna hitam, hidung yang mancung dan bibir yang menurut kaum hawa terlihat seksi.
"Lo lihat aja nanti pasti gue yang menang," ujarnya menekan stiknya dengan gemas. Membuat orang di dalam layar menghabisi lawan satu-persatu
"Alaah! menang apanya, udah pertengahan jalan aja, lo udh diserang habis-habisan, mengalah aja dek, pasti gue yang menang, " ucapnya sombong sembari memukul dadanya bangga.
"Ya udah kita lihat aja nanti. Gue atau lo yang menang. Yang kalah traktir gue makan di Restaurant mahal selama seminggu, gimana deal?" cowok itu menatap kakaknya
Sang kakak pun menoleh dengan seringaian di bibirnya "OK! Siapa takut!" ucapnya heboh menendang kaki meja. Menurutnya ini adalah tantangan paling seru baginya. Selama bermain Game Cowok ini akan lupa segalanya. Ya termasuk orang spesial yang sedang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan yang terlipat di d**a.
Mereka akhirnya menekan play, memilih orang masing-masing dan mulai menyerang, siapa yang membunuh lawan dan mencapai tempat terakhir untuk mengambil emas, maka dia lah pemenangnya.
Mereka mulai bergelut, begitu semangat dan tidak peduli pada apapun yang mungkin akan lewat.
Sambil menekan-nekan stik game nya semangat. Kakak beradik itu tidak peduli sudah Ada Harin yang berdiri di belakang sofa, memandang mereka dengan tatapan kesal.
Jangan bertanya Mengapa Harin begitu lancang memasuki rumah itu tanpa permisi, alasannya karena itu sudah menjadi hal biasa baginya . Lagi pula rumah ini bebas untuknya orang yang sudah menjadi kepercayaan keluarga Tiozan Mandala. Ayah kedua sejoli yang sedang bergulat dengan stik game itu.
"Sayang? " panggil Harin dengan nada ketus ia melipat kedua tangannya di d**a, gadis itu menghela nafas saat panggilannya tidak dihiraukan oleh Cowok itu.
"Sayang...? Aku di sini, " panggil Harin dengan nada di buat selembut mungkin namun penuh penekanan. Sumpah dia gregetan dengan sikap Cowok itu.
Sebenarnya orang yang sibuk bermain game itu mendengar panggilan Harin dari tadi, namun jika sudah berhadapan dengan game tak ada yang bisa mengganggu sekalipun pacar?
"ARZAN!!!"
kesabaran gadis itu habis, ia meneriaki cowok itu tepat di telinga, namun di luar dugaan, yang di lakukan cowok itu hanya mengusap telinganya dan melanjutkan permainan gamenya.
Lagi-lagi Harin menghela nafas, tidak habis pikir dengan kelakuan cowoknya itu. Ia benar-benar tidak suka ketika cowoknya mengabaikannya seperti ini.
"Arzan Leonardo!" bentak Harin dengan suara tinggi.
Membuat tubuh Cowok berkaus biru itu tersentak lantas menolehkan kepalanya ke belakang, ia meletakkan stik gamenya di meja.
"Kak Harin?" ucapnya dengan suara pelan, akhirnya ia menyadari Harin yang berdiri dengan kedua tangan yang seperti ingin mencakar cowok di depannya. Ya siapa lagi kalau bukan cowok bernama Arzan itu. Lantas cowok yang menyadari keberadaan Arin itu memiringkan posisi tubuhnya.
"Kak, pacar lo datang," ucap cowok itu setengah berbisik. Mata birunya memandang Harin dengan tatapan kosong, Harin membalas tatapan itu dengan tajam.
Untuk berapa saat cowok itu terdiam menatap Harin , bibir bawahnya yang terbelah mengatup, matanya menatap teduh. Seperti itulah ekspresi cowok itu saat tertegun.
Tanpa melepas tatapanya pada Harin, Ia menyenggol lengan cowok tampan disampingnya. yang masih asik bermain game, "apaan sih! jangan ganggu gue, bentar lagi finish, " ucapnya dengan suara khasnya yang bas. Tatapanya tak lepas dari layar tv.
Harin semakin geram mendengar ucapan Arzan, gadis itu memutari sofa lalu Berdiri di depan tv menghalangi pandangan cowok itu.
Tanpa menyerah, cowok itu memiringkan kepalanya, masih semangat dengan stik game di tangannya. ia masih belum sadar ada seseorang yang sebentar lagi menelan dirinya,
Harin menarik nafas lalu membuangnya kasar.
"Arzan, sayang, My Hany, My Lovely!!!!! " teriak Harin geram, muka Harin sudah memerah, rasanya ingin menghantam wajah cowok itu habis-habisan. "Ck, minggir napa? Gue gak bisa lihat, aduh... Ya.. Ya... Ya mati, AH s**t!, "
Arzan berdiri dan melempar stik gamenya ke atas sofa. "Gara-gara lo nih Arfano Albino!! " teriak Arzan kesal. Matanya menangkap sosok gadis cantik yang sedang bertolak pinggang di depannya.
Arzan terdiam seribu bahasa. Arin tersenyum sinis, "Kamu ya, kalau udah main game, lupa sama pacar sendiri.
Arzan masih diam di tempat. Ia menatap gadis itu dengan tatapan kosong. Mendadak dia pengen pipis melihat muka Arin yang terlihat menakutkan.
Arfan yang merasa Ada aura-aura negatif, segera beranjak dari sofa, dan kabur membawa semua snack dan minuman kaleng yang sengaja mereka siapakan untuk bermain tadi.
Cowok memakai kaus biru itu langsung lari naik ke lantai dua. Tidak peduli dengan teriakan Arzan yang memanggil namanya.
"Woii! kurang ajar lo dek! jangan tinggalin gue!, "
Lalu menoleh kembali pada Harin
ia tersenyum kikuk menatapi gadisnya yang sudah di penuhi emosi itu.
"Eh sayangku kapan datangnya?" tanya Arzan mengahampiri cewek itu dan langsung mengecup keningnya.
"Harumnya, abis mandi ya, atau pake parfum favorit aku?" dengan mata jahil, cowok itu mendekat mendengus leher Harin mengendus aroma mawar bercampur shampoo Harin. Arzan beralih menatap mata Harin. Sorotan mata yang memancarkan kamarahan.
"Arzan aku lagi mar-" ucapan gadis itu terhenti ketika menatap mata Arzan yang teduh, entah mengapa gadis itu tidak pernah bisa marah terlalu lama, Arzan selalu punya cara untuk menenangkan hatinya.
Contohnya saja sekarang cowok tampan itu menangkup pipi ceweknya dengan gemas, senyum di bibir cowok itu membuat Harin tidak bisa berpaling dari cowok yang telah membuatnya jatuh cinta sedalam ini.
Mungkin ini alasan Harin tidak bisa berpaling dari Arzan, walaupun terkadang cowok itu menyebalkan, namun Arzan selalu punya cara untuk membuat Harin bahagia. Harin membalas senyum Arzan ada perasaan bahagia saat menatap mata sendu Arzan yang selalu membuatnya gugup setengah mati. "Arzan, aku lagi marah sama kamu," ucap Harin menepis pelan tangan Arzan dari pipinya.
Arzan terkekeh melihat tingkah Harin yang merajuk seperti itu. Baginya Harin itu gadis polos dan sangat lucu, mungkin alasan itu yang membuat Arzan selalu memperlakukan Harin dengan manja. Walaupun Gadis itu gampang marah namun Arzan punya cara yang membuat gadis itu tidak jadi memarahinya. Contohnya sekarang cowok itu mencubit gemas pipi cewek itu dengan gemas.
"Ah sayangku, kamu cantik banget hari ini. Aku cium sekali lagi ya?"
"Hah? Cium? Jang-"
Cowok itu mendekatkan wajah dan mengecup bibir Harin dengan gemas, ia tidak peduli Harin yang sudah meronta memukul dadanya. Ia tidak peduli. Cowok itu semakin dalam mengulum bibir Harin sambil menarik pinggang Harin mendekat. Saat ciumannya terlepas, Arzan tertawa dengan nafas yang belum teratur. Sedangkan Harin meremas bajunya dengan wajah yang sudah memerah akibat cowok itu.
"Ihh... Kamu nyebelin Banget sih!. Main nyonsor aja, giman kalo ada bi Imah yang lewat Trus lihat kita ciuman,"
Arzan hanya mengangkat bahu, "Biar aja, kan lumayan dapat tontonan gratis. "
Arzan menaik turunkan alisnya, lalu mencium kening Harin sekali lagi. "Lagi pula bibi lagi pulang kampung, jadi kita bebas ciumannya," Arzan nyengir.
Mata Harin melotot, tidak habis fikir dengan ucapan cowok itu. "Sekarang kamu ikut aku!"
"Kamu mau bawa aku kemana yang?" tanya cowok itu ketika tangannya di tarik.
"Udah ikut aja, kita naik ke atas ada yang perlu aku omongin,"
Arzan hanya bisa menghela nafas, mengikuti kemauan gadis yang sangat di cintanya itu.
Harin menarik tangan Arzan, membawanya ke lantai atas melewati Arfan yang tengah asik menonton tv di ruang tengah, cowok itu tak menyadari Arin dan Arzan yang memasuki kamar, bahkan bantingan pintu yang keras tak menjadi penghalang cowok tampan bermata biru itu untuk menikmati film 'the Avenger' yang baru saja di putarnya menggunakan VCD.
"Sayang, ini kamar kenapa di tutup, nanti aku khilaf loh, kamu gak takut? " tanya Arzan dengan nada yang di buat-buat.
Harin hanya melontarkan tatapan tajam, sebagai tanda agar cowok itu menutup mulut. "Ikut aku aja,"
Harin membuka gorden dimana langsung terlihat pintu kaca, gadis itu mendorong pintu dan beralih menarik kembali tangan cowoknya dengan paksa.
Sekarang mereka telah berada di balkon kamar Arzan. Mereka saling berhadapan, untuk sesaat mereka terdiam, dan saling tatap menatap Arzan menarik sudut bibirnya, terlihat sangat tampan, membuat Harin tidak kuasa menyebutkan kaliamat itu. Detak jantungnya berirama. Nafasnya memburu.
Semiliar angin siang hari, membuat keindahan di sekeliling rumah mewah ini nampak terlihat asri dan menenangkan. Daun-daun pepohonan yang berguguran, air kolam yang tenang dan suara kicauan burung peliharaan Ayah Arzan, seketika menyejukkan susana.
Harin menyelipkan anak rambutnya yang tertiup angin menyembulkan telinganya, membuat Arzan tak kuasa menatap kecantikan Harin yang tak pernah berkurang selalu cantik di matanya. Sangat menggemaskan hingga ia tidak sabar untuk menggigit bibir madu cewek itu. Jika gadis itu tidak melarangnya untuk bergerak mungkin Arzan langsung menarik pinggang gadis itu dan menciumnya dengan gemas.
"Sayang? " panggil Harin lembut, cewek itu melangkah, membuat jaraknya dengan Arzan tinggal selangkah saja.
"Hmm... Mau peluk ya? " tanya Arzan di berengi tatapan mata teduhnya. Harin menggeleng dengan pasti menatap mata cowoknya itu. Senyum di bibir Arzan semakin jelas.
"Aku...Hamil, " ucap Harin dengan mata yang khawatir.
Perlahan senyum Arzan luntur begitu saja. Jatungnya berhenti selama dua detik. Apa yang di ucapkan gadis itu benar-benar dia luar pikiran.
Arzan mundur selangkah, membuat Arin diselimuti rasa kecewa yang mendalam. Melihat ekspresi terkejut Arzan membuat Arin mengerti langkah selanjutnya cowok itu tidak akan terima dengan kenyataan yang ada.
Tbc.