"Aku...Hamil, " ucap Harin dengan mata yang khawatir.
Perlahan senyum Arzan luntur begitu saja. Jatungnya berhenti selama dua detik. Apa yang di ucapkan gadis itu benar-benar dia luar pikirannya.
Arzan mundur selangkah, membuat Arin diselimuti rasa kecewa yang mendalam. Melihat ekspresi terkejut Arzan membuat Arin mengerti langkah selanjutnya cowok itu tidak akan terima dengan kenyataan yang ada.
****
Arzan mendesah berat, untuk berapa saat ia terdiam, matanya menatap Harin tak percaya. Bibir Cowok itu setengah terbuka, nafasnya hampir terdengar jelas, Ia belum percaya apa yang dikatakan gadisnya, cowok itu berfikir keras apakah selama ini ia berbuat Kesalahan terhadap gadisnya?. Tidak, selama ini ia tidak pernah membuat kesalahan pada gadis itu . Harin adalah prioritas utamanya. Ia sudah menepatkan Harin di atas segala sesuatu yang menyangkut hidupnya. Harin adalah hidupnya mana mungkin ia merusak kehormatan gadis itu.
Itu tidak akan pernah terbayang olehnya. 3 tahun waktu yang lama untuk membuktikan betapa besar rasa cinta cowok itu untuk Harin.
Harin menundukkan kepalanya kecewa, perasaan nya campur aduk. Melihat ekspresi cowok di depannya, menunjukkan bawa Arzan tidak akan pernah menerimanya atau mungkin semua yang di inginkan tidak akan berjalan sesuai harapan. Arin menghapus kasar air matanya.
Cewek itu mengangkat kepala dengan yakin. Mentap Arzan dengan wajah miris. Cowok itu bahkan masih tercengang menatapnya.
"Kenapa kamu diam aja?" Tanya Arin ,air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa zan? Kamu kaget ya? dengar kabar ini dari aku. Sekarang apa yang bakal kamu lakuin?"
Arzan menghela nafas, cowok itu maju selangkah, mengembalikan kembali posisinya seperti tadi. Cowok itu mencoba tegar, lantas dengan tersenyum getir pada Arin. Arin hanya membalasnya dengan mata membulat, cowok itu meletakkan kedua telapak tangannya di atas bahu Arin dengan berat hati. Matanya yang sendu itu langsung bertemu dengan tatapan mata Arin. "Aku mau kita menikah, " lirih Arin tiba-tiba mendahuli pria itu untuk berbicara.
Bagai terserang petir mendadak, cowok bermata sendu itu hanya bisa mematung dengan posisi tangan yang masih setia di bahu Arin. Tubuhnya terasa lemas semua.
Matanya mengerjap, kedua bibirnya ia kulum ke dalam. Mencari keyakinan. Ia Menatap pasti mata indah gadis yang selalu menjadi nomor satu di hatinya itu. "Aku tau kamu sekarang lagi boong, dan aku tau ada yang buat kamu Sampai-sampai ngambil tidakan seperti ini, " ucap Arzan menarik pinggang gadis itu mendekati menangkup pipinya. Membuat Arin mendongakkan kepala membalas tatapan teduh cowok yang penuh cinta itu. "Nikah itu gak segampang apa yang di ucap bibir, resikonya besar-, " lanjutnya berusaha tersenyum agar Arin lebih tenang. Arin memperhatikan wajah Arzan yang tulus, ia tidak mengerti mengapa Arzan selalu bersikap seperti ini padanya.
"Sebelum memutuskan pernikahan kita harus menyiapkan diri. apakah kita sanggup menjalani kehidupan kita nantinya, aku ingin kita bertahan lama, meski aku gak bisa mastiin itu terjadi. Karena semuanya sudah diatur sama yang di atas. Rin, Aku gak bisa janji buat nikahin kamu, "
Setiap kalimat yang di keluarkan cowok itu adalah kebenaran yang mengandung banyak ketulusan dan rasa cinta yang asli untuk Arin. Tapi mengapa kalimat terakhir Arzan membuatnya kecewa. Hatinya terasa dihujam beribu belati. Apakah maksud Arzan tidak akan bisa menikihinya?
Arin menundukkan kepala dengan bibir gemetaran kecewa, ia memilih tidak ingin menatap mata cowok itu.
"Tapi ada tapinya, Aku akan menjadi yang terbaik untuk kamu. Aku mau jadi orang yang benar-benar bisa lindungin kamu... Dan anak-anak kita. "
"Bohong," ucap Arin semakin menatap dalam mata Arzan.
"Aku tidak berbohong, kamu lihat mata aku apa aku bisa boongin kamu?" pria itu mendekatkan wajahnya. Menerpakan nafas hangat tepat di atas wajah Arin. "Aku sayang kamu, " ucapa cowok itu lagi meyakinkan gadisnya
Arin menggigit bibir bawanya, hatinya berkata sesuatu, bahwa pria itu benar-benar mencintainya tapi kenapa? Kenapa cowok itu tidak ingin menikahinya, kenpa ia harus kaget kalau ceweknya itu berkata bahwa ia sedang hamil?
"Tapi, kenapa kamu gak percaya pas aku bilang aku hamil?. Kalau misalkan aku cewek lain, trus ngaku-ngaku kamu yang hamilin, pasti kamu langsung ninggalin! Iya kan?" Tanya Arin benar-benar tidak masuk akal.
Arzan menggeleng lemah sembari membuang nafas kasar, "Bukannya aku gak percaya~ tapi-"
Ucapan Arzan terhenti saat gadis itu melepas kedua tangan Arzan dari pipinya.
Menatap tajam Arzan, "Dasar cowok b******k! Kamu sama aja cowok di luar sana, yang kamu mau fisik aku, kamu gak pernah cinta sama aku," geram Arin tiba-tiba memukul d**a bidang cowok itu. Sekali lagi Arzan terkejut karena gadis itu mengatainya b******k.
Arin terus memukul d**a bidang cowok itu, sampai Arzan kesakitan, namun cowok itu berusaha menahan rasa sakitnya, membiarkan gadis itu memukuli dirinya, "Kamu gak pernah cinta sama aku! Arzan aku benci sama kamu hiks, " gadis itu mulai menangis kembali.
Sampai Arzan lelah. Ia langsung menangkap pergelangan Arin sedikit kasar, Arin sedikit terkejut dibuatnya. Arzan meremas tangannya. Gadis itu mendongak menatap mata Arzan yang memancarkan keseriusan mendalam.
"Aku kecewa sama kamu sayang, " ucap Arzan pelan.
Arin membelalakkan mata.
Bisa dilihat cowok itu memandangnya dengan ekspresi menyerah, membuat hati Arin seperti ditusuk ribuan pisau. Sebenarnya Arin tidak ingin pacarnya itu selemah ini di hadapannya. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Arzan.
"Aku kecewa, pas kamu bilang aku gak cinta sama kamu. Kamu nuduh aku cowok b******k yang suka hanya sekedar tubuh doang. Kamu salah Rin, Aku cinta kamu banget." ucap Arzan lirih matanya mulai berkaca memandangi wajah Arin yang penuh penyesalan.
Cowok itu menarik telapak tangan Arin, membawa Gadis itu di sofa single yang terletak di samping pintu balkon. Sebuah sofa putih yang di depannya terdapat meja kaca yang sudah Arzan singkirkan di sudut balkon.
Arzan duduk di sofa terlebih dahulu membuatnya menghela nafas melihat Gadisnya masih berdiri di depannya dengan wajah cemberut.
"Duduk, "suruh ucap cowok itu lembut.
Arin menggeleng, membuat cowok itu mau tak mau langsung menarik tangan Arin membuatnya duduk di paha Arzan. Setelah merasakan gadis itu telah duduk sempurna di pangkuannya Arzan melingkarkan tangannya di pinggang Arin, memeluk gadis itu dan mencium bahunya. "Aku sayang kamu Rin, dan karena alasan ini aku gak mau nyentuh kamu sebelum waktunya, "
Arin merasakan Arzan mengecup pipinya dari samping, "kamu harus percaya itu, jangan pernah bilang aku gak cinta sama kamu. Karena itu adalah kesalahan terbesar kamu Rin. " bisik Arzan, membuat Arin menoleh menatapnya dengan sendu. Gadis itu mengangguk seperti anak kecil, lalu dengan sayang mengelus rahang Arzan penuh perasaan.
"Aku percaya, tapi kamu juga harus percaya kalau aku hamil. Dan kamu tanggung jawab dengan cara nikahin aku bulan depan,"
"Arrghh!" Masih saja gadis ini. Arzan menggeram mengusap wajahnya dengan kasar, sembari mendesah cowok itu kembali menatap wajah cantik gadisnya dengan kesal.
"Pasti ulah si Gwen kan? Gwen yang buat kamu kayak gini, sayang~ dengerin aku. Gwen itu cewek gila, aku udah bilang kan? jangan pernah percaya dengan omongan Gwen! apalagi kamu mau aja di suruh-suruh sama cewek stress itu." ucap Arzan dengan penuh kekesalan.
"Lagi pula, mana mungkin kamu hamil, kita aja gak pernah ngelakuin itu,"ucap Arzan sangat kecil, hampir seperti gumam-an. Namun itu terdengar jelas di telinga Arin yang begitu dekat dengan bibir cowok itu.
Arzan mengalihakan tatapannya ke samping menatap pagar balkon dengan pandangan kosong.
Arin menolehkan kepalanya cepat dan sejajar dengan muka cowok itu yang menghadap samping. Memandang jelas wajah Arzan yang tampan dari dekat. "Apa kamu bilang? Kita gak pernah ngelakuin itu! jadi malam itu di Apartemen aku, Waktu lagi sakit, kamu maksa minta aku peluk, apa perlu aku lanjutin yang selanjutnya!, "
Arzan buru-buru menatap Arin yang siap memarahinya, kedua tangan gadis itu sudah meremas kaos hitamnya Arzan yang sedikit basah karena keringat.
"Tapi, kan. kita cuma ciuman, itupun tidak sampai setengah jam, cuma lima belas menit doang ck, " decak Arzan dengan bebas berucap. Membuat Arin membuka mata dan mulutnya lebar.
"Lima belas menit yang, " ucap Arzan mencicit melihat ekspresi Arin mulai kesal.
Bugh.
Arin memberi bogem tepat di d**a cowok itu, tapi dengan cepat Arzan menahan telapak tangan nya. "Kamu neyebelin banget si, dasar cowok breng-"
Ucapnya terpotong saat cowok itu meletakkan jari telunjuk kirinya tepat di bibir Gadis itu. Sedangkan terunjuk kanannya ia gerakkan ke kiri dan ke kanan tepat di wajah Arin, membuat mata gadis itu mengikuti arah gerak jari telunjuk Arzan "uhum. Kamu udah janji gak akan bilang b******k ke aku,"
Arin mendesis, melirik cowok itu dengan kesal, "Ishh! "
Arzan menurunkan tanganya dari bibir cewek itu. Kemudia berpindah mengacak rambut Arin sambil tertawa gemas.
Arin hanya mendelik jengkel, Arzan terus menertawai mukanya yang kesal.
Melihat itu Arin mengambil kesempatan mencubit perut Arzan sebagai balasan . Membuat Arzan meringis sekaligus geli.
"Aduh! Sakit yang, Ampun!" aduh Arzan berusaha menangkis gerakan tangan Arin yang memutar di sisi pinggangnya.
"Biarin kamu jahat sih sama aku. Rasain nih?!"
"Aduh sayang!, hahaha udah aku gak kuat, sayang! geli!"
Tanpa di sadari senyum di bibir mereka terbentuk. Saling tertawa. Rasa kecewa di dua sisi antara mereka pudar dan perlahan hilang tergantikan dengan senyum mereka diakhiri saling membalas pelukan, namun tak selang berapa lama satu orang kembali merusak moment bahagia itu.
"Kita jadi nikah kan?" tanya Arin tanpa melepas senyum cantiknya.
Hening sesaat hanya suara angin siang yang menyelimuti suasana . sampai akhirnya Arzan kembali menggeram menciun leher cewek itu gemas.
"Kamu kenapa sayang?, tapi kita jadi nikah kan?"
"Ughh, gak!" ucap cowok itu datar dengan nada kasar
"Kenapa?" Tanya Arin dengan bibir mengerucut gadis itu kembali cemberut.
"Sayang, kita masih kuliah. Aku punya masa depan dan kamu juga pernah bilang kalau cita-cita kamu jadi penulis novel terkenal. apa kamu sudah lupa?" tanya cowok itu meraup wajah pacarnya itu.
"Dulu kamu bilang aku masa depan kamu jadi apa lagi yang jadi Alasannya" jelas Arin menyandarkan kepalanya di d**a bidang cowok itu. Menghirup aroma maskulin Arzan yang begitu menenangkan hatinya.
Arzan menggaruk kepalanya dengan kesal "Kenapa sih gue punya cewek kelewatan polosnya ya tuhan!" batin Arzan menatap kesal mata Arin yang mengerjap-ngerjap.
Entah apa yang membuat gadis ini jadi nekat sampai kebelet minta dinikahi Arzan. Arzan tidak tau pengaruh Gwen begitu besar bagi cewek ini. Andai saja Gwen bukan sahabat kecil Arin, mungkin Arzan sudah memasukkan Gwen ke dalam karung dan melempar gadis itu ke dalam laut. Biar di telan paus srkalian!
"Iya terserah kamu," ucap Arzan pasrah.
"Bener! Terserah aku? Uwaaa!!! " Arin tiba-tiba berdiri dari pangkuan Arzan. Jangan lupakan senyum manis itu.
Gadis itu menyatuhkan talapak tangannya menaruhnya di pipi, sembari berputar "yes! Gwen kita berhasil! " ucapnya menaruh tinju di udara.
Arzan menggeleng melihat tingkah Arin yang seperti anak Tk menurutnya. Namunsudut bibirnya terangkat begitu saja saat gadis itu menunduk dan mencium keningnya lama. "Aku sayang kamu Arzan, "
"Aku juga sayang kamu Harin"
"Jadi kapan? "
Gadis itu melipat kedua tangan di d**a.
"Apanya? " tanya cowok itu santai merentangkan kedua lengannya di kepala sofa.
"Nikah, " jelas Arin membungkukkan badan tepad di wajah Arzan.
Arzan tersenyum jahil "Tahun depan, "Ucap cowok itu dengan kedipan mata dan segera beranjak dari sofa.
Tatapan Arin sudah semakin tajam, membut cowok itu langsung berlari masuk ke kamar tidak lupa cowok itu menutup pintu balkon mengurung Arin yang sudah berteriak di luar.
"ARZAN LEONARDO! NYEBELIN!!! "
TBC.