Dilan mematung. Lengan Alfa melingkari bahunya, sementara sosok berjubah hitam di ujung lorong memanggilnya dengan suara yang sama. Tidak sekadar mirip. Cara orang itu memendekkan namanya pun persis seperti Alfa.
'Siapa kamu?' bentak Alfa.
Sosok berjubah tidak menjawab. Ia mengangkat belati, kemudian berlari ke arah mereka.
'Lari, Lan!'
Alfa menarik Dilan menuju tangga. Luka-luka Dilan membuat pergerakannya lambat, tetapi ketakutan memaksanya terus berlari. Mereka menuruni anak tangga dua sekaligus. Dari belakang, suara langkah si jubah hitam terdengar dekat dan cepat.
Dilan menoleh. Sosok itu tidak berlari seperti manusia biasa. Jubahnya bergerak, tetapi kedua kakinya seolah tidak menyentuh anak tangga.
'Al, dia makin dekat!'
Alfa mendorong pintu ruang guru di lantai dua dan menarik Dilan masuk. Ia menahan gagang pintu dengan kedua tangan. Sesuatu menghantam dari luar begitu keras hingga daun pintu bergetar.
Brak!
Dilan mencari benda untuk menahan pintu. Ia dan Alfa mendorong sebuah lemari pendek bersama-sama. Hantaman kedua datang sebelum lemari berada di posisi yang tepat. Alfa nyaris terjatuh, tetapi Dilan menahan punggungnya.
Mendadak semua suara berhenti.
Alfa menempelkan telinga pada pintu. 'Dia pergi?'
'Jangan dibuka.'
'Aku juga nggak sebodoh itu.'
Dilan menahan napas dan memandang ruangan. Meja-meja guru tertutup debu, tetapi di salah satu meja terdapat botol air mineral yang masih baru. Tutupnya sudah terbuka. Berarti seseorang pernah berada di sini setelah mereka terjebak.
Pintu kecil di sisi lemari mendadak bergerak.
Dilan dan Alfa sama-sama menoleh. Alfa meraih penggaris kayu panjang dari meja, satu-satunya benda yang mungkin dipakai sebagai senjata.
'Siapa di sana?' tanyanya.
Pintu lemari terbuka. Andrea keluar sambil mengangkat pisau kecilnya. Ia tampak lega sesaat ketika melihat Dilan, tetapi wajahnya kembali menegang saat menyadari Alfa berdiri di sebelahnya.
'Jauh dari dia, Lan,' kata Andrea.
'Andrea, tadi kami dikejar sosok berjubah hitam,' jawab Dilan cepat. 'Alfa ada sama aku.'
'Dia bisa lepas jubahnya.'
Alfa menatap Andrea tajam. 'Apa maksud kamu?'
Andrea mendecih. 'Nggak usah pura-pura. Gue lihat lo keluar dari gudang tempat Dilan disekap. Gelang lo nyangkut di paku dekat pintu.'
Dilan akhirnya mengeluarkan gelang dari saku. Alfa menatap benda itu, lalu Andrea, dengan wajah yang sulit dibaca.
'Kamu mengambilnya dari sana?' tanya Alfa.
'Gue nggak cuma ngambil gelang. Gue lihat punggung lo sebelum lo belok.'
'Kamu lihat wajahku?'
Andrea diam.
'Jawab,' desak Alfa.
'Nggak. Tapi baju, badan, sama gelang itu punya lo.'
Alfa mendekati Andrea, tetapi Dilan berdiri di antara mereka sebelum perkelahian terjadi.
'Cukup! Kita baru saja melihat orang berjubah itu sementara Alfa ada di sebelahku.'
'Bisa jadi ada dua orang,' sahut Andrea.
'Atau ada seseorang yang sengaja berpakaian seperti aku,' balas Alfa.
Dilan memegangi kepalanya. Lagi-lagi terlalu banyak kemungkinan. Ia membuka telapak tangan dan memperhatikan gelang tersebut. Pada bagian dalam tali terdapat noda hitam mengilap. Bukan darah karena tidak berbau amis. Dilan mengusap sedikit noda itu dengan ujung kuku.
'Ini cat,' katanya.
'Cat apa?' tanya Andrea.
'Entahlah. Masih basah.'
Alfa membuka dua kancing lengan kemejanya. Di pergelangan kanannya ada bekas lecet melingkar, tepat di tempat gelang biasa terpasang.
'Gelang ini ditarik paksa,' katanya. 'Aku ingat seseorang menabrakku setelah kita meninggalkan Linda. Waktu itu lampu mati dan aku cuma melihat kain hitam.'
'Kenapa baru bilang?' Andrea masih curiga.
'Karena aku pikir itu salah satu teman kita yang panik!'
Dilan memeriksa simpul gelang. Ada bagian tali yang putus, bukan dilepas. Penjelasan Alfa masuk akal, tetapi Andrea juga yakin melihat sosok dengan bentuk tubuh Alfa keluar dari gudang.
Alfa mengambil kotak pertolongan pertama yang tersimpan di bawah meja guru. Isinya hanya kapas, cairan pembersih, dan perban yang hampir melewati tanggal pakai. Ia meminta izin memeriksa luka Dilan. Kali ini Dilan mengangguk, tetapi tetap berdiri dekat Andrea.
'Perih sedikit,' kata Alfa sebelum menyentuhkan kapas.
Dilan mendesis. 'Itu bukan sedikit.'
'Lukanya nggak terlalu dalam. Yang di leher harus ditutup supaya nggak terus kena baju.'
Andrea mengawasi setiap gerakan Alfa. 'Lo tahu banyak juga.'
'Aku pernah ikut pelatihan pertolongan pertama.'
'Atau sering melukai orang.'
Alfa berhenti. 'Kalau kamu terus memancing, kita nggak akan keluar hidup-hidup.'
Dilan merebut kapas dan membersihkan sisa darahnya sendiri. Ia bertanya kapan terakhir kali masing-masing melihat orang lain. Andrea melihat sosok berjubah keluar dari gudang. Alfa mengaku melihat bayangan serupa sesaat setelah meninggalkan tempat Linda, lalu kehilangan kesadaran beberapa menit di dekat tangga. Tidak ada yang dapat memastikan waktu karena jam pada hape mereka berhenti di angka berbeda.
Hape Dilan menunjukkan pukul satu lewat tiga belas. Milik Alfa menunjukkan dua belas lewat empat puluh tujuh. Milik Andrea malah masih menunjukkan pukul sebelas tepat.
'Sekolah ini bukan cuma menahan jalan,' gumam Dilan. 'Waktu kita juga nggak terhubung.'
Dari luar ruangan terdengar suara laki-laki memanggil.
'Dilan! Buka pintunya! Ini aku!'
Itu suara Alfa lagi.
Mereka bertiga langsung menatap satu sama lain. Alfa yang asli tampak pucat.
'Lan, jangan percaya mereka,' kata suara di luar. 'Andrea sama orang itu bukan manusia.'
Andrea mengangkat pisaunya. 'Kalau pintu ini dibuka, gue tusuk siapa pun yang masuk.'
Dilan mendekati pintu perlahan. Bukan untuk membukanya, melainkan mendengarkan. Sosok di luar terus berbicara dengan suara Alfa. Ia mengucapkan banyak hal tentang masa sekolah mereka, bahkan mengetahui bagaimana Dilan pernah menangis karena nilai ujian matematikanya buruk.
'Dia tahu kenangan kita,' bisik Dilan.
'Mungkin dia dengar dari gue,' jawab Alfa. 'Atau dia memang salah satu teman kita.'
Suara di luar mendadak berubah.
'Dilan, buka. Ini Andrea.'
Kini suara itu sama persis dengan Andrea.
Andrea mengumpat pelan. Hantaman kembali mengenai pintu. Lemari pendek bergeser beberapa senti. Mereka bertiga mendorongnya bersamaan, lalu Dilan tersentak ketika teringat peringatan pada cermin.
Jika tiga orang atau lebih termasuk dirimu berkumpul bersama, seseorang akan mati.
'Kita bertiga,' gumamnya.
Alfa menoleh. 'Apa?'
'Aku, kamu, Andrea. Kita bertiga berada di sini.'
Andrea tidak mengerti, sedangkan Alfa langsung menyadari maksud Dilan. Pintu kembali dihantam dan lemari bergeser lebih jauh.
'Kalau peringatan itu benar, kita harus berpisah,' kata Dilan panik.
'Gue nggak akan ninggalin lo sama dia,' bantah Andrea.
'Aku juga nggak akan membiarkan Dilan sendirian sama kamu,' balas Alfa.
'Berhenti memperebutkan aku seolah aku barang!' teriak Dilan.
Keheningan datang lagi. Hantaman dari luar tidak terdengar. Dilan menunggu beberapa detik, lalu terdengar bunyi goresan pada papan tulis di belakang mereka.
Kapur putih bergerak sendiri.
BUKAN TIGA TUBUH.
Tulisan pertama berhenti. Sebaris kalimat lain muncul tepat di bawahnya.
TIGA ORANG YANG TERHUBUNG OLEH RAHASIA YANG SAMA.
Dilan, Alfa, dan Andrea membaca tulisan itu tanpa bernapas. Kapur jatuh ke lantai.
Di balik pintu, sosok yang mencuri suara mereka terkekeh.
'Sekarang tebak, rahasia siapa yang akan membunuh kalian.' (*)