Tulisan kapur itu membuat Dilan semakin kebingungan. Ia tidak merasa memiliki rahasia yang sama dengan Andrea. Bahkan selama masa sekolah, mereka jarang berbicara tanpa berakhir saling kesal. Satu-satunya penghubung mereka saat ini hanya kematian teman-teman dan kode milik Linda.
'Apa salah satu dari kalian tahu maksudnya?' tanya Dilan.
'Nggak,' jawab Alfa dan Andrea bersamaan.
Suara tawa di balik pintu sudah lenyap. Andrea menggeser lemari sedikit, lalu mengintip melalui celah. Lorong kosong. Tidak ada jubah, belati, atau manusia lain.
'Kita nggak bisa terus di sini,' katanya. 'Kalau tulisan itu benar, justru tetap bertiga lebih bahaya.'
Alfa menatap Dilan. 'Kamu ikut aku.'
'Enak aja,' potong Andrea.
Dilan menghela napas kasar. 'Aku yang menentukan mau berjalan dengan siapa.'
Kedua pria itu diam. Dalam keadaan lain, Dilan mungkin puas karena akhirnya mereka berhenti memperlakukannya seperti anak kecil. Sayangnya, ada pembunuh yang dapat meniru suara di luar sana.
Dilan menyerahkan gelang kepada Alfa. 'Pakai lagi. Kalau nanti aku melihat sosok lain dengan gelang yang sama, setidaknya kita tahu benda itu bukan penanda yang bisa dipercaya.'
Alfa mengikat tali putus tersebut dengan simpul baru. Dilan memperhatikan gerakan tangannya. Alfa memakai tangan kiri dan memutar simpul ke arah dalam, kebiasaan yang telah Dilan lihat sejak lama.
'Kita tetap bersama sampai menemukan orang lain,' putus Dilan. 'Tapi jangan saling menuduh tanpa bukti.'
Andrea mendengus, namun menyimpan pisaunya. Mereka keluar dari ruang guru dengan jarak beberapa langkah satu sama lain. Dilan berada di tengah. Ia merasa seperti tahanan yang dikawal dua orang, bukan teman yang sedang mencari jalan keluar.
Saat melewati laboratorium kimia, terdengar suara benturan dari dalam. Andrea langsung mengangkat pisaunya. Alfa meraih gagang pintu, tetapi Dilan menahannya.
'Tunggu. Kita dengarkan dulu.'
Benturan terdengar lagi, disusul erangan tertahan. Itu jelas suara manusia yang mulutnya dibekap.
Mereka membuka pintu bersama-sama. Bau obat dan cat menyengat hidung. Di antara dua meja praktikum, Alex terikat pada kursi dengan mulut disumpal sobekan kain hitam. Wajahnya lebam dan darah mengalir dari alis kirinya.
Alfa hendak mendekat, tetapi Alex meronta semakin brutal ketika melihatnya.
'Tenang, Lex. Ini kami,' kata Dilan.
Andrea melepaskan sumbatan di mulut Alex. Pria itu langsung menarik napas panjang dan menunjuk Alfa.
'Jangan biarkan dia dekat gue!'
Alfa membeku. 'Kenapa?'
'Lo yang nyerang gue!'
'Aku baru bertemu Dilan di lantai tiga.'
'Jangan bohong! Gue lihat muka lo sebelum lampunya mati.'
Dilan berjongkok di depan Alex. 'Kamu yakin melihat wajahnya? Bukan cuma dengar suara atau lihat pakaiannya?'
'Gue lihat!' bentak Alex. 'Dia manggil nama gue, lalu mukul dari belakang. Waktu gue sadar, gue udah diikat di sini.'
Dilan meminta Alex menceritakan urutannya pelan-pelan. Sebelum diserang, Alex berjalan sendirian mencari Aini yang menghilang setelah meronta. Ia mendengar Alfa memanggil dari laboratorium. Saat masuk, lampu menyala dan ia melihat wajah Alfa di dekat meja guru, jelas selama beberapa detik. Sosok itu menanyakan di mana Dilan berada. Alex menolak menjawab, lalu sesuatu memukul tengkuknya.
'Dia tahu lo sama Andrea,' kata Alex kepada Dilan. 'Dia bilang Andrea nggak akan sempat nyelamatin lo untuk kedua kali.'
Andrea mengencangkan rahangnya. 'Berarti dia ngikutin kita.'
'Atau salah satu dari kalian memang dia.' Alex masih melirik Alfa penuh curiga.
Dilan memeriksa bagian belakang kepala Alex tanpa menyentuh lukanya. Benjolan itu nyata. Tambang yang mengikatnya sama dengan tambang di gudang tempat Dilan disekap, tetapi simpulnya berbeda. Ikatan Dilan dibuat berlapis dan rapi, sedangkan ikatan Alex terburu-buru. Mungkin ada dua pelaku, atau pelaku yang sama sengaja mengubah caranya.
'Aini masih hidup saat kamu mencarinya?' tanya Dilan.
'Terakhir gue lihat iya. Arga bawa dia ke lantai bawah. Gue nggak tahu mereka sekarang di mana.'
Setidaknya masih ada kemungkinan beberapa teman mereka selamat. Dilan menyimpan informasi itu baik-baik agar rasa takut tidak sepenuhnya mengambil alih pikirannya.
Andrea memandang Alfa seolah baru memperoleh dukungan atas tuduhannya. Alfa merapatkan rahang dan tidak membalas. Dilan tahu sahabatnya sedang menahan amarah.
Di lantai dekat kursi terdapat jubah hitam yang dilipat. Dilan tidak berani menyentuhnya langsung. Ia memakai sarung tangan karet dari lemari laboratorium, kemudian memeriksa kain tersebut. Bagian dalamnya terkena cat hitam yang sama dengan noda pada gelang Alfa.
'Orang itu sengaja mengambil gelang dan memakai bentuk Alfa,' kata Dilan.
'Atau Alfa ninggalin jubahnya di sini,' sahut Alex.
'Kalau memang aku yang melakukan, kenapa aku kembali bersama Dilan dan membiarkan dia menemukanmu?' balas Alfa.
'Supaya lo kelihatan nggak bersalah!'
'Cukup,' ujar Dilan. Kepalanya kembali berdenyut. 'Kita hanya akan saling membunuh kalau terus begini.'
Andrea memeriksa meja praktikum. Di sana terdapat kaleng cat hitam, kuas, dan selembar kartu inventaris sekolah. Kartu itu sudah tua, tetapi dua nomor yang tertulis dengan tinta merah masih dapat dibaca.
245.3.150
467.10.200
Dilan segera mengeluarkan sobekan catatan Linda. Angkanya sama.
'Ini jejak Linda,' katanya.
Alfa mendekat. 'Kenapa ada di sini?'
'Mungkin Linda pernah masuk ke laboratorium sebelum dia mati,' jawab Andrea.
Pada bagian belakang kartu ada stempel perpustakaan sekolah. Dilan mengusap permukaannya dan menemukan bekas tulisan pensil yang hampir terhapus.
RAK REFERENSI.
'Ini bukan angka acak,' katanya. 'Dua bagian pertama bisa menjadi nomor katalog buku. Angka terakhir mungkin halaman.'
Alex menggerakkan tangannya yang masih terikat. 'Kalian mau bahas buku sekarang atau ngelepasin gue dulu?'
Dilan tersipu. Ia dan Andrea segera membuka ikatan Alex. Bekas tambang pada pergelangan pria itu membiru, tetapi tidak ada luka parah selain di wajahnya.
Alfa mengambil saputangan dari saku untuk membersihkan darah Alex. Dilan memperhatikannya. Saputangan itu putih dan memiliki sulaman huruf A yang sama seperti saputangan berdarah yang ditemukan di lantai tiga.
'Kamu punya dua saputangan?' tanya Dilan.
'Aku selalu bawa dua.' Alfa terlihat bingung. 'Kenapa?'
Dilan menceritakan apa yang dilihatnya sebelum bertemu Alfa. Tentang seseorang dengan pakaian sama, noda darah di lengan, dan saputangan bersulam huruf A. Wajah Alfa semakin pucat.
'Berarti orang itu bukan cuma mengambil gelangku,' katanya. 'Dia tahu barang yang kubawa.'
'Dan kenangan lo sama Dilan,' tambah Andrea.
Alex menolak berjalan dekat Alfa. Akhirnya mereka membuat jarak. Alfa dan Alex menunggu di laboratorium, sementara Dilan pergi ke perpustakaan bersama Andrea. Keputusan itu membuat Alfa tampak kecewa, tetapi Dilan tidak memiliki waktu untuk menenangkannya.
Sebelum meninggalkan ruangan, Dilan memeriksa jubah hitam sekali lagi. Pada bagian kerah terdapat helaian rambut pendek.
Warnanya hitam, sama seperti rambut hampir semua teman laki-laki mereka. Namun ketika Dilan menariknya pelan, helaian itu tidak ikut terlepas.
Rambut tersebut tumbuh dari kain.
Dilan berjengit dan melepaskannya. Jubah di lantai bergerak seperti sedang bernapas.
Dari lipatan lengannya terdengar suara Alfa berbisik.
'Kamu tetap memilih orang lain, Lan.' (*)