Dilan menutup pintu laboratorium dengan tergesa. Ia tidak memberitahu Alfa atau Alex bahwa jubah di lantai baru saja berbicara. Kalau ia mengatakannya, tuduhan pasti kembali berputar dan mereka tidak akan pernah sampai ke perpustakaan.
'Lo dengar sesuatu tadi?' tanya Andrea saat mereka berjalan.
'Nggak.'
Andrea meliriknya curiga. 'Muka lo nggak bisa bohong.'
'Aku cuma capek.'
Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Dilan memang kelelahan, kelaparan, terluka, dan dipaksa menerima terlalu banyak hal aneh dalam satu malam. Namun, ia juga takut suara dari jubah itu hanya dapat didengar olehnya. Sama seperti bekas merah di leher Irene dan Rian yang dahulu hanya dilihat Dilan serta Aini.
Perpustakaan berada di lantai dua gedung lama. Pintu kayunya tidak terkunci. Saat Andrea mendorongnya, aroma kertas lembap langsung menyergap. Rak-rak tinggi berdiri rapat dan hanya satu lampu menyala di meja penjaga.
Di atas meja terdapat buku kunjungan yang terbuka. Dilan mendekat dan melihat nama-nama teman sekelas mereka ditulis pada halaman hari itu. Semua nama ada, termasuk mereka yang telah meninggal. Jam kedatangan masing-masing berbeda satu menit, dimulai dari Irene pada pukul sembilan malam dan berakhir pada Dilan. Padahal mereka datang hampir bersamaan dan Dilan terlambat.
Nama Kiyan dan Kinan tidak tercatat.
Andrea membalik halaman sebelumnya. Tulisan yang sama muncul pada tanggal delapan tahun lalu, tepat pada hari terakhir mereka bersekolah. Urutan namanya identik, hanya jamnya yang berbeda.
'Lo pernah datang ke perpustakaan pada hari kelulusan?' tanyanya.
Dilan mencoba mengingat. 'Sepertinya nggak. Kami lebih banyak di kelas dan halaman depan.'
'Tapi nama kita ada di sini.'
Dilan menutup buku itu. Ia tidak mau menambah dugaan sebelum menemukan arti kode Linda. Buku kunjungan dapat dipalsukan oleh siapa saja yang memiliki akses ke sekolah, walaupun pertanyaan mengenai siapa yang menulisnya tetap mengganggu.
Dilan menunjukkan kartu inventaris. 'Kalau dugaanku benar, angka 245.3 dan 467.10 adalah nomor klasifikasi. Angka 150 dan 200 menunjukkan halaman.'
'Kalau dugaan lo salah?'
'Kita cari dugaan lain.'
'Jawaban dosen banget.'
Dilan memutar bola matanya. Mereka memeriksa label pada setiap rak. Nomor 200 berada di bagian pengetahuan umum dan kepercayaan, sedangkan nomor 400 tersimpan di sisi bahasa. Buku dengan kode 245.3 ditemukan Andrea pada rak paling atas. Sampulnya sudah pudar dan judulnya hampir tidak terbaca.
Pencarian tidak mudah karena beberapa label rak sengaja ditukar. Nomor 300 berada di tempat nomor 600, sementara lemari katalog memuat kartu yang telah dicoret tinta hitam. Dilan memperhatikan debu pada lantai. Hanya dua jalur rak yang memiliki bekas telapak sepatu baru. Salah satunya menuju nomor 245.3, satu lagi menuju rak bahasa.
'Linda mungkin sudah menemukannya sebelum kita,' kata Dilan.
'Atau orang yang membunuh Linda datang untuk memastikan petunjuknya hilang.'
Pada lantai terdapat setetes darah kering. Dilan tidak menyentuhnya. Ia hanya menandai lokasi dengan sobekan kertas kosong agar mereka dapat kembali bila dibutuhkan.
'Halaman seratus lima puluh,' kata Dilan.
Andrea membalik halaman. Lembar yang dicari berisi pembahasan mengenai ikatan sumpah. Sebagian kalimat digarisbawahi dengan tinta merah.
SATU NAMA DAPAT DIPAKAI OLEH DUA MULUT.
'Ini bukan tulisan cetak,' ujar Andrea. 'Ada yang menambahkannya.'
Dilan menyentuh tinta yang telah mengering. Tulisan itu mirip dengan coretan pada kartu inventaris. Ia membalik halaman berikutnya dan menemukan sebuah foto kecil terselip di bagian tengah buku.
Foto kelas hitam putih dari puluhan tahun silam.
Di barisan belakang berdiri dua gadis dengan wajah yang sangat dikenal Dilan.
Kiyan dan Kinan.
Mereka terlihat sama seperti malam ini. Rambut panjang, senyum tipis, dan paras yang sama sekali tidak menunjukkan usia. Padahal tanggal di bawah foto menunjukkan gambar itu diambil dua puluh empat tahun lalu.
Dilan membandingkan lambang sekolah pada foto dengan lambang di dinding perpustakaan. Bentuknya sama, hanya warna pita yang berbeda. Foto itu bukan dibuat di tempat lain. Bahkan retakan pada anak tangga belakang masih terlihat pada posisi yang sama.
Di sudut foto terdapat stempel studio dan nomor negatif. Andrea menggosoknya dengan ibu jari.
'Kalau ini palsu, orang yang membuatnya benar-benar niat.'
'Kiyan dan Kinan nggak berubah sejak delapan tahun lalu,' jawab Dilan. 'Aku pikir cuma karena ingatanku buruk. Sekarang aku nggak yakin.'
Dilan teringat bagaimana kedua gadis itu sama sekali tidak panik ketika Irene tercekik. Kiyan juga melihat tulisan pada cermin, tetapi terus menyebutnya kebetulan. Mungkin ia bukan tidak percaya. Mungkin ia sudah mengetahui aturan itu jauh sebelum mereka datang.
'Nggak mungkin,' gumam Dilan.
Andrea mengambil foto tersebut. 'Mungkin ibu mereka.'
'Dua-duanya? Dengan wajah sama persis?'
'Kembar juga bisa punya anak kembar.'
Dilan tidak yakin. Delapan tahun lalu, Kiyan dan Kinan muncul di kelas mereka pada pertengahan semester tanpa pernah menceritakan asal sekolahnya. Wajah keduanya pun tidak berubah sampai reuni ini.
Mereka mencari buku kedua. Kode 467.10 membawa mereka ke kamus tua yang membahas ragam bahasa dan sandi. Halaman dua ratus sudah disobek, tetapi bekas tekanan pensil tertinggal pada halaman berikutnya.
Dilan mengambil pensil dari meja penjaga dan mengarsir permukaan kertas secara perlahan. Deretan huruf muncul.
SUARA DAPAT DIPINJAM, INGATAN TIDAK.
Di bawahnya terdapat tulisan lebih kecil.
JANGAN PERCAYA ORANG YANG KEMBALI TANPA LUKA.
Dilan memeriksa sobekan pada halaman. Potongannya dibuat dengan gunting, bukan dirobek menggunakan tangan. Pada tepi kertas menempel serat kain merah muda. Ia ingat Kinan memakai pita dengan warna serupa di pinggang, sedangkan Kiyan tidak mengenakan aksesori apa pun.
'Kalau halaman yang hilang ada pada salah satu dari mereka, berarti mereka tahu isi petunjuk ini,' kata Dilan.
'Dan mungkin Linda mendapatkan kodenya dari mereka.'
'Atau Linda mencuri kartu inventaris setelah menemukan buku.'
Andrea memasukkan foto ke antara halaman agar tidak rusak. Ia menyarankan membawa bukunya, tetapi Dilan khawatir memindahkan kedua benda itu akan membuat petunjuk lain hilang. Pada akhirnya mereka mengambil foto dan mencatat kalimatnya pada bagian belakang sobekan kode Linda.
Ketika pensil Dilan menyentuh kertas, angka 245.3.150 perlahan berubah warna menjadi hitam pekat. Angka kedua tetap merah. Seolah Linda memberi tahu bahwa satu dari dua petunjuk sudah mereka pecahkan.
Andrea membacanya dua kali. 'Alfa kembali ke lo tanpa luka.'
'Aku juga nggak tahu apa yang dia alami sebelum menemukanku.'
'Alex melihat wajahnya.'
'Sosok tadi memakai suara kamu juga. Kalau dia bisa mengambil suara dan bentuk Alfa, kesaksian Alex belum cukup.'
Andrea menutup buku agak keras. 'Lo tetap membelanya.'
'Aku mencari fakta.'
'Karena faktanya menyakitkan?'
Dilan menatap Andrea kesal. 'Kalau aku langsung menuduh Alfa hanya karena gelang dan pakaian, apa bedanya aku dengan kalian yang menuduhku setiap melihat mayat?'
Andrea terdiam. Untuk pertama kali, ia tidak memiliki balasan kasar. Dilan mengambil kedua buku dan foto tersebut. Di balik foto ada enam nama yang ditulis tangan: Kiyan, Kinan, Laras, Mira, Gilang, dan Alfa.
Nama Alfa dilingkari tinta hitam.
'Alfa bahkan belum lahir dua puluh empat tahun lalu,' kata Dilan.
'Bisa jadi nama orang lain.'
'Atau nama memang dapat dipakai dua mulut.'
Suara rak berderak menghentikan pembicaraan mereka. Buku-buku pada sisi kiri jatuh satu per satu, membentuk jalan menuju pintu kecil yang sebelumnya tertutup rak. Andrea mengangkat pisaunya, sedangkan Dilan menggenggam buku seolah benda itu mampu melindunginya.
Dari balik pintu terdengar dua suara perempuan berbicara bersamaan.
'Kalian terlalu cepat menemukan raknya.'
Kiyan dan Kinan keluar dari kegelapan. Keduanya memakai pakaian yang sama, tetapi ujung gaun Kinan berlumuran darah.
'Darah siapa itu?' tanya Dilan panik.
Kinan tersenyum tipis. 'Pertanyaan yang salah.'
Kiyan menatap foto di tangan Andrea. Wajah datarnya akhirnya menunjukkan sesuatu yang menyerupai ketakutan.
'Kalian seharusnya bertanya,' katanya, 'siapa di antara kami yang benar-benar datang ke reuni.'
Lampu perpustakaan padam.
Dalam kegelapan, salah satu dari kedua perempuan itu menjerit. (*)