Suara cakaran dari lemari besi bertambah keras. Dilan menjauh, tetapi Kara justru mendekat. Nama Laras membuat seluruh ketenangannya runtuh. Wajah yang selama ini datar kini dipenuhi ketakutan.
'Siapa yang ada di dalam?' tanya Alfa.
'Bukan Mira,' jawab Kara. 'Pipa hanya membawa suaranya. Lemari itu menyimpan sesuatu yang lain.'
Cakaran berhenti. Dari balik pintu terdengar suara seorang laki-laki muda memanggil.
'Laras, buka. Aku Gilang.'
Kara menutup kedua telinganya. Dilan melihat bekas luka di telapak tangannya kembali mengeluarkan darah. Salah satu kalimat pada halaman dua ratus berputar di kepala Dilan. Mata harus menyebut nama yang dilihatnya mati.
'Kamu melihat Gilang mati?' tanyanya.
Kara tidak menjawab.
'Laras!' Suara dalam lemari menghantam lebih keras. 'Kamu meninggalkan aku di bawah!'
Andrea mendorong meja untuk menahan pintu lemari. 'Kalau dia mati delapan tahun lalu, kenapa mayatnya bisa ada di sini?'
'Yang di dalam bukan mayat,' ujar Kara. 'Gedung menyimpan saat terakhir seseorang dan memutarnya sampai ada orang yang menjawab.'
Dilan memintanya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mereka tidak dapat menjalankan aturan hanya dari potongan kalimat. Kara akhirnya duduk di lantai, menjaga jarak dari lemari.
Delapan tahun lalu, nama asli perempuan yang mereka kenal sebagai Kiyan adalah Laras. Ia dan Mira datang ke sekolah untuk menyelidiki hilangnya Gilang, adik Mira. Gilang menjadi petugas sementara di perpustakaan dan menemukan dua nama murid yang berulang kali tercatat meski sudah meninggal dua puluh empat tahun lalu: Kiyan dan Kinan.
Gilang mulanya hanya menduga ada kesalahan arsip. Ia menemukan kartu peminjaman atas nama Kiyan dan Kinan pada buku-buku yang baru dibeli bertahun-tahun setelah keduanya mati. Tanggal pengembaliannya selalu jatuh pada hari ketika seorang murid mengalami kecelakaan. Sebagian selamat dengan kehilangan ingatan, sebagian tidak pernah ditemukan.
Mira melapor kepada polisi, tetapi petugas hanya menemukan rak biasa dan ruang bawah tanah yang sudah ditutup semen. Kepala sekolah lama kemudian menghubungi Laras secara diam-diam. Ia mengaku pernah mendengar dua suara perempuan melalui pipa komunikasi dan takut kasus itu membuat sekolah ditutup.
'Kepala sekolah membantu kalian menyamar, tapi tidak mengevakuasi murid?' tanya Andrea.
'Dia menganggap gangguan hanya muncul pada orang yang mencari nama Kiyan dan Kinan,' jawab Laras. 'Dia salah, dan dia lebih takut kehilangan jabatan daripada mengakui bahaya.'
Dilan merasa marah meski lelaki itu tidak berada di hadapan mereka. Banyak kematian malam ini mungkin dapat dicegah jika orang dewasa yang mengetahui risiko memilih memperingatkan semua orang.
'Kenapa wajah kalian nggak berubah sejak masa sekolah?' tanya Alfa.
Laras menyentuh pipinya. 'Nama pinjaman menyimpan wajah pada usia ketika dipakai. Tubuh kami tetap bertambah umur, lelah, dan terluka. Tapi orang yang terhubung sekolah akan mengingat wajah Kiyan dan Kinan, bukan wajah asli kami.'
'Jadi wajahmu sekarang bukan wajah Laras?'
'Aku sendiri sudah sulit mengingatnya.'
Pengakuan itu terdengar menyakitkan. Dilan memahami mengapa Laras tidak mudah melepaskan nama pinjaman. Mengembalikan nama mungkin membebaskannya dari sekolah, tetapi juga memaksa dirinya menghadapi wajah dan kehidupan yang bertahun-tahun dikaburkan.
'Mira mengalami hal yang sama?'
'Iya. Bedanya, dia masih menyimpan foto dirinya sebelum memakai nama Kinan. Aku membakar semua foto ku supaya gedung tidak dapat menirunya.'
Andrea menunjuk kartu Alfani di dalam lemari. 'Kalau benda bisa menyimpan nama puluhan tahun, mungkin wajah Alfa juga bukan pertama kali dipakai.'
Laras mengangguk. 'Itulah yang harus kita pastikan. Nama dapat diwariskan tanpa diketahui pemilik berikutnya.'
'Gilang mengira ada pemalsuan data,' kata Laras. 'Dia masuk ke ruangan bawah perpustakaan dan menemukan rekaman suara murid-murid yang pernah meninggal. Setelah itu, sekolah mulai menelepon orang memakai suaranya.'
'Kenapa kalian menyamar jadi murid pindahan?' tanya Dilan.
'Kami butuh berada dekat angkatan yang namanya muncul pada daftar berikutnya. Usia kami tidak jauh dari kalian. Kepala sekolah lama membantu memasukkan data kami.'
'Jadi kalian bukan murid sungguhan,' ujar Alfa.
'Kami sungguh bersekolah bersama kalian selama setengah semester. Nama kami saja yang bukan milik sendiri.'
Pada hari kelulusan, Gilang muncul dari ruang bawah tanah meski Mira sudah melihat jasadnya sebulan sebelumnya. Ia memanggil Laras dan meminta pintu dibuka. Laras tahu sosok itu bukan adik Mira, tetapi tetap mengikuti karena ingin mengetahui siapa yang memakai tubuhnya.
Ia membawa Alfa dan Dilan karena nama keduanya muncul pada daftar hubungan. Alfa membuka pintu. Dilan menjawab suara dari bawah. Laras menjadi mata yang menyaksikan.
'Apa yang kamu lihat?' tanya Dilan.
Laras menatap pintu lemari yang masih bergetar. 'Gilang berdiri di tengah ruangan dengan benang keluar dari mulut dan matanya. Di belakangnya ada dua gadis berseragam lama. Salah satunya menarik benang sampai leher Gilang patah untuk kedua kali.'
Alfa menelan ludah. 'Kiyan dan Kinan asli?'
'Aku tidak tahu. Wajah mereka sama dengan foto, tapi gedung dapat memakai wajah siapa pun.'
'Sebut namanya,' desak Andrea. 'Bukannya itu yang harus lo lakukan?'
Laras menggeleng. 'Kalau aku menyebut Gilang mati sebelum tangan dan suara selesai, kematiannya akan terhubung kepada Dilan dan Alfa.'
'Tangan sudah melepas gelang,' kata Dilan.
'Belum selesai. Gelangnya masih berada di ruangan yang sama dengan Alfa.'
Gelang cokelat itu tergeletak dekat kaki mereka. Alfa menggunakan penggaris untuk mendorongnya masuk ke dalam kotak cakram kosong. Mereka tidak memotong atau membakarnya. Kotak kemudian diletakkan di dasar pipa komunikasi agar dapat dikirim ke ruang bawah.
'Benda pengikat harus kembali kepada tempat hubungan dibuka,' kata Laras. 'Ruang di bawah perpustakaan.'
'Kita harus ke sana sebelum menolong Mira?' Dilan tidak menyembunyikan kekesalannya.
'Jalurnya sama. Ruang kesehatan dan perpustakaan terhubung di bawah tanah.'
Andrea mengangkat denah. Ada garis tipis yang baru terlihat setelah kertas didekatkan ke lampu. Garis tersebut menghubungkan kedua ruangan melalui lorong servis.
Suara Gilang di dalam lemari berubah menjadi tangisan. Ia menyebut nama Mira, kemudian meminta Laras mengaku bahwa ia sengaja memakai teman-teman Dilan sebagai umpan.
'Apa itu benar?' tanya Alfa.
Laras memandang mereka satu per satu. 'Aku mendekati kelas kalian karena nama kalian ada pada daftar. Tapi aku tidak pernah bermaksud mengorbankan siapa pun. Aku gagal menutup hubungan dan menghapus ingatan Dilan tanpa izinnya. Itu kesalahan ku.'
Dilan merasa marah, tetapi pengakuan itu lebih jujur daripada penyangkalan. Ia dapat menuntut penjelasan setelah mereka selamat.
Mereka memasukkan denah, cakram, serta potongan halaman ke tas yang ditemukan di ruangan. Sebelum pergi, Dilan menulis pesan untuk Alex tanpa menyebut rahasia: menuju ruang kesehatan, tunggu atau ikuti hanya jika aman.
Pintu lemari besi mendadak melengkung keluar. Meja penahan bergeser.
'Kita pergi sekarang,' kata Andrea.
Mereka baru mencapai lorong ketika pintu lemari terbuka dengan suara ledakan. Tidak ada tubuh di dalamnya. Hanya seragam laki-laki berlumuran darah dan kartu nama petugas perpustakaan.
Nama pada kartu itu bukan Gilang.
ALFANI PUTRA AKMAL.
Alfa mematung. Dari dalam lemari, suara Gilang berbisik memakai suara Alfa.
'Mata mu menyaksikan orang yang salah mati, Laras.' (*)